
Hampir seminggu dan Alisya masih belum bertemu dengan Agler, saat di telpon atau di pesan sibuk selalu menjadi alasannya. Rasanya sudah cukup muak bagi Alisya dan dia tak bisa menahannya lagi, hari itu dengan sengaja ia bolos dari les dan pergi ke pasar tempat dimana Agelr bekerja.
Tak butuh waktu lama bagi Alisya untuk menemukannya sebab hampir semua orang di sana mengenalnya.
"Alisya... " panggilnya kaget saat melihat sosok Alisya berdiri di hadapannya.
"Aku ingin bicara dengan mu" ujar Alisya dengan wajah serius.
"A-aku sedang sibuk bekerja"
"Kalau begitu aku akan menunggumu sampai kau selesai bekerja" ujarnya bersikeras.
Ia segera mencari tempat duduk dan terus memperhatikan Agler dengan seksama, meski tempat itu cukup bau hingga membuat hidungnya terasa gatal tapi ia tetap bertahan.
"Agler, pergilah istirahat" ujar Giant tiba-tiba.
"Tapi paman, aku baru mulai bekerja dan belum lelah"
"Aku tidak mengkhawatirkan mu tapi gadis itu, selesaikan masalah kalian secepatnya" ujar Giant sambil menunjuk dengan dagunya.
Agler menatap Alisya dan mengerti bahwa ia sudah membuat Giant tak nyaman, dengan minta maaf dia pun pergi menemui Alisya dan mengajaknya minum kopi.
"Ini kopi mu" ujar Agler menyerahkan satu gelas berisi kopi.
Alisya menerimanya, dengan sambil menikmati kopi mereka duduk memandang dermaga dan lautan lepas.
"Bukankah akan lebih enak jika kita minum jus?" tanya Alisya.
"Memang, tapi sedang ingin kopi" jawab Agler.
"Apakah... aku membuat kesalahan?" tanya Alisya lagi dengan menahan perih di hati.
"Kau tidak melakukan kesalahan apa pun"
"Lalu di mana letak salahnya? kenapa tiba-tiba aku merasa begitu jauh darimu padahal kita sangat dekat, bahkan saat ini meski kau di samping ku aku masih tidak mampu menggapai mu" ujarnya meluapkan segala kekesalan.
Agler terdiam, jelas masalahnya ada pada dirinya.
"Apakah... ada wanita lain?" tanya Alisya pelan.
"Tidak, tidak pernah ada siapa pun" jawab Agler membantah.
"Lalu kenapa? apa alasannya sampai kau menjauhiku?"
"Alisya... aku... sudah memikirkannya" ujar Agler pelan.
Di tatapnya mata Alisya yang bening, mata yang pernah menangis saat melihat Agler membunuh dengan cakarnya.
"Sebaiknya kita akhiri hubungan ini" ucapnya.
"Apa...? tapi kenapa?" tanya Alisya heran.
"Kita tidak mungkin bersama Alisya, kau dan aku di ciptakan dari dunia yang berbeda. Sudah tidak ada lagi yang perlu di katakan"
"Agler... " panggil Alisya.
Tapi Agler hanya menyimpan kopinya di atas bangku dan pergi begitu saja, tak memberi waktu kepada Alisya untuk bicara apa pun.
Masih tak percaya saat ini yang bisa Alisya lakukan hanya diam dan merenung, mencoba memahami alasan di balik keinginan Agler yang ingin putus sampai ia ingat ucapan manager San.
"Sesulit itukah hidup dengan ku? semua yang aku miliki adalah milik nenek, kenapa kau merasa rendah karena hal ini?" gumamnya bertanya kepada Agler meski dia sudah tak ada di sana.
Sekarang yang bisa ia lakukan hanya membawa hatinya yang telah patah pulang ke rumah, mencoba menyambungkannya dengan cinta keluarga yang satu-satunya ia miliki.
Tapi hal itu tidaklah berhasil, Alisya bolos dari kuliahnya hanya untuk mengurung diri di kamar dan meratapi kisah cintanya yang seumur jagung.
Rupanya tindakan mengurung diri di kamar telah menarik perhatian Chad, setelah makan malam dengan sengaja Chad mengajukan diri untuk membawa makan malam Alisya ke kamarnya.
