
Biasanya pukul tujuh pagi sarapan sudah siap di meja makan, setelah mengganti pakaian ia akan menikmati hidangan lezat yang sehat. Tapi kini dia tinggal di rumah sederhana, bukan sebuah kastil atau rumah mewah lagi.
Mungkin pakaian yang ia kenakan masih bagus, tapi itu hanya satu-satunya benda terbaik yang ia miliki. Melihat ke dalam isi dompet sadarlah ia bahwa uangnya hanya cukup untuk membeli makanan selama seminggu, itu pun makanan murah dengan cita rasa biasa.
"Aku harus berhemat" gumamnya.
Hhhhhhhh
Menghembuskan nafas ditaruhnya kembali semua uang itu ke dalam dompet, berniat mencari makanan ia keluar dari pintu rumah namun tiga gadis baru saja memasuki pagar.
"Ibu mau kemana?" tanya Kyra.
"Ah ibu... hendak pergi keluar sebentar" jawabnya bingung.
"Perkenalkan ibu, ini Alisya sepupu Chad dan Ima pacar Chad"
"Pacar?" ujar Violet kaget, tentu karena ia tak menyangka Chad akan berhubungan dengan gadis lain secepat itu.
"Um... Kyra mengajak kami datang kemari" sahut Alisya sebab ada keheningan yang terasa canggung.
"Ah iya, aku ingin masak dengan mereka. Ibu tahu, seperti acara khusus para gadis" ujar Kyra.
"Oh kalau begitu kenapa berdiri di sini? ayo masuk" ucap Violet.
Karena tamu yang tak di tebak itu Violet memgurunhi niatnya mencari makanan, terlebih putri dan kawan-kawannya hendak membuat makanan.
"Maaf hanya ada air putih" ujar Violet sedikit malu saat menyuguhi mereka.
"Tidak apa-apa tante, boleh kami langsung ke dapur?" tanya Ima.
"Tentu saja, anggap saja seperti rumah kalian sendiri b" jawab Violet.
Tanpa sungkan Ima segera mengeluarkan barang belanjaan yang telah mereka beli pagi tadi, dengan lihainya ia menyiapkan semua alat dan bahan masakan itu.
Sementara Kyra hanya bisa menatap takjub, saat Alisya memberitahu untuk bertanya pada Ima awalnya ia sedikit ragu. Tapi setelah bicara meski lewat telpon Ima segera memberikan solusi yang berguna, inilah rencana Ima agar kesedihan di dalam hati Violet sirna.
Memasak adalah salah satu kegiatan yang masuk dalam naluri wanita, seburuk apa pun hasil masakan seorang wanita jika di hadapkan pada satu kondisi tertentu ia pasti melakukan yang terbaik dan senang akan hal itu.
Pagi sekali Ima sudah berada di rumah Chad hanya untuk menjemput Alisya dan Kyra, mengajak mereka ke pasar untuk mencari bahan masakan.
"Kyra, kau bisa bantu aku potong bawangnya?" tanya Ima.
"Oh baiklah"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Alisya.
"Kau bisa mengupas kentangnya" sahut Ima.
"Baiklah serahkan padaku" ujarnya.
Ketiga gadis itu pun mulai mengerjakan tugas mereka masing-masing, tentu semuanya tidak berjalan mulus begitu saja karena itu adalah pengalaman pertama Kyra memasak.
Ia benar-benar di buat menangis karena potongan bawang dan mengalami sedikit luka gores di tangan, kehebohan kecil yang membuat Violet sedikit khawatir tapi senang sepenuhnya.
"Kau benar-benar cekatan, pasti kau sudah biasa memasak" ujar Violet yang ikut turun tangan.
"Ibu selalu sibuk bekerja, jadi kadang aku memang memasak di rumah" jawab Ima.
Violet tersenyum, membayangkan beberapa kesulitan yang di alami Ima karena kondisi kedua orangtua yang harus bekerja. Tapi melihat wajah ceria Ima ia menjadi yakin bahwa gadis itu teramat tangguh sehingga mampu melewati setiap harinya dengan mudah.
Dua jam berlalu dan akhirnya hidangan pun di sajikan, mereka duduk bersama di ruang makan untuk menikmati hidangan yang sudah susah payah mereka buat.
Untuk pertama kalinya ada tawa di rumah yang telah lama kosong itu, juga tawa di wajah Violet yang sudah lama menghilang.
