
Kedamaian membuat pekerjaan sebagai penjaga perbatasan menjadi santai, setiap malam mereka hanya akan menghabiskan waktu dengan bersantai. Tentu sesekali mereka akan berpatroli, berjalan di sepanjang jalur hanya untuk melihat pemandangan yang sama di setiap malam.
Sama seperti malam-malam sebelumnya Hans duduk menatap hamparan hutan yang rimbun, gelap dengan udara dingin yang menusuk.
Begitu sunyi hingga yang ia dengar hanya suara gesekan ranting saat di tiup angin, atau nafasnya sendiri yang berat karena memikul masalah.
Benaknya terus bertanya mengapa perjanjian berdarah itu berubah, setahunya perjanjian dengan vampire tak bisa berubah dengan mudah kecuali kedua belah pihak memutuskan adanya perubahan.
Maka itu berarti Jack dan Tianna telah bicara tentang sesuatu yang tidak ia ketahui, karena ia menyangkal Jack mengetahui tindakannya maka untuk saat ia berfikir mungkin Tianna menggoda Jack untuk menjadi menantu keluarga Hermes.
Meski kemungkinan hal itu bisa terhadi tapi masih saja ia bingung, sebab identitas Tianna sebagai vampire tentu akan sulit hidup di tengah keluarga penyihir.
"Apa yang dia rencanakan?" gumam Hans bingung.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Reah sambil duduk tepat di sampingnya.
"Ah.. tidak ada" sahutnya.
Jelas Hans tak pandai berbohong, ia memalingkan wajahnya saat menjawab. Reah hanya bisa mendengus pelan, cukup kesal karena sikap Hans yang masih belum terbuka padanya.
Sudah cukup lama Reah memendam perasaannya kepada Hans, bagi seorang gadis dia terhitung sabar karena masih bersikap layaknya teman.
Tapi tentu kesabarannya juga ada batasnya, ini sudah terlalu lama bagi Hans untuk melupakan Elf. Harusnya kini sudah tak ada hambatan lagi, oleh karena itu ia memutuskan untuk mencoba peruntungannya.
"Hans.. apa besok kau ada waktu senggang?" tanya Reah memberanikan diri.
"Entahlah... sepertinya ada, kenapa?" tanya Hans balik.
"Um.... besok adalah hari ulang tahun ku, maukah kau datang ke pesta acara ulangtahunku?"
"Benarkah? selamat ya... maaf aku tidak tahu kalau besok kau ulang tahun, um.... aku rasa aku bisa datang"
"Sungguh?" tanya Reah penuh semangat.
"Ya, tentu saja"
"Baiklah... aku akan menunggu kedatangan mu" ujar Reah bersyukur.
Penantian adalah sebuah hal yang selalu mendebarkan, hanya dalam waktu sekejap ia mengatur segalanya agar terlihat sempurna.
Dekorasi lilin yang menghiasi ruangan menimbulkan efek romantis yang selama ini ia idamkan, untuk pertama kalinya ia berdandam dengan setelan dress biru cerah. Sebuah anting-anting berkilau di ujung telinganya saat terkena cahaya, pipinya merona dengan senyuman yang merekah indah.
Ting Tong
Bel berbunyi, mengetuk hatinya yang kian berdebar tak karuan. Menyiapkan diri Reah berjalan menuju pintu, menarik nafas dalam-dalam sebelum memutar kenopnya.
Ceklek
"Hai" sapa Hans begitu pintu terbuka.
"Hai, masuklah.. " jawabnya.
"Ini untuk mu, sekali lagi selamat ulang tahun" ujar Hans menyerahkan bucket bunga.
"Terimakasih" sahut Reah mencium aroma bunga yang harum.
"Ayo masuk" ajaknya sambil berjalan lebih dulu.
"Um... kemana yang lain?" tanya Hans melihat ruangan itu sepi tanpa ada seorang pun kecuali mereka.
"Um.. sebenarnya kau terlambat, semuanya sudah pulang tadi"
"Benarkah? aku pikir aku datang sesuai undangan"
"Sebenarnya aku merubah jadwalnya, aku lupa memberirahumu. Maaf" ujar Reah cepat.
