Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 142 Sandera


__ADS_3

Terus berpindah-pindah tempat seperti buronan membuat Yulia hampir gila karena stres dan lelah, pekerjaannya untuk menghilangkan jejak tidaklah mudah di tambah kini dia harus menjaga mayit hidup.


Sudah seharian ia di tinggal sendiri, itu membuatnya terus mengumpat tanpa henti dan bersumpah akan membuat Clarkson membayarnya dengan mahal.


"Hai Yulia" sapa Clarkson yang baru saja tiba.


"Ah, akhirnya kau datang juga" sahutnya segera berdiri tegak.


Ia sudah siap mengajukan berbagai permintaan, tapi mulutnya seketika bungkam saat melihat Tianna berdiri di samping Clarkson.


Tentu sangat mengejutkan, Yulia cukup mengenal Tianna sebagai sepupu Ratu Viktoria dan semakin di kenal lagi setelah menjadi pendamping Keenan.


"Hai Yulia.. " sapa Tianna seramah mungkin.


"Clark, aku butuh bicara dengan mu" ujar Yulia tanpa memperdulikan Tianna.


Jelas dari matanya yang sinis ada ketidaksukaan kepadanya, Clarkson yang juga melihat hal itu hanya menyuruh Tianna untuk menunggu.


"Kenapa kau membawanya kemari?" tanya Yulia sambil membalikkan badan begitu mereka sampai di ruangan lain.


"Dia akan membantu kita"


"Apa maksud mu?" tanya Yulia semakin kaget.


"Jika dia bisa mendampingi Keenan maka dia juga pasti bisa membantu kita untuk mencapai tujuan, ini adalah keputusan yang bagus"


"Clark.... dia belum tentu bisa di percaya, lagi pula aku berani bertaruh 'Dia' akan menolak keberadaan Tianna"


"Tianna memiliki kelebihan dan itu bisa membantu kita, aku tidak perlu ijin darimu atau 'Dia' untuk hal ini" sahut Clarkson mengakhiri pembicaraan yang hanya buang waktu baginya.


Itu bukanlah jawaban yang di inginkan Yulia, ia benar-benar kesal hingga sebuah umpatan takkan mengurangi amarahnya.


"Semuanya baik?" tanya Tianna ketika Clarkson kembali.


"Yeah, hanya ada beberapa hal yang harus kami bicarakan. Ayo! ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu" ujarnya segera memimpin.


Tianna mengikuti dari belakang dengan di ikuti Yulia, mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang jauh lebih bersih dan rapi.


Di kamar itu ada sesosok tubuh wanita tua yang sedang terbaring diatas ranjang dengan selang infus terpasang di tangannya, Tianna sedikit terkejut saat melihat wanita itu sebab ia sangat mengenalnya.


Beruntung ia bisa mengendalikan diri sehingga tak menimbulkan kecurigaan, ia masuk mengikuti Clarkson dan berdiri tepat di sampingnya.


"Aku ingin kau menjaganya, pastikan dia baik-baik saja sebab kita membutuhkan hidupnya" ujar Clarkson.


"Bolehkah?" tanya Tianna menatap penuh arti.


Clarkson mengangguk sementara Yulia tak melepaskan pandangan sinisnya, Tianna beralih ke samping wanita tua itu.


Duduk di sampingnya dan mulai memeriksa denyut nadinya, cukup lama sebelum beralih pada anggota tubuh yang lain. Saat melihat sebuah perban yang melingkar di bagian perutnya kini tahulah ia apa penyebabnya.


"Jika kalian ingin dia hidup kenapa tidak kalian obati?" tanya Tianna.


"Heh, kau memeriksanya sendiri oleh tanganmu tapi masih bertanya. Ini membuatku berfikir apa yang membuat Keenan menjadikan mu putri istana" olok Yulia.


"Jika aku di sini sudah sejak dulu akan ku berikan darahku untuk mengobati lukanya, itu bukanlah hal yang sulit" balas Tianna.


"Otak mu lebih kecil dari serangga rupanya, darah vampire tidak dapat menyembuhkan luka manusia justru itu akan membuatnya menjadi mayat hidup"


"Itu yang akan terjadi jika kau berikan tanpa penetralisir" sahut Tianna yang membuat Yulia terdiam.


