
Ia tahu hal ini pasti akan terjadi, meski begitu tetap saja rasanya menyebalkan terlebih karena ia merasa tak berdaya seperti dulu. Sekeras apa pun ia berusaha para penjaga gerbang akan semakin keras dan mengusirnya secara kasar, bahkan ia tak bisa menghubungi Kyra lewat telpon pun.
Merasa frustasi hal ini rupanya berpengaruh pada kinerjanya di kantor, Manager San menjadi sering melamun dan nampak lusuh tanpa senyuman.
Saat ditanya dengan senyum tipis ia akan menjawab.
"Aku baik-baik saja" lalu pergi begitu saja.
Chad memang tak begitu perduli, tapi Joyi sangatlah peka sehingga sadar akan sesuatu yang tak beres dengannya.
Diam-diam di kirimnya bawahan hanya untuk mencari tahu masalah apa yang sedang di hadapi Manager San, tapi seminggu berlalu tanpa adanya jawaban.
"Hubungannya dengan keluarga tidak ada masalah serius, hanya percikan kecil seperti biasa. Baik di kantor maupun di lingkungan apartemennya juga tidak ada masalah, keuangannya juga stabil jadi tidak mungkin dia stress karenanya"
"Itu aneh, lalu apa yang membuat seorang Manager San begitu putus asa?" gumam Joyi berfikir keras.
"Um.... jika saya boleh berpendapat mungkin itu cinta"
"Cinta?" ulang Joyi.
"Ya nyonya, tidak ada hal lain yang bisa membuat seorang pria kacau selain cinta. Mungkin belum lama ini dia putus dengan kekasihnya, awalnya memang biasa saja tapi semakin lama rasa kehilangan baru akan muncul hingga membuat frustasi. Itu kebiasaan pria yang sangat alami" jelasnya.
"Tapi setahuku Manager San tidak memiliki kekasih" ujarnya.
"Yah mungkin saja dia menutupinya dari anda"
"Kenapa dia harus menutupi hal itu dariku? dia sudah ku anggap sebagai anak ku sendiri begitupun sebaliknya, seharusnya dia kenalkan kekasihnya itu padaku"
"Mungkin dia tidak ingin mengenalkan gadis itu kepada anda karena suatu alasan" sahutnya.
"Tapi kenapa?" tanya Joyi lagi yang kini di jawab dengan sebuah gelengan kepala.
Joyi memutar tubuh, menatap taman dari balik kaca jendela meski sebenarnya pandangannya jauh menerawang pada sosok Manager San.
Mulai mengingat sikap pemuda itu akhir-akhir ini, menyatukan setiap ekspresi baru yang ia lihat hingga kebiasaan yang pada akhirnya semua itu berkumpul menjadi satu. Membentuk sebuah gambar dimana wajah seorang gadis yang sangat familiar, itu cukup mengejutkan karena Manager San begitu rapi menyimpan kecintaannya.
* * *
"Aku pulang... " teriak Agler sambil membuka pintu.
"Selamat datang" sapa Mina memalingkan wajahnya sambil tersenyum.
Agler membalas senyuman itu tapi saat ia berjalan masuk, di sebuah kursi duduk seorang wanita yang membuat senyumnya pudar.
Tuk
Cangkir teh itu berbunyi saat Joyi menaruhnya di meja, memecah keheningan dalam ruangan yang hanya di huni oleh mereka berdua.
"Sekarang aku mengerti kenapa kau dan Ima memiliki sifat ceria, rumah ini adalah alasan di baliknya. Jika di bandingkan dengan rumah yang ku miliki sungguh bukanlah tandingannya, meskipun aku memenuhi setiap ruangan dengan fasilitas yang di inginkan Chad dan Alisya" ujar Joyi sambil menatap sekeliling ruangan itu.
Sementara itu Agler tetap diam, memperhatikan dengan cermat.
