
Tak ada yang luput dari penglihatannya, bahkan debu di ujung sepatunya dapat ia lihat dengan baik apalagi tingkah yang di luar kebiasaan. Jelas Joyi sadar akan sesuatu yang di sembunyikan Chad darinya, mengingat siapa identitas Chad maka tidak ada gunanya menyuruh orang lain sebab dengan mudah akan di ketahuinya.
Joyi sudah memutuskan dia akan pergi sendiri, mulai dari pagi hari dimana Chad akan pergi ke kantor setelah selesai sarapan. Nampak tak ada yang mencirikan dari sana, tapi menjelang senja yang dimana Chad akan menghabiskan waktu dengan Ima atau lembur kali itu ia pergi.
Anehnya Chad pergi ke luar kota dengan menggunakan bis, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan seumur hidup dan tentu itu sangat mencurigakan.
Chad berhenti di sebuah halte yang cukup sepi, dari sana ia berjalan membelas hutan. Cukup lama sampai akhirnya dari balik pepohonan sebuah bangunan besar terlihat, rumah yang keadaannya cukup kumuh.
Dari kejauhan Joyi melihat Chad masuk ke rumah itu, sangat mencurigakan terlebih setelah ia menunggu beberapa saat Jhon juga masuk ke dalam rumah itu.
Joyi begitu penasaran tentang apa yang Chad sembunyikan terlebih Jhon terlibat dalam hal ini, namun kecurigaan itu berubah menjadi rasa heran yang bercampur aduk dengan kaget.
Chad keluar dari rumah itu di temani seseorang yang sangat familiar, wajahnya yang tidak berubah membuat Joyi dapat mengenalinya dengan mudah.
* * *
"Kau tidak perlu datang setiap hari" ujar Reinner sambil menepuk pundak putranya itu.
"Tidak apa-apa ayah, pekerjaan ku selalu selesai dengan cepat" sahut Chad.
Reinner tersenyum, kemudian membiarkan Chad berpamitan dan pergi. Ia masih berdiri di sana sampai Chad benar-benar hilang dari pandangnya, menyematkan senyum senang ia membalikan badan untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya.
"Rei.... " panggil seseorang menghentikannya langkahnya.
Reinner membalikkan tubuhnya secara perlahan, dan saat matanya menatap seorang wanita tua yang masih terlihat bugar dengan cepat ia mengenalinya.
"Bibi Joy.... " balasnya terpana.
"Kau... kau... masih hidup... " ujar Joyi tak dapat menahan air matanya.
Di detik selanjutnya mereka saling merangkul, hanya beberapa menit untuk mencurahkan semua kerinduan sang anak dan pengasuh rasa ibu kandung.
Puas saling berpelukan Reinner mengajak Joyi masuk, kebetulan rumah itu sedang kosong karena semua orang sedang keluar terkecuali Alabama yang tidak akan pernah keluar dari ruang bawah tanah jika tidak ada hal keperluan.
Mereka mulai berbasa-basi dengan saling bertanya kabar, barulah sesi selanjutnya Reinner menceritakan perjalanan panjangnya yang beberapa kali hampir kehilangan nyawa.
"Astaga Rei..... betapa hidupmu sangat di berkahi" ujar Joyi bersyukur.
"Ya, ini semua berkat Anna" sahutnya mengingat bagaimana ia pertama kali selamat dari maut.
Ada keheningan sejenak yang hadir di antara mereka, membuat rumah berdebu itu layak mendapat gelar seram.
"Ini aneh sekali, kenapa Chad tidak memberitahu ku" gumam Joyi.
"Chad? oh maksud mu Agam"
"Ya, dia tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku karena itu aku sampai mengikutinya kemari karena penasaran"
"Jadi kalian cukup dekat rupanya"
"Tentu saja, kami tinggal serumah dengan cucu ku yang lain Alisya"
"Apa? bukankah Chad tinggal sendiri?" tanya Reinner heran.
"Tentu saja tidak, apa dia tidak menceritakan tentang ku padamu?" tanya Joyi.