"Kau tahu caranya?" tanya Clarkson bersemangat.


Tianna tersenyum, berfikir hidupnya benar-benar beruntung setelah bergabung dengan Shishio. Sedikit demi sedikit ia belajar obat-obatan dan kadang juga di mintai Alabama untuk menemaninya bereksperimen, meski terkadang ia juga jadi kelincinya.


Kini hal itu berguna, ia meminta Clarkson menyiapkan tanaman yang ia butuhkan sementara Yulia yang tak mau di perintah hanya berperan sebagai penonton.


"Ini sudah semuanya" ujar Clarkson setelah beberapa jam mencari.


"Terimakasih" sahutnya.


Tianna memulai pengobatannya dengan menghancurkan semua tanaman obat itu, memberinya sedikit air dan mengambil sarinya. Dengan kukunya yang tajam ia gores tangannya begitu saja hingga mengeluarkan darah, tetesan darah itu ia tuang ke dalam cairan obat.


Hanya perlu mengaduknya selama beberapa saat maka ramuan itu telah selesai, tak perlu repot memberikannya karena Tianna hanya perlu mengganti cairan infus itu dengan ramuannya.


"Memang butuh waktu tapi dia pasti akan segera bangun, setidaknya nanti malam dia sudah bisa membuka matanya" ujarnya.


"Jika dia tidak membuka matanya maka matamu yang akan tertutup" sahut Yulia sambil berjalan menghampiri Tianna.


Dari tatapannya sudah jelas bahwa itu merupakan sebuah ancaman, tapi Tianna sudah terbiasa dan hanya tersenyum ringan untuk membalasnya.


* * *


"Alisya!" panggil Kyra sambil berlari di lorong.

__ADS_1


Melihat kedatangan Kyra Alisya bangkit dari tempat duduknya, sementara Manager San dan Mina hanya melirik sambil terduduk.


"Kau di sini?" tanya Alisya.


"Bagaimana keadaan Ima?"


"Dia sudah lebih baik, masa kritisnya berlalu dengan cepat"


"Kyra.. " panggil Chad yang baru keluar dari ruang rawat Ima.


"Aku turut menyesal atas apa yang menimpa Ima" ujar Kyra sambil memeluk Chad.


"Kau tidak apa?" tanyanya cemas.


Chad hanya mengangguk setelah melepaskan pelukan itu, meski Chad tersenyum tapi Kyra tahu hatinya sangat hancur. Diantara semua orang hanya dia yang tahu bagaimana besarnya cinta Chad untuk Ima, hal yang sempat membuatnya iri.


"Masuklah, dia akan senang melihat mu menjenguknya" sahut Chad pelan.


"Tidak, kau baru melihatnya kan? biarkan dia istirahat dulu" jawab Kyra.


Chad tersenyum senang sebab Kyra begitu perhatian pada kesehatan Ima, mereka pun berbincang pelan hanya untuk mencairkan suasana yang kelam.


Hingga malam semakin larut dan Kyra sudah tak bisa berlama-lama lagi di sana, ini karena ia tak mengatakan kemana ia pergi kepada Violet dan jika ia pergi semakin lama maka itu akan membuat Violet khawatir.


Sebelum pulang Kyra menyempatkan melihat Ima dulu, hanya untuk memastikan dia benar-benar sudah cukup baik.


Meski ia sudah berusaha tak menimbulkan suara agar tidak mengganggu tidur Ima tapi tetap saja telinga Ima yang sensitif dapat mendengarnya, mereka bicara sebentar hanya sebelum Kyra akhirnya berpamitan.


"Maaf aku tidak bisa menemani lebih lama lagi" sahut Kyra seteh keluar dari ruang rawat.


"Tidak masalah, kedatanganmu sudah lebih cukup" sahut Chad.


"Kalau begitu aku permisi dulu"


"Biar aku antar" ujar Manager San yang membuat semua mata mengarah padanya.


Itu membuat Kyra menelan ludah dengan keras sebab sampai saat ini hubungan mereka masih di tutupi.


"I-Ini sudah malam, tidak baik seorang gadis berjalan sendirian" ujar Manager San gugup karena menjadi pusat perhatian.


"Tentu, antarlah dia" ucap Chad.