Sementara itu kediaman Hermes justru sangat gelap, sepanjang hari setelah kepergian Kyra dan Violet rumah itu nampak suram.
Jack dan Ryu mengurung diri dalam kamarnya tanpa mau makan dan minum, terlebih Ryu yang sangat terpukul. Ia terus menyalahkan diri sendiri, tentu Shigima sudah memberinya nasihat dan mencoba menghiburnya tapi hal itu tidaklah berhasil.
Amelia yang melihat hal itu semakin geram kepada Violet, diam-diam dia pergi ke kantor Sanwa untuk menemui Joyi. Namun dia diberitahu tidak bisa menemui Joyi tanpa janji terlebih dahulu.
"Kau bilang saja padanya bahwa ini masalah keluarga Hermes, aku yakin dia pasti akan mengijinkan ku masuk" ujar Amelia tegas.
__ADS_1
karyawan itu pun tak bisa menolak dan bergegas pergi, tak berapa lama kemudian ia datang kembali untuk menyampaikan pesan dari Joyi yang mengijinkannya masuk.
Amelia di suruh menunggu di sebuah ruangan, dengan tak sabar ia menggetarkan kakinya hingga Joyi masuk ke dalam ruangan itu.
"Amelia, sebuah kejutan kau mengunjungi ku di sini" sambut Joyi.
"Kita tidak perlu berbasa-basi, aku hanya ingin kau sampaikan pesan ku kepada Kyra dan Violet"
"Apa? pesan?" tanya Joyi heran.
"Katakan pada mereka jika benar-benar mencintai Ryu maka mereka harus bertindak layaknya anak dan istri, Ryu sudah cukup menderita dan jangan buat aku turun tangan" ujarnya.
Joyi masih berdiri kebingungan namun Amelia sudah beranjak pergi dari ruangan itu, mencium ada yang tidak beres ia pun segera pulang untuk menemui Kyra.
Namun Kyra masih belum kembali ke rumah, dari seorang pelayan ia mengetahui sejak tadi pagi Kyra pergi dan belum kembali.
"Apa kau tahu kemana dia pergi?"
"Aku kurang yakin, tapi aku mendengar nona Ima menyinggung pasar dan memasak"
"Begitu ya, baiklah terimakasih" sahut Joyi.
Pelayan itu pun pergi meneruskan pekerjaannya, sementara Joyi memilih untuk diam di rumah sampai Kyra pulang.
* * *
Istana tanpa raja hanyalah sebuah Koloseum padang pasir, tempat para gladiator bertarung tanpa henti untuk memperlihatkan siapa yang paling kuat.
Ketegangan terus berlangsung yang membuat para prajurit mengembara dan para bangsawan mati konyol dalam persaingan, keresahan mulai menggerogoti hati para tetua sebab jika masalah ini tidak cepat di selesaikan maka kaum mereka akan musnah dengan sendirinya.
Ballard yang paling resah dan menginginkan kekuasaan kembali mendekati Agler untuk tujuannya, tapi Agler yang sudah benar-benar nyaman dengan keluarga sederhananya menolak rayuan itu tanpa basa basi.
Tak patah semangat ia mendekati Chad meski sudah tahu jawabannya, setidaknya ia harus mencoba.
* * *
Alisya dan Kyra baru pulang saat matahari telah terbenam, dimana tiba waktunya bagi mereka untuk tidur.
"Oh nenek, ya kami tadi berkunjung ke rumah.. ah.. " hampir Alisya kelepasan bicara, beruntung Kyra menyenggolnya tepat waktu.
"Kalian dari mana?" tanya Joyi curiga.
"Ima, dia mengajak kami main ke rumahnya dan melakukan pesta gadis di sana" sahut Kyra.
"Oh begitu rupanya, ini sudah malam sebaiknya kalian cepat tidur"
"Baik" jawab mereka serentak.
Mengingat ucapan pelayannya memang ada kemungkinan mereka berkunjung ke rumah Ima, tapi firasat Joyi mengatakan ada sesuatu yang di sembunyikan dua gadis itu.
Terlebih ucapan Amelia yang menyinggung tentang Violet juga, ini membuat Joyi secara diam-diam memata-matai Kyra.
Esok harinya ia menemukan Kyra masuk ke dalam sebuah rumah yang tidak ia kenali, saat ia mencoba mencaritahu dari tetangga sekitar kenyataan bahwa wanita bernama Violet menyewa rumah itu membuat Joyi kaget.
