Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 88 Kecelakaan Yang Merenggut Kebahagiaan


__ADS_3

Entah mengapa hari itu rasanya ia sangat lesu hingga ingin segera merebahkan diri, dengan tak sabar ia menuju ruang kerja Chad berharap pekerjaannya segera selesai.


Tapi tangannya yang hendak mengetuk pintu itu tiba-tiba berhenti saat mendengar sebuah teriakan dari dalam, itu suara amarah Chad yang sangat familiar.


Memutuskan menunggu hingga Chad tenang ia tetap berdiri di sana sambil memandang jam dinding yang terus berputar, entah kali ini apa yang membuat Chad marah ia sudah tak mau peduli lagi.


Tapi beberapa saat kemudian pintu di buka dengan kasar, seorang wanita keluar dan berjalan meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang mengalir deras.


"Kyra... " gumamnya mengenali wajah itu.


Sesuatu pasti terjadi, mungkin tindakan Kyra yang menyulut emosi Chad. Berpura-pura seolah tak melihat apa pun ia masuk ke dalam ruangan itu, menatap ekspresi Chad yang masih keras ia hanya berkata.


"Tuan muda, ini laporan terakhir hari ini"


"Tinggalkan saja di situ" jawab Chad singkat.


Ia melakukan sesuai dengan perkataan Chad.


"Manager San hari ini aku akan membawa mobil ku sendiri, kau boleh pulang" ujar Chad.


"Saya mengerti" sahutnya yang kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.


Berjalan di sepanjang trotoar wajah Kyra terbayang begitu saja dalam pandangannya, meski logika menyuruhnya untuk tidak ikut campur dalam urusan ini tapi hatinya tetap tak tega pada Kyra.


Hingga tanpa sengaja di lihatnya Kyra berjalan sendiri, langkahnya yang gontai membuat hatinya merasa kasian.


Perdebatan terjadi di pengadilan dalam hatinya, memutuskan apa yang harus ia lakukan saat melihat seorang gadis berjalan sendirian di tengah malam yang dingin.


"Sial!" gumamnya mengutuk diri sendiri.


Tak bisa mengabaikan hati ia bergegas menghampiri Kyra, dengan satu tangan di tariknya lengan gadis itu hingga ia berbalik ke arahnya.


Belum sempat sebuah kata terucap Kyra sudah menangis dalam pelukannya, mengadu akan kesedihan yang membludak di hatinya. Jika sudah seperti itu Manager San hanya bisa mengelusnya, membiarkan air mata itu terurai agar perasaannya menjadi lebih baik.


Tapi beberapa menit itu tidaklah cukup, masih dalam perkabungan Kyra meminta ditemani ke suatu tempat yang tenang agar ia bisa beristirahat.


Manager San menatap panjang, selama hidupnya apa pun masalah yang ia hadapi hanya ada satu tempat baginya untuk menghabiskan waktu.


Tuk


Segelas air itu ia taruh tepat di hadapan Kyra, dengan mata sembab Kyra menatap sekeliling ruangan itu.


"Rumah yang bagus" komentarnya.


"Terimakasih" jawab Manager San.


Ia adalah lajang yang tidak memiliki banyak teman, dalam hidupnya satu-satunya tempat yang ia miliki hanya apartemen itu. Tempat dimana ia akan menghabiskan waktu untuk mencurahkan segela isi hatinya.


"San... bolehkah aku meminta segelas anggur? aku ingin merayakan hari pertama bagiku untuk minum dengan mu" pinta Kyra.


Manager San terdiam sejenak, tapi kemudian ia mengangguk dan memberikan apa yang Kyra pinta.


Dengan senyum yang di paksakan itu Kyra menuanh ke dalam dua gelas, satu untuknya dan satu lagi untuk Manager San.


"Bersulang untuk ku" ujar Kyra mengangkat gelasnya.


Tring


Gelas itu beradu sebelum kemudian menyentuh mulut Kyra, hanya dalam satu tegukan ia berhasil menghabiskannya. Sementara Manager San memandang terlebih dahulu wajah yang penuh kesedihan itu, bertanya-tanya tentang apa yang telah melukainya.


