Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 154 Kelahiran Putra Hermes


__ADS_3

Waktu berjalan dengan begitu damai, terlalu damai hingga membuat Ima cukup bosan. Beruntung sebuah undangan datang kepadanya, itu merupakan undangan dari istana dalam acara penobatan Tianna menjadi putri kerajaan.


Bersama dengan Chad dan Agler atas ijin Mina malam itu ia memenuhi undangan tersebut, berpakaian layaknya putri bangsawan ia nampak cantik dengan kalung yang menghias leher jenjangnya.


"Yang Mulia, selamat datang" sambut seorang pelayan di pintu gerbang.


Mereka tersenyum, mengangguk sedikit sebelum kemudian pergi memasuki istana.


Seperti yang sering di ceritakan oleh Nick kepadanya, pesta dalam istana vampire begitu megah dan indah. Kental akan nuansa klasik, hampir membuatnya meloncat kegirangan.


"Ima!" panggil Tianna yang segera mengetahui kedatangan mereka.


"Tianna, selamat atas penobatan mu" ujar Ima begitu Tianna tepat berada di hadapannya.


"Terimakasih, aku senang kalian memenuhi undangan ku" jawabnya.


"Kau pasti senang, bukankah ini impian mu?" tukas Agler.


"Ya, aku sudah menyelesaikan begitu banyak misi dari dua ketua demi mendapatkannya" sahutnya merujuk pada persekutuannya dengan Keenan.


"Sebentar lagi acaranya akan di mulai, silahkan nikmati pestanya" ucapnya sebelum pergi untuk bersiap.


Tentu dengan senang hati Ima akan menikmati pesta itu, jiwa berpetualangnya butuh asupan agar tidak setres karena bosan.


Ikut menari di lantai dansa dengan yang lain membuat senyum semakin merekah di wajahnya, hingga penobatan Tianna berlangsung ia tetap di sana untuk berbahagia.


Reinner sang Raja dengan intruksi seorang tetua mengarahkan sebuah pedang pada Tianna yang bersimpuh di depannya, pedang itu yang menjadi simbol kekuatan pemerintahan menekan bahunya dengan lembut.


"Dengan ini, aku sebagai Raja menobatkan dirimu.. Tianna sebagai putri di istana. Hak dan kewajiban akan menyertai setiap langkahmu mulai dari sekarang, maka dari itu ku panggil dirimu putri Tianna" ujar Reinner dengan lantang hingga seluruh tamu yang hadir dapat mendengarnya.


Prok Prok Prok


Gemuruh tepuk tangan itu menyambut kebangkitan Tianna dari duduknya, menandai status barunya yang lebih tinggi mulai detik ini.


Pesta kembali berlanjut, Ima dan Chad ikut dalam perayaan itu sementara Agler memilih pulang lebih dulu begitu penobatan selesai, itu karena dia tidak bisa membiarkan Alisya sendirian dalam waktu lama.


"Selamat, kini kau resmi menjadi seorang putri" ujar Reinner mengulurkan tangannya.


"Terimakasih Yang Mulia, terimakasih karena anda telah menepati janji" balasnya.


Di atas kepalanya kini tersemat sebuah tiara yang menawan, dengan bangga ia membusungkan dada. Memperlihatkan betapa usahanya selama ini tak sia-sia, akhir dari kisahnya bermuara pada kebahagiaan yang hakiki.


Tugasnya sebagai putri pun ia jalankan dengan baik, hingga waktu bukanlah hal penting yang perlu di ingat.


Pada musim dingin berikutnya saat Tianna sudah melambungkan namanya dan tidak pernah bertemu lagi dengan mantan kelompoknya, tangisan bayi pecah di kastil tua milik keluarga Hermes.


Menandai satu perayaan yang akan segera dilangsungkan, menyambut wajah baru pemilik darah Hermes.


"Sonu" ujar Violet mengenalkan putra keduanya yang baru lahir.


Ucapan selamat serta doa berhamburan memenuhi kehidupan sang bayi yang siap memulai kisahnya sendiri.


Walaupun di musim dingin tapi kehadirannya telah membawa semi pada kastil tua itu, mengisi setiap ruangan dengan bunga yang wangi.


Lalu tepat pada perayaan atas kelahiran itu semua tamu undangan hadir memeriahkan pesta dan ikut berbahagi, termasuk Mina dan Colt sebagai salah satu tamu penting.

__ADS_1


"Dia sangat tampan" puji Mina menatap mata jernih bayi itu.


"Terimakasih, aku senang kalian bisa hadir di sini" sahut Ryu.


"Kau sudah mengundang kami, tentu kami akan hadir"


"Lalu dimana anak-anak?" tanya Violet sebab ia tidak melihat satu pun dari mereka.


"Mereka sudah besar, bukan lagi anak-anak. Aku yakin di suatu tempat di kastil ini mereka sedang membicarakan masalah pekerjaan atau masa depan" sahut Mina.


"Maksudmu?"


"Apa kau tidak mendengar gosipnya? Agler berencana meminang Alisya dalam waktu dekat"


"Sungguh? oh astaga aku benar-benar tidak tahu akan hal itu" ucap Violet sambil tertawa kecil.


"Mereka tumbuh dengan cepat, seperti putri kita" sahut Ryu.


