Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 60 Salju Pertama


__ADS_3

Rasa senang hilang seketika saat nama Chad di sebut, barang-barang mewah itu menjadi tidaklah lebih berharga dari sebongkah batu di sungai. Senyumnya lenyap tak berbekas mendengar semua keunggulan Chad yang tak mudah ia pahami, mungkin akan hebat memang jika dirinya yang cantik bersanding dengan seorang pria tampan yang kaya. Tapi hal itu lebih akan menodai anugrah Tuhan yang sempurna, sebab di dalamnya hanya ada sebuah perjanjian.


Di saat seperti itu ia hanya bisa melihat Violet sebagai mucikari yang menjajakan dagangannya, kasar memang. Tapi bila haknya telah di renggut di usia yang menginjak dewasa ia tak bisa mentoleril hal itu, meski kenyataannya ia pun tak bisa menolak.


"Kau harus ingat, ibu melakukan semua ini untuk mu juga. Kelak kau tidak akan mengalami kesulitan seperti yang ibu rasakan, kau akan bahagia untuk selamanya" ujar Violet.


Total tiga jam setelah kepulangannya Violet terus berputar-putar mengatakan hal yang sama dengan kalimat yang berbeda, pada satu waktu ia akan kembali menceritakan kisah perjuangannya sebagai seorang artis panggung sandiwara.


Pola yang sama itu terus berulang tanpa henti tak peduli meski telinganya sudah panas dan letih, mencoba tetap sabar ia hanya mengangguk sesekali untuk menghormati.


Sampai tiba waktunya makan malam barulah Violet membebaskannya, meski setelah makan ia kembali di kurung di kamar hanya untuk memikirkan sesuatu yang tidak perlu.


Bbbbrrrrrr


Angin pergantian musim itu terasa lebih dingin dari biasanya, namun tidak membuatnya bergidik atau mengusap lengan. Justru dengan berani ia bergerak naik ke jendela dan bergelantungan di sana sebelum menginjakan kaki di atas tembok, butuh waktu sebelum ia bergerak perlahan menggeser kakinya hingga tiba di jendela lain dan menuruninya.


Bruk


Bukan pendaratan yang bagus, tapi beruntung kakinya tidak terkena masalah apa pun untuk nanti malam memanjat. Sebelum benar-benar pergi sekalu lagi ia memastikan keadaan cukup sepi dan tidak ada yang melihatnya.


Ini bukanlah kali pertama baginya, ia ingat pengalaman pertamanya menyelinap keluar adalah saat masih di sekolah menengah pertama. Saat itu ada sebuah pesta yang ingin ia hadiri namun Violet tidak mengijinkan sebab ia bergaul dengan mereka kalangan bawah.


Malam ini tanpa adanya pesta atau acara lainnya ia memutuskan pergi hanya untuk menghirup udara bebas, mencari kesenangan yang bisa membuatnya merasa hidup meski hanya berlangsung untuk beberapa jam saja.


Sebuah gaun yang terpajang di etalase menarik perhatiannya untuk beberapa saat, gaun itu terlihat nyentrik dengan warna hijau tua yang berkilau dan kerahnya yang terbuka.


Di balik keanggunan seorang Kyra selalu ada Blue yang menyuaki hal-hal unik, sayangnya Violet selalu menekan kebebasan Blue sehingga tak memiliki ruang untuk kretifitasnya.


Ia mulai berkhayal memakai gaun itu di sebuah pesta, semua mata pasti akan tertuju padanya dan hal itu paling ia sukai. Jika ia menerima lamaran Chad mungkin ia memiliki kesempatan untuk menjadi Blue yang sesungguhnya, tapi rasanya akan percuma sebab ia harus membayarnya dengan sebuah sandiwara yang tidak perlu.


"Nona Kyra?"


Panggilan itu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak karena kaget, tapi melihat siapa yang menyapa ia mengembangkan senyum.


"Apa yang anda lakukan?" tanya Manager San.


"Aku....aku hanya sedang berjalan-jalan, kau sendiri sedang apa?"