Tanpa berkomentar rasanya Kyra mulai menuang lagi, dengan mudahnya ia meneguk habis anggur itu. Melihat Kyra mulai menuang untuk yang ketiga kalinya, dengan cepat ia menghentikan tangan itu sebelum sempat meminumnya.


"Apa yang sedang kau coba sembunyikan di balik anggur itu?" tanyanya prihatin.


Ada senyum pahit yang menghiasi wajah itu, dengan satu kedipan air mata segera jatuh kembali membasahi pipinya.

__ADS_1


"Ima" jawabnya.


Kyra menarik nafas panjang berharap air matanya mau berhenti mengalir, tapi di kalimat selanjutnya tetap saja air mata itu tak mau berhenti.


"Dia adalah anak yang sangat baik, manis, penuh percaya diri, kuat dan tidak pantang menyerah. Dia... sangat unik, dia punya sesuatu yang tidak aku miliki dan sesuatu itu yang membuatku kalah darinya"


"Siapa dia?" tanya Manager San.


"Chad memeluknya didepan mataku, menyebutnya sebagai cintanya" jawab Kyra mencoba tersenyum.


Rupanya selama ini ada wanita lain yang sudah Chad cintai, hal ini cukup membuatnya terkejut karena ia tak pernah melihat tuannya itu menggandeng wanita manapun.


"Mengetahui kenyataan ini membuat ku seperti memeluk duri, Chad sudah memperingati ku tapi aku tidak mau dengar. Lalu hari ini aku mengetahui bahwa dia ternyata adalah sepupuku, ternyata kami adalah keluarga"


"Apa? bagaimana mungkin?" tanya Manager San lebih heran lagi.


"Dia adalah anak dari paman Rei yang kami kira ikut meninggal, ternyata selama ini dia masih hidup dan mencoba membalas dendam karena kakek ku adalah penyebab kematian orangtua angkatnya"


"Tuan muda... mengatakan semuanya padamu?" tanyanya tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar.


"Kau... tahu ini?" ujar Kyra balik bertanya.


"I-itu.. aku hanya tahu kalau tuan muda sangat membenci keluarga Hermes, aku pikir itu hanya gosip di kalangan pelayan saja" jawab Manager San.


Sepandai apa pun menyembunyikan bangkai baunya pasti akan tercium juga, terkadang gosip memang lebih dapat di percayai dari fakta sebenarnya.


Namun tetap saja ia terkejut mengetahui Chad memberitahu semua fakta itu kepada Kyra, kini ia juga tahu alasan mengapa Chad hanya bermain tanpa memiliki perasaan terhadap Kyra.


"Sudah cukup, aku akan mengantarmu pulang" ujar Manager San saat melihat Kyra kembali meneguk anggur dalam gelasnya.


"Tidak, keluarga ku bisa hancur melihat keadaan ku sekarang. Biarkan aku istirahat di sini" pinta Kyra memohon.


Kalah pada kelemahan seorang wanita ia pun membantu Kyra berbaring di ranjangnya, membalut tubuh yang tak berdaya itu dengan selimut hingga ke dagu. Lampu di matikan, melihat Kyra menutup mata ia pun pergi.


"Maukah kau menemaniku?" tanyanya pelan.


"Jangan lakukan ini, beristirahatlah" jawab Manager San menahan gejolak.


Tapi kemudian Kyra memeluk tubuhnya, membenamkan wajah yang lusuh itu pada dada yang lapang. Dengan susah payah Manager San menelan ludah, mencoba mengalihkan benaknya pada apa pun.


Namun sialnya kini wajah Kyra beranjak pada lehernya, menghembuskan nafas yang membangkitkan gairah pada pemuda itu.


Tak ingin larut pada nafsu belaka ia melepaskan rangkulan itu, memohon dengan matanya agar Kyra tak melanjutkan apa yang hendak ia lakukan.


"Apa kau akan menolak ku seperti Chad?" pertanyaan yang membuat hati itu gentar.


Selama ini ia berjuang melawan rasa cintanya demi sebuah kesetiaan, kembali di hadapkan pada posisi serupa benaknya terombang ambing tanpa bisa memutuskan.