"Aku bertanya-tanya bagaimana kastil Hermes kali ini, apakah sama dinginnya dengan rumah ku yang dingin atau rumah ini yang penuh kehangatan. Sebab Kyra seperti kerang, ia begitu keras di luar namun teramat lembut di dalamnya"
"Aku sudah mendengar kabar tentangnya, dia pasti sembuh sebab Hermes mampu membayar dokter mahal" sahut Agler.
"Luka luar mudah untuk di obati, tapi tidak dengan luka dalam. Jika hati yang sudah pecah dapat di poles lagi aku yakin Kyra tidak akan nekat mengakhiri hidupnya, itu pernah terjadi sekali dan aku takut akan terulang lagi."
Agler terdiam, menyetujui ucapan itu.
"Entah bagaimana pendapat mu tentang ku, tapi ada satu hal yang ingin aku pinta darimu" ujar Joyi serius dengan mata yang tertuju pada Agler.
Di menit berikutnya Joyi menjelaskan permintaannya dengan detail, awalnya Agler mendengarkan tapi kemudian emosinya meledak secara tiba-tiba.
"Jangan bercanda! aku tidak akan melakukan apa yang kau perintahkan!"
"Aku memintanya kepadamu, jika kau tidak menyanggupinya maka itu tidak masalah" sahut Joyi tenang.
Agler membuang muka, terlalu marah sehingga tak ingin menatap Joyi.
"Kalau begitu aku permisi" ujar Joyi yang sadar akan kehadirannya sudah tak diterima.
* * *
"Kau belum tidur sayang?" tanya Violet sambil masuk ke dalam kamar.
Kyra hanya tersenyum kecil sambil menggeleng, membiarkan Violet duduk di sampingnya.
"Ini sudah malam, ingat kata dokter kau harus banyak istirahat" ujarnya.
Tanpa menjawab Kyra merebahkan tubuhnya, meski matanya tak mengantuk tapi tak dapat yang ia lakukan selain tidur.
__ADS_1
"Selamat malam sayang" bisik Violet sambil menarik selimut hingga ke dada Kyra.
Trek
Lampu di matikan sebelum ia melangkah pergi dari kamar itu, menutup pintu agar Kyra bisa beristirahat dengan tenang. Tapi dalam kegelapan itu mata Kyra kembali terbuka, menatap satu-satunya cahaya yang berasal dari luar.
Itu adalah cahaya rembulan yang menakjubkan, seperti sihir perlahan jiwanya terpikat begitu saja. Hingga bergentayangan, hinggap di satu tempat dan tempat lain secara terus menerus.
Pada akhirnya jiwa itu menemukan apa yang selama ini membuat matanya terjaga, meski itu hanya sebuah angan yang tercipta karena sebuah kerinduan.
"Kau kemana...?" sebuah pertanyaan yang tak ada jawabannya.
Tentu karena alasannya ia terkurung dalam ruangan itu, dengan kondisi yang bahkan tak bisa berdiri.
Di liriknya jam di atas laci, tepat pukul sepuluh malam. Biasanya saat ini ia masih mengobrol dengan Manager San, sampai perawat atau salah satu dari keluarganya mengusir secara halus.
Maka mereka akan saling tersenyum, kemudian Manager San akan berpamitan dengan janji akan datang esok harinya.
Hhhhhhhhh
Sebuah hembusan nafas kekecewaan seperti malam-malam sebelumnya, kali ini pun ia harus bisa memejamkan mata tanpa kehadiran Manager San sampai ia akan terbiasa karenanya.
Srek
Tiba-tiba suara gorden yang terkesiap membuatnya kembali membuka mata untuk melihat ada apa di sana.
Gep
Mmmmm
Dengan mata terbelalak ia hanya bisa menatap sosok seseorang di tengah kegelapan, tangannya kuat membungkam mulutnya sehingga tak ada suara yang bisa ia keluarkan.
Ssssssshhh
"Ini aku, akan ku lepaskan tanganku tapi berjanjilah untuk tidak berteriak" ucap sosok itu.