"Selesai mengurus beberapa pekerjaan" jawabnya.


Sejenak ada kejeningan yang canggung di antara mereka, tapi mata keduanya jelas menunjukan ketertarikan yang sulit di tutupi.


"Kau mau kopi?" tawar Manager San akhirnya.


Kyra mengangguk senang, maka mereka pun berjalan beriringan mencari kafe terdekat sambil berbincang ringan.


"Aku melihat mu memandang gaun itu, rupanya kau punya selera yang cukup unik" ujar Manager San setelah mereka berada di dalam kafe yang hangat.


"Hehe ya..aku cukup suka pada sesuatu yang berbeda" jawabnya malu.


"Jika aku boleh tahu nona Kyra..."


"Blue!" potong Kyra tiba-tiba yang membuat Manager San terdiam sejenak.


"Tolong, panggil saja Blue" pintanya.


"Baiklah....Blue...kau suka menghadiri acara fashion show?" tanya Manager San.


"Ya, aku suka"


"Aku di undang untuk menghadiri sebuah acara fashion show, jika kau bersedia maukah kau menemaniku?" tawar Manager San.


Mungkin di masa yang akan datang nanti akan ada masalah yang menghampiri dirinya atas tindakan berani ini, tapi Manager San tak bisa menahan diri begitu melihat Kyra dalam sosok Blue.


Ia sadar hatinya bukan hanya menyukai karena kecantikan itu saja, tapi ada ketertarikan berlebih pada berbagai hal yang belum ia ketahui tentang Blue.


"Ya, aku mau" jawab Kyra senang.


* * *

__ADS_1


Langkah kakinya semakin ia percepat saat melihat sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sekolah, sesorang yang berdiri di samping mobil itu sangat ia kenali itulah alasannya Ima bergegas menghampiri.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.


"Akhirnya kau mucul juga, ayo masuk!" ujar Chad yang lelah menanti.


"Memang kita mau kemana?"


"Nanti juga kau tahu, petang nanti aku ada rapat penting jadi aku tidak memiliki waktu banyak" jawabnya sambil ikut masuk ke dalam mobil.


Ima hanya bisa cemberut dengan segala pertanyaan dan makian yang bergumul dalam benaknya, kemarin Chad meninggalkannya begitu saja dan sekarang mulai bertingkah seenaknya sendiri lagi.


Mereka berhenti di sebuah toko pakaian, Ima sudah besar kepala dengan membayangkan gaun-gaun indah yang akan Chad belikan untuknya. Tapi mereka justru masuk ke bagian setelah jas dimana Chad sibuk memilih pakaian untuknya sendiri.


"Menurut mu bagus yang mana?" tanyanya sambil mengangkat dua jas.


"Kenapa tanya aku? kau pasti lebih tahu mana yang kau inginkan" jawab Ima sinis.


Chad hanya terpaku, bingung sendiri mengapa Ima bersikap kasar kepadanya. Maka ia pun meminta saran dari pelayan yang ada, melihat betapa tampannya Chad pelayan itu tersenyum sendiri dan mulai mencari perhatian dengan banyak memberikan saran.


"Yang kanan lebih cocok, anda akan terlihat berwibawa tanpa mengurangi kesan staylistnya" ujar pelayan itu.


"Begitu ya, baiklah aku akan mencobanya"


"Ah, biar saya bantu" ucapnya yang tidak ingin melewatkan kesempatan menyentuh seorang pria tampan.


Hal itu cukup membuat Ima jengkel, bahkan wanita gelap di malam itu saja tidak memandang Chad dengan tatapan genit.


"Tuan sebagai pelengkap saya merekomendasikan dasi ini, pasti akan terlihat cocok dengan jasnya" ujar pelayan itu lagi memperlihatkan dasi yang ia bawa.


"Biar saya bantu memakaikannya" ujar pelayan itu lagi.