"Orang bilang cara cepat melupakan seseorang adalah dengan membuka hati pada orang lain, aku mencoba melakukannya pada Chad. Aku pikir luka yang kau buat bisa Chad sembuhkan dengan mudah, tapi ternyata dia malah menambah luka ini" ujar Kyra dengan air mata yang kembali mengalir.


Merasa bersalah Manager San mengusap pipi Kyra, menghapus air mata yang disebabkan oleh dirinya. Satu kecupan ringan di kening ia harap akan mengurangi rasa sakitnya, namun ternyata efeknya lebih dari sekedar itu.


Mereka mendapat satu titik ketenangan dimana nalurinya meminta lebih, sebagai tanda terimakasih Kyra membalas pada tengkuk tapi itu membuat satu persetujuan.


Tanpa perdebatan lagi kini mereka ada pada posisi yang tepat, saling melepaskan kerinduan demi kembalinya rasa cinta yang selama ini terpendam.


Kecupan demi kecupan, kata maaf demi kata maaf hingga dorongan demi dorongan yang mengirimkan ruh pada ujung kenikmatan.


Memulai dengan sesuatu yang ringan kemudian permintaan akan kecepatan yang terus di tingkatkan Kyra melihat wajah Manager San lebih tampan dari biasanya, rasa nyaman dari pemuda yang telah membuatnya jatuh cinta memberinya keberanian untuk berkata.


"Aku mencintaimu"


"Aku juga mencintaimu" balas Manager San tanpa beban.


Menyatukan tangan di atas bantal, akhirnya tak ada apa pun yang membuat mereka takut untuk bersatu. Sisa malam yang dingin itu kebahagiaan membalut mereka dalam satu rasa, meleburkan kesedihan merubahnya menjadi senyum.

__ADS_1


Hingga tubuh itu telah mencapai puncaknya, menimbulkan rasa letih yang nikmat Manager San memilih merangkul gadisnya untuk sama-sama istirahat.


Namun saat pagi menjelang yang tangannya rangkul adalah sebuah guling, bangung dengan perasaan kaget ia mencoba mencari Kyra tapi di apartemen itu tak ada siapa pun selain dirinya.


Kalut dalam perasaan yang bercampur aduk ia hanya bisa duduk merenungi apa yang telah mereka lakukan semalam.


* * *


Jessa telah memutuskan saat melihat kondisi keluarganya, dalam hampa yang tengah di rasakan Jack ia tahu sebuah kabar baik adalah obat manjur untuk mengembalikan kebahagiaan dalam rumah itu.


Maka dari itu segera ia menemui Agler, membahas rencana mereka untuk mengungkap identitas Agler di keluarga Hermes.


"Maafkan aku tapi aku tidak bisa ikut" ujar Agler yang membuat Jessa bingung.


"Aku telah memutuskan untuk tetap tinggal bersama keluarga ku di sini, mau bagaimana juga sejak lahir inilah keluarga ku dan tidak ada gunanya aku kembali ke rumah itu karena kedua orangtua ku tidak ada di sana"


"Tapi kau punya hak untuk ini, bahkan kau juga punya hak untuk perusahaan keluarga ini" ujar Jessa.


"Aku sudah bahagia dengan kehidupan ku yang sekarang, anda bisa memberitahu mereka tanpa kehadiran ku" ucap Agler.


Keputusan yang ia ambil ini telah bulat dan tak bisa di ganggu gugat, baginya cukuplah mengenal mereka sebagai keluarga dan Chad sebagai saudara tanpa harus campur tangan.


Pulang dengan tangan kosong menbuat Jessa berpikir Joyi telah mengambil langkah lebih dulu darinya, jika di biarkan makan semuanya akan berakhir seperti yang ia inginkan.


"Tidak, ini waktunya aku membongkar semua kedok mu" janji Jessa.


Ia menemui Jack dan tanpa ragu mengungkapkan semua rahasia yang selama ini ia simpan, tentu saja mengetahui hal itu Jack murka.


"Berengsek! aku sudah tidak bisa mentolerir tindakannya, jika dia ingin perang maka akan ku ladeni dia" ujar Jack penuh amarah.