Tok Tok Tok
Alisya tak menyahut, oleh karena itu Chad langsung masuk dan mendapati Alisya tengah melamun sambil melihat ke luar jendela. Disimpannya makan malam itu di atas meja, kemudian ia berjalan dan duduk di depan Alisya.
"Kali ini apa yang membuat mu murung?" tanya Chad.
Awalnya Alisya tak menjawab, untuk beberapa menit Chad dengan sabar duduk di sana sampai akhirnya Alisya mau bicara.
"Apa... kau pernah di tinggalkan oleh seorang gadis?" tanya Alisya.
"Apa?" tanya Chad.
Alisya menatap Chad dan langsung menyadari kesempurnaan yang Chad miliki.
"Lupakan saja! pertanyaan bodoh, mana mungkin kau pernah mengalaminya" tukasnya.
__ADS_1
"Apa ini masalah seorang pria?" tanya Chad.
"Aku... aku baru saja di putuskan hanya karena dia miskin dan aku kaya, dia bilang hubungan kami tidak akan pernah berhasil karena perbedaan ini"
"Itu bagus, artinya dia sadar diri" ujar Chad cuek yang membuat Alisya menatapnya dengan tatapan tak percaya bercampur benci.
"Aku tidak kaya, semua ini adalah harta nenek"
"Tapi kau cucunya, meski kau tidak berguna sekali pun nenek pasti akan memberikan sebagian warisannya kepadamu"
"Ha.... aku tak percaya kau bisa mengatakan hal sekejam itu pada gadis yang baru saja patah hati" ujar Alisya kesal.
"Kenyatannya memang seperti itu"
"Cukup! pergi sana! aku tidak mau melihat wajahmu" ujar Alisya yang kehabisan kesabaran.
"Baiklah, jangan lupa habiskan makan malam mu. Aku tidak membawanya untuk menjadi pajangan" ucap Chad sebelum pergi dari kamarnya.
Saat Chad hendak pergi ke ruang baca Joyi menghadangnya hanya untuk bertanya bagaimana kondisi Alisya, dengan santai Chad menjawab.
"Dia hanya putus dengan pacarnya, nenek tidak perlu khawatir"
"Astaga, itu pasti berat bagi Alisya" gumamnya.
Dengan cepat Joyi segera pergi ke kamar Alisya untuk menghiburnya, tapi dari celah pintu yang terbuka ia melihat Alisya tengah makan meski raut wajahnya terlihat kesal.
Melihat hal itu Joyi mengurungkan niatnya, sudah beberapa hari berlalu dan Alisya kehilangan selera makan. Ia tidak mau menyentuh makanannya dan terus mengurung diri di dalam kamar tanpa mau mengatakan masalahnya, tapi saat Chad mengunjunginya meski hanya sebentar kini Alisya sudah mau makan.
Sadar bahwa dirinya butuh teman untuk curhat Alisya memutuskan untuk menemui manager San dan bicara dengannya, siang itu mereka janjian di tempat yang sama.
"Menurut mu apa yang harus aku lakukan?" tanya Alisya.
"Jika alasannya memang itu maka tidak ada yang bisa nona lakukan"
"Ah... apa benar-benar tidak ada?" tanyanya kecewa.
"Aku akui dia pria yang sangat baik, dia memperhatikan kebahagiaan mu meski hal kecil sekali pun. Mungkin kau tidak masalah dengan perbedaan status kalian, tapi dengan kondisi ekonominya yang di bawah mu ia akan terlihat seperti pria matre yang hanya mengincar kekayaan mu saja"
"Tapi dia bukan orang yang seperti itu" sergah Alisya.
"Aku mengerti, tapi teman-teman mu bisa saja berfikiran demikian dan mengolok-oloknya akan hal itu. Dia menjadi tak nyaman dan berfikir bahwa kalian memang terlalu sulit untuk bersama"
"Astaga... kenapa cintaku harus terhalang status sosial?" erangnya sambil menundukkan kepala.
"Bukankah... itu Agler?" gumamnya jelas mengenalinya.
Ia memperhatikan dengan seksama hanya untuk memastikan bahwa benar itu adalah Agler, tak lama kemudian datanglah bis yang berhenti tepat di depan halte. Banyak penumpang yang turun tapi satu-satunya yang mencuri perhatian adalah seorang gadis SMA, ia nampak melambaikan tangan kepada Agler begitu ia turun.