Reinner menggeleng dengan dahi berkerut, tentu ini semakin membuat Joyi heran sebab rupanya Chad tidak menceritakan mereka kepada satu sama lain.
"Dia hanya bercerita pernah di adopsi oleh pasangan Menhad yang kemudian meninggal, merekalah yang memberi nama Chad dan meninggalkan bisnis keluarga untuknya" ujar Reinner.
"Ya, itu memang benar. Menhad adalah nama belakang dari suamiku dan orangtua yang mengadopsi Chad adalah anak tiriku, setelah Catherine...... " ucapan Joyi tiba-tiba terhenti sebab kini ia menyadari alasan mengapa Chad menyembunyikan hal ini darinya.
"Apa yang terjadi pada Catherine?" tanya Reinner penasaran.
"Rei... apa kau sudah bertemu dengan keluarga mu?" tanya Joyi pelan setelah lamunan panjangnya.
"Ya, aku tinggal dengan mereka sekarang" jawabnya.
__ADS_1
"Oh Rei.... betapa malangnya nasibmu" ratap Joyi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Reinner hanya mampu terdiam, menunggu sampai Joyi mau bicara tentang apa yang membuatnya bersedih secara tiba-tiba.
Butuh waktu yang lama untuk menceritakan kisah itu, tapi Reinner memilikinya sehingga Joyi pun dapat menambahkan kisah itu dengan harapan yang belum terwujud.
Langit sudah gelap sejak tadi, tapi mendung baru singgah di hati Reinner. Membuat derai air matanya mengalir seperti sungai yang tak bermuara, deras bak hujan dengan petir yang menggelegar.
"Chad menyembunyikan hal ini karena ia tahu kau tidak akan bisa menerimanya, bahkan seorang bayi yang tidak pernah melihat wajah ibunya pun tersiksa selama dua puluh tahun lebih karenanya. Dari luar yang akan kau lihat hanya seorang pemuda gagah yang mapan dengan sifat dingin, tapi saat kau mengetuk pintunya maka dari jendela saja kau akan menemukan retakan di setiap ujung hatinya" ujar Joyi.
"Bagaimana mungkin ayah bisa setega itu?" gumam Reinner.
"Hanya ada satu jawaban dari semua pertanyaan, itu adalah wanita yang membuat mu berkorban" jawab Joyi.
Rei tertegun, seketika ia ingat kilas balik dalam hidupnya.
"Bukan hanya kau, tapi keponakan mu Kyra sempat ingin mengakhiri hidupnya akibat tekanan yang di berikan"
"Apa maksud mu?" tanya Rei.
Joyi membuat mukanya, menatap api lilin yang sebentar lagi akan mati. Di sisa cahaya itu sekali lagi ia menceritakan kenyataan yang terjadi di masa lalu, dimana ia hanya seorang pelayan pribadi Jack.
Itu merupakan kisah ramalan yang telah ia ceritakan juga kepada Jack, tugasnya untuk memisahkan Jack dan Jessa pun ia berikan alasannya kepada Reinner.
"Aku tidak berharap kau percaya, sejak awal peran ku hanya kepala pelayan yang penuh ambisi. Tapi kenyataan tidak pernah bisa kau tolak, semua bermula dari Anna lalu Ken dan kau dalam generasi pertama dan kini kedua anak mu serta Kyra dalam generasi ini"
"Satu lagi yang belum kau sebutkan" ujar Reinner dengan mata yang tertunduk sayu.
Joyi menatap heran, tapi saat Reinner mengangkat wajahnya ia melihat kepercayaan.
"Hans pun ikut dalam lingkaran pengorbanan, dia hampir menjadi seperti ku andai aku tidak datang di waktu yang tepat" ujarnya.
Lagi, keheningan muncul namun kini membawa kegelapan duka. Menutup seisi ruang di hati Joyi, sementara Reinner bergelut dalam pikirannya sendiri.
"Aku harus cepat mengakhirinya" ujar Joyi tiba-tiba.
"Memang hanya aku hanya bisa mengakhirinya, sejak awal memang seperti itu" ulangnya.
