Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 43 Penolakan Sang Dewi & Sosok Di balik Bayangan


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Joyi dengan suara tersekat.


"Jangan pikir kau bisa kabur dariku, dimana kau sembunyikan pangeran mahkota?" tanyanya dengan pandangan yang tajam.


"Aku tidak kabur darimu, kau tidak perlu mencemaskan pangeran dia aman bersama ku"


"Tidak Joyi, kita melakukan perjanjian ini bukan untuk menyembunyikan pangeran. Aku harus membawanya ke istana"


"Bodoh! jika kau membawa pangeran sekarang maka yang ada kau hanya akan membunuhnya" hardik Joyi.


"Tapi jika aku tidak membawa pangeran ke istana maka perang besar akan terjadi lagi dan kali ini tidak ada yang bisa menghentikannya"


"Setidaknya pikirkanlah sebuah rencana, mereka tidak akan menyambut baik sang pangeran justru menganggapnya sebagai ancaman" tukas Joyi.


Dia menjauh sebab menyadari ucapan itu benar, pandangan tajamnya perlahan meredup dan berubah jadi tatapan sedih. Perlahan ia berjalan ke arah jendela dan membiarkan cahaya bulan menerangi wajahnya, wajah yang tidak pernah berubah. Dia adalah Ballard.


* * *


Hans segera ikut membungkukkan badan mengikuti Elf, mata Hans tak bisa lepas karena takjub melihat sosok Sang Dewi yang berbeda dengan bayangannya. Ia pikir sosok itu akan sama seperti manusia biasa.


"Kenapa kau memanggil ku?" tanya Sang Dewi dengan suara lembutnya.


"Maaf atas kelancangan ku, maksud dan tujuan ku datang kemari adalah untuk meminta pertolongan. Saat ini dunia sudah kacau karena vampire terus berburu dan membasmi para penyihir, mohon Sang Dewi mau ikut serta untuk menghentikannya" jawab Hans penuh harap.


"Kau telah melakukan perjalanan panjang demi meminta bantuan, bukan maksud ku tidak menghargai usahamu tapi hal mendesak yang kau utarakan tadi di luar batasan ku"


"Maksud mu... kau tidak mau menolong kami?" tanya Hans memperjelas.


"Maafkan aku"


"Apa kau tega melihat banyak orang tak berdosa mati sia-sia? kenapa kau mendapat gelar Dewi jika kau mencampakkan kami begitu saja? bukankah dulu kau pun salah satu bagian dari kami?!" teriak Hans penuh emosi.


Tapi Sang Dewi tetap diam dan hanya menatap tanpa kata.


"Hans... " panggil Elf lembut.


Bruk


Tiba-tiba Hans menjatuhkan dirinya dan berlutut di hadapan Sang Dewi, dengan sungguh-sungguh ia menundukkan kepala bahkan hingga menyentuh lantai.


"Aku... mohon.. ikutlah bersama ku dan selamatkan semua orang" ujar Hans dengan suara getir.


Duk


"Aku mohon" ujarnya lagi sambil mengepalkan tangan lalu kembali bersujud.


Duk


"Aku mohon"


Duk


"Aku mohon"


Duk


"Aku mohon!"


"Hans... " teriak Elf menghentikannya sebab kening Hans telah berdarah akibat benturan yang keras.


"Tidak Elf, aku tidak bisa pulang dengan tangan kosong" jawabnya.


Tapi Sang Dewi seolah tak punya hati, meski Hans telah bersujud hingga keningnya berdarah, meski kakinya luka-luka akibat perjalanan dengan medan yang terlampau sulit, meski hampir ia meregang nyawa ia tetap berkata.


"Dunia luar di luar batasan ku, tak ada yang bisa aku lakukan untuk membantumu"


"Dewi... " panggil Hans putus asa.


"Silahkan kau berjalan melewati pintu di belakang ku, itulah jalan pintas untuk pulang" ujarnya lagi.