Gadis itu berlari ke arah Agler dan mengatakan sesuatu sambil tersenyum, yang membuat Alisya kaget adalah saat Agler mengusap kepala gadis itu dan menggandeng tangannya sebelum pergi.
"Jadi... itu alasan mu yang sebenarnya, sudah ku duga! tidak mungkin kau mau putus dengan ku hanya karena masalah harta" ujar Alisya emosi.
Ia bergegas berjalan mengikuti kemana Agler pergi, saat melihat Agler dan gadis itu berhenti di toko bunga Alisya sudah menyiapkan mental untuk melabraknya.
Alisya melihat gadis itu masuk ke dalam toko sedang Agler di luar sambil melihat-lihat bunga yang terpajang di sana, dengan segera ia berjalan mendekati Agler.
"Kau ingin berkata jujur atau aku akan menguak kebenarannya?" tanya Alisya tiba-tiba.
"Ka-kau? kenapa ada di sini?" tanya Agler kaget.
"Itu tidak penting! yang jelas aku sudah melihat semuanya"
"Apa? apa maksudmu?" tanya Agler bingung.
"Sampai kapan kau mau beralasan? kenapa kau tidak jujur saja padaku?" tanya Alisya yang tidak bisa berhenti.
"Kakak! bagaimana dengan bunga matahari?" tanya Ima yang tiba-tiba keluar dari toko.
Matanya beradu pandang dengan Alisya, ini adalah kali pertama mereka bertemu tentu Ima belum mengenalnya. Tapi melihat dia berada di sana dengan jarak yang cukup dekat dengan Agler ia sudah bisa menyimpulkan.
"Kau pasti teman kakak!" ujarnya.
"Heh, aku.. "
"Perkenalkan aku Ima, aku adik kak Agler senang bertemu dengan mu" ujar Ima sambil mengulurkan tangan.
"Ka-kau... adik... Agler?" tanya Alisya terpana.
"Um... ya" jawab Ima merasa heran sebab Alisya memandangnya dengan cara yang tak biasa.
'Jadi... aku salah menduga' batin Alisya tersadar.
"Um apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya untuk mencairkan suasana yang terasa kaku.
__ADS_1
"Oh kami sedang memilih bunga untuk ibu, ini adalah hari ulangtahunnya. Aku punya firasat ayah akan memberikan bunga mawar, jadi kami mencoba memilih bunga dengan jenis lain" jelas Ima.
"Oh begitu rupanya"
"Mungkin kau bisa membantu kami, jujur kami sangat kesusahan mencari hadiah yang cocok"
"Oh, ya baiklah" jawab Alisya.
Beruntung Ima adalah orang yang cepat akrab dan terbuka sehingga Alisya tak mengalami kesulitan untuk berkomunikasi, sebab setelah salah menduga ia merasa malu dan bingung harus berbuat apa.
Setelah pencarian yang cukup panjang akhirnya pilihan mereka jatuh ke pakaian, Alisya memberikan saran tentang gaun yang akan cocok di pakai oleh Mina. Dari segi harga memang itu bukanlah pakaian yang murah, tapi Alisya mau memberi sedikit uang untuk menambahkannya secara cuma-cuma.
"Terimakasih, kau sangat membantu kami" ujar Ima.
"Tidak masalah, baiklah kalau begitu pergi dulu"
"Eh tunggu!" sergah Ima.
"Kenapa kau mau pergi? ikutlah bersama kami untuk merayakan hari ulang tahun ibu, pasti dia juga senang bisa berkenalan dengan mu"
"Eh itu... tidak perlu"
"Kenapa? kau juga ikut membeli hadiah ini jadi sebaiknya kita berikan sama-sama, benarkan kak?"
"Hah? eh itu... ya" jawab Agler kikuk sebab sedari tadi ia hanya mampu melihat Alisya tanpa banyak bicara.
"Ayolah.. ini hanya sebentar saja" ujar Ima memaksa.
Akhirnya Alisya mau juga di ajak pergi, mereka pun segera pulang ke rumah dan di sambut oleh Colt. Ima memperkenalkan Alisya sebagai teman Agler yang bertemu di jalan, ia juga menceritakan kebaikan Alisya yang mau memberi mereka saran untuk memberi hadiah kepada Mina.