Bangkit dari tempat duduknya Joyi berjalan melewati Reinner, senyum itu masih di sana yang membuat kerinduan Reinner semakin menggila.
"Ah apa Chad sudah mengenalkan Ima kepadamu?" tanyanya yang segera di jawab oleh sebuah anggukan pelan.
"Dia adalah gadis ceria yang pandai, berkat dia Chad lepas dari kesedihannya dan lebih terbuka lagi. Ku harap kau akan merestui hubungan mereka dengan baik, dan satu hal lagi" ujar Joyi sambil membalikkan badannya untuk menatap Reinner.
"Cucu ku bernama Alisya, dia menjalin hubungan dengan Agler. Saat ini aku tidak mengijinkan mereka bersama sebab ada hal yang harus Agler tuntaskan terlebih dahulu, setelah tugas ku selesai aku harap kau sudi membawa Alisya bersama mu sebagaimana aku membawa Chad sebab nasib mereka tak jauh berbeda"
"Bibi Joy..... apa yang kau rencanakan?" tanya Reinner curiga.
Senyum hangat itu kembali merekah sebagai ganti jawabannya, membuat Reinner lebih khawatir sebab ia lebih mengenal Joyi dari siapa pun.
* * *
Pagi dimana harusnya Agler sudah berada di kantor tapi kakinya justru berpijak pada bebatuan di bukit, dari semilir angin yang menerbangkan mantel berbulu milik Joyi aroma parfum menyebar hingga ke pucung hidup Agler yang sensitif.
Tangannya saling menggengam di balik punggung, seolah bersembunyi dari ujung tebing yang curam.
"Kau bisa katakan sekarang" ujar Agler sebab ia tahu Joyi sudah merasakan keberadaannya.
"Hari itu aku meminta sesuatu yang membuat mu marah, saat itu berfikir hanya kau satu-satunya harapan ku sebab Chad telah kehilangan arahnya" ucap Joyi tanpa membalikkan badan.
Matanya yang telah mulai rabun menatap pemandangan di bawah tebing yang indah sekaligus mengerikan, seperti saat dimana ia menceritakan kisah yang konyol.
Agler adalah salah satu yang percaya pada ramalan meski tidak untuk di yakini, ia paham posisi Joyi saat mendengar ramalan buruk itu terlebih setelah ia mengetahui pengorbanan Hans yang kelewat batas.
Bahkan sebelum itu terjadi Joyi sudah dapat meyakinkannya dengan nasib buruknya yang kehilangan kedua orang tua saat lahir kedunia, ada satu rasa kesal terhadap Jessa yang mendorongnya kemudian untuk berpihak pada Joyi.
Tapi apa yang di minta Joyi adalah hal yang di luar nalar dan kemampuannya, saat itu Joyi meminta Agler untuk mengemban tugasnya yaitu menghabisi nyawa Jessa.
__ADS_1
"Ada banyak pengorbanan yang ku lihat di balik tembok kokoh itu, nasib tak baik yang merantai kedua sepupuku hingga pergelangan mereka di lumuri darah. Saat ini aku berdiri sebagai Hermes hanya untuk memastikan orang-orang yang tak bersalah tetap dalam keadaan selamat, tapi aku masih tidak bisa melakukan apa yang kau pinta"
"Sesungguhnya iblis tidak pernah menampakan wajah yang menyeramkan, dia akan menyalin rupa bayi yang menggemaskan, gadis cantik yang ketakutan atau wanita tua yang penuh kasih sayang. Untuk membunuhnya justru kitalah yang akan bertopeng iblis dengan dua tanduk di kepala, sebagai orang baik wajar jika kau tidak sanggup melakukannya" ujar Joyi.
"Lalu... apa yang akan kau lakukan?" tanya Agler.
"Menuntaskan tugas ku" jawab Joyi dengan menampilkan senyum hangat yang membuat Agler terkejut sebab senyum itu begitu tulus seperti seorang ibu.
* * *
Di hari yang cerah itu bunga di taman bermekaran dengan sangat indah, Jessa telah menyiapkan secangkir teh untuk ia nikmati sambil menghirup udara segar.
