
Tok Tok Tok
Ketukan di jendela itu sangat keras hingga membuat Jack terbangun, dengan mata yang masih mengantuk ia memeriksanya dan menemukan sepucuk surat terselip diantara kusen.
Dengan penasaran Jack mengambil kertas itu dan membaca isinya.
"Jessa berada di tangan ku, jika kau ingin dia kembali padamu dalam keadaan selamat datanglah ke gudang seorang diri dan tanpa memberitahu siapa pun"
Tak ada nama si pengirim yang tertera di sana, tapi itu tidaklah penting. Jack mengulang membaca untuk memastikan apakah itu sebuah kebenaran, dan saat ia sepenuhnya telah sadar segera ia mencari Jessa di rumahnya.
Ini cukup mengejutkan memang, sebab ia baru saja bicara dengan Jessa dan hanya pergi lebih dulu ke kamar namun perpisahan yang sebentar itu rupanya memisahkan mereka dalam jarak yang jauh.
Bahkan kini nyawa Jessa dalam keadaan terancam, Jack melihat di luar langit masih gelap yang artinya penculikan Jessa belum lama terjadi.
Tak mau mengambil resiko lebih tinggi ia segera memenuhi undangan tanpa membantah syarat yang di ajukan.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit Jack sudah sampai, dari luar gudang itu nampak gelap dan tak terawat. Angin malam yang dingin menggoyangkan daun jendela seolah melambai padanya, suara decitan kecil menambah suasana seram menjadi lebih kental.
Jack bukanlah orang yang takut hantu, tapi ia akui kali ini nyalinya sedikit menciut sebab ia tidak tahu makhluk apa yang menunggunya di dalam.
Mengumpulkan seluruh energi akhirnya Jack memantapkan langkahnya, tangannya terkepal kuat dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi.
Kreeeeetttt....
Pintu itu berderit kencang bahkan menggema dalam kegelapan saat tangannya yang basah karena keringat membukanya, sejauh ini yang ia lihat hanya kegelapan total tanpa adanya tanda-tanda kehidupan.
"Jessa.... " panggilnya pelan dengan ragu.
Suaranya yang membahana terdengar gemetar, kini Jack mulai terbiasa dengan kegelapan hingga matanya bisa menangkap beberapa benda yang ada di dalam.
Cetrek
Bhusss....
Tiba-tiba sebuah obor menyala dengan terang, membuat matanya sedikit sakit karena silau tapi kemudian ia terbiasa.
"Jessa!" jeritnya saat memandang istrinya itu duduk dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Kau... kau yang lakukan semua ini?" tanya Jack menatap seseorang yang memegang obor itu.
Ballard menyeringai di dekat api sehingga membuat mata merahnya berkilau dan nampak menyeramkan, dengan perlahan ia berjalan beberapa langkah dan menaruu obor itu di dinding.
"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Jack.
"Kenapa? sederhana saja, kau bukanlah besan yang baik tuan Jack. Kau membunuh putriku dan menelantarkan kedua cucuku, aku sudah berbaik hati hanya menculik istrimu tanpa terluka" jawab Ballard sambil kembali berjalan ke samping Jessa.
"Aku tidak pernah melakukan hal yang kau tuduhkan itu! sayang sekali kau pun terjerat tipuan Joyi" sergah Jack.
"Kau sangat pandai menyembunyikan rahasia, mari tinggalkan masa lalu sejenak dan kita bahas masa kini. Dimana Joyi?" tanya Ballard santai.
"Apa? aku... aku tidak tahu"
"Sungguh? kau ada di hari dimana Joyi di tusuk, tentu kau menyembunyikan sesuatu dari insiden itu"
"Ke-kenapa kau berfikir seperti itu?" tanya Jack gugup.
"Karena Joyi menyebut nama Jessa sebelum ia tak sadarkan diri, aku yakin Joyi mengetahui sesuatu sehingga kalian harus membungkamnya" jawab Ballard yakin.
Pernyataan itu tak sepenuhnya salah, Jack memang menyimpan sebuah rahasia yang tak boleh di ungkap.
"Kau tidak bisa menuduhku tanpa bukti" ujar Jack kini lebih tenang.
"Aku tidak perlu bukti, selama Jessa berada di tanganku aku yakin kau akan mengatakan semuanya" ujar Ballard.