__ADS_1


"Hans... meski kau berdarah-darah Sang Dewi tetap tidak menanggapi mu, sebaiknya kita pulang dan pikirkan cara lain" bujuk Elf.


Dengan di bantu Elf ia pun berdiri, kini matanya tajam menatap Sang Dewi yang sempat ia kagumi. Tatapan penuh kekecewaan yang di selubungi amarah, ia mulai berjalan melintasi ruangan itu tapi sebelum pergi ia berkata untuk terakhir kalinya.


"Aku banyak mendengar kisah heroik mu, aku banyak mendengar kemurahan hatimu. Tapi ternyata kau tidak sebaik cerita itu, aku! sebagai seorang penyihir dan keluarga sungguh malu atas dirimu. Ya! aku adalah Hans Hermes, putra dari Shigima Hermes, aku adalah janin yang kau perjuangkan agar hidup di dunia ini dan meneruskan keturunan Hermes."


Mendengar ucapan itu Sang Dewi sempat terkejut, tapi kemudian ia mulai menghilang secara perlahan. membuat Hans benar-benar kecewa dan pergi melewati pintu itu.


Mereka sampai di gua tempat tinggal Elf hanya dalam waktu beberapa menit saja, dengan kekecewaan di dalam hati Hans terus terdiam bahkan tidak meringis sedikit pun saat luka-lukanya di obati.


Berhari-hari ia lewati dengan melamun di tanpa selera makan, ia tak bisa pulang begitu saja dan mengatakan bahwa Sang Dewi menolak untuk di ajak datang. Sedang ia juga tak memiliki ide lain yang bisa membantunya keluar dari masalah itu, sampai suatu pagi ia mau makan dan membawa bekal.


"Kau mau kemana?" tanya Elf sebelum Hans berjalan keluar.


"Aku akan pergi menemui Sang Dewi lagi, aku akan membujuknya sampai dia mau ikut dengan ku"


"Bukannya aku bermaksud jahat, tapi Sang Dewi tetap tidak akan menggubris permohonan mu"


"Lalu apa yang harus aku lakukan Elf? guru Shishio pasti sudah menunggu ku dan berharap banyak!" teriaknya putus asa.


Elf terdiam, memutar otak untuk membantu Hans keluar dari masalah itu.


"Aku tahu!" ujarnya tiba-tiba.


"Apa?" tanya Hans penasaran.


"Meski sudah berevolusi tapi vampire masih menghormati batu keabadian, kau bisa gunakan batu itu untuk membuat perjanjian dengan mereka"


"Apakah itu bisa di lakukan?" tanya Hans.


Elf mengangguk sambil tersenyum, membuat Hans bersorak senang hingga tanpa sadar menggendong Elf dan memutarnya dalam pelukan. Hal itu membuat Elf tertawa sekaligus was-was karena takut jatuh, mereka masih tertawa senang saat Hans menurunkannya tapi saat mata mereka bertemu tawa itu berubah menjadi senyuman.


Dengan jarak mereka yang begitu dekat membuat jantung Hans tak aman sebab ia begitu terpesona pada kecantikan Elf, perlahan Elf mengangkat tangan dan mengusap rambut Hans.


"Besok aku akan membawamu ke bapak Peri, hanya dia yang bisa membuat batu keabadian" ujarnya.


* * *


Seperti biasa setelah makan malam Chad akan pergi ke rumahnya yang lain, awalnya rumah itu di peruntukan keperluan istirahat terlebih menikmati segelas darah segar yang tidak bisa dia tunjukkan kepada siapa pun.


Tapi setelah kedatangan Ima ia datang hanya untuk melihat keceriaan Ima atau sekedar membuatnya marah karena ekspresinya yang lucu, malam itu ia telah menghubungi Ima agar datang namun tentu saja butuh waktu untuk sampai karena kini Ima sudah pindah ke rumah barunya yang lebih jauh.


Sambil menunggu ia memilih untuk menikmati pemandangan malam ditemani segelas wine, namun saat ia pergi ke balkon sekilas di lihatnya sebuah bayangan hitam di balik pohon yang seperti sedang mengamatinya.