"Oh begitu rupanya, tidak masalah"
"Tapi aku masih punya satu kue lagi yang belum ku potong, kita bisa mengadakan pestanya kembali"
"Baiklah" sahut Hans.
Reah tersenyum senang sebab Hans tidak masalah akan hal itu, ia menyuruh Hans menunggu sementara ia akan membawa kue itu.
Acara pun berlangsung tanpa ada masalah meski hanya dihadiri mereka berdua, Hans banyak mengajak bercanda yang membuat Reah terkesan.
Di sepanjang waktu dimana hanya ada mereka berdua Reah banyak mencuri pandang, menatap penuh cinta pada pemuda yang berhasil menaklukkan hatinya.
"Hans, pernahkah kau berfikir hal lain selain hidupmu saat ini?" tanyanya.
"Maksudnya?" tanya Hans jelas kurang mengerti.
"Maksudku seperti pernahkah kau berfikir karir lain yang akan kau jalani selain menjadi penjaga perbatasan? misal bekerja di kantor seperti orang-orang kebanyakan"
"Ah aku mengerti, um... sebenarnya sebelum menjadi ksatria aku pernah bekerja di kantor. Sayangnya pekerjaan itu tak cocok untuk ku, aku gagal dalam sebuah proyek dan membuat orang tua ku malu karenanya aku memilih menjadi Ksatria"
__ADS_1
"Sungguh?"
"Ya, aku tidak pandai dalam hal mengurus perusahaan. Bagaimana dengan mu?" tanya Hans balik.
"Setelah dendam ku tercapai rasanya ada ruang hampa yang membuatku bingung harus berbuat apa. Selama ini aku bekerja keras menjadi ksatria hanya untuk membalas dendam, kini setelah dunia damai aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan"
"Seperti kehilangan tujuan hidup" sambung Hans tiba-tiba.
"Ya... seperti itu" balas Reah.
Sejenak mereka terdiam, mendalami perasaan hampa dimana hati itu hanya sebuah ruang kosong.
"Tapi sebenarnya aku memiliki cadangan" ujar Reah tiba-tiba.
"Apa? cadangan?"
"Aku ingin menikah dengan pria yang aku cintai" sahut Reah manatap Hans dengan pandangan penuh pernyataan.
Hans terpaku, cukup kaget dengan pernyataan yang semua gadis inginkan.
"Yah itu bagus" komentarnya akhirnya.
"Hans... aku mencintaimu.. " ucap Reah dengan bibir bergetar.
Matanya syarat akan penuh perasaan itu, dengan sedikit senyum demi menyiapkan hati akan penolakan yang kemungkinan terjadi.
Sejenak Hans hanya terdiam, tak menyangka akan ada seorang gadis yang menyatakan cinta kepadanya. Tak pernah ia berfikir akan hal itu, apalagi sekelas Reah yang terkenal dikalangan pemuda.
"Reah aku... "
"Aku tahu Hans" potong Reah sebab ia memang mengetahui isi hari pemuda itu.
"Kau mencintai gadis lain yang selalu kau hirup aroma tubuhnya tapi tak dapat kau sentuh hatinya, aku mengerti bagaimana kesulitan mu melupakan dia karena takdir yang tidak mengijinkan kalian bersama. Aku pikir aku bisa hadir sebab cintamu tak kan pernah sampai padanya, tapi aku salah besar" lanjutnya.
Reah tersenyum lebar tapi air mata mengalir di pipinya, jelas hatinya menahan rasa sakit seperti duri di telapak kaki yang semakin menancap saat berlari.
Entah mengapa Hans merasa bersalah, padahal ia tak mengatakan apa pun.
"Maafkan aku.. " bisik Reah.
"Ini bukan hari ulang tahun ku, tak ada tamu yang datang untuk merayakannya kecuali kau" ujarnya yang membuat Hans melongo kaget.
"Aku berbohong, dengan sengaja aku membuat rencana ini hanya agar aku memiliki kesempatan untuk mengutarakan isi hatiku"
Reah mencoba menyeka air matanya yang terus mengalir keluar, berkali-kali hingga makeupnya ikut terhapus.
"Aku terus mencari kesempatan ku tapi tak pernah ada, karena itu.... karena itu aku menciptakannya... ini... adalah pernyataan paling buruk yang pernah ada... " ucapnya di tengah isak tangis yang tak mau berhenti.