Tapi kini Ima sudah muak dengan tingkah pelayan itu, dengan kasar ia mengambil dasi itu dari tangan si pelayan hingga membuatnya tersentak kaget. Tanpa senyum ia memakaikan dasi itu di leher Chad masih dengan cara yang kasar bahkan ia menariknya hingga membuat Chad sempat merasa tercekik.


"Memang bagus, kau terlihat berwibawa. Tapi kau juga terlihat seperti veteran" ucap Ima.


Pelayan itu tak berani bicara meski hatinya jengkel juga, sementara Chad berusaha melonggarkan dasinya agar dapat bernafas dengan lega.


"Bagaimana?" tanya Ima selesai memakaikannya.


Chad berkaca dan merasa puas pada penampilannya, dasi yang di pilih Ima pun saagat cocok untuk menunjang penampilannya itu. Bahkan pelayan tadi yang sempat jengkel merasa kagum atas penampilan Chad yang jauh lebih keren, meski terlihat seperti gadis desa tapi Ima adalah anak dari seorang desainer yang tentu saja pakaian adalah makanan sehari-harinya.


"Aku pilih yang ini" ujar Chad seraya tersenyum.


Ima kembali ceria, merasa menang sebab Chad lebih suka pada pilihannya. Selesai berbelanja mereka pun kembali ke mobil dan pergi.


"Sekarang kita mau kemana?" tanya Ima.


"Pulang"


"Apa? pulang?" tanya Ima.


"Kenapa kau kaget? kita sudah selesii belanja memangnya mau kemana lagi? lagi pula sudah aku bilang petang ini aku ada rapat" jawab Chad.


"Kau datang menjemputku ke sekolah dan menyuruh ku untuk buru-buru hanya untuk belanja pakaian mu?" tanya Ima merincikan apa yang ia rasakan.


"Kenapa?" tanya Chad dengan polosnya.


Ima hanya memandang penuh amarah, saking marahnya hingga ia tak ingin bicara sepatah kata pun. Saat ini bahkan dalam benaknya ia berkhayal mengutuk Chad menjadi kodok dan membakarnya di neraka.


Saat sampai di rumah pun Ima masih kesal hingga semua orang rumah kena imbasnya tanpa tahu kesalahan mereka, tiba di jam makan malam Ima hanya mengambil beberapa sendok sebab Chad mengirim pesan untuk datang ke air terjun.


"Sial! kali ini apa lagi yang akan ia lakukan?" gumamnya semakin kesal.


Meski begitu ia tetap pergi juga, sambil menggerutu sepanjang jalan bahkan angin yang tak berbentuk pun ikut di marahi karena dinginnya yang menusuk.


Tiba di air terjun rupanya tempat itu sepi dan gelap tanpa ada satu orang pun, Ima mencoba memeriksa sekitar tapi Chad memang tak ada disana.


"Apa dia belum datang?" tanyanya heran.

__ADS_1


Bung


Tek Tek Tek Tek


Sebuah suara yang asing itu cukup membuat Ima kaget, bersamaan dengan lampu-lampu yang menyala secara berurutan matanya terus menatap hingga berakhir pada sebuah pohon natal yang di hias dengan indah.


Rasa kaget itu kini berubah menjadi takjub, senyum pun mulai mengembang di wajahnya dengan mata yang berbinar.


"Kau menyukainya?" tanya Chad tiba-tiba.


Ima menoleh dan melihat Chad dengan setelan jas yang ia beli tadi siang, perlahan ia mendekati Ima dan kembali bertanya.


"Apa kau suka?"


"Ini sangat indah, kau menyiapkan ini sendirian?"


"Tentu saja, butuh waktu dan aku juga hampir kena strum tapi tak masalah"


"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Ima pelan yang mulai terharu atas tindakan romantis Chad yang tak terduga.


"Kau bilang ingin bersenang-senang, aku tidak punya waktu untuk mengajak mu jalan-jalan dan..ah ini untuk mu" ucapnya.


Ima mengambil sebuah kotak kado yang di berikan Chad, saat ia membukanya rupanya isinya sebuah syal rajutan berwarna putih yang lembut.