Chad pura-pura tidak melihat bayangan itu tapi jelas ia menelitinya, saat pura-pura masuk ke dalam untuk mengambil minum lagi dengan cepat ia turun ke bawah dan menghampiri sesosok bayangan yang bersembunyi itu.


Tapi begitu ia sampai tempat itu kosong, dengan waspada ia memeriksa sekeliling hanya untuk memastikan apakah ada orang di sana selain dirinya.


"Apa aku cuma salah lihat?" gumamnya yang merasa ragu sebab tak ada apa pun di sana.


* * *


Elf membawa Hans masuk ke sebuah celah diantara bebatuan, tempat itu gelap sehingga ia harus berhati-hati saat berjalan. Tapi begitu sampai ia melihat sebuah hutan yang di dominasi warna hijau, rerumputan tumbuh dengan sehat dan pohon-pohon berbuah dengan lebatnya.


Baru mereka berjalan beberapa langkah Hans melihat sosok makhluk kecil bersayap yang terbang mengelilingi mereka, Elf tiba-tiba tertawa saat makhluk itu terbang tepat di depannya.


"Tidak... bukan seperti itu.. hihihi" ujarnya tiba-tiba.


"Apa yang kau katakan?" tanya Hans penasaran.


"Oh maaf, aku bicara pada Mathilda"


"Siapa Mathilda?" tanya Hans sambil melihat kiri kanan sebab tak ada orang lain selain dirinya.


"Ah.. ini pasti pertama kali kau melihat peri, ini adalah dimensi khusus yang hanya bisa di masuki para peri dan keturunannya. Semua makhluk mungil yang kau lihat adalah para peri dan peri kecil ini namanya Mathilda" jelas Elf sambil memperkenalkan.


"Wow... sungguh menakjubkan" gumam Hans.


"Tunggu! kau bilang hanya bisa di masuki para peri, tapi kenapa kau dan aku bisa masuk ke daerah ini?"

__ADS_1


"Itu karena aku adalah keturunan peri, kau lihat! kami punya bentuk kuping yang sama. Sedangkan kah bisa masuk karena aku mengundang mu"


"Begitu rupanya" jawab Hans.


Mereka terus berjalan sampai tiba di sebuah pohon yang paling besar, Elf menyuruhnya menunggu sementara ia akan bicara dulu dengan bapak peri untuk meminta ijin agar Hans dapat menemuinya.


Sementara menunggu Hans di perbolehkan berjalan-jalan atau makan buah-buahan yang ada selama tidak merusak apa pun.


Cukup lama Elf berada di dalam sana hingga membuat Hans cukup bosan, setelah penantian yang panjang itu akhirnya Elf datang dan menyuruhnya untuk memakan sebuah buah yang memiliki khasiat dapat mengerti bahasa peri.


Ia membawa Hans masuk ke dalam dan bertemu bapak peri, seorang peri berjenis kelamin laki-laki dengan janggut putih yang terlihat lucu.


"Bapa, dia adalah Hans" ujar Elf memperkenalkan.


"Oh, penyihir yang masih teramat muda" komentar Bapa peri.


"Senang bertemu dengan anda" ucap Hans sambil membungkukkan badannya untuk memberi hormat.


"Aku sudah dengar masalah yang kau hadapi di luar sana, aku turut berbelasungkawa atas musibah itu. Sebenarnya apa pun yang terjadi di luar sana bukanlah urusan kami apalagi Sang Dewi, kami tidak bisa membantu mu dalam hal ini" ujar Bapa peri yang membuat Hans kembali kecewa.


"Tapi... karena kau begitu bersemangat sampai membuat Elf terharu sehingga ia memaksaku untuk membantu mu, maka mungkin aku bisa sedikit membantu" lanjutnya.


"Benarkah?" tanya Hans tak percaya.


"Terimakasih... " ujarnya dengan rasa haru memenuhi ruang di dadanya.


