Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 112 Warisan Balas Dendam


__ADS_3

"Aku sudah mengetahui siapa yang telah menyerang kita" ujar Ballard dengan wajah serius.


Chad masih terdiam mencerna ucapan itu, ia tak mau menerka sebab pada akhirnya siapa pun sang pelaku pada akhirnya akan ia ketahui.


"Dia adalah Jack" ujar Ballard.


"Aku butuh alasan mengapa dia melakukan hal ini" sahut Chad dengan wajah serius.


"Kau bisa bertanya pada anak buahnya langsung" ucap Ballard.


Dari dalam ruangan dua vampire menyeret seorang penyihir yang sudah babak belur keluar, menjatuhkan tubuhnya yang tak berdaya di hadapan Chad.


"Bangun! katakan sekali lagi alasan mu menyerang kami" teriak Ballard.


Penyihir pria itu mengangkat wajahnya pelan, menatap Chad dengan mata yang tak bisa terbuka dengan sempurna sebab ada luka di pelipisnya.


Bruk


"Tuan, ampuni nyawaku... " ujarnya sambil merangkul kaki Chad.


"Katakan padaku siapa yang menyuruhmu?" tanya Chad membiarkan pria itu bersimpuh padanya.


"A-aku di bayar oleh tuan Jack, dia menyuruhku untuk meneror kalian... aku hanya orang suruhan jadi tolong lepaskan aku"


"Kenapa dia menyuruhmu melakukan semua ini?"


"Aku tidak tahu, dia tidak memberitahu alasannya. Urusanku hanya menjalankan perintah untuk kemudian di bayar, tidak ada lagi yang aku ketahui... aku bicara dengan benar" jelasnya.


"Angkat tubuhmu, katakan hal itu sekali lagi setelah kita tiba di rumahnya" ucap Chad melepaskan rangkulan pria itu dengan kasar.


Bersama dengan Ballard mereka menuju kediaman Hermes, di malam yang seharusnya tenang itu suara gebrakan di pintu dan teriakan para penjaga membuat Jack beserta yang lain berhambur keluar.


"Ada apa ini?" tanya Shigima bingung.


"Maafkan kami tuan, mereka memaksa masuk" ujar salah satu penjaga.


Jack mengangkat satu tangannya sebagai isyarat bahwa mereka bisa kembali ke pos masing-masing, dengan mata yang tertuju pada Chad.


"Keributan apa yang kau ciptakan di rumah kami?" tanya Amelia yang sudah terlalu lelah dengan semua masalah.


"Tanyakan itu kepada pria ini" sahut Ballard.


Seketika pria itu berlari menghampiri Jack, bersimpuh di kakinya yang membuat semua orang keheranan.


Seperti orang linglung Jack menatap semua orang satu persatu dan memandang heran pada pria yang menangis di kakinya.


"Tolong aku tuan, selamatkan nyawaku" ucapnya.


"Ada apa ini? siapa kau?" tanya Jack.


"Jangan pura-pura tidak tahu Jack, kau menyuruhnya dan beberapa penyihir lain untuk meneror kami. Betapa munafiknya dirimu hingga membayar bawahan mu sendiri hanya untuk membuat kami terluka" jawab Ballard.


"Apa yang telah kau katakan? aku tidak mengerti!" sahut Jack sementara semua anaknya menatap dengan kaget.


"Tidak perlu menyangkalnya! dia sudah mengakuinya kepada kami" sergah Ballard.


Jack menatap pria itu lekat-lekat, hingga kerutan di dahinya begitu terlihat jelas.


"Aku tidak mengenalnya, aku bersumpah tidak mengenalnya! hei! kenapa kau memfitnah ku?" tanya Jack sambil menarik pria itu agar melepaskan rangkulannya.


"Tuan.... saya adalah penyihir yang bertugas di perbatasan, saat menjalankan tugas tiba-tiba kawanan vampire itu memaksa saya untuk ikut. Lalu.... lalu saya di interogasi begitu saja, saya di suruh mengaku bahwa saya adalah bawahan mu" ujarnya lirih.


"Apa? beraninya kau! bukan itu yang tadi kau katakan kepada kami!" bantah Ballard tak terima akan pernyataan pria itu.