"Bukankah aku memintanya untuk natal nanti?" tanya Ima mengingatkan.


"Saat natal nanti aku ada harus keluar negri untuk urusan pekerjaan, aku khawatir tidak akan sempat memberikannya padamu karena itu aku memberikannya lebib awal"


"Kau...sibuk ya" ujar Ima yang merasa sedih.


"Justru di hari libur pekerjaanku bertambah dua kali lipat" sahutnya.


Ima terdiam, membayangkan akan seperti apa hari-harinya nanti tanpa Chad. Ia sudah terbiasa marah, tertawa dan sibuk karena tingkah Chad kini jika semua itu hilang mungkin perasaannya akan hampa.


Dalam bayang kesedihannya seorang diri tiba-tiba Chad memakaikan syal itu di leher Ima kemudian ia mengecup keningnya, membuat pipi Ima merona karena malu.


"Sesibuk apa pun aku pasti akan ada waktunya kita bersama lagi, kemana pun kau pergi atau aku yang pergi kita pasti akan bertemu lagi" ujar Chad seraya tersenyum.


"Chad..." panggil Ima pelan.


Rasa haru menyeruak dalam batinnya hingga membuat matanya berkaca-kaca, akhirnya ucapan manis dapat keluar juga dari mulut Chad yang membuatnya bahagia.


"Ingat! kau belum melunasi hutangmu, sudah lama kau tidak datang ke rumah sampai laba-laba telah membuat sarang di sana"


"Ah, dasar pangeran pelit! apakah kau mengejar ku hanya untuk menagih hutang? baik! besok aku akan datang dan bersihkan rumah mu!" teriak Ima kesal.


Perasaan haru dalam hatinya ia tarik kembali karena ucapan Chad yang telah merusak suasana, rupanya sampai saat ini ia masih seorang pelayan meski beberapa hadiah telah Chad kirimkan untuknya.


Mendengar omelan Ima yang seperti biasa membuat Chad tersenyum, omelan itu lebih berharga dari senyum yang biasa Ima perlihatkan untuk menunjukkan seberapa besar perasaannya terhadap Chad.


Saat ini Chad memang lebih membutuhkan sosok Ima yang keras kepala dan suka marah-marah, entah mengapa hal itu membuatnya merasa hidup dan menjadi manusia normal.


"Oh lihat!" teriak Ima tiba-tiba.


Tangannya menunjuk ke langit yang gelap, sebuah butiran putih melayang turun ke bawah. Ima membuka tangan saat butiran putih itu semakin banyak turun ke bumi, dengan antusias ia berhasil menngkapnya meski satu butir.


"Salju pertama" ujar Chad.


Mereka saling memandang dan tersenyum, Chad mulai mengikuti apa yang Ima lakukan. Menangkap butiran salju yang putih dan bersih, mengaguminya beberapa saat dalam telapak tangan untuk kemudian ia jatuhkan kembali ke bumi.


Tapi keindahan hujan salju itu tidak dapat mengalahkan wajah bidadari yang dimiliki Ima, entah Ima menyadarinya atau tidak tapi setiap ia hanyut dalam buaian alam wajahnya terlihat lebih cantik dengan senyum yang indah.


Bahkan hati Chad yang ia pikir beku dan keras ternyata dapat meleleh dengan mudah saat melihat wajah itu, kini setelah mengetahui kepribadian Ima yang terbuka dan pemberani bahkan darahnya yang dingin pun menjadi hangat seiring kebersamaan mereka.


"Chad.." panggil Ima pelan.


"Mm?"


"Terimakasih untuk semua benda dan waktu yang telah kau berikan padaku, aku senang menerimanya darimu bukan karena barang-barang itu mewah tapi karena kau adalah orang yang aku suka" ujar Ima.

__ADS_1


Chad terdiam, mencerna setiap ketulusan yang ada pada setiap kata itu.


"Aku mencintai mu" ucap Ima lagi kini dengan perasaan hangat karena ia sedang bahagia di bawah hujan salju.


__ADS_2