Suara itu sangat familiar sehingga Kyra menganggukkan kepalanya, maka perlahan tangan itu pun terlepas dari mulutnya.
Dan saat dia bergeser, membiarkan cahaya rembulan masuk maka Kyra dapat melihat wajah yang selama ini ia rindukan.
"San!" panggilnya seraya serta merta merangkul.
Butuh beberapa menit bagi mereka untuk melepaskan satu sama lain, tapi tangan itu masih saling menyentuh. Namun saat tangan Kyra menyapu wajah Manager San, ia merasakan basah di bagian pipi dan bawah mata.
"San? kau menangis?" tanyanya.
"Kau adalah alasan dari basah kuyupnya mata ini" sahut Manager San tak bisa menutupinya.
"Oh San... " panggil Kyra kembali merangkul.
Ada sebuah getaran di hatinya yang berasal dari sentuhan itu, perasaan sakit milik Manager San yang tersampaikan kepadanya.
"Kau kemana saja? kenapa tidak mengunjungi ku?" tanya Kyra setelah beberapa saat.
"Semua penghuni kastil ini tidak mengijinkan ku, jika tidak mana mungkin aku menyelinap di tengah malam buta"
"Kenapa kau tidak menelpon ku?"
"Kau tidak bisa di hubungi sejak keluar dari rumah sakit"
"Astaga... ponsel ku... " gumam Kyra yang baru sadar kalau selama ini ponselnya tidak ada bersamanya.
Mereka terdiam, menyadari semua telah di atur dengan rapi agar mereka tidak dapat bertemu lagi.
"Bagaimana ini? mereka tidak mengijinkan kita... " ucap Kyra pelan.
"Apa peduli mereka? aku masih bisa menemukan cara untuk menemuimu, bahkan jika seluruh isi dunia tidak mengijinkan pun aku akan tetap mencari cara untuk menemuimu."
Itu adalah sebuah sumpah yang telah Manager San pikirkan dengan matang, sebuah sumpah yang membuat Kyra tersenyum senang sebab akhirnya San berubah menjadi pria sejati.
Pria yang akan memperjuangkan cintanya tak peduli bagaimana pun caranya, maka kini tak ada yang perlu ia risaukan lagi.
* * *
Senandung di siang itu menggambarkan kegembiraan hati Alisya seperti biasa, tak lupa ia menyemprotkan sedikit parfum sebagai sentuhan akhir sebelum pergi.
"Bagus" gumamnya menatap pantulan di cermin.
Mengambil tas segera ia pun mengambil langkah keluar dari kamar, terus berjalan hendak pergi.
"Kau mau kemana sayang?" tanya Joyi dari belakang.
__ADS_1
"Oh nenek, aku ada janji dengan Agler" sahutnya berhenti sejenak.
"Bisakah kau batalkan janjimu?"
"Apa?" tanya Alisya meski ia mendengar jelas pernyataan itu.
"Ta-tapi kenapa?" tanyanya lagi bingung.
"Nenek ingin hari ini kau tetap di rumah" jawab Joyi dengan wajah datar.
"Tapi... aku sudah janji... "
"Nenek yakin Agler tidak keberatan, kau bisa masuk kembali ke kamarmu" ujar Joyi dingin.
Itu adalah untuk pertama kalinya Alisya melihat Joyi dalam sisi yang lain, sosok tiran yang tidak pernah di perlihatkan kepadanya.
"Ba.. iklah.... " sahut Alisya pelan.
Aura Joyi yang kuat terlalu menekan hatinya, di tambah dengan tatapan tajam itu membuat Alisya tunduk seketika dalam perintahnya.
Masuk kembali ke kamar Alisya segera menghubungi Agler untuk membatalkan janji mereka, tentu Agler heran terlebih karena Alisya memberikan alasan yang tidak jelas.
Merasa ada yang tak beres Agler segera tancap gas menuju kediaman Joyi, setibanya di sana rupanya Joyi sudah menunggu.
