Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 103 Lupakan Aku


__ADS_3

Hakan benar-benar datang esok harinya, meminta ijin kepada keluarga besar itu untuk mengajaknya keluar. Tentu saja dengan mudah ia mendapatkan ijin itu, sepanjang jalan ia tak bisa berhenti tersenyum karenanya.


"Kita mau kemana?" tanya Kyra.


"Butik"


"Apa?" tanyanya lagi.


"Kita akan memilih gaun yang cocok untuk mu"


"Astaga Hakan! bukankah ini terlalu cepat?" sergah Kyra.


"Tidak baik menunda-nunda hal baik sayang" sahut Hakan santai.


Itu memang benar, ia sudah bisa menerima Hakan meski belum ada cinta untuk pemuda itu. Ia sudah tahu harus menikah tapi tetap saja saat waktu itu tiba rasanya tiba-tiba ia tak siap, seolah ada sesuatu yang menghalangi.


"Kita sudah tiba" ujar Hakan memberitahu tepat setelah memarkir mobilnya.


Mereka turun dan segera masuk, seorang pegawai yang bekerja di sana segera menyambut kedatangan mereka dengan murah senyum.


"Tolong tunjukkan gaun terbaik yang kalian punya" ujar Hakan.


"Baik tuan, silahkan ikuti kami" jawab pegawai itu.


Merangkul bahu Kyra Hakan mulai berjalan mengikuti, membuat satu pandangan yang mengisyaratkan sesuatu dari mata Kyra.


Sesuai permintaan pegawai itu mengeluarkan lima model gaun pengantin terbaik yang dimiliki, Kyra menatap satu persatu dengan takjub tanpa bisa berkedip.


Ia sangat menyukai gaun-gaun itu hingga merasa pusing sendiri saat di tanya mana yang paling ia suka, Hakan hanya tersenyum dan memberi ide untuk mencoba gaun itu satu persatu.


Meski memakan waktu tapi Kyra dengan senang hati mengiyakan, Hakan pun tanpa merasa bosan terus menuturkan penilaiannya pada setiap gaun.


"Bagaimana?" tanya Hakan setelah waktu yang begitu panjang.


"Aku suka gaun yang nomor dua, tapi gaunnya susah di pakai berjalan. Bisakah bagian roknya di ubah?"


"Jika seperti itu bagaimana kalau anda pesan sendiri modelnya, maksud saya anda bisa memesan gaun impian anda dan kami akan buatkan" jawab pegawai itu.


"Itu lebih baik" sahut Hakan.


"Tapi... apa tidak repot?" tanya Kyra yang kurang setuju.


"Pernikahan itu hanya akan terjadi sekali seumur hidup, di acara penting seperti itu apa kau tidak mau memakai gaun impian mu?"


"Tentu saja mau" sahut Kyra.


"Kalau begitu masalah selesai" balas Hakan seraya tersenyum.


Kyra tak mencoba berdebat, sekarang ia tahu Hakan pandai membuat keputusan dan tidak suka menunda-nunda waktu. Pada akhirnya ia mengikuti apa keputusan Hakan, setelah selesai pada gaun pengantin mereka beralih pada cincin pernikahan.


Kali ini pun Hakan memutuskan untuk memesan model baru yang mereka sukai, sebab Kyra lagi-lagi pusing harus memilih yang mana.


"Cincinnya akan siap seminggu lagi, apa itu tidak masalah?" tanya pelayan itu.


"Tidak masalah kawan, kami masih memilih tanggal yang tepat" jawab Hakan.


"Baiklah kalau begitu, semoga pernikahan kalian di berkahi oleh Tuhan"


"Terimakasih" jawab Hakan seraya tersenyum dan menyambut sodoran tangan itu.


"Baiklah, selanjutnya membuat surat undangan" ujarnya berjalan pergi bersama Kyra.


"Sebelum itu bisakah kita pergi makan dulu? aku kelaparan" tanya Kyra.


Hahahaha


"Maafkan aku, aku benar-benar antusias sampai perutku terasa kenyang terus" sahut Hakan merasa geli.


Kyra hanya menggelengkan kepala, tapi ia juga tersenyum sebab ia bisa melihat dengan jelas semangat Hakan dalam merencanakan pernikahan mereka.