Dengan senang hati Mina menerima hadiah itu dan mengucapkan banyak terimakasih kepadanya, malam itu setelah acara tiup lilin mereka berpesta dengan makan hasil masakan Mina.
Melihat pesta yang sederhana namun ramai membuat Alisya teringat pada kondisi rumah Joyi, kemegahan rumah itu tetaplah terasa sepi meski ada banyak pelayan yang tinggal.
Kini ia sadar alasan di balik sepinya rumah itu karena tidak ada canda tawa khas dari sebuah keluarga, tak ada orang-orang yang saling mencintai tanpa imbalan.
"Maafkan Ima, dia sangat susah di kontrol jika sudah bercanda dengan kakaknya" ujar Mina kepada Alisya.
"Tidak apa-apa, aku justru merasa senang melihatnya"
"Benarkah?"
"Ya... di rumah aku hanya tinggal bertiga dengan nenek dan sepupu ku, mereka selalu sibuk bekerja jadi jarang ada waktu luang. Melihat Ima yang begitu ceria membuatku merasa hangat kembali, rasanya aku berada di rumah lagi saat kedua orang tuaku masih hidup"
"Oh sayang... maafkan tante" ujar Mina prihatin.
"Tidak, kenapa tante minta maaf?"
"Baiklah.. nikmati cemilan mu, biar tentu bereskan dulu piringnya"
"Eh biar aku bantu!" ujar Alisya cepat berdiri.
"Tidak perlu bergabunglah dengan yang lain dan nikmati waktumu"
"Tidak tante, ini adalah pesta ulang tahun mu jadi seharusnya anda yang berada di sana dengan semua orang. Ima sudah sangat baik mengajak ku kemari dan tante sudah berbaik hati menerima kedatangan ku, jadi biarkan aku membalasnya"
"Oh sayang.. baiklah terserah kau, tapi jangan memaksakan diri" jawab Mina.
Ia pun membiarkan Alisya membereskan meja makan sedang dirinya bergabung dengan yang lain di ruang keluarga untuk menonton sambil makan cemilan, setelah meja makan itu rapi Alisya bergegas ke dapur untuk mencuci semua piring kotor.
Saat ia telah memulai Agler datang menghampirinya untuk memberikan gelas yang kotor, ada sedikit rasa canggung tapi Agler berdiri di sana dan membantu mengeringkan piring yang basah.
"Sungguh lucu bukan? setelah hubungan kita berakhir justru aku baru di undang untuk makan malam bersama keluarga mu" ujar Alisya.
"Alisya... aku minta maaf"
"Tidak perlu, hanya saja kau perlu tahu bahwa aku tidak seperti yang kau bayangkan. Apa yang aku miliki saat ini bukanlah milik ku, aku tetap Alisya seorang gadis desa yang mengajak mu bicara di pesta terakhir sebelum kita berpisah. Jadi seharusnya kau tidak perlu khawatir soal perbedaan kita, aku sama seperti mu" ujarnya.
Agler tak bisa menahan kesedihan dalam hatinya, jelas yang di maksud Agler adalah sesuatu yang berbeda. Ia telah berulang kali berfikir dan memutuskan untuk tidak melibatkan Alisya dalam kehidupan vampirenya, ia tak mau melihat Alisya takut kepada dirinya seperti waktu itu.
Prang...
"Ah... Agler!" panggil Alisya.
Ia menatap tangan Agler yang berlumuran darah dengan serpihan kaca menancap di tangannya, entah mengapa gelas itu tiba-tiba pecah dan bisa melukai tangan Agler. Tapi saat ini yang terpenting adalah mengobati lukanya.
"Tu-tunggu di sini, aku akan membawa kotak obat" ujar Alisya.
Dengan cepat ia mengambil kotak obat di atas kulkas dan kembali lagi ke dapur, tapi saat ia kembali Agler tengah mencuci tangannya seperti biasa.
"Agler!" panggilnya sambil menarik tangannya.
Tapi saat ia melihat telapak tangan Agler pecahan gelas yang menancam di tangan itu sudah tidak ada, bahkan bekas lukanya pun telah hilang.
__ADS_1