Tatapan dingin Joyi menyambut kedatangan Agler seakan mencoba meruntuhkan nyalinya, tapi hal itu justru membuat Agler semakin melangkah maju.
"Aku ingin bertemu dengan Alisya" ujarnya.
"Aku tidak mengijinkan" jawab Joyi tanpa basa basi.
Tatapan mereka beradu, sama tajamnya seperti pedang hingga memancarkan aura dingin mencekam. Tak ada tanda-tanda gentar di kedua belah pihak bahkan tak ada yang berkedip, seolah itu adalah permainan saling tatap.
"Sepertinya aku tahu alasan mengapa Jessa tidak menyukaimu" ujar Agler.
"Hanya ada dua hal yang perlu kau ketahui di dunia ini, pertama namaku adalah Joyi dan aku tidak akan mengubah namaku karena alasan apa pun. Yang kedua aku akan mendapatkan apa yang ku inginkan bagaimana pun caranya, kau harus ingat itu"
"Jika kau seperti ini Alisya akan meninggalkan mu"
"Alisya bukan orang pertama yang meninggalkan ku, itu tidak akan merubah apa pun dalam diriku" balas Joyi tanpa gentar.
Melihatnya membuat Agler sadar dari mana sikap dingin Chad berasal, rupanya rumah yang berdiri di hadapannya memang dingin seperti pemiliknya.
"Apa yang coba kau lakukan?" tanya Agler.
"Kita sudah membahasnya, aku pikir ini semua sangatlah jelas" sahut Joyi.
Agler terdiam, rupanya hal kedua yang perlu ia ketahui selain nama Joyi adalah sebuah kebenaran.
Mengambil langkah lebih dekat kepada Agler mata Joyi seperti pisau yang terus di asah sehingga semakin dekat semakin tajam, dengan wajah datar ia berkata pelan.
"Aku baru saja menciptakan tembok besar yang kokoh, mulai saat jika kau ingin bertemu dengan Alisya maka kau harus siapkan energi yang besar sebab tembok itu sengaja ku ciptakan sebagai penghalang untuk kalian."
Agler menelan ludah mendengar peringatan itu, ia tahu ini tidak akan mudah tapi harus ia lakukan demi Alisya.
"Sebelum membuat tembok itu apakah kau sudah berfikir bahwa yang kau lawan bukanlah aku melainkan alam? cinta adalah sesuatu yang tidak bisa kau lawan karena dia tidak berwujud, dalam hal ini ku harap kau sudah siap menerima konsekuensinya" balas Agler.
"Kau tidak perlu khawatir, kakiku tidak pernah melangkah lebih dulu sebelum kepalaku" sahutnya.
Whuuuusssss
Angin membawa kata-kata itu terbang kepada sang Pemilik, sebagai tanda bahwa sumpah mereka telah di cap oleh alam sehingga menjadi sejarah.
Mengetahui perangnya telah di mulai Agler mengangkat wajah, menunjukkan betapa perkasanya ia sebagai pria yang memiliki cinta.
Dengan tegap ia membalikkan badan, mengambil langkah keluar dari kediaman Joyi yang hanya di huni oleh musim dingin.
Membiarkan Joyi menatap punggungnya yang siap menampung segala ujian, bersama Alisya yang baru saja keluar dan menatap kepergiannya.
"Agler... " panggilnya.
Joyi menoleh, menatap Alisya.
"Kenapa nenek tidak memberitahuku kalau Agler datang kemari?" tanyanya.
"Dengar Alisya, nenek hanya akan mengatakan ini sekali setelah itu terserah padamu" ujar Joyi tak menggubris pertanyaan itu.
Melihat wajah serius Joyi membuat Alisya merasakan firasat buruk, terlebih Agler baru saja pergi tanpa menemuinya dahulu.
"Mulai saat ini kau tidak boleh bertemu dengan Agler" ujar Joyi.
Melangkah pergi tanpa melihat ekspresi Alisya yang syok akan ungkapan tersebut.
__ADS_1