Dengan sengaja ia pun memantau rumah itu sampai Kyra keluar, saat dilihatnya Violet benar-benar keluar dari rumah itu untuk mengantar putrinya pulang pertanyaan dalam kepalanya semakin bertambah banyak.
Melihat kepergian Kyra dengan cepat Joyi berjalan menghampiri rumah itu, memencet bel beberapa kali sampai Violet keluar.
"Nyo-nyonya... " panggil Violet kaget melihat Joyi berdiri di luar pagar rumahnya.
Dengan cepat ia berjalan untuk membukakan pintu gerbang.
"Ba-bagaima nyonya tahu aku tinggal di sini?" tanyanya panik.
"Amelia mendatangi kantor ku dan meminta ku untuk menyampaikan pesan padamu" jawabnya.
Raut wajah Violet seketika berubah suram, terlihat jelas ia enggan membicarakan masalah itu. Tapi tetap ia mempersilahkan Joyi untuk masuk dan menghilangkan teh kepadanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Amelia terlihat marah kepadamu dan itu menyangkut kondisi Ryu yang tidak baik" tanya Joyi.
Sejenak Violet terdiam, bingung harus bicara apa karena ia sudah lelah dengan masalah yang tak ada habisnya.
__ADS_1
"Violet, katakan padaku sejujurnya. Kau tahu aku bisa membantu mu apa pun masalahnya" bujuk Joyi.
"Itulah yang membuatku bingung nyonya, kebaikan anda terlalu besar hingga membuatku enggan berkata" jawabnya.
"Violet, aku mengasuh Ryu dalam dekapan tangan ku. Bahkan adalah orang yang menjodohkan ibunya dengan Jack, setiap jengkal dalam kastil begitu aku kenali hingga masalah apa pun yang terjadi di sana dengan mudah aku dapat menciumnya. Meski kini mungkin aku adalah musuh dari keluarga Hermes tapi sumpah ku untuk melindungi keturunan Jack tidak akan aku langgar" ujar Joyi.
"Apa pun masalah mu itu merupakan masalah ku juga, aku minta maaf atas apa yang terjadi pada Chad dan Kyra karena itu biarkan aku menebus dosa ku" lanjutnya sebab Violet masih diam.
Pada akhirnya Violet luluh juga, ia pun menceritakan perseteruan yang terjadi antara dirinya dan Amelia. Juga kekecewaannya kepada Ryu yang tidak memihak padanya, mendengarkan dengan seksama kini Joyi paham bagaimana masalah itu.
"Ryu, dia adalah anak yang paling lembut diantara anak-anak Jack. Dia sangat polos seperti kertas dan egois seperti bocah, dia cengeng dan selalu mengandalkan orang lain" ujar Joyi mengenang bagaimana sosok Ryu kecil yang ia asuh.
"Ya dia seperti itu dan sangat membuat ku muak" tukas Violet kesal.
"Kau pasti lebih paham karakter Ryu lebih dari siapa pun, apakah... kau menyesal telah menikahinya?" tanya Joyi.
Violet terdiam, ia memang kesal tapi bukan berarti ia benci. Ryu adalah pemuda tampan yang baik hati, sosok pangeran sempurna yang datang untuk menyelamatkannya dari dunia opera yang kejam.
Beberapa tahun setelah pernikahan mereka hidupnya begitu penuh kebahagiaan, terlabih kemudian Kyra hadir sebagai pelengkap keluarga kecil mereka.
Namun mimpinya untuk menjadi nyonya membuat rasa haus akan status semakin meningkat, terlabih saat melihat Amelia yang begitu berkuasa di kastil.
"Aku hanya ingin Ryu berubah, lebih mengerti diriku" ujarnya pelan.
"Ada pepatah mengatakan jangan mencubit jika kau tidak ingin di cubit, sama seperti cobalah mengerti jika kau ingin mengerti" ujar Joyi yang membuat Violet menatapnya.
"Begitu lama perjalanan rumah tangga kalian, aku yakin tidak mudah melalui semua cobaan yang datang. Tapi saat kalian mengikrarkan sumpah pengantin saat itulah seharusnya kalian ada untuk satu sama lain, terkadang kita harus menjadi kayu jika ingin bara.. bukan api. Tidak ada salahnya mengalah, kau tahu kekerasan tidak akan melunakkan hati seseorang" lanjutnya.
