Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 80 Hilang


__ADS_3

Saat pertama kali ia melihat Keenan ia sadar cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi, menelan kepahitan ia kembali menemui Bapa peri untuk merayu.


Kali ini Mathilda membantunya, ikut bersimpuh meminta kemurahan hati pemimpin peri itu.


"Kau tahu resikonya" ujar Bapa peri khawatir.


"Aku telah memikirkannya dengan cukup matang, karena itu aku siap" jawab Elf bersungguh-sungguh.


Berpaling untuk menatap langit ia menyembunyikan duka dalam hatinya, mengingat bagaimana proses kelahiran Elf yang terlalu menyakitkan.


"Kehadiran mu di dunia merupakan kehendak langit, salah satu takdir begitu juga dengan kematian mu. Tapi jalan hidupmu adalah nasib yang semestinya kau jalani dengan baik, aku sudah memperingati mu tentang hal ini"


"Aku menerima kesendirian ku sebagai hukuman dan hadiah, selama ini aku tidak meminta apa pun karena itu... sekali saja" pinta Elf.


Hhhhhhhh


Bapa peri menghembuskan nafas panjang, sadar bahwa tidak ada gunanya untuk berdebat, saat Elf telah membulatkan tekad maka itu yang akan terjadi.


"Kau akan tetap dalam wujud mu sebagai pelindung hutan, tapi waktu yang kau miliki tidaklah banyak" ujar Bapa peri.


Perlahan mata Elf berbinar, senyum haru mengembang di wajah cantiknya dan dengan anggukan kecil ia berterimakasih.


"Persiapkan dirimu, temui aku nanti malam sebelum kepergian mu" ujar Bapa peri lagi.


"Aku mengerti" jawabnya.


'Hans, tunggulah sedikit lagi' batin Elf sambil menggenggam surat yang belum lama ia terima.


* * *


Beberapa hari dalam perang yang mewarnai tanah dengan darah puluhan keluarga menyeka air mata di hari duka, sedang tetua saling berbisik dengan suara tercekat yang tak mampu melawan Raja baru mereka.


Masih tak ada kabar atau tanda-tanda akan kedatangan Sang Dewi, mata Keenan semakin sendu menyiratkan kekecewaannya.


Kekhawatiran yang di rasakan Shishio berbeda namun mengacu pada hal yang sama, kedua belah pihak kini dalam keadaan yang tidak beruntung.


Memutar otak akhirnya ia menemukan sebuah ide gila, kembali menghitung segela resiko ia pun memutuskan.


"Persetan! tubuhku terlanjur berlumpur" gumamnya kesal.


Ia menemui Tianna di ruangannya, berdiskusi tentang keadaan Keenan yang sama sekali tidak baik.


"Jika terus begini bisa-bisa dia akan di gulingkan, jika itu terjadi kita pun akan kehilangan hak untuk tinggal di istana" ujar Shishio mulai memancing.


"Itu tidak boleh terjadi, menurut mu apa yang harus kita lakukan?" tanya Tianna resah.


"Alih-alih menghancurkan satu koloni yang tak berharga bukankah lebih baik kita menyerang intinya saja?"


"Apa maksudmu?" tanya Tianna penasaran.


Shishio mencondongkan tubuhnya dan mulai menjelaskan, dengan serius Tianna mendengarkan sampai ia mengerti.


* * *


Undangan yang di berikan Kyra cukup membuat Ima heran sekaligus kaget, ia tak menyangka gadis yang begitu manja dan egois akan mengajaknya bertemu.


"Ada perlu apa sampai kau mengajak ku bertemu?" tanya Ima.


"Aku.... ingin minta maaf atas tindakan ku yang keterlaluan waktu itu, aku terlalu marah hingga tidak bisa berfikir jernih" jawab Kyra pelan.


Matanya tak mampu memandang Ima dengan benar, dari pipinya yang merona bisa di bilang Kyra tulus akan perkataannya. Tapi Ima yang lebih mengerti kerasnya hidup tak bisa percaya begitu saja, meski begitu dengan senang hati ia mau membuka hati.


"Aku mengerti, aku memaafkan mu"


"Sungguh? terimakasih... " ujar Kyra senang.


"Aku... tidak punya teman, keluarga ku terlalu posesif hingga untuk keluar rumah pun sedikit sulit. Karena itu saat Chad datang dalam hidup ku rasanya dia begitu spesial, awalnya kami memang tidak menemukan kecocokan tapi waktu berlalu begitu saja dan aku mulai menaruh hatiku padanya" lanjutnta bercerita.


Ima diam mendengarkan, untuk saat ini dia masih dalam mode bisa menahan hati.


"Saat ia mengatakan mencintaimu rasanya itu sangat menyakitkan, dia... sering memberiku hadiah yang bagus tapi tidak pernah menyatakan perasaan dengan mata seperti itu" ujar Kyra lagi yang membuatnya sadar bahwa ucapan itu benar.