Mereka pun cepat pergi meninggalkan rumah sakit, begitu masuk ke mobil Kyra membuang nafas lega yang membuat Manager San bertanya.


"Kenapa?"


Manager San hanya tersenyum, dengan senang hati ia memutar kemudi dan keluar dari lingkungan rumah sakit.


"San... apakah mungkin semua ini akan berakhir?" tanya Kyra tiba-tiba.


"Apa maksud mu?" ujar Manager San bertanya balik.


"Semuanya... masalah ini... rasanya semuanya semakin kacau, setiap hari hanya ada masalah dan terus bertambah banyak. Aku khawatir... jika hal ini tidak akan ada akhirnya"


"Kau terlalu mencemaskannya, semua akan baik-baik saja"


"Bagaimana jika tidak? aku sudah menjauhkan keluargaku dari kastil dan Hermes, tapi apakah itu cukup? apakah... penantian kita selama delapan bulan ini akan berakhir bahagia?"


"Pasti!" sahut Manager San yakin.


Lagi, Kyra menatap sorot mata yang tak biasa dari Manager San. Itu adalah sebuah keyakinan yang ia butuhkan untuk menenangkan hatinya, dengan perasaan baru di rangkulnya tangan Manager San.


Di saat-saat seperti ini memang Manager San harus penuh percaya diri, demi kebahagiaan yang ia idamkan tapi sebelum itu ia harus menemukan Joyi terlebih dahulu.


* * *


Entah apa yang di bicarakan Clarkson dan Tianna di depan sana, apa pun itu yang membuat dirinya kesal adalah gelak tawa Clarkson dan ******* manja Tianna.


Berbagai bayangan muncul dalam benaknya yang semakin membuatnya menggaruk kursi hingga robek.


"Begitu bahagianya mereka di sana, sementara aku masih saja menunggu mayat hidup ini" gerutu Yulia.


Uh....


Sebuah erangan tiba-tiba membuat Yulia memalingkan wajah, menatap sanderanya yang akhirnya menggeliat dan mulai membuka matanya secara perlahan.


"Ah akhirnya... kenapa kau lama sekali sadar?" tukas Yulia.


Ia pun bergegas ke depan, membubarkan kebahagiaan Clarkson agar ikut menyaksikan efek obat Tianna yang manjur.


"Aku... di mana... "


"Kau barada di markas kami, apa kau ingat siapa namamu?" tanya Clarkson.

__ADS_1


"Um... ya.. Joyi" jawabnya sambil perlahan mencoba bangkit.


"Jangan memaksakan diri, usia enam puluh tahun bagi manusia sudah sangat renta" ujar Tianna sambil membantu.


"Kalian... siapa?" tanya Joyi heran.


"Kau akan tahu nanti" ketus Yulia.


"Aku akan bawakan makanan untuk mu" sahut Tianan yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


Dengan penglihatan yang baru jelas Joyi menatap satu persatu makhluk malam itu juga sekelilingnya, sampai ia ingat apa yang telah menimpa dirinya.


Saat itulah ketakutan kembali merajai hatinya, bergegas menarik kakinya untuk melindungi diri dari sebuah ancaman.


Melihat hal itu hati Yulia sedikit terhibur, ia sangat menyukai wajah pucat manusia yang tengah ketakukan. Apalagi jika mendengar detak jantung mereka yang tak beraturan saat mencoba berlari dari terkamannya, tak ada yang lebih baik dari momen berburu.


"Kau beruntung, kami tidak akan menyakitimu sampai waktunya tiba" bisik Yulia.


"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Joyi hampir merintih.


"Tentu saja harta karun mu, setelah kami merampasnya aku akan berbaik hati dan memberikan waktu satu jam untukmu menikmati udara" jawab Yulia.


"Apa?.... "


Hahahahahaha


Ekspresi Joyi yang menegang tak bisa membuat Yulia menahan gelak tawanya, ia benar-benar menikmati permainan itu.


Sementara Joyi dalam hati hanya bisa memanggil Chad, meminta pertolongan walau pun ia tahu pesan itu tidak akan pernah sampai.


"Hentikan Yulia, mari kita biarkan dia dan membahas rencana selanjutnya" ujar Clarkson.