Dengan sengaja ia menampilkan kukunya yang setajam bilah pedang, kemudian ia posisikan tepat di dekat leher Jessa.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Jack khawatir.
"Aku tidak akan main-main Jack, sebaiknya kau katakan atau akan ku bunuh istrimu"
"Sungguh... apa yang harus aku katakan?" ratap Jack mulai beringsut di lantai.
Kekuatan sihirnya seketika lenyap di telan kecemasan yang merajai benaknya, pria tua itu kini hanya mampu meratap meminta belas kasih. Tapi Ballard bukanlah makhluk yang memiliki hati, ia tak terenyuh sedikit pun akan tatapan itu.
"Kau sungguh buang-buang waktu" ujarnya.
Ia tarik tangannya menjauh dari leher Jessa, tapi itu hanya sebuah ancang-ancang untuk mengoyak leher berkeriput itu dengan satu serangan.
Hiyaaaa....
"Tidaaa.. kk........ akan aku katakan!" teriak Jack tak punya pilihan lain.
Ballard menghentikan laju tangannya yang sudah mengenai leher Jessa, ada sebuah luka kecil yang membuat setetes darah mengalir di sana.
"Katakan!" perintah Ballard tanpa memperdulikan tetesan darah itu.
Hu.... u.. u...
__ADS_1
Jack menangis sejadi-jadinya, air matanya tumpah mencuci debu di lantai.
"Aku... mengakuinya.. " ujarnya di tengah isakan tangis.
"Yang menusuk Joyi bukanlah Jessa... itu... aku... akulah yang melakukannya" lanjutnya pasrah.
"Apa?" tanya Ballard tak percaya.
"Kau... kau yang menusuk nenek!" teriak Chad yang tiba-tiba keluar dari kegelapan.
Dengan murka ia meraih kerah baju Jack dan menariknya dengan kasar, matanya di penuhi api sementara Jack kebingungan seperti orang bodoh.
"Katakan sekali lagi!" teriak Chad.
"I-itu... benar, akulah pelakunya"
"Tapi bagaimana bisa?" tanya Ballard tak mengerti.
"Hari itu... Joyi meminta untuk bertemu, aku memenuhi undangannya dan kami pun bicara. Tapi... Joyi menyulut emosiku hingga aku kehilangan kesabaran dan menyerangnya, saat itulah aku menusuknya" jelas Jack dengan singkat.
Chad terlalu syok sehingga ia mematung, butuh waktu baginya untuk kembali sadar dan menarik kerah baju Jack lebih keras.
"Lalu dimana nenek sekarang?" tanyanya.
"Aku tidak tahu, bukan aku pelakunya" sahut Jack cepat.
"Bohong!" teriak Ballard.
"Kau berani melukai Joyi dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa padahal kau adalah tersangka, kau pasti mampu melakukannya tanpa turun tangan"
"Apa maksudmu?" tanya Jack.
"Ya.. kau bisa saja menyewa seseorang untuk menculik Joyi" tuduh Ballard.
"Aku tidak melakukannya!" teriak Jack bersikeras.
"Jangan pernah mempercayainya Chad, dia adalah penipu ulung" ujar Ballard.
Mata Chad yang di penuhi kebimbangan menatap Jack dan melihat ekspresi memohon yang natural, ini membuat Chad tak bisa mengetahui kebenaran mana yang harus ia pegang.
Perlahan Chad pun melepaskan genggamannya, mundur beberapa langkah untuk kemudian berkata.
"Pergilah"
"Chad.. " seru Jack pelan sementara Ballard termangu.
Mendengarnya membuat Jack sesak seolah oksigen di tempat itu habis, melihat mata Chad ia tahu pembelaan apa pun yang ia katakan tidak akan mempan.
Maka dia pun pergi, membawa kegelapan yang ada di hatinya. Di susul oleh Chad yang pergi tanpa kata, berjalan hanya dengan raga berpasrah pada kaki yang entah kemana tujuannya.
Rasanya sangatlah aneh, ia sudah tahu kekejaman Jack sejak ia masih kecil tapi tetap saja hari ini ia terkejut akan hal itu.
Selama dua puluh tahun lebih ia memikirkan cara membalas dendam yang bagus agar Jack merasakan sakit sepertinya, dalam beberapa kesempatan bahkan ia menodongkan senjata tanpa ragu.