Jack semakin bingung dan menatap Chad yang tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, sementara Ballard terlihat begitu murka.


"Tunggu! mungkin disini telah terjadi salah paham" sahut Shigima membuka suara.


Ia berjalan ke depan untuk menjelaskan apa yang ada dalam benaknya.


"Mungkin kau salah mengira padanya, dia hanya penyihir yang sedang bertugas jadi wajar jika dia menyerangmu karena mungkin dia berfikir ancaman. Satu hal lagi, kami tidak pernah membayar siapa pun untuk meneror kalian"


"Omong kosong! aku tahu ini permainan kalian, kenapa kau lakukan semua ini Jack? setelah kepergian putriku apa lagi yang ingin kau renggut dariku? cucuku?" tanya Ballard tak menerimanya.


"Aku bersumpah tidak pernah menyakiti putrimu dan aku tidak akan merenggut apa pun dari mu"


"Ucapan dan tindakan mu selalu berlawanan, kau... "


"Cukup!" ujar Chad dengan suara yang begitu berat.


"Mari kita pergi, mungkin ini semua memang hanya salah paham saja" lanjutnya dengan suara yang lebih pelan.


"Tapi... " sahut Ballard mencoba memprotes.


Namun mata Chad sarat akan perintah, mata khas vampire yang begitu dingin dan menusuk hingga membuat Ballard tak bisa melawan kehendaknya.

__ADS_1


"Maaf atas keributan yang telah kami perbuat, selamat malam" ujar Chad berpamitan sebelum akhirnya meninggalkan rumah itu.


* * *


"Ini pasti taktik mereka!" teriak Ballard yang masih saja tidak terima.


Pulang dari kediaman Hermes mereka pergi ke rumah istirahat Chad hanya untuk meluapkan emosi, pernyataan yang di berikan pria itu dengan mudahnya berubah sehingga membuat Chad sendiri bingung.


Entah mana yang harus ia percayai, namun dari kejadian ini ada satu hal yang ia sadari. Ia mulai tidak tertarik lagi untuk balas dendam, kenyataan mengejutkan bagi dirinya.


Biasanya amarahnya akan selalu meluap-luap hingga tak terkontrol, dalam kejadian seperti itu dengan mudahnya ia akan menyerang Jack namun kali ini ia bahkan tidak terlalu peduli.


"Kau setuju dengan ku kan Chad?" tanya Ballard.


"Belum bisa di pastikan" gumamnya.


"Apa?"


"Ah tidak, aku ingin pergi tidur" jawabnya.


"Oh ya.. baiklah.. " sahut Ballard merasa aneh akan sikap cucunya itu.


Chad memutuskan untuk pulang ke rumah Joyi, menghabiskan sisa malam itu dengan rebahan di atas ranjang. Memikirkan alasan hatinya yang tak terpicu emosi, ada sedikit kekhawatiran sebab ia tak mau melupakan dendamnya begitu saja karena mendiang Catherine.


Pikiran ini terlalu mengganggu hingga saat bersama dengan Ima untuk pertama kalinya ia mengalihkan pandangan dari senyum manis Ima.


"Chad!" teriak Ima tepat di telinganya.


"Aahhh.... apa yang kau lakukan?" erang Chad sambil menggosok telinganya.


"Apa yang kau pikirkan sampai menganggapku batu?" tanya Ima kesal.


"Tidak ada" sahut Chad pelan.


"Kau berbohong!" tuduhnya.


Hhhhhhhhhh


Chad menghembuskan nafas panjang, menatap mata Ima dengan penuh kasih sebelum akhirnya mengakui bahwa memang ada yang mengganggu hatinya.


"Beberapa waktu lalu kita di teror terus oleh penyihir, semalam Ballard mengatakan bahwa ia telah menangkap salah satu penyihir itu dan menginterogasinya. Saat kami tanya ia mengaku di bayar Jack untuk melakukan ini semua, tapi begitu kami membawanya ke hadapan Jack ia merubah pernyataannya dengan mengatakan Ballard telah memaksanya untuk berbohong"


"Jadi... intinya pria itu membuat dua pernyataan palsu" ujar Ima.


Chad mengangguk yang membuat mereka pun terdiam.


"Apa maksud mu?" balas Chad dengan mata terbelalak.