Sementara Yulia dan Clarkson pergi ke ruangan lain Tianna pun diminta untuk berjaga, meski kemungkinannya kecil bagi Joyi untuk melarikan diri tapi tetap saja seseorang harus mengawasinya.


Berbeda dari Yulia perlakuan Tianna cukup baik, ia membantu Joyi membersihkan diri dan mengisi perutnya yang kosong.


Itu membuat Joyi sedikit merasa aman, bahkan walau pun kecil ia bisa merasakan sebuah harapan.


"Apa yang mereka lakukan padamu" tanya Tianna pelan.


Saat masih bersama Keenan ia sudah memeriksa kelurga Hermes termasuk Joyi yang sempat menjadi kepala keluarga, mengingat betapa gagahnya Joyi tentu sangat mengherankan ia takut kepada Clarkson dan Yulia.


Ketakutan yang di pancarkan Joyi bahkan tidak wajar, tidak mungkin jawabannya hanya karena lebam di seluruh tubuhnya.


"A-aku... tidak... dia akan membunuhku... " jawab Joyi kembali meringkuk.


"Siapa?" tanya Tianna penasaran.


"Dia... dia tidak akan membiarkan ku hidup" jawabnya lagi.


Percuma saja, Joyi dalam keadaan tidak sehat secara mental. Jika seperti ini terus Tianna sadar ia tak akan dapat petunjuk lagi, maka ia putuskan akan terus berada di samping Joyi sampai mendapatkan jawaban.


Sayangnya Yulia tidak percaya pada Tianna, lebih tepatnya dia takut Tianna akan semakin bisa di andalkan hingga perannya dalam misi itu tidak penting lagi.


Sementara ini Tianna tak bisa melakukan banyak hal agar tidak menimbulkan kecurigaan, ia layaknya karyawan magang dengan tugas pembantu.


"Apa aku sudah bebas dari tugas?" tanya Tianna menghampiri Clarkson yang sedang bersantai di atap.


"Kau masih memiliki satu tugas lagi" jawab Clarkson sambil menarik tangan Tianna hingga mendekat padanya.


Dari matanya dan gerakan tubuh itu ia tahu Clarkson menginginkan service yang bagus untuk lelahnya, Tianna tak keberatan akan hal itu dan mulai bermain.


"Katakan padaku, bagaimana cara Keenan memiliki kekuatan sehebat itu" tanya Clarkson sambil memposisikan tubuh Tianna seperti yang ia mau.


"Kau tahu kegilaannya, dia adalah satu-satunya vampire yang melawan leluhur kita"


"Apa maksud mu?" tanya Clarkson heran.


"Dia... menemui Anna di dunia yang hampir mustahil, tempat makhluk ajaib hidup dengan damai. Di sana ia memenggal setiap kepala vampanences dengan pedangnya dan menarik jantung mereka dengan tangan kosong, menjilat abunya yang melayang di udara untuk menikmati kekuasaannya"


"Vampanences? bukankah mereka hanya mitos?" tanya Clarkson menghentikan aktivitas jarinya.


"Sebagian mitos bukan hanya sekedar dongeng, mereka tercipta dari masa lalu kelam yang di ubah demi kebaikan anak-anak"


"Sebagai bangsawan yang sudah lama menjabat harusnya kau tahu kemustahilan Anna, bukankah dia terlalu mitos bagi kita?" tanya Tianna.


Pertanyaan itu mengundang tanya lain dalam benak Clarkson, sesuatu terbersit dalam hatinya demi mewujudkan mimpinya.


"Jika... aku menempuh jalan yang sama dengan Keenan, apakah aku juga akan berhasil sepertinya?"


"Tergantung apakah kau siap menanggung resiko yang sedang Keenan jalani, setahuku Keenan sudah gila sejak dulu dan tujuannya bukanlah tahta istana"


Itu memang benar, tujuan Keenan adalah kekuatan sedangkan yang di inginkan Clarkson adalah tahta.

__ADS_1


"Tianna, berikan apa yang kau berikan pada Keenan. Aku akan lebih darinya" sahut Clarkson kembali menggerakkan jari-jarinya.


"Kalau begitu siapkan dirimu" ujar Tianna dengan senyum mempesona.


__ADS_2