Tapi malam itu ia bahkan tak bisa memukulnya, ia malah mematung seperti orang bodoh.
Merasa bingung pada diri sendiri saat tersadar ia sudah berdiri di depan rumah Colt, menatap sebuah jendela dimana ia tahu Ima berada di sana.
Kakinya kembali melangkah langsung menuju jendela itu dan menyelinap masuk ke kamar Ima, di dalam kegelapan itu dengan jelas ia bisa melihat wajah polos Ima yang sedang terlelap.
Betapa wajahnya sangat damai seperti malaikat, itu membuat hati Chad sedikit lebih tenang. Ia pun duduk di samping Ima, perlahan menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi wajah manisnya.
Mmmmm
Rupanya sentuhan kecil itu cukup menggangu hingga Ima menggumam dan perlahan membuka mata, menemukan Chad tengah memperhatikannya Ima segera bangkit.
"Chad... apa yang kau lakukan?" tanyanya heran.
"Aku... sedang tidak baik-baik saja" jawab Chad pelan.
"Chad... ada apa?" tanya Ima lagi.
Tapi kali ini Chad tak menjawab, ia hanya terdiam dengan wajah muram. Maka Ima pun tak bertanya lagi, ia menyuruh Chad untuk berbaring di sampingnya.
Chad menurut, ia merebahkan diri sementara Ima membelai lembut rambutnya. Menatap penuh cinta, membiarkan waktu mengobati lukanya hingga Chad siap untuk bicara.
Saat mata Chad lekat menatap gadisnya Ima tersenyum hangat, angin malam yang masuk melewati jendela sedikit memberikan udara dingin yang membuat Chad untuk pertama kalinya menarik selimut.
"Kau kedinginan?" tanya Ima heran yang di jawab dengan sebuah anggukan pelan.
"Bukankah itu berasal dari hatimu?" tanya Ima lagi.
Kali ini Chad tak bergerak, bahkan matanya yang menatap Ima nampak kosong.
"Maukah kau tidur saja bersama ku?" tanya Chad pelan.
Ima pun menarik tangannya dari rambut Chad dan merbahkan tubuhnya telat di samping Chad, untuk beberapa menit mata mereka saling menatap tanpa adanya kata.
__ADS_1
Hingga perlahan kantuk menyerang dan melelapkan Ima begitu saja, hal itu membuat Chad sedikit tersenyum akan tingkah lucu Ima.
Perlahan kini tangannya yang bergantian membelai rambut Ima, memberinya cinta yang banyak.
"Hati ini memang beku sejak dulu, tapi saat bertemu dengan mu hanya dengan satu pandangan kau tak hanya mencairkannya tapi membakarnya. Rasanya sangat sakit sekaligus hangat, aku merasa... karena inilah aku kehilangan kemampuanku untuk balas dendam" bisiknya.
Menatap mata yang sudah tertutup itu Chad memberikan kecupan lembut yang membuat Ima menghela nafas.
"Sayangnya aku masih terombang ambing di lautan, masih ragu apakah tangan mu yang harus ku gapai atau senjata" ujarnya.
Perlahan Chad bangkit dari ranjang, berjalan ke arah jendela dan pergi begitu saja tanpa menutup jendelanya kembali.
* * *
Mendapatkan informasi mengenai Clarkson cukup mudah, tapi mencari bukti kejahatannya adalah hal lain. Apalagi kini Reinner memerintahkannya untuk mencari markas rahasia miliknya, memikirkannya membuat Tianna sudah mual.
"Kenapa dia memberiku beban sebarat ini?" gerutunya sambil terus berjalan di trotoar yang sepi.
Di malam yang hampir menjelang pagi itu anginnya terasa semakin dingin namun tidak cukup dingin baginya, hanya saja ia kurang suka bau lembabnya.
Di sepanjang jalan itu semua toko sudah tutup, hanya satu keramaian yang dapat ia dengar itu berasal dari sebuah bar yang berjarak tiga kilo meter lagi.
"Lebih baik dari pada memikirkan tugas" gumamnya berniat untuk meneguk beberapa botol.
Tapi saat ia sampai sesuatu yang familiar menyambutnya, ada sebuah aura vampire yang cepat ia sadari.