Reah membalikkan badan, kembali mencoba menghapus air matanya. Tentu sebagai seorang pria Hans merasa bersalah, ia tak tega melihat Reah namun bingung harus berbuat apa.
Tangannya terulur, hendak menyentuh bahu Reah yang selama ini memikul banyak beban di mulai dari kehilangan kedua orang tuanya hingga beban sebagai ksatria yang harus melindungi umat manusia.
Betapa bahu yang kokoh dan kuat, kini melemas hanya karena cinta yang tak terbalaskan.
Hans menarik tangannya sebelum sempat menyentuh bahu itu, mengepal dengan keras dan memandang sayu punggung gadis yang beberapa kali menyelamatkan hidupnya.
Reah masih menangis, meratapi kisahnya yang tragis dalam hidup dan cinta. Membiarkan Hans mengambil keputusannya, dan saat langkah Hans terdengar meninggalkannya. Menuju pintu dan keluar dari ruangan itu, Reah tahu untuknya selalu jawaban tidak.
* * *
Terkurung dalam situasi sulit membuat Alisya sulit mempertahankan kewarasannya, terkadang daun yang jatuh akan ia lihat sebagai potongan wajah Agler yang sudah lama tak ia lihat.
Cinta sudah seperti rum yang bilamana tidak ia tenggak sehari saja tenggorokannya akan berubah menjadi padang pasir, begitu kering keronta dan membutuhkan basuhan.
Berjalan keluar kampus dengan lingkaran hitam di bawah matanya, tak peduli meski sinar matahari membakar kulit pucatnya yang telah lama terkurunh di kamar.
Tuk
Sebuah kerikil kecil tepat mengenai pinggangnya, ia tak perduli. Kembali berjalan melewati semua hal yang biasa ia tatap dengan takjub, sekali pun itu adalah pohon tua dengan ranting kering.
Tuk
Sekali lagi kerikil itu mengenainya, kini ia mendengus dengan kasar. Melirik ke arah dimana kerikil itu berasal, seorang pria yang selama ini menjadi bayangan muncul dari balik tembok.
Tersenyum kepadanya, melepas topi yang menutup sebagian wajahnya agar Alisya mengenalinya.
"Agler... " panggilannya pelan.
Drap Drap Drap
Alisya segera mengambil langkah cepat, berlari menghampiri pujaan hatinya untuk merangkul dan melepaskan kerinduannya.
"Oh.. Agler... " panggilnya lagi kini dalam pelukan yang erat.
"Alisya, kau baik-baik saja?" tanya Agler cemas.
__ADS_1
"Tidak, nenek terus mengurung ku. Sekarang aku di ijinkan keluar tapi dengan pengawasan yang cukup ketat, sebenarnya apa yang terjadi?" ungkap Alisya.
Agler hanya terdiam, ia sendiri pun kurang memahami masalahnya.
"Jangan pikirkan apa pun, aku baik-baik saja dan sesegera mungkin kita akan kembali seperti dulu" sahutnya.
Alisya tahu sesuatu tengah di sembunyikan darinya, terbiasa di perlakukan seperti itu ia memilih untuk mengangguk. Tapi tentu saja diam-diam dia akan mencaritahu penyebabnya, di pihaknya ada Ima dan Chad yang bisa membantu.
* * *
Mendapat pernyataan cinta dari gadis yang ia kagumi membuat Hans teringat akan Elf, cintanya pun bertepuk sebelah tangan karena takdir yang tak merestui.
Mengingat hari-hari indah dalam kebersamaannya dengan Elf ia pikir semuanya akan berjalan sempurna, luka yang hampir menutup itu kini terkoyak hanya karena cinta orang lain kepadanya.
Termenung sendiri membuatnya kembali teringat ucapan Tianna akan perjanjian baru yang di buat Jack, senyum pahit pun muncul di wajah lesu Hans.
Bagaimana tidak? Reah adalah ksatria tangguh yang mencintainya sedangkan dirinya jatuh cinta pada bibinya sendiri, sementara itu ia harus menikahi vampire karena perjanjian yang di buat kakeknya.
Sungguh kisah cinta yang ironis, siapa pun tak mendapatkan cintanya dengan indah. Tapi hal itu membuat Hans memikirkan sesuatu, ia pergi menemui Tianna di malam yang cukup dingin.