__ADS_1


Bahkan ia pun tersadar kalau Chad tidak pernah memandangnya dengan cinta, sorot mata Chad yang di tunjukkan kepadanya selalu dingin dan penuh kehampaan.


Satu kali yang membuatnya berfikir Chad pria yang baik saat itu pun tatapan hangat itu untuk orang lain bukan dirinya, dan di hari dimana ia mencoba mengakhiri hidupnya yang ia lihat adalah mata penyesalan.


Ada senyum pahit yang tersungging di bibirnya, timbal balik dari penekanan pada hatinya yang terasa di iris oleh kenyataan.


"Aku mengerti" ujar Ima tiba-tiba.


Dengan menyandarkan tubuh ke kursi Ima melipat tangan di dada sambil memandang keluar, sebagai sesama wanita ia cukup mengerti apa yang di rasakan Kyra.


"Matanya adalah hal paling misterius di dunia ini, bagai teka teki yang sulit di pecahkan. Dalam hitam matanya yang akan kau temukan hanya kegelapan total bak dimensi yang mampu menyesatkan, sialnya aku adalah salah satu korban hipnotis mata itu."


Berpaling menatap Kyra ia kembali bicara.


"Bahkan meski Chad terlihat mencintai ku karena ucapannya percayalah dalam kisah ini aku yang terus mengejarnya."


Kyra hanya bisa membisu, terlalu kaget akan kejujuran Ima. Ia pikir Ima akan menyombongkan diri sebagai kekasih Chad, lebih ekstrem mungkin menghinanya.


"Jika kau mencintainya pertama-tama yang perlu kau lakukan adalah memastikan apakah itu benar cinta atau ambisi karena kesempurnaan Chad"


"Apa... kau akan membiarkan ku mencintainya?" tanya Kyra hati-hati.


"Siapa aku yang bisa mengendalikan hati seseorang, cinta itu adalah hak setiap makhluk hidup. Sayangnya, berhak mencintai bukan berarti berhak memiliki. Yang perlu kau ketahui hanya aku tidak akan menyerah pada cintaku, selama matanya tidak pernah memandang siapa pun dengan cinta aku tidak peduli bahkan jika dia bercumbu di depan mataku."


'Ke-keren' batin Kyra terpana akan kejujuran dan keberanian Ima dalam mencintai.


Awalnya ia berniat mendekati Ima dan berpura-pura berteman untuk mencari kelemahannya dan memanfaatkan hal itu untuk merebut Chad, tak ia sangka ternyata Ima lebih berani dan gila.


Senyum itu penuh rasa percaya diri yang tinggi, matanya menyorotkan keyakinan penuh dengan aura yang kuat. Entah mengapa ia merasa di balik penampilan Ima yang biasa-biasa saja ada sebuah kharisma yang bagai magnet, mungkin hal inilah alasan Chad menyukai Ima.


"Apa kau sadar telah membuka jalan bagiku untuk menuju hati Chad? itu bisa mengancam posisimu sekarang" ujar Kyra.


Sssshhhhhh


Desisan itu di iringi dengan condongnya tubuh Ima ke depan, dengan mata yang sedikit menyipit ia berbisik.


"Percayalah, aku pernah melayani wanita yang di ajak Chad tidur"


Hah?


"Tidak mungkin..." ujarnya pelan.


"Aku rasa satu-satunya pria baik di dunia hanya kakak ku, dia bahkan sangat setia pada mantan pacarnya" ucap Ima.


"Ma-maksudmu.. Chad selalu... " sebuah isyarat dari alisnya yang terangkat menuntaskan kalimat itu.


"Tidak juga, sepertinya hari itu dia sedang banyak masalah karena aku mencium bau alkohol yang kuat. Dia memang sering di goda banyak wanita tapi malam itu aku juga pertama kali melihatnya membawa pulang seorang wanita"


"Begitu rupanya"


"Lalu apa kau melihatnya? saat mereka... " tanya Kyra lagi dengan penasaran.


"Kau gila?" bentak Ima yang membuat Kyra terkejut.


"Itulah yang membuatku menyesal, saat itu aku tidak berfikir kesana" ujarnya lagi dengan suara yang lebih pelan.


Kyra menatap wajah penyesalan Ima yang nyata, hal itu cukup menggelitik hatinya hingga tanpa sadar ia cekikikan sendiri. Ima yang sadar tengah di tertawakan bukannya marah justru ikut tertawa, terbawa suasana pada akhirnya mereka mengobrol dengan santai seperti telah berteman sejak kecil.


Sifat Ima yang sulit di tebak dan cara pikirnya yang berbeda dari kebanyakan orang membuat Kyra mengartikan Ima dalam satu kata 'gila' dan ia senang akan hal itu, perasaan irinya masih ada tapi tak membuat ikatan yang baru terjalin itu terganggu.