Tanpa berfikir segera ia menyuruh supir untuk mengantarnya ke perusahaan Sanwa, tempat dimana Joyi memetik pundi-pundi hartanya yang semakin banyak.


Sayangnya saat itu hanya ada Chad, tak bisa melangkah mundur Jack memutuskan setidaknya menguak kebusukan Joyi pada cucunya itu.


"Kau mungkin tidak percaya tapi inilah yang terjadi, Joyi bukanlan malaikat seperti yang kau bayangkan" ujarnya.


"Sungguh kalian sangat pintar sehingga bisa membulak balikkan fakta" ucap Chad santai.


"Di malam itu saat ibu ku berhasil melahirkan kami kedunia nenek mencoba menyelamatkan kami dengan memindahkan kami kee tempat yang lebih aman, tapi saat ia memalingkan wajah saat itulah kau beraksi dengan membakar pondok itu untuk menghabisi kami" ungkap Chad.


"Apa? tidak Chad, aku melihat kebakaran itu tanpa tahu bahwa ada kalian di dalam. Aku tidak tahu kenapa tempat itu terbakar, bahkan aku segera mencari bantuan untuk memadamkannya" sergah Jack.


"Kau sangat pandai bersandiwara, bahkan setelah itu kau juga membunuh kedua orangtua angkat ku seolah penderitaan yang ku alami tidak cukup"


"Apa maksud mu?"


"Tiga September disaat hujan mengguyur bumi, kau mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga menabrak sebuah mobil di depan mu. Dua orang yang ada di dalam mobil itu tewas seketika, mereka adalah pasangan suami istri yang hendak menjemput anaknya. Mereka adalah orang tuaku yang tidak pernah datang hingga sampai saat ini, padahal sebelumnya mereka menelpon untuk memberitahuku bahwa mereka akan sampai sekitar sepuluh menit" jelas Chad.


Pada hari itu, dimana jalanan begitu licin ia kehilangan kendali atas mobilnya sendiri. Sebuah kecelakaan memang telah terjadi, Jack pun mendapat luka yang cukup serius hingga membuatnya harus di rawat selama seminggu penuh.


Saat sadar ia di beritahu bahwa kecelakaan telah terjadi yang menewaskan dua orang, meski ia merasa sedih akan hal itu tapi karena semuanya sudah di tangani dengan baik maka dengan mudahnya ia melupakan insiden itu.


"Sepanjang hari aku menunggu, berharap mereka membawakan mainan baru untuk ku. Tapi yang datang kemudian adalah sebuah kabar duka, saat itu mereka bilang kedua orangtua ku telah menjadi malaikat yang tinggal di surga. Aku pikir itu sesuatu yang baik sampai aku berandai diriku ikut dalam kecelakaan itu, tapi nenek melarangku dengan sebuah kebencian di hatinya" ungkap Chad.


Jack tak bisa berkata apa pun lagi, itu adalah fakta yang tak bisa ia sangkal.


"Sekarang aku mengerti, kenapa seorang pembunuh bisa hidup bebas tanpa perasaan bersalah. Bahkan kau tidak datang dalam acara pemakaman kedua orang tua ku untuk ikut berbela sungkawa, aku bertanya-tanya terbuat dari apa hatimu"


"Chad... aku tidak tahu jika itu orangtua mu"


"Lantas mengapa? jika akau tahu apa mau akan datang? apa kau akan bertanggung jawab? sekali pun dia orang lain seharusnya kau perlihatkan sedikit kebaikan mu! apa kau tahu kecelakaan itu telah merenggut satu-satunya kebahagiaan ku di dunia, kau yang telah membuat ku menjadi pria yang menghabiskan sepanjang hidupnya hanya untuk balas dendam! semua karena salah mu!" teriak Chad yang tak bisa menahan emosi lagi.


"Aku... minta maaf, itu sebuah kecelakaan yang tidak bisaku hindari" ujar Jack menyesal.


"Ya, bahkan kau juga tidak bisa memperbaikinya" ucap Chad.

__ADS_1


__ADS_2