"Aku mengerti perasaan mu, tapi bisakah kau melupakannya?"


"Ima kau tahu orangtuaku meninggal karenanya! dan ibu kandung ku yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana wajahnya" sergah Chad dengan nada tinggi.


"Tidak ada hal lain yang akan kau dapatkan dari dendam selain kehancuran, kau berhak marah dan benci bahkan silahkan anggap mereka bukan bagian dari keluarga mu. Tapi aku hanya minta jangan pertaruhan nyawamu untuk hal ini, aku tidak ingin melihat ku hancur"


"Tidak Ima, apa yang akan ku katakan kepada mendiang ibuku jika aku biarkan ketidakadilan ini?"


"Apa kau yakin ibumu menginginkan hal ini? apa ruhnya datang kepadamu dan meminta semua ini? katakan padaku bahkan dalam mimpi buruk sekalipun dia tidak menyuruhmu untuk menjadi pembunuh" tukas Ima kini dengan suara yang lebih tinggi.


Membungkam mulut Chad yang hendak memprotes lagi, memaksanya untuk berfikir lagi hingga memutuskan untuk membuat pilihan.


"Percayalah padaku hatimu tidak akan pernah puas meski cakar mu terus mencabiknya" ujar Ima yang mengingatkan Chad pada nasihat Jhon.


Sedari kecil ia telah di suguhkan akan kisah kelam tentang haknya yang di renggut kematian, kini setelah mampu berfikir sendiri ia sadar sejak kecil Joyi yang telah menanamkan sifat dendam itu kepadanya.


Perbuatan keji yang tak pernah ia lihat namun selalu ia dengar sebagai dongeng pengantar tidur, hingga dalam lelapnya perbuatan itu nampak nyata.


Bahkan setelah melihat dengan mata kepala sendiri yang ia temukan tak lebih dari kakek tua yang siap masuk ke dalam peti, namun tetap saja kebencian itu menimbun niatnya untuk balas dendam.


Kini saat hatinya yang di sentuh oleh gadis periang yang seluruh waktunya di habiskan dengan bahagia tentu ada keraguan dalam dirinya, sampai ia sadar balas dendam ini adalah warisan yang di turunkan Joyi hanya dengan dongeng pengantar tidur.


* * *


Violet enggan mengedipkan matanya seolah takut pemandangan itu akan sirna saat ia menutup matanya, apa yang kini nampak di hadapannya lebih hebat dari ekspetasi.


Rumah itu tak hanya megah namun begitu mirip istana hingga membuatnya menitikkan air mata, akhirnya mimpinya dapat terwujud dengan sempurna.


"Nyonya, saya sudah menyiapkan kamarnya" ujar seorang pelayan menghampiri.


"Oh terimakasih, tolong bawakan tasnya" sahut Kyra.


Pelayan itu menyodorkan tangannya sehingga Violet bisa menyerahkan tasnya, dengan senyum sumringah ia berjalan mengikuti Kyra hingga mereka sampai di kamar.


"Ini benar-benar indah, andai ayah mu juga bisa tinggal bersama kita di sini" ucapnya.


"Ini masih terlalu baru ibu, berikan aku waktu lagi dan aku janji akan memberikan istana untuk kalian" jawabnya.

__ADS_1


"Terimakasih sayang" ujar Violet.


Mereka pun duduk di kursi dan bersantai, sementara mata Violet masih berkelana memperhatikan ruangan itu.


"Bagaimana kabar di rumah?" tanya Kyra.


"Jangan tanya sayang, ah... semuanya benar-benar kacau sampai membuat ibu pusing"


"Apa yang terjadi?" tanya Kyra penasaran.


"Semalam Chad membawa seorang pria ke rumah dan menuduh kakek mu telah membayar pria itu untuk meneror keluarganya, kerusuhan terjadi begitu saja sementara pria itu bersaksi bahwa dia di paksa untuk berbohong. Entah siapa yang benar dan salah ibu sudah tidak peduli" jelas Violet.


"Entah kapan rumah itu akan damai" komentar Kyra yang ikut merasa pusing.


* * *


Malam tiba dengan cepat, malam dimana perjanjian baru akan di buat dengan pertukaran yang berbeda.