Joyi tersenyum melihat Violet memikirkan kata-katanya, sebuah tanda bahwa nasihatnya di dengar dengan baik.
"Sejak kalian bertengkar hingga saat ini Ryu belum juga datang menemui mu kan? aku yakin alasannya karena dia mengurung diri di dalam kamar untuk mengutuk dirinya sendiri, bukan membela Amelia."
Setelah ucapan itu Joyi permisi pulang, memberi waktu kepada Violet untuk berfikir dengan baik dan mengambil keputusan.
* * *
Setiap gadis mengingat kecantikan sebagai kelebihan yang ia miliki, asal memiliki hal itu maka semuanya akan baik. Tapi bagi Violet itu tidaklah cukup, kecantikan yang ia miliki memang sebuah anugrah tapi tidak terlalu bermanfaat.
Lahir dalam keluarga miskin anugrah itu ia manfaatkan untuk mencari pekerjaan, tapi sayangnya setiap pekerjaan yang datang mengharuskannya berurusan dengan pria hidung belang.
Violet adalah gadis yang bahkan meski tidak memiliki status tapi kepribadiannya lebih dari putri bangsawan, ia sangat menjaga kehormatannya seperti ia menjaga nyawanya.
Sampai akhirnya satu-satunya pekerjaan yang ia dapat adalah menjadi artis opera, bermain akting untuk menghibur setiap penonton yang datang.
Kecantikannya di puji, kepiawaiannya dalam memainkan peran di puji. Setiap hari penggemarnya semakin bertambah dan selalu mengirimkan hadiah-hadiah, begitu juga dengan mereka sang pemilik panggung dan pemimpin lainnya.
Di balik hadiah yang mereka berikan ada sebuah keinginan kecil yang mereka sematkan, sebuah timbal balik atas kesuksesan Violet menjadi artis.
Ia yang begitu polos suatu hari di panggil malam-malam dengan alasan cerita baru, tapi gedung itu sangatlah gelap dan sunyi tanpa ada seorang pun di sana.
Lalu dari dalam kegelapan sebuah bayangan muncul, sosok pria dengan seringai nakal yang memuakkan. Dalam sekejap mata ia sudah terbaring di atas lantai dengan kedua tangan yang di tahan, rasa takut mencekik tenggorokannya hingga sulit tuk bernafas.
Ia pikir kehormatannya akan di rampas begitu saja, tapi Violet memiliki karakter keras kepala yang membuatnya selalu menjadi pemberontak.
Malam itu ia berhasil kabur, mempertahankan kehormatannya namun tidak dengan karirnya. Dalam sekejap mata bahkan gosip berseliweran di telinganya tentang fitnah yang menyebutnya wanita penggoda.
Terombang ambing dalam luka di hati ia memilih untuk pindah ke kota lain, memulai hidup baru untuk melupakan masa lalu itu.
Tapi kemana pun ia pergi kejadian itu terus terulang lagi dan lagi, meski ia selalu berhasil lolos dari kecelakaan itu tapi ia tidak pernah lolos dari desas desus itu.
Sampai pada akhirnya semangat juangnya hilang, mimpinya lenyap dan mata itu selalu kosong. Tak ada cara lain, ia berfikir untuk menyetujui permainan opera.
Satu hari ia di terima menjadi seorang artis dengan syarat seperti yang telah ia duga, ia telah memulai pekerjaannya selama sepekan dan diakhir pekan itu ia telah membuat janji dengan seorang pria.
Tapi akting yang ia tunjukkan di hadapan penonton malam itu telah merenggut hati Ryu Hermes, bahkan segala sesuatu yang di miliki Violet saat itu telah membuat Ryu jatuh cinta.
Selesai pertunjukan Ryu dengan sengaja menemui Violet hanya untuk memujinya, pujian yang akhirnya membuat Violet kembali menemukan semangat juangnya.
Karena hal itu dengan berani ia mengabaikan janjinya, memilih untuk makan malam bersama Ryu.
Hanya dalam waktu tak lebih dari satu jam mereka telah mengobrol banyak, karakter Ryu yang periang membuatnya begitu nyaman.
__ADS_1
Hingga tanpa ia duga, suatu hari di hadapan dunia Ryu memegang sebuah cincin yang di sodorkannya kepada Violet. Saat itulah ia meraih mimpinya, menggenggam cinta dengan penuh kebahagiaan.