"Tapi.. perlu aku beritahu, aku tidak bisa memberikan mu batu keabadian sebab batu itu berasal dari darah ku. Jika aku membuatnya kembali maka nyawa ku bisa terancam, sebagai gantinya aku akan memberikanmu sesuatu yang lain."


Sebuah gulungan tiba-tiba muncul dengan kerlingan indah di udara, mengambang menuju Hans yang segera ia ambil. Saat ia buka rupanya isi dari gulungan tersebut adalah sebuah peta.


"Elf telah menceritakan keadaannya dan memberiku sebuah ide, carilah ramuan jiwa dan dapatkan setelah itu gunakan ramuan itu untuk menghidupkan Lord vampire. Dengan hidupnya Lord vampire kau bisa buat perjanjian dengannya" jelas Bapa peri.


"Maksud Bapa aku bisa menghidupkan vampire yang telah menjadi abu?"


"Sebenarnya tidak, tapi Lord adalah vampire istimewa. Jiwa-jiwa manusia yang darahnya ia hisap habis masih terperangkap di sana, meski tubuhnya telah menjadi abu tapi Jiwanya tetap di sana. Dulu saat seorang Issabella D'guch membunuhnya ia memang menjadi abu, tapi karena jiwanya masih berada di sana dengan bantuan batu keabadian tubuhnya bisa menjadi utuh karena itu dengan bantuan ramuan jiwa kita bisa membangunkan ruhnya agar hidup kembali" jelas Elf.


"Aku mengerti"


"Perjalanan untuk mendapatkan ramuan itu sangatlah sulit, kau harus berhati-hati sebab ramuan itu di jaga oleh para goblin. Beri mereka sebatang emas maka mereka akan memberikan ramuan itu" ujar Bapa.


"Terimakasih atas bantuan yang Bapa berikan, aku sungguh berterimakasih" ucap Hans.


Bapa peri tersenyum dan memberikan doa terbaik untuknya, Elf juga tetap berada di sampingnya. Memberinya dukungan penuh dan kembali menemani Hans dalam perjalanan keduanya.


Mereka kembali ke gua untuk menyiapkan perbekalan sebelum pergi menuju sarang goblin, tempat di mana ramuan jiwa berada.


* * *


Mungkin hanya perasaannya saja, tapi Chad juga merasa ragu. Setiap ia sedang sendirian bayangan hitam itu selalu muncul tapi seketika hilang setelah ia mencoba mengejarnya, hal itu telah berlangsung beberapa hari yang membuat Chad penasaran.


Ia pun meminta bantuan Jhon untuk menangkap bayangan hitam itu, di malam yang seperti biasa Chad menikmati segelas wine sambil memandangi rembulan. Saat itulah bayangan hitam itu kembali muncul mengawasinya dari balik pepohonan di bawah sana, dengan cepat Chad mengambil langkah untuk mengejar bayangan itu.


Seperti dugaannya bayangan itu kabur dengan cepat tapi Jhon telah berada di sana untuk menghadangnya, saat mereka bertemu betapa terkejutnya Jhon mengetahui sosok asli dari bayangan itu.


"Kali ini kau tertangkap" ujar Chad melihat Jhon berhasil menghentikan pelarian sosok di balik bayangan yang selalu mencintainya.


"Petinggi yang terlupakan, apa yang kau lakukan Ballard?" tanya Jhon.


"Paman... mengenalnya?" tanya Chad.


Ballard membalikkan badan, memperlihatkan diri kepada Chad. Tapi Chad tak mengenalinya sehingga mereka hanya terdiam sampai Ballard yang lebih dulu bicara.


"Apa kabar... pangeran mahkota?"


"Apa? siapa?" tanya Chad bingung.


"Tentu saja kau, rupanya Joyi memang tidak memberitahu mu banyak hal tentang siapa dirimu"


"Kau... siapa kau?" tanya Chad curiga sebab ia pun mengenal neneknya.

__ADS_1


__ADS_2