Sesuai janji Tianna menyerahkan sekotak pil itu kepada Jack dan sebagai balasannya Jack menyerahkan sebotol kecil darah yang sudah lama ia siapkan.


"Bukankah botol ini ukurannya lebih kecil dari minggu lalu?" tanya Tianna.


"A-aku mengalami kesulitan, tapi aku berjanji minggu depan ukurannya akan sama lagi" jawab Jack.


Tentu saja kesulitan yang ia maksud adalah kepergian Kyra dari rumah sehingga ia tak bisa mengambil darahnya, sementara darah yang ia serahkan adalah sisa stok yang ia miliki.


"Sudahlah, kau bisa berhenti memberiku"


"A-apa? ta-tapi aku masih membutuhkan pilnya" sahut Jack yang berfikir perjanjiannya telah berakhir.


"Aku akan memberimu sesuai jadwal"


"Tanpa pertukaran?" tanya Jack memperjelas.


"Ingatlah Jack, rasa ingin tahu yang berlebihan dapat membunuhmu" sahut Tianna yang tidak akan menjelaskan apa pun.


"Aku mengerti" jawabnya cepat.


Jack segera berpamitan sebelum Tianna merubah kata-katanya dan meminta pertukaran dengan hal yang lebih tidak mungkin.


"Kau bisa datang padaku sekarang" ujar Tianna.


Dari balik pohon Hans yang sudah menunggu sejak tadi menampakkan wujudnya, berjalan pelan hingga berdiri tepat di hadapan Tianna.


"Kau masih menerima darahnya" ujar Hans.


"Ini yang terakhir, lagi pula kau lihat ukurannya" sahut Tianna.


Hans mendengus dengan kasar, membuka satu kancing kemejanya untuk memperlihatkan bagian lehernya.


"Kita bisa melakukannya dengan cepat?" tanyanya.


Senyum Tianna syarat akan gairah yang memuncak di ubun-ubun, tangannya mulai menyentuh perut Hans dan terus merayap ke atas dada hingga sampai di leher.


Seirama dengan wajahnya yang semakin dekat hingga hembusan nafasnya dapat Hans rasakan, mata mereka sempat bertemu yang membuat senyum itu berubah menjadi seringai.


"Ternyata kau lebih menggoda dalam jarak sedekat ini" bisiknya.


Ssssssshhhhhhh


"Aroma segar yang sangat familiar" lanjutnya sambil menghirup dalam di bagian leher.


Sret


Ah


Sayatan yang di lakukan dengan cepat itu membuat Hans memekik pelan, membuat Tianna semakin bergairah lagi untuk menempatkan mulutnya di sana.


Begitu Tianna mulai menghisap Hans merasakan darahnya mengalir ke atas dengan cepat, juga ada sedikit rasa nyeri yang berkedut pada bagian luka yang terbuka.


Hans mencoba mengepalkan tangan berharap rasa nyeri itu segera berakhir, hingga satu menit kemudian Tianna mengangkat kepalanya dari leher Hans.


Hhhhhhhhhh


Menghembuskan nafas lega ia mundur beberapa langkah dengan tangan yang segera menutup luka, sementara Tianna menatap puas dengan sisa darah di mulutnya.


"Gunakan ini untuk menutup bekas sayatannya" ujar Tianna menyerahkan sebuah botol kecil sambil menghapus noda darah di mulutnya dengan lidah.


Hans mengambil botol kecil itu, mengeluarkan cairan bening dari dalamnya dan segera mengoleskannya di bagian leher.


"Dengan ini perjanjian kita telah resmi di buat, aku tidak akan lagi meminta Jack untuk menyerahkan daran dan tetap memberinya pil itu. Tapi kau juga harus ingat untuk terus datang sesuai jadwal pertemuan ku dengan Jack, aku masih ingin melakukan ini" ujar Tianna.


"Aku mengerti" sahut Hans kembali mengancingkan kemejanya.


"Kalau begitu sampai jumpa minggu depan" ucap Tianna sebelum menghilang dalam kegelapan seperti yang selalu ia lakukan.

__ADS_1


Hhhhhhhhhh


Satu lagi hembusan nafas yang kini ia lakukan karena merasa berat untuk menghadapi minggu depan, hatinya terasa berat menanggung beban bagi jiwa pengecutnya.


__ADS_2