Tapi seorang pelayan tiba-tiba menghampirinya dan memberitahu ada seseorang yang menelpon menanyakan tentang dirinya, dengan penasaran ia pun segera masuk ke dalam untuk menerima telpon itu.
"Halo" sapanya.
"Sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanya seseorang di seberang sana.
"Siapa ini?"
"Mudah sekali kau melupakan ku dan hidup dalam kedamaian, sayang sekali kata itu tidak akan bertahan selamanya. Waktumu hanya satu jam untuk sampai di bukit sebelum racun yang sama akan merenggut nyawa orang yang kau cintai"
"Jangan bercanda! katakan siapa kau?" teriak Jessa mulai panik.
"Halo!"
Tuuuuuuuutttt....
Terlpon itu di putus begitu saja tanpa peringatan lainnya, hati Jessa kini benar-benar cemas hingga ia tak bisa berfikir jernih. Entah ini hanya lelucon atau seseorang memang sedang bermain permainan kematian dengannya, apa pun itu Jessa memutuskan untuk memeriksanya.
Ia segera bergegas pergi keluar, dengan di antar sang supir menuju bukit. Yang tidak ia sadari adalah tindakan itu membuat Ryu penasaran, diam-diam Ryu mengikuti kemana Jessa pergi.
Rasa heran mulai menggandrungi hatinya saat melihat mobil yang di naiki Jessa berhenti di pinggir hutan, dengan cepat ia pun keluar dari mobil sebab Jessa nampak berlari ke dalam hutan.
Sayangnya di tengah hutan itu ia kehilangan jejak Jessa, sebagai wanita tua ia kagum akan kelincahan Jessa. Mulai mengingat pelajaran pencarian jejak di Akademi Ryu pun mencari beberapa petunjuk hingga langkahnya terbawa ke bukit, sayangnya tak ada apa pun yang ia lihat kecuali hamparan rumput yang luas.
Aaaaaaaaaaaa......
Tiba-tiba sebuah teriakan seseorang menggema, telinganya yang mendengar jelas mengirim sinyal waspada pada tubuhnya. Menatap sekeliling kini yang ia dengar adalah sayup rintihan seseorang, dengan cepat Ryu pun berlari ke arah sumber suara tersebut.
Srak Srak Srak
Kakinya yang terbalut sepatu berulang kali menginjak ranting dan daun kering yang menimbulkan suara saat ia berlari, di tengah perjalanan tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan seseorang yang juga sedang berlari.
"Ayah!" teriak Ryu memanggil sebab ia sangat mengenali sosok itu.
"Ryu! apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jack kaget.
"Itu... "
"Ti..dak......... " belum sempat Ryu menjawab teriakan itu kini terdengar lagi namun lebih jelas.
Mengabaikan jawabnya yang belum tuntas mereka segera kembali berlari menuju sumber suara, dan ketika mereka sampai sebuah pemandangan mengerikan menyambut kedatangan mereka.
Chad menangis dan tak henti merintih, dalam dekapannya Joyi tergeletak tak berdaya dengan keadaan yang mengenaskan. Tubuhnya di penuhi darah dengan luka yang terbuka lebar di perut, Chad berusaha menghentikan pendarahan itu namun tak berhasil yang membuat Joyi semakin melemah.
"Apa yang terjadi?" tanya Ryu.
Perlahan tangan Joyi terangkat dengan sisa tenaga yang ada, telunjuknya yang berlumuran darah gemetar saat menunjuk seorang wanita di sisi lain.
"Jessa.... " ucapnya pelan sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
"Nenek! nenek! bangunlah... nek.. " panggil Chad berusaha mengambil kembali kesadaran Joyi.
Sementara Ryu dan Jack menatap Jessa yang mematung, tangannya yang ikut berlumuran darah masih memegang sebilah belati yang mengkilap karena noda darahnya terkena cahaya matahari.
Dalam waktu satu detik saja Ryu sudah tahu apa yang terjadi, itu merupakan sebuah tragedi yang tidak pernah bisa di lupakan.
__ADS_1