Tanpa menyadari Manager berada tak jauh dari mereka, menatap sejak mereka sampai di toko cincin hingga pergi. Dengan penasaran Manager San menghampiri pelayan yang tadi melayani Kyra.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanyanya.


"Ya tuan"


"Pasangan yang baru saja pergi dari sini kau ingat? wanita dengan rambut merah dan pria yang memakai jas hitam, apakah mereka baru membeli sebuah cincin di sini?"


"Ya, mereka memesan sebuah cincin pernikahan" jawabnya.


Bagai hujan es yang ekstrim tubuhnya tiba-tiba membeku mendengar kabar itu, baru saja gadis yang ia cintai bergandengan tangan dengan seorang pria dan memesan sebuah cincin pernikahan.


Tentu itu bukan hal yang mudah di terima, apalagi mereka telah menyatakan cinta satu sama lain.


* * *


Malam hari perjalanan itu baru selesai, akhirnya Kyra membuang nafas dengan tak sabar untuk segera beristirahat. Tapi Hakan tak membiarkan hal itu terjadi, meski sudah malam tapi selesai mengantar Kyra dia menyempatkan diri untuk minum teh dengan Jack.

__ADS_1


Hal ini ia lakukan karena ingin membicarakan tanggal pernikahan yang belum di tentukan, karena itu Kyra harus berada di sana untuk ikut mendengarkan dan mengatakan pendapatnya sendiri.


"Bagaimana dengan keluarga mu nak Hakan?" tanya Jack.


"Keluargaku menyerahkannya kepada anda, mereka hanya meminta di beritahu jauh-jauh hari untung melakukan persiapan" jawabnya.


"Terimakasih atas kepercayaan keluarga mu, sejujurnya aku melihat tanggal yang baik di dua minggu depan. Tapi mengingat Kyra baru lulus sebaiknya kita tunda beberapa bulan dulu, aku harap kau bisa maklum"


"Tidak masalah"


"Bagaimana jika bulan depan?" tanya Kyra tiba-tiba.


"Aku hanya perlu menghadiri pesta perpisahan minggu depan, setelah itu aku bebas" ujarnya.


"Jika itu kehendakmu nak" sahut Jack senang.


Hakan pun setuju pada keputusan yang Kyra ambil, dan karena hal itu maka acara minum teh itu telah berakhir.


Setelah kepergian Hakan mereka masuk ke kamar masing-masing, namun suara burung gagak menahan langkah Jack di ruangan itu.


Perlahan ia menatap keluar, lewat jendela kaca di tatapnya seekor gagak hitam yang hinggap di dahan pohon. Suaranya yang cukup nyaring mengingatkannya pada seseorang yang sedang ia cari selama ini, tanpa menunda waktu segera ia pergi keluar.


Kaaaaaakkkk...


Burung itu mengepakkan sayap hitamnya dan terbang menuju keluar dari kediaman Hermes, tanpa berfikir Jack mengikutinya. Sampai pada akhirnya burung itu membawanya cukup jauh dari pemukiman ramai, masuk ke area bangunan yang belum rampung burung itu hinggal di tangan Tianna.


"Kau.... " panggilnya kaget.


"Hallo Jack, bagaimana kabar istrimu?" tanya Tianna sambil mengelus punggung gagak itu.


Tak ada jawaban, seolah memendam dendam sebab Tianna tiba-tiba menghilang begitu saja. Tapi tentu dendam itu tidaklah layak karena selama ini Tianna memberi bantuan tanpa pamrih.


Syyuuut


Puk


Sebuah kotak kecil Tianna lempar begitu saja dan Jack tangkap dengan mudah, saat di buka isinya adalah beberapa pil penyembuh Jessa.


"Kau bisa menolong istrimu lagi" sahut Tianna.


Ia menatap Jack sejenak tapi kemudian bergerak dengan cepat hingga hilang di balik kegelapan, begitu juga dengan burung gagaknya.


* * *


Sebuah pesan ia terima pagi itu, pesan yang membuat jantungnya berdegup dengan sangat cepat hingga cemas menguasai benaknya. Beberapa kali ia tangannya sampai gemetar tak terkendali, tapi pada akhirnya sebuah keputusan harus ia ambil.


Ting Tong


Bel itu berbunyi begitu nyaring di dalam, membuat Manager San segera bergegas menuju pintu untuk membukanya.