Tanpa sebuah peresmian kini mereka menjadi teman seperjuangan, teman yang sama-sama menyukai satu pria yang sama.


Keasyikan mengobrol membuat mereka lupa waktu, tanpa terasa hari telah malam. Masih sambil berbincang mereka berjalan menuju halte bus terdekat untuk mengantar kepulangan Ima.


Jalanan sudah mulai sepi dan benar-benar sepi saat mereka sampai di halte, beruntung bisa datang tak lama kemudian.


"Kau yakin dapat pulang sendirian? harusnya aku yang mengantarmu pulang" ujar Ima saat bis melaju ke arah mereka.


"Jangan bercanda, aku lebih tua darimu" sahut Kyra.


Hahahaha

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku pulang duluan"


"Hati-hati di jalan, sampai jumpa" ujar Kyra sambil melambaikan tangan yang segera di balas Ima.


Setelah ia masuk ke dalam bis lewat kaca belakang ia masih bisa melihat Kyra dan kembali melambaikan tangan, bis mulai melaju yang membuat Kyra semakin terlihat kecil.


Sambil berdiri dengan tangan yang berpegangan pada batang besi tetap di lihatnya Kyra, namun sesuatu tiba-tiba saja terjadi. Sekelompok orang mendekati Kyra yang terlihat seperti sebuah ancaman, kilatan menyilaukan membuat matanya terbelalak.


STOP.


* * *


Semua makanan telah di sajikan di atas meja makan, Colt dan Agler duduk di kursi mereka seperti biasa.


"Apa Ima belum pulang?" tanya Mina sambil menuang air.


"Aku rasa belum" jawab Agler.


"Astaga anak itu... lihatlah tingkahnya! dia bahkan baru naik kelas dua dan mulai melewatkan makan malamnya" ujar Colt kesal.


"Jangan protes, kau yang terlalu memanjakannya sekarang lihat dimana anak gadis kita"


"Kenapa kau tiba-tiba menyalahkan ku?" tanya Colt tak mengerti.


"Tentu saja karena kau salah, aku selalu mengajarinya untuk menjadi gadis yang baik tapi kau terus saja membelanya dan mengijinkannya pergi kemana pun yang dia mau" jawab Mina dengan nada keras.


"Baiklah maafkan aku, saat dia pulang aku akan memarahinya" ujar Colt mengalah.


Ting Tong


"Biar aku yang buka" ujar Agler yang sebenarnya tidak mau mendengar pertengkaran orangtuanya.


Ceklek


Pintu di buka, menampakkan Chad yang berdiri tepat di balik pintu.


"Kau... " panggil Agler sedikit terkejut.


"Ah maaf, aku mencari Ima. Apa dia ada?" tanya Chad canggung.


"Oh dia belum pulang"


"Belum pulang?"


"Ya, dia pergi menemui temannya mungkin sebentar lagi dia baru pulang"


"Sejak kapan dia pergi?"


"Tadi siang"


"Aneh sekali" gumam Chad sambil mengerutkan kening.


"Ada apa?" tanya Agler penasaran.


"Aku menerima pesan darinya tadi sore, dia bilang akan menemuiku sebelum makan malam tapi dia belum muncul juga" jelas Chad.


Kini perasaan Agler menjadi tak enak, kekhawatiran membuatnya membayangkan segala hal buruk yang kemungkinan bisa terjadi.


"Bisa kau katakan siapa yang dia temui?" tanya Chad yang sama khawatirnya.


Sayangnya Agler tak tahu, tapi hal itu tentu tak menyulitkannya untuk mencari tahu. Ia ingat sebelum pergi Ima sempat meminta uang untuk ongkos naik bis, itu artinya kemungkinan Ima pergi ke kota.


Dengan jumlah uang yang di berikannya ia menerka kota itu tidaklah jauh, bersama Chad mereka pun bergegas pergi tanpa memberitahu Mina dan Colt di takutkan akan membuat mereka khawatir.


Sebagai vampire penciuman mereka cukup tajam apalagi untuk mengenali bau Ima yang sangat familiar, Agler yang terbiasa berburu paham betul caranya mencari jejak.


Pencarian itu berakhir di halte bus dimana Chad menemukan ponsel Ima yang jatuh di gorong-gorong.


"Ini... seperti bekas pertempuran" ujar Agler yang meneliti jejak di aspal itu.


"Dia sempat berada di sini" sahut Chad memperlihatkan ponsel Ima.

__ADS_1


"Tidak, apa yang terjadi padanya? siapa yang Ima lawan?" tanya Agler hampir kehilangan kendali.


"Vampire" jawab Chad mengangkat debu yang tersisa.


__ADS_2