
Kepercayaan dirinya semakin meningkat setiap langkahnya semakin mendekati ruangan tempat Kyra di rawat, dengan sebuah bucket bunga di tangan senyum mengembang tak sabar ingin bertemu.
Tapi Violet menghentikan langkah itu tepat di lorong sebelum ia sampai di depan pintu kamar, dari matanya jelas ada sesuatu yang perlu untuk mereka bicarakan berdua saja.
"Aku melihat mu semalam dengan Blue" ujar Violet tanpa mau memandang Manager San.
Ia terka itu adalah saat mereka kembali ke kamar Kyra setelah insiden percobaan bunuh diri.
"Perasaan kalian jelas tergambar di wajah, siapa pun dengan mudah dapat menebaknya" lanjutnya.
Manager San hanya diam, merasa tak ada yang perlu ia katakan.
"Aku hanya akan mengatakannya sekali saja, tinggalkan Blue!"
"Apa?" tanya Manager San terlonjat kaget.
"Ini perintah! bukan permintaan" tegas Violet.
Mata bertemu mata, beradu dengan keyakinan yang berbeda sehingga percikan itu nampak begitu jelas di antaranya. Sebuah gesekan yang dapat mengakibatkan kebakaran besar, hingga melahap dan menghanguskan.
"Maaf atas kelancangan ku, tapi kali ini apa pun yang terjadi aku tidak akan mundur" balas Manager San.
"Permisi... " ucapnya sebelum melangkah pergi.
Hanya dalam sekejap mata Manager San kembali mengubah ekspresi wajahnya menjadi sumringah, berdiri di depan pintu ia menyiapkan hati sebelum membukanya.
Ceklek
Saat pintu terbuka nampak Kyra menatap kearahnya, tersenyum manis seperti tebu yang telah siap di panen.
"Hai, bagaimana kabarmu?" sapanya.
"Baik" jawab Kyra.
Merasa sedikit canggung Manager San menghampiri, menyodorkan bunga yang ia bawa sepenuh hati.
"Terimakasih" sahut Kyra.
"Bagaimana perkembangan kaki mu?"
__ADS_1
"Aku harus melakukan serangkaian terapi, itu cukup melelahkan tapi tidak masalah"
"Kau pasti bisa berjalan seperti sediakala" ujar Manager San serius.
Meski tidak yakin tapi Kyra mengangguk, ia lebih percaya pada pria yang kini berdiri di hadapannya dari pada keajaiban. Keseriusannya membuat tingkah malu-malu kucing seolah itu adalah cinta pertama di musim bunga.
Cukup percaya diri kini bahkan Manager San berani menjenguk meski ada keluarga Hermes di sana, yang menatapnya dengan penuh tanda tanya tak jarang juga sebuah curiga.
Tentu karena ini masalah dari mana ia berasal, meski Manager San tak pernah terlibat masalah dengan keluarga Hermes tapi sebagai kaki tangan Joyi ia masuk kategori musuh.
Karena inilah Jessa mulai merasa resah, ia khawatir akan adanya pengaruh negatif untuk Kyra.
Ia mulai rajin menjenguk Kyra sebab Manager San juga rajin menjenguknya, ia akan ada di sana untuk memperhatikan gerak gerik Manager agar tak ada satu pun yang luput dari pandangannya.
Dan karena itu ia menyadari tatapan Violet kepada Manager San sangatlah tajam melebihi pisau dapur, melihat Violet pergi mengejar Manager San yang berpamitan pulang diam-diam dia mengikuti dari belakang.
Bersembunyi di tempat yang aman dan menajamkan telinga ia mendengar pertikaian kecil yang terjadi antara Manager San dengan Violet di luar rumah sakit.
"Aku sudah memperingatimu!" tukas Violet geram.
"Dan aku sudah katakan kesungguhan ku" balas Manager San.
"Apa kau sadar bahwa kehadiran mu hanyalah bencana? sejak kau hadir dalam kehidupan Blue semuanya berubah menjadi kacau! sejak awal aku sudah katakan untuk menyadari batasan mu tapi kau melanggarnya"
"Kau sudah membuat ku kehilangan kesabaran" ujar Violet geram.
Mata itu sarat akan kebencian yang tak repot-repot ia pendam, namun tatapan Manager San lebih kuat darinya. Dengan adanya sebuah api dari sesuatu yang sempat ia bungkus dengan rapi, dalam beberapa detik pergejolakan itu terjadi hingga Manager San memutuskan untuk pergi.
Butuh beberapa detik bagi Violet untuk menenangkan hatinya, sambil mengusap dada ia berbalik hendak kembali.
Ah
Pekiknya kaget melihat Jessa yang berdiri tepat di sana, matanya tertuju padanya dengan ekspresi serius.
"Menantu, aku memikirkan apa yang kau khawatirkan" ujarnya.
Butuh waktu untuk mencerna ucapan itu, tapi pada akhirnya Violet mengerti bahwa di belakangnya akan ada kekuatan untuk menghadapi masalah ini.
* * *
__ADS_1
"Selamat pagi semuanya" sapa Manager San seperti biasa di pagi hari.
"Apa hari ini kau ulang tahun?" tanya Alisya.
"Tidak, kenapa?" tanya Manager San bingung.
"Aku melihat bunga di wajahmu, begitu merona"
Hahahahaha
Tawa Chad meledak begitu saja membuat semua orang kaget, tentu karena itu adalah tawa pertamanya di rumah itu. Para pelayan yang berdiri di belakang terlihat lebih terkejut namun hanya bisa saling menatap dengan ekspresi aneh.
"Apanya yang lucu?" tanya Alisya.
"Cara bicara mu, kenapa kau bicara aneh seperti Ima?" sahutnya.
Ah... hehehe
Alisya pun akhirnya ikut tertawa, menyadari dirinya telah terpengaruh oleh Ima sampai mengikuti cara Ima bicara. Melihat wajah-wajah bahagia itu Joyi tersenyum senang, tentu karena ini adalah impiannya sejak lama.
Selesai sarapan seperti biasa Chad berangkat bersama Manager San ke kantor, hari itu Manager San mengerjakan semua pekerjