
Terlalu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari itu juga membuat Colt terpaksa lembur dan pulang telat, meski tubuhnya tidak cepat lelah tapi tetap saja ia juga merasakan pegal-pegal di tangannya.
Namun dalam perjalanan pulang di malam itu langkanya yang lunglai tiba-tiba terhenti, Colt diam mematung dengan tubuh yang berdiri tegak.
Whhuuuussssss
"Siapa kau?" tanya Colt tanpa memalingkan muka.
"Apakah aura ku sangat kuat?" tanya Keenan yang kini tiba-tiba berada di depannya.
"Bahkan penyihir kelas teri pun bisa merasakannya"
"Begitu ya, apa kau punya waktu luang? aku perlu bicara dengan mu"
"Sebelumnya apa kita saling kenal?" tanya Colt jelas karena ia merasa asing.
"Nama ku Keenan, adik dari Ratu Victoria" jawabnya sambil tersenyum.
Mendengar nama tuannya Colt merasa tiba-tiba merinding, seolah Viktoria berada di sana dan meniup lehernya.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Colt.
"Darahmu, tidak perlu banyak asal cukup untuk memenuhi satu botol"
"Jika aku tidak mau memberikannya?"
"Aku akan membawa mu dengan cara paksa" jawabnya.
Pertama Colt menyiapkan kukunya, memastikan mereka cukup tajam untuk mengoyak. Sedikitnya ia tahu kegilaan Viktoria dan ia yakin Keenan lebih gila lagi, meski sepele tapi segumpal darah sangat berarti dan dapat menjadi senjata berbahaya di tangan vampire itu.
Whuusss..
Buk Buk Buk
Tanpa ancang-ancang Colt melancarkan serangan, tapi Keenan selalu siap untuk bertarung. Dengan mudah ia menahan setiap serangan yang di lancarkan Colt.
Sreet....
"Pilihan yang salah" ujar Keenan yang mendarat dengan kedua kalinya setelah menerima satu tendangan.
Whuusss...
Buk Buk Buk
Sreet...
Colt berhasil mencakar bahu Keenan tapi hanya mengenai pakainya saja, sejauh ini Keenan hanya terus menghindar dan menahan serangan itu. Colt mencoba mempercepat gerakannya, terus menyerang tanpa jeda namun.
Buk
Argh...
Bruk
Keenan membalas dengan satu pukulan tepat di perut yang membuat Colt terdorong hingga jatuh dengan cukup keras.
Uhuk... Uhuk..
Darah keluar dari mulutnya sebagai akibat dari pukulan itu, rasanya nyeri seolah tulang rusuknya hancur semua. Tapi Colt tetap mencoba bangkit meski ia tahi tidak akan pernah menang melawan vampire murni seperti Keenan.
"Aku sarankan sebaiknya kau menyerah saja, aku hanya minta sedikit darah" ujar Keenan.
"Apa... yang akan kau lakukan dengan darah.. ku?" tanya Colt dalam nafasnya yang tak beraturan.
"Aku hanya butuh sampel untuk uji coba"
"Uji coba apa?"
"Aku tidak bisa bilang kecuali kau mau ikut menjadi sukarelawan."
Colt mengatur nafasnya, menatap tajam pada Keenan dan.
Whhuuuussssss
Secepat kilat ia pergi dari tempat itu untuk menyelamatkan diri.
"Heh, tindakan bodoh!" gumam Keenan.
Whuusss
Ia pun bergerak dengan cepat seolah hilang begitu saja.
Bruk
Argh....
Tiba-tiba sesuatu menghantam Colt hingga ia menabrak dinding di pinggir jalan, dengan tubuh yang belum bisa bangkit ia melihat Keenan yang sudah berada di hadapannya.
"Kau membuatku terpaksa melakukan ini" ujar Keenan.
__ADS_1
Buk
Agh...
Hanya dengan satu pukulan tepat di leher Colt tak sadarkan diri, di detik selanjutnya tempat itu menjadi sepi dengan hanya menyisakan tembok yang retak.
* * *
Ia mendengar suara-suara tapi tak begitu jelas, seperti seseorang yang sedang mengobrol. Perlahan matanya mulai terbuka, tapi cahaya yang tepat menyinarinya terlalu menyilaukan sehingga ia butuh beberapa waktu untuk penyesuaian.
Hal pertama yang ia lihat adalah kaki dan tangannya yang di ikat ke sebuah ranjang, ia mengedip beberapa kali sampai akhirnya bisa melihat dengan sempurna.
"Kau sudah sadar?" tanya Keenan.
"Kau.. dimana aku?" tanya Colt yang jelas tak mengenal tempat itu.
"Kau ada di ruangan ku tuan Colt" jawab Alabama.
Ia berjalan menghampiri Colt dan berdiri tepat di sampingnya.
"Kau masih terlihat tampan, tapi jelas kau mulai menua. Apa kau tidak memangsa manusia?" tanyanya.
"Siapa kau?" tanya Colt.
"Tidak perlu hiraukan vampire tua ini, bersantailah di sana sementara aku akan bekerja" jawabnya.
Alabama mengeluarkan jarum suntik, lalu tanpa memperdulikan ketakutan di mata Colt ia mengambil sedikit darah dari tubuh Colt. Darah itu kemudian ia masukan ke dalam sebuah botol.
"Butuh berapa lama kau mengerjakannya?" tanya Keenan.
"Tergantung, yang terpenting dia tetap berada di sini" jawab Alabama.
"Apa yang akan kalian lakukan padaku?" tanya Colt curiga.
"Tidak ada tuan, kau tidak perlu takut" jawab Keenan yang kemudian pergi meninggalkannya di sana, bersama vampire tua yang hampir tidak waras.
* * *
Dengan resah Mina terus melirik jam di dinding, malam telah larut bahkan kedua anaknya telah tidur tapi Colt belum juga datang. Ia mencoba menelpon tapi panggilannya terus di alihkan, dengan hati yang semakin cemas ia hanya bisa berdiri di luar rumah sambil berharap Colt akan pulang.
"Apa yang anda lakukan di luar sini?" tanya Nick yang tiba-tiba berada tepat dibelakangnya.
"Ah Nick, bisakah kau jemput Colt? ini sudah terlalu larut tapi dia belum juga pulang"
"Begitu rupanya, baiklah kalau begitu silahkan tunggu di dalam udara di luar terlalu dingin untuk anda" jawab Nick.
"Aku mengerti" ujar Mina.
Mina yang menyerahkan tugas itu kepada Nick sedikit merasa baikan karena ia tahu Nick dapat di andalkan, tanpa sadar ia ketiduran di sofa saat menunggu mereka pulang.
Beberapa jam kemudian sebelum fajar menyingsing Nick sudah kembali, tapi ia masuk ke dalam Agler untuk memberi sebuah kabar buruk.
"Ada apa? kenapa guru membangunkan ku?" tanya Agler.
"Ayahmu, kemungkinan dia telah di culik"
"Apa?"
Ssstttt
Telunjuknya bergerak menutup mulut untuk memberi isyarat diam sebab suara Agler terlalu keras.
"Jangan buat keributan, ibu mu tidak tahu akan hal ini" ujarnya.
"Apa maksud guru? siapa yang sudah menculik ayah ku?" tanya Agler kini dengan suara yang lebih pelan.
"Aku juga tidak tahu, semalam ibumu menyuruh ku untuk menjemput ayah mu karena dia pulang telat. Tapi saat aku mencarinya aku menemukan bekas pertarungan di jalan, ada noda darah yang tertinggal di sana dan saat ku cium itu adalah aroma ayah mu"
"Ta-tapi bukan berarti dia di culik kan?"
"Dari bekas pertarungan itu jelas ayah mu tersudut kan, noda darah yang ku temukan pun hanya milik ayahmu. Jika di tidak di culik maka kemana dia pergi dalam keadaan terluka?"
"Lalu... apa yang harus kita lakukan?" tanya Agler.
"Sebentar lagi pagi, aku tidak bisa berkeliaran. Untuk sementara waktu akan tinggal di gedung tak terpakai, tugas mu adalah membuat ibumu tetap tenang. Jika di perlukan katakan kau juga akan mencari ku agar ibumu bisa lebih tenang"
"Aku mengerti" jawab Agler.
* * *
Dengan tergesa-gesa Keenan segera pergi menemui Alabama saat ia mendapat kabar bahwa penelitian itu sudah selesai, ia tak menduga Alabama akan mengerjakannya dengan cepat bahkan satu hari pun belum berlalu.
Begitu ia sampai Alabama segera mengajaknya ke sebuah ruang uji coba, ruangan yang khusus di rancang untuk melakukan uji coba yang paling ekstrim.
Dari balik kaca mereka bisa melihat seorang vampire yang terbaring di tengah-tengah ruangan, beberapa saat kemudian perlahan vampire itu bangkit dan menunjukkan taringnya yang tajam.
Alabama menekan sebuah tombol dari remot yang ia pegang, kemudian sebuah anak panah meluncur dari balik tembok dan menusuk bagian kaki sang vampire.
Awalnya ia terjatuh, tapi kemudian ia bangkit dan menarik anak panah yang menancap di kakinya itu. Alabama menekan tombol lain dan kini beberapa anak panah di luncurkan secara bersamaan, tapi vampire itu tak tinggal diam. Ia terus menghindar meski satu anak panah berhasil menggores wajahnya.
__ADS_1
"I-itu.... " ujar Keenan yang terpana.
"Ya, dia lebih kuat tapi kesadarannya masih mampu bertahan sehingga ia bisa berfikir meski sedikit. Artinya dia lebih pintar dari eksperimen kita yang pertama"
"Hebat, dengan begitu dia bisa menyusun rencana tidak asal menyerang seperti sebelumnya"
"Untuk hal itu kita butuh sesuatu yang lebih"
"Apa maksud mu?" tanya Keenan.
"Vampire itu masih bodoh meski sudah memiliki sedikit kesadaran, untuk mencapai tujuan mu itu rasanya masih sangat jauh"
"Kau bisa menguras darah Colt sampai habis jika memang itu di perlukan"
"Tidak, darah Colt memang cukup membantu tapi untuk membuat kesadaran yang stabil kita butuh sesuatu yang lain"
"Apa itu?"
"Sebuah ramuan" jawab Alabama.
"Aku meneliti darah di tubuh Colt, dulu saat aku berikan serum kepadanya dia berubah menjadi vampire yang sangat kuat tapi tak bisa di kendalikan. Setelah ia hilang tiba-tiba sekarang dia menjadi vampire normal yang hidup seperti manusia, ternyata seseorang telah mengobati Colt dan memulihkan kesadarannya" jelasnya.
"Tunggu, kau ingin aku mencari orang yang telah menyelamatkannya?" tanya Keenan menerka.
"Ya, kita butuh obat yang di buat orang itu"
"Tapi siapa yang telah membuatnya? dan dimana?"
"Dia pasti seorang penyihir, penyihir yang memiliki keterampilan khusus di bidang obat-obatan. Jika kau ingin meraih tujuan mu maka kau harus menemukannya" ujar Alabama.
Keenan tak punya pilihan, ia harus mulai bergerak jika ingin tujuannya tercapai. Hanya tinggal satu langkah kecil maka ia tak hanya akan menjadi kuat seperti mimpinya, tapi juga membuat era baru dimana bangsa vampire maupun penyihir akan tunduk di bawah kakinya. Segera ia menemui Tianna dan kembali memberikan tugas penting kepadanya, sementara itu ia akan menarik perhatian para penyihir dengan kemeriahan.
* * *
Satu malam yang larut Hans pikir dunia akan tenang seperti malam-malam sebelumnya, tapi tiba-tiba makhluk malam itu datang dengan jumlah yang besar. Sedikitnya ia melawan tiga vampire sekaligus sendirian, ia mencoba meminta bantuan tapi rupanya di pos lain pun teman-temannya juga kewalahan.
Yang aneh vampire itu tak hanya ganas tapi juga lebih pintar dari biasanya, mereka seolah bekerja sama untuk membunuhnya.
Bruk
Arghhh... huk... Uhuk... Uhuk..
Hanya dalam waktu sekejap mata ia tumbang tanpa bisa melakukan perlawanan yang berarti, waktu menunjukkan pukul tiga pagi yang artinya masih tersisa tiga jam lagi sebelum fajar menyingsing.
Hans ingin membunuh mereka tapi apa daya yang sanggup ia musnahkan hanya satu vampire saja, sisanya dia hanya harus bertahan sampai bantuan datang atau sampai cahaya matahari melenyapkan mereka.
Kedua pilihan itu sama-sama berat karena ia di tuntut untuk bertahan dengan kondisi tubuh yang mulai lemah, di saat-saat keputusasaan menghampiri hatinya agar siap gugur sebuah anak panah meluncur dari belakang dan berhasil melukai salah satu vampire itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya seorang ksatria yang datang sebagai bala bantuan.
"Yah... aku masih bisa berdiri" jawabnya.
"Bagus, kita akhiri pertarungan ini" ujarnya.
Ksatria itu mulai menyerang, pertempuran hebat pun mulai terjadi. Tak boleh hanya menonton meski dalam keadaan terluka Hans kembali ikut bertarung, dengan sisa tenaganya yang tak seberapa akhirnya ia bisa menang.
Ksatria itu dengan cepat membawanya kembali ke akademi untuk mendapatkan pengobatan, saat ia pulang rupanya bukan hanya dia seorang yang terluka parah. Bahkan beberapa Ksatria muda berakhir dengan menghembuskan nafas baik di medan perang maupun di balai pengobatan.
Esoknya beberapa Ksatria yang masih mampu bertarung kembali berjaga malam, tapi mereka pulang hanya tinggal nama. Desas desus mulai terdengar diantara para Ksatria, vampire yang mereka lawan tiba-tiba datang dengan jumlah banyak dan lebih licik dari biasanya.
Desas desus lain mengatakan mereka kehilangan banyak Ksatria sehingga kemungkinan besar dunia akan hancur di tangan vampire tanpa adanya perlindungan.
"Hans... bagaimana kabarmu?" tanya Shishio yang datang menjenguk.
"Aku sudah lebih baik"
"Syukurlah, um... ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu" ujar Shishio jelas tentang sesuatu yang genting.
"Guru, apakah... desas desus itu benar? apakah... kita sedang di ambang kehancuran?" tanya Hans.
Hhhhhhhhh
Shishio menghembuskan nafas panjang, seolah lelah menghadapi semua masalah itu.
"Sayangnya ya, entah mengapa jumlah vampire ganas itu terus bertambah dan semakin sering membuat kekacauan" jawabnya.
"Lalu... apakah ada yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan dunia?"
"Ada"
"Apa itu?" tanya Hans.
"Membawa kembali sang Dewi Keabadian"
"Apa?" tanya Hans tak mengerti.
"Inilah alasan ku menemuimu, kau harus membawa kembali sang Dewi Keabadian. Hanya dia satu-satunya harapan kita, hanya dia yang bisa menghentikan semua ini" jawab Shishio.
"Ta-tapi.... dimana aku bisa menemukannya? lalu kenapa harus aku?"
__ADS_1
"Karena kau adalah janin yang sangat dia jaga dengan harapan keturunan Hermes tidak akan punah, karena Sang Dewi Keabadian adalah tante mu, dia adalah.... Anna"
"Apa?."