Dengan wajah serius di tatapnya Tianna yang baru datang dengan senyum di wajah pucatnya.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu"
"Katakan" sahut Tianna.
"Mengapa kakek membuat perjanjian baru? apa yang ia inginkan?"
"Ck, dia ingin sebuah ramuan yang bisa membuat orang lumpuh berjalan normal" decak Tianna kehilangan sedikit gairahnya karena pertanyaan itu.
Hans sedikit merenung sampai ia sadar yang di inginkan Jack adalah obat untuk membuat Kyra kembali sehat, senyum pahit melintang di bibirnya.
Setelah berkorban demi Jessa kini ia harus berkorban demi sepupunya Kyra.
"Apa.. kau punya obatnya?" tanya Hans pelan.
"Tentu saja, aku punya berbagai macam obat" sahut Tianna.
"Jika... aku menolaknya apa yang akan kau lakukan?"
"Sudah jelas bukan? dia tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan"
"Bagaimana jika aku menawarkan yang lain? apa pun yang kau inginkan selain pernikahan" ujar Hans.
Tianna merenung, saat ini tak ada yang ia inginkan kecuali menjadi menantu keluarga Hermes. Ia pikir tak bisa menjadi putri di istana setidaknya ia memiliki kekuasaan di tengah keluarga penyihir terkenal.
"Sepertinya tidak, aku hanya ingin menjadi menantu keluarga Hermes"
"Begitu rupanya, baiklah... aku menyetujuinya" ujar Hans membuat senyum penuh kemenangan di wajah Tianna.
Pertemuan mereka berakhir, Hans pergi meninggalkan tempat itu tanpa menyadari Agler yang kini mendengar semuanya.
Pergi menuju perbatasan dimana para ksatria bertugas, Hans menemui Reah yang cukup terkejut akan kehadirannya sebab malam itu bukan jadwal Hans bertugas.
Apalagi mengingat hari dimana ia menyatakan cintanya dengan bodoh, Reah merasa tak memiliki muka untuk bertemu dengan Hans.
Ia mencoba menghindar, tapi dengan terang-terangan Hans berkata ingin bicara. Memilih berjalan di sepanjang perbatasan agar tak ada yang mendengar perbincangan mereka, untuk beberapa saat hanya ada suara gesekan ranting yang terdengar.
"Aku ingin minta maaf karena... aku meninggalkan mu begitu saja hari itu" ujar Hans pelan.
"Tidak masalah" sahut Reah kikuk.
"Kau benar, meski tahu cintaku tak kan pernah sampai tapi hingga saat ini aku masih mencintainya. Sulit melupakan orang yang selalu membuat kita merasa nyaman, terlebih lagi orang itu cukup dekat" ujar Hans.
"Maafkan aku Reah, aku merasakannya sendiri bagaimana rasa sakit saat tidak berhasil mencapai hasrat. Sekali pun kita bersama kau tidak akan memiliki hatiku, hanya ragaku yang berhasil kau sentuh dan itu tidaklah sepadan"
"Aku tahu" jawab Reah cepat.
Matanya sudah mulai berair dan siap menangis kapan saja.
"Tidak akan ada yang bahagia diantara kita sekalipun hubungan itu berhasil terjalin, aku lebih mengerti situasinya" ujarnya menguatkan hati dengan mengepalkan tangan sekuat mungkin.
"Bisakah.... kita masih berteman seperti sebelumnya?" tanya Hans.
"Tidak... " jawab Reah menggeleng.
"Itu tidak akan berhasil, setelah pernyataan itu cintaku tak bisa sembunyi di balik kata pertemanan. Rasanya tidak akan pernah sama lagi, akan ada kecanggungan diantara kita" jelasnya.
"Lalu menurut mu apa yang harus aku lakukan?"
"Menjauh dariku, aku akan mengatur jadwal agar kita tidak bertemu dalam tugas" sahut Reah.
Ada kelingan air mata yang terbang saat ia berjalan melewati Hans, mengusap bekas basah di pipinya yang tentu di ketahui Hans.
Membuat perasaan bersalah semakin mengutuki Hans, membuatnya tak berdaya dalam masalah yang tidak pernah ada kata habisnya.
__ADS_1