Ceklek


Seorang gadis cantik dengan wajah memerah semerah rambutnya berdiri di balik pintu, memandangnya dengan tajam kemudian masuk tanpa menunggu tuan rumah mempersilahkan.


"Kau... ingin teh?" tawarnya.


"Aku tidak ingin teh, kopi atau wine. Kedatangan ku bukan untuk itu" jawab Kyra tegas.


Dengan susah payah Manager San menelan ludah, dalam hal ini dia yang telah di khianati tapi rasanya seperti dialah yang berdosa.


"Kenapa kau mengirimiku pesan? apa yang ingin kau katakan?" tanya Kyra.


"Aku melihatmu dengan seorang pria di toko perhiasan, pelayan di sana bilang kalian memesan cincin pernikahan" jawab Manager San mengumpulkan keberaniannya.


Kedua hati itu hancur saat kalimat itu terucap, tentu karena itu sebuah kenyataan yang akan memisahkan mereka kembali.


"Hakan" sahut Kyra pelan.


Ia berjalan ke depan, memandang kamar itu atau apa pun asal jangan wajah Manager San atau matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Namanya Hakan Berk, dia seorang arsitektur. Kami bertemu di pesta dan setelahnya melakukan kencan di kemudian hari, beberapa hari yang lalu keluarganya datang dan kami resmi bertunangan" lanjutnya.


Air mata itu benar-benar tumpah, pedang yang di tancapkan Kyra sangatlah tepat di hatinya hingga rasanya bukan hanya sakit tapi juga sesak.


"Kenapa? bukankah kita saling mencintai?" tanyanya sambil meremas dada.


"Apa yang bisa aku harapkan dari cinta? apakah kau bisa membebaskan ku dari penderitaan ini? apa artinya sebuah cinta bagimu sehingga yang kita lakukan selalu bersembunyi dalam bayangan?" tanya Kyra lebih pada menuduh.


Mata itu sarat akan kekecewaan yang murni, penuh dengan amarah dan tuduhan yang hanya di tujukan pada satu pria. Mungkin hal itu benar, tapi tetap saja apa yang di lakukan Kyra pun tak bisa dianggap benar oleh Manager San.


"Apa yang kau inginkan? aku menikahimu seperti pria itu? aku bisa melakukannya Kyra, gapai tanganku dan kita akan menikah hari ini juga" ujar Manager San mengulurkan tangan.


Tapi bukan itu yang Kyra inginkan, apalah artinya sebuah pernikahan jika masalah dalam hidupnya malah semakin bertambah banyak.


"Aku tidak akan pernah menggapai tangan mu lagi, sebaiknya kau lupakan apa pun yang pernah terjadi diantara kita" sahutnya pelan.


Kyra menundukkan matanya, mengusap air mata dan mengambil langkah untuk pergi dari sana. Tapi Manager San masih tak bisa menerimanya, dengan lantang ia berteriak.

__ADS_1


"Jika kau masih berani menikah dengan pria itu maka aku akan mengatakan kepada semua orang bahwa... "


"Aku telah tidur dengan mu! begitu!" potong Kyra dengan suara yang tak kalah kencangnya.


Matanya tertuju pada Manager San dengan tatapan tajam, dadanya naik turun saat ia bernafas dalam kemarahan yang tak terkontrol. Sementara Manager San terpaku, menatap keberanian seorang gadis yang di dorong entah oleh apa.


"Umumkanlah... dan kita lihat siapa yang akan hancur duluan, kau... atau aku?" tanya Kyra tak gentar namun dengan bajir air mata.


"Kau pikir siapa dirimu? kau hanya pelayan Chad, berani sekali kau mengancamku! ingat San kita berada di kasta berbeda, sekaya apa pun dirimu darah ku tidaklah sama dengan mu"


"Tidak Kyra.... dari mana datangnya keangkuhan itu?" tanya Manager San pelan dengan dahi berkerut.


Tatapannya penuh dengan rasa ingin tahu sampai Kyra tak berani menatapnya, ia membuang muka. Mencoba mengumpulkan keberaniannya agar bisa mengelak lagi pada kata-kata lain yang akan di ucapkan Manager San.


"Bukan seperti ini, gadis yang jatuh dalam pangkuan ku memiliki mata indah berwarna biru. Rambutnya merah menyala saat matahari menyinarinya, lalu senyumannya sangatlah manis mengalahkan madu. Ia begitu cantik tapi juga memiliki hati yang lembut, jika bicara suaranya akan mengalun indah."