Mudah baginya untuk mengetahui posisi tepat rasnya, dengan hati-hati ia mencoba melihat apa yang di lakukan kawannya di tengah keramaian.
Meskipun ada banyak tubuh yang bergoyang menghalangi tapi Tianna dapat dengan mudah melihat, ia berjalan membelah lautan manusia itu dengan mudah dan terus berjalan menuju toilet.
Meski di atas jelas tertulis toilet untuk pria tapi Tianna tak peduli, ia masuk begitu saja dan dari sekian banyaknya pintu matanya segera tertuju pada pintu terakhir.
Hhhhhhhhhh
Sebuah hembusan nafas yang berat membuat Tianna sedikit khawatir, tapi kemudian ia menarik pintu itu hingga terbuka lebar.
Ah
Dua pasang mata menatapnya kaget, tapi Tianna jauh lebih kaget. Ia melihat gadis yang terhimpit itu sudah berantakan dengan badan setengah telanjang, sementara si pria tak bergerak dengan posisi merunduk.
"Tianna... " panggil pria itu pelan.
"Kau mengenalnya? apa... dia pacarmu?" tanya gadis itu.
"Um... dia... "
"Yeah" jawab Tianna memotong.
"Uh maaf, aku tidak tahu kalau dia sudah punya pacar" ujar gadis itu segera mengenakan kausnya.
Mata Tianna tetap tertuju pada si pria sementara gadis itu segera mendorong agar bisa keluar dan pergi, meninggalkan mereka berdua yang masih saling menatap.
"Pacar ku huh?" tanyanya sambil tersenyum tanpa mengalihkan pandangan.
"Clarkson, kau punya selera yang bagus" balas Tianna.
Tianna menurunkan pandangannya, tertawa kecil yang membuat Clarkson semakin tak mau memalingkan matanya.
"Maaf karena telah mengganggu mu, aku pikir tadi kau sedang memangsanya jadi aku mencoba menghentikannya" sahutnya.
"Kenapa kau ingin melakukannya?"
"Aku tinggal tidak jauh dari sini, aku tidak mau ada masalah yang mengharuskan ku pindah lagi. Sekali lagi aku minta maaf, kau bisa melanjutkannya" ujar Tianna bersiap melangkah pergi.
Tapi tiba-tiba Clarkson menarik tangannya hingga tubuh kekar itu mendekapnya dan menghimpitnya di dinding, sebuah tatapan nakal menjilat setiap struktur wajah Tianna yang menggoda.
"Maaf? aku tidak menerimanya dengan mudah, terlebih kau mengaku sebagai pacarku. Jadi.... kau harus membayarnya" ujar Clarkson membelai pipi Tianna dengan punggung tangannya.
Tianna membalas dengan senyum yang mengisyaratkan persetujuan, maka mereka pun pergi ke tempat yang lebih tenang.
Itu sebuah gedung dengan satu ruangan kecil yang telah di rapihkan, Tianna menemukan tempat itu tanpa sengaja dan memutuskan untuk menjadikannya markas rahasianya saat bertugas.
"Tempat yang bagus" komentar Clarkson.
"Tanpa ada perlindungan dari siapa pun, ini lebih baik dari pada berkeliaran di hutan" sahut Tianna.
Clarkson memperhatikan bagaimana tindak tanduk Tianna saat berjalan hingga duduk, dimatanya ia begitu anggun dan sangat menggiurkan hingga prianya tak bisa bertahan.
"Kau ingin cerutu?" tawar Clarkson masih dengan tetapan mabuk.
"Aku belum pernah melakukannya"
"Kau bisa mencobanya, aku akan mengajarimu" sahut Clarkson.
Tianna tersenyum, membiarkan Clarkson duduk di sampingnya dan memberikan sebatang cerutu. Awalnya Tianna terbatuk dan itu cukup menggelikan bagi Clarkson hingga membuatnya tertawa, tak kapok Tianna mencoba menghisapnya lagi sesuai arahan Clarkson hingga ia terbiasa.
Sesuai harapannya Tianna tipe yang penurut, sudah lama ia ingin bertemu dan memiliki vampire pemilik pesona terbaik itu. Kini bertemu dengannya tanpa pencarian adalah sebuah takdir keberuntungan yang tak mungkin ia sia-siakan.
__ADS_1