"Ah kau benar" balas Violet.


Diam-diam dalam benaknya kembali terfikir akan keinginan Kyra untuk bersama dengan Manager San, setelah semua hal yang terjadi hatinya kini mulai melunak.


Bukan tanpa sebab, tapi selama kehamilannya Kyra sudah sangat sabar melayaninya. Tetap berada di sisinya untuk memberikan apa yang ia inginkan, dan Manager San tidak ada satu kali pun menemui Kyra bahkan secara diam-diam.


Hal ini membuatnya bertanya-tanya apakah mereka masih berhubungan, pertanyaan itu segera terjawab setelah pesta selesai.


"Kenapa ibu menanyakan hal itu?" tanya Kyra heran.


"Jawab saja, apa kau masih berhubungan dengannya?"


Terlihat Kyra masih enggan mengungkit masalh itu, tapi ia tetap menjawabnya.


"Lalu kenapa kau masih di sini?"


"Itu karena San tidak mengijinkannya, dia ingin membawa restumu dalam kehidupan kami agar kebahagiaan selalu menyertai kita" sahutnya.


Sesuai dengan apa yang di perkirakannya, Manager San punya keteguhan dan cara sendiri dalam memperjuangkan cintanya.


"Katakan padanya untuk menemui ibu, meskipun kau seorang janda tapi pesta tetap harus berlangsung demi kehormatan keluarga kita" ujarnya.


Sejenak Kyra termenung, butuh waktu baginya untuk mencerna ucapan itu hingga akhirnya melompat untuk memeluk ibunya.


"Terimakasih bu... " bisiknya haru.


* * *


Srek Srek


Dua lompatan kecil itu membuat indra pendengaran Ima semakin tajam, jaraknya hanya lima meter saja dan itu sudah cukup baginya untuk mengambil ancang-ancang.


Menyiapkan kakinya sebagai tumpuan, dengan penuh perhitungan akhirnya ia melesat dengan cepat.


Srek


Ah

__ADS_1


Sreeeeettttt....


Hampir ia menabrak sebatang pohon andai tidak berhenti tepat waktu, dalam keadaan masih jongkok ia menatap Chad yang berhasil menangkap kelinci itu lebih dulu.


"Kau kurang cepat" ujar Chad.


"Heh, tidak usah belagu! masih terlalu dini untuk memutuskan siapa yang menang" sahutnya.


Whuusss...


Set Set


Dengan kecepatan maksimal Ima berlari mengitari Chad, membuatnya terperangkap dalam pusaran angin yang kian lama kian membesar.


Jika dia adalah Chad yang dulu jelas sejak awal dia tidak akan berhasil mendahului Ima, menampilkan senyum penuh percaya diri Chad fokus pada penglihatannya hingga berhasil menemukan celah.


Srek


Buk


Berhasil mengimbangi kecepatan Ima ia memukul bagian perut walau pun Ima berhasil menangkisnya, tapi itu hanya sebuah pengecoh.


Gep


Ah


Pekik Ima saat tangannya di pelintir ke belakang, Chad membebaskan kelinci yang berhasil ia tangkap agar tangannya bisa merangkul tubuh Ima dengan cukup kuat.


"Sepertinya kau mulai melemah" ujar Chad tepat di telinganya.


"Apa yang coba kau sombongkan? kekuatan mu atau rayuan mu?" balas Ima.


Chad tertawa kecil mendengarnya, betapa Ima sangat pandai memancing gairahnya. Memutar tubuhnya dengan cepat Chad tetap mengunci tangan Ima agar ia tak bisa berkutik, menatap mata biru samudra yang memabukkan dengan lembut ia memberikan kecupan ringan di kening.


"Akui saja kekalahanmu ok?" ucapnya.


"Untuk itu kau harus tahu peraturannya, jika kau kalah artinya aku menang dan jika kau menang maka itu adalah kemenangan ku. Ingat siapa yang setiap hari menemanimu berlatih" sahutnya penuh percaya diri.


Chad semakin tersenyum lebar di buatnya, mengakui apa pun yang terjadi kemenangan hanya milik Ima dan akan terus seperti itu ia pun melepaskannya.


"Baiklah jadi apa yang kau inginkan untuk kemenangan mu kali ini?" tanyanya.


"Nikahi aku!"


"Apa?" teriak Chad kaget.


"Kak Agler dan Alisya akan segera menikah begitu juga dengan Kyra dan San, lalu kapan kita akan mengikuti mereka?"


"Kyra akan menikah dengan Manager San?" tanya Chad tanpa memperdulikan pertanyaan Ima yang sesungguhnya.


"Mereka sudah mendapatkan restu, tentu saja mereka juga akan menikah"


"Syukurlah, akhirnya perjuangan mereka berbuah manis juga"


"Hei... kau belum menjawab ku, kapan kita akan menyusul mereka?" tanya Ima mulai kesal.

__ADS_1


"Entahlah, menikah itu bukan hal yang mudah. Mengingat siapa dirimu aku harus memikirkannya matang-matang, yang paling utama aku harus menyiapkan mental ku dulu" jawab Chad sambil berfikir.


"Apa? Chad..... aku menyebalkan!" teriak Ima kini benar-benar hilang kesabaran.


__ADS_2