Tangan Manager San menopang dagu Kyra, mengangkatnya agar ia bisa melihat mata itu.


"Apa yang membuat gadis itu berubah hanya dalam waktu singkat?" tanyanya.


"Status sosial" jawab Kyra tegas.


"Dengannya aku memiliki semua yang aku inginkan, dan untuk mencapainya Hakan adalah sebuah batu loncatan yang bagus."


Perlahan Manager San melepaskan tangannya, menundukkan wajah dan membalik badan. Menerima apa yang telah menjadi takdirnya dalam tangis kekecewaan, tangis yang begitu pedih hingga menimbulkan suara pilu.


Sesaat ingin rasanya Kyra merangkul punggung kekar itu, mendekapnya hanya untuk berbagi tangis. Tapi apa yang telah ia putuskan tak mungkin ia langgar, dan ini adalah salah satu konsekuensi yang telah ia pikirkan dengan cukup matang.


Kakinya mulai melangkah mundur, menatap sosok pria yang masih saja menjadi cinta dalam kepingan hatinya.


Bruk


Hampir Kyra berlari saat melihat Manager San jatuh terduduk, tapi ia segera mengepalkan tangan dengan kuat agar mampu bertahan.


Kini kakinya telah berada di luar apartemen, masih menatap Manager San untuk yang terakhir kalinya.


"Lupakan aku" gumamnya pelan sebelum akhirnya membalikkan tubuh dan melangkah pergi meninggalkan apa yang akan menjadi masa lalu.


* * *


Rasanya senang bisa berjalan-jalan di pertokoan ibu kota, sudah lama Mina tidak merasakan kesenangan itu tentu karena benaknya yang selalu khawatir akan masalah serius anak-anaknya.


Meski dia pergi karena suatu pekerjaan tapi ia menikmati masa-masa itu, hingga sampai dia di tempat tujuan yaitu sebuah butik.


"Permisi, aku datang atas panggilan nyonya Kendal" ujarnya kepada seorang kasir.


"Tunggu sebentar, um... Mina Megan?" tanyanya.


"Ya itu namaku"


"Oh anda sudah di tunggu di ruangannya"


"Terimakasih" ujarnya lantas terus berjalan ke bagian belakang butik itu.


Menemukan sebuah pintu yang ia kira adalah ruangan wanita bernama Kendal maka di ketuklah pintu itu.


Tok Tok Tok


"Ya.. masuk!" jawab sebuah suara dari dalam.


Ceklek


"Nyonya Kendal.. " panggilnya.


"Ah ibu Mina, akhirnya kau datang juga" sambutnya.


Mina segera masuk dan duduk setelah di persilahkan, senyum menghiasi wajah kedua wanita itu.


"Aku dengar kau adalah seorang penjait yang bagus, kami mendapat pelanggan yang ingin di buatkan gaun pernikahan. Aku harap kau bisa membantuku mengerjakannya" ujar Kendal tanpa basa basi.


"Terimakasih atas pujian anda, sebenarnya saya tidak begitu mahir menjait tapi saya pasti akan bekerja keras"


"Aku senang sekali dapat bekerja sama dengan mu, ini adalah sketsa gaunnya" ujarnya sambil menunjukkan sebuah gambar.


Mina memperhatikan sketsa gaun itu dengan cermat, membayangkan step bystep yang harus ia lakukan untuk membuat gaun itu.


"Kami sudah memiliki kain dan bahan lainnya, targetnya adalah minggu depan gaun ini harus selesai" ujar Kendal memberitahu.


"Kapan pernikahannya akan berlangsung?"


"Sebenarnya pasangan ini masih mencari tanggal yang bagus, tapi mereka tidak mau membuang waktu maka semuanya di persiapkan sejak dini"


"Begitu rupanya, aku yakin mereka tidak sabar menunggu hari bahagia itu" komentar Mina.


"Aku rasa aku bisa, tapi karena hari ini aku ada pekerjaan jadi bisakah kita mulai besok saja? di lihat dari sketsanya gaun ini tidaklah rumit jadi seharusnya lima hari saja sudah selesai" lanjutnya.


"Aku percaya pada kemampuan mu, kalau begitu sampai bertemu besok"

__ADS_1


"Terimakasih" jawab Mina.


__ADS_2