Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 70 Cerita Di Balik Selimut


__ADS_3

Tak ada yang terlewat, semua pekerjaan telah ia selesaikan dengan baik. Melirik jam dinding yang menyatakan malam semakin larut kini ia duduk di balkon dan menantikan kedatangan pangerannya.


Sayang, hingga fajar menyingsing bahkan sinar matahari memenuhi bumi tak ada tanda-tanda akan kedatangannya. Dalam hati ia berkata mungkin malam besok, mungkin dia sedang sibuk seperti yang telah ia katakan hari itu.


Tapi malam-malam berikutnya mata itu tak juga bertemu dengan pujaan hatinya, ada yang aneh. Hatinya mulai gusar dengan berbagai pikiran jahat yang mencoba menggoyahkannya, tentu ia tak bisa tinggal diam.


Seorang diri ia membelah malam dengan kecepatannya berlari, menuju satu rumah di pinggiran kota.


Tok Tok Tok


Pintu kayu itu terlihat semakin bobrok dari terkahir kali ia bertamu, untuk beberapa menit ia menunggu dengan sabar.


Tok Tok Tok


Pada ketukan kedua ini ia mulai tak sabar, dengan pelan ia mencoba membuka pintu itu yang ternyata tak di kunci. Suara derak kayu yang habis di makan rayap membuatnya takut rumah itu akan roboh saat ia berjalan masuk ke dalam, tak ada sinar lampu atau pun lilin yang menjadi penerang tapi ia masih mampu melihat dengan cukup baik.


Rumah itu kosong, di lihat dari sarang laba-laba yang ada mungkin sudah sekitar seminggu tak berpenghuni.


Dengan wajah lesu dan kecewa terpakasa ia meninggalkan rumah itu, dengan hati yang hancur di lihatnya semua pesan yang ia kirimkan dan masih saja tak ada balasan.


"Sebenarnya kau kemana? kenapa tiba-tiba kau menghilang?" gumamnya sedih.


Hhhhhhhhh


Hembusan nafas itu terasa berat, di bawah langit malam untuk pertama kalinya ia menangis karena rasa hampa dan kehilangan.


Tapi ini bukanlah akhir, ia bukanlah gadis yang mudah menyerah. Esok paginya ia kembali datang ke rumah dan menemui kepala pelayan untuk bertanya.


"Dari mana kau mengenal tuan muda?" tanya Aeda penuh curiga.


"Itu...um...tuan muda memberi saya pinjaman uang, saya hendak mendiskusikan masalah hutang saya jadi saya perlu bicara dengannya" jawab Ima beralasan.


"Oh...tuan muda pergi keluar negri, entah dia akan kembali kapan jadi sebaiknya kau tunggu saja sampai ada kabar"


"Begitu ya, terimakasih" ujar Ima.


Perlahan ia berjalan ke arah pintu keluar, meski sudah jelas kemana Chad pergi tetap saja ia tak bisa terima akan kehilangan yang secara tiba-tiba itu.


"Bodoh! sesibuk itukah kau sampai tidak sempat memberitahu ku dulu" gumamnya kesal tapi dengan air mata yang mengalir.


* * *


Bel Bel berbunyi saat dimainkan tangan-tangan kecil yang masih percaya akan keaijaiban, kaki pendek mereka berlari ke sana kemari dengan tawa yang ceria.


Sepanjang jalan itu dari pagi hingga malam toko-toko mainan terus buka dab sesak oleh orangtua yang mencari kado untuk anak-anaknya, pohon natal sudah menghiasi setiap tempat dengan para pria tua berjanggut putih yang mengajak beberapa anak kecil bermain.


Kebahagiaan begitu kentara padanya yang merasa hampa, di tengah keramaian itu ia merasa kesepian seolah tubuhnya tak bisa di lihat oleh siapa pun.


Meski begitu ia tetap membeli beberapa pernak pernik dan kado untuk merayakan natal, seperti tahun-tahun sebelumnya dimana ia akan bertukar kado dengan yang lain.


"Aku pulang..." teriak Ima sambil membuka pintu.


"Ah kau sudah pulang, baiklah waktunya merias pohon natal" ujar Mina menyambut.


Tak ada jawaban yang di berikan Ima, saat semua anggota keluarga bercanda dan riang gembira ia hanya tersenyum tanpa ada selera hingga mereka selesai menghias.


"Jangan tunggu aku untuk makan malam, aku akan pulang larut" ujar Ima setelah selesai berbenar.


"Oh, mm baiklah" jawab Mina heran.


"Apa yang terjadi padanya?" bisik Agler sambil menatap kepergian Ima.


Mina hanya menggelengkan kepala sambil mengangkat bahi sebab ia pun tak tahu alasan di balik berubahnya sikap Ima yang menjadi pendiam.


"Tidak perlu di hiraukan, mungkin itu hanya ketegangan sekejap dengan Chad" sahut Colt.

__ADS_1


"Itu....bukankah orang yang bernama Chad itu pernah datang ke sini? bagaimana tampangnya?" tanya Agler yang baru teringat akan kecurigaannya yang mungkin tidak beralasan.


Mina dan Colt saling menatap, dalam benak mereka terjadi perdebatan yang hanya di mengerti mereka sendiri.


"Ibu...ayah..." panggilnya.


"Um...itu seperti biasa, dia pemuda yang baik" jawab Mina.


"Lebih spesifik, apakah....wajanya mirip dengan ku?" tanya Agler tiba-tiba.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?" ujar Colt balik bertanya.


"Tolong jawab saja, apakah wajahnya mirip denganku?" ujar Agler tak sabar.


Mina dan Colt kembali bertatapan, berfikir untuk memustuskan jawaban mereka sebab hal itu akan berpengaruh besar pada kehidupan Agler dan hubungan antara keduanya. Pada akhirnya Mina mengangguk juga, melihat hal itu tentu membuat Agler sadar bahwa ia cukup mengenali pria bernama Chad.


"Agler kau mau kemana?" teriak Mina sebab Agler tiba-tiba berlari pergi.


Bukan hal sulit mencari keberadaan Ima, sepanjang hidupnya aura Ima telah melekat pada cuping hidungnya. Di tepian air terjun ia melihat adik kesayangannya itu duduk menantikan kekasihnya yang sudah dua minggu tak bertemu, perlahan ia berjalan menghampiri dan duduk di sampingnya.


"Kak Agler? apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ima terkejut.


"Menemanimu, menunggu pria yang telah membuat mu sedih"


"Apa yang kau bicarakan? aku hanya sedang menikmati pemandangan saja" sahut Ima yang tak mau jujur kepadanya.


"Demi aku, bisakah kau melupakan pria itu?" tanya Agler tiba-tiba.


"Ke-kenapa?"


"Dia bukan pria baik-baik, ingat saat aku bilang ada pekerjaan sehingga tak bisa ikut makan malam bersama kalian? saat itu aku di beri tugas oleh neneknya untuk menyamar jadi dirinya dan menghadiri acara makan malam di kediaman Hermes, seorang gadis bernama Kyra adalah pacarnya" jelas Agler.


Ia pikir Ima akan menangis atau menghardiknya tapi ternyata ekspresi Ima biasa saja dan seolah tak peduli.


"Apa kau tahu maksudnya? dia memiliki gadis lain saat menjalani hubungan dengan mu" ujar Agler kini dengan nada yang lebih keras.


"Ima...." panggil Agler tak percaya.


Tapi kemudian Ima menatapnya dengan sendu, ada senyum tipis yang terasa pahit namun begitu ikhlas.


"Aku sudah lama mengenalnya dan dalam kisah ini akulah pujangga yang mengejar cintanya, dia sudah terlalu sering mematahkan hatiku. Mengoyaknya tanpa rasa belas kasihan, tanpa memperdulikan cintaku di depan mata ini dia merangkul seorang wanita. Tanpa malu aku masih menyatakan perasaan ku meski berulang kali dia menolaknya dan mengatakan bahwa aku hanya seorang pelayan baginya"


"Ima..." panggil Agler kini dengan lembut.


Air mata itu tumpah di pipinya, tanpa ada niatan untuk menghapusnya Ima kembali berkata.


"Hatiku sering di siksanya, sialnya aku malah terus mengejarnya sebab meski dia sering menorehkan luka selalu ada momen dimana aku merasa cintanya kepada ku lebih besar dari perasaan ku terhadapnya."


Tak tahan pada penderitaan yang di rasakan Ima yang sampai padanya dengan cepat ia merangkul Ima, mendekapnya dengan penuh rasa cinta yang penuh perlindungan.


Malam natal yang harusnya penuh canda tawa dan kebahagiaan itu nyatanya berurai air mata, cukup menyedihkan tapi lebih baik sebab mereka masih bersama sebagai sebuah keluarga.


* * *


Selama kepergian anak-anaknya Mina dan Colt terus berdebat tentang rencana yang sempat mereka tunda, mungkin ini bukan waktu yang baij sebab dapat merusak kebahagiaab di malam natal. Tapi terus menyembunyikannya akan membuat rasa bersalah menjadi racun bagi Mina, akhirnya setelah acara makan malam itu Mina dan Colt mencapai kesepakatan.


Meski sempat bersedih tapi Ima kembali dapat tersenyum saat acara tukar kado, ia mendapatkan hadiah berupa alat make up dari Mina dan tas baru dari Colt sementara dari Agler dia mendapatkan sebuah bando cantik.


Tiba saatnya bagi Agler untuk membuka kado hal pertama yang ia dapatkan adalah box besar pemberian Colt dan Mina.


"Apa isinya?" tanya Agler penasaran sebab dari ukurannya yang tidak biasa.


"Bukalah" jawab Mina.


Tentu saja dengan bersemangat Agler membukanya, ia cukup heran juga saat mengetahui isi dari box itu merupakan selimut bayi dan pakaian bayi. Terdapat juga sebuah kalung yang terbuat dari kayu dengan ukiran namanya di atasnya, Agler tau pasti ada kisah di balik selimut yang menjadi kado natal itu maka di tatapnya Mina untuk bertanya.

__ADS_1


"Ada ada dengan selimut ini?"


"Kau bukan anak kandung kami" ujar Colt tiba-tiba sebelum Mina sempat membuka mulut.


"Apa? ayah jangan bercanda!" tukas Ima dengan sedikit tersenyum.


"Ceritakanlah sayang, dia sudah cukup besar untuk mengerti" ujar Colt kepada Mina.


Mau bagaiman pun Agler telah Mina anggap sebagai putranya sendiri tanpa peduli meski Agler tak terlahir dari rahimnya, kasih sayang itu tulus ia curahkan oleh sebabnya ada rasa enggan untuk menceritakan kisah itu.


"Ibu..." panggil Agler pelan.


Ada air mata yang tumpah saat Mina mulai membuka mulutnya, menandakan kisah ini benar adanya.


"Usia pernikahan kami belum genap satu tahun saat seorang wanita mengetuk pintu rumah kami, dengan wajah cemas dan tubuh yang basah oleh keringat di tangannya terdapat sebuah keranjang. Dia memberikannya kepada kami sambil berkata 'tolong rawat dengan baik', tangis seorang bayi tiba-tiba pecah dari dalam keranjang itu" ujar Mina mulai bercerita.


"Dengan terburu-buru ia mengatakan nyawanya sedang terancam, ada seseorang yang memburunya dan bayi itu. Dari dalam keranjang itu seperti yang kau lihat ada sebuah kalung dengan ukiran nama, nama itulah yang kami berikan kepadamu"


"Tidak mungkin....jadi...selama ini...." ujar Agler tak percaya.


"Wanita itu adalah seorang manusia setengah vampire yang ayah kenal saat menjadi seorang model, dia berkata kau terlahir dari seorang vampire karena itu dia menyerahkannya kepada kami. Masalah identitas keluarga mu kami pun tidak tahu karena ia pergi dengan terburu-buru dan menghilang entah kemana, seperti yang ia katakan mungkin nyawanya dalam bahaya karena itu dia pergi bersembunyi" ujar Colt.


"Ti-tidak masuk akal...kenapa kalian baru ceritakan kepadaku?" tanya Agler dengan nada tinggi.


"Ibu takut kau akan pergi meninggalkan kami, lagi pula kau di berikan karena nyawamu dalam bahaya untuk itulah kami terus menyembunyikan mu. Tapi....saat melihat Chad yang memiliki banyak kemiripan dengan mu entah mengapa kami berpikir mungkin saja dia adalah saudara kembar mu" jawab Mina.


"A-apa? Chad..saudara kembar kakak?" tanya Ima yang kini mulai berfikir tentang segala kemiripan kedua orang itu masuk akal.


"Orang tua Chad meninggal karena kecelakaan, jika memang kakak dan Chad saudara mungkinkah kecelakaan itu bukan sebuah peristiwa biasa? apa mungkin seseorang mengincar kekuarga Chad dan membunuh kedua orangtuanya sehingga kakak di selamatkan dengan cara di berikan pada ibu?" ujar Ima sebisa mungkin merangkai pengetahuannya terhadap keluarga Chad menjadi satu cerita yang komplels.


"Kami tidak tahu pasti, wanita itu hanya mengatakan seperti yang sudah kami jelaskan. Masalah Chad saudara mu atau bukan itu hanya asumsi saja" jawab Colt.


Dalam satu waktu misteri hadir dalam hidupnya yang selama ink tenang bagai danau, seperti puzle yang harus ia pecahkan demi mengetahui gambar apa yang sebenarnya ada.


"Ibu...siapa nama wanita itu?" tanya Agler pelan.


"Dokter Mehves" jawabnya.


Kini Agler hanya terdiam, mencoba mencerna berbagai hal yang bagai ribuan anak panah yang mengarah padanya dalam satu waktu. Tentu Mina paham ini bukanlah hal yang mudah di terima bagi Agler, ia hanya berharap meskipun Agler telah tahu identitas aslinya dia akan tetap menjadi anaknya yang berbakti.


"Ibu tahu ibu tidak memiliki hak, tapi untuk sementara waktu tolong tetaplah bersama kami. Meski ada perasaan dalam hati mu yang ingin mencaritahu bisakah kau tunda rencana itu sampai ibu bisa ikhlas? ibu janji ini tidak akan lama" pintanya penuh harap.


Agler memandang mata Mina lekat-lekat, setahunya dialah ibu yang selama ini ada untuknya dan menyayanginya tanpa membandingkannya dengan Ima. Selama ini mereka hidup damai dan saling mendukung satu sama lain, kalau pun suatu saat ia bertemu dengan keluarganya tetap saja Mina dan Colt adalah sosok orangtua yang tak bisa tergantikan.


"Ibu tenang saja, aku akan tetap di samping ibu seperti yang ibu mau" jawabnya.


Ada senyum lega di wajah Mina, di sisa malam natal yang masih panjang mereka memutuskan untuk beristirahat. Membiarkan Agler menyendiri untuk mencerna kenyataan yang terlalu mendadak itu.


Sementara Colt, Mina dan Ima masih duduk di perapian dengan keheningan yang suram, sibuk dengan benak mereka masing- masing.


Mengenang kebersamaan mereka dengan Agler selama ini, sebagai orangtua mereka tahu hal inj akan terjadi suatu saat nanti tapi tetap saja luka itu terasa terlalu menyayat hingga Mina tak sanggup.


Saat malam semakin larut Ima mumutuskan untuk tidur, tapi kamar yang ia tuju adalah kamar Agler.


Kreeeett...


"Kau sudah tidur?" tanyanya pelan sambil menengok ke dalam.


"Ah belum" jawan Agler yang segera menghapus air matanya.


"Boleh aku masuk?" tanya Ima lagi yang di jawab oleh anggukan.


Ia pun masuk dan dudum tepat di samping Agler, menatap sosok pria yang selama ini ia panggil sebagai kakak dan memang seperti itulah perasaannya selama ini.


"Boleh aku tidur di sini? bersama mu?" tanya Ima pelan.

__ADS_1


Agler menatap mata indah itu, mengingatkannya pada kebiasaan kecil mereka dimana Agler tidak pernah mau meninggalkan Ima lama-lama sampai saat kecil mereka masih sering tidur bersama.


Saat Ima beranjak besar dan di berikan kamar sendiri Agler masih saja suka menemaninya meski harus tidur di lantai yang dingin, dengan mengelus lembut kepalanya Agler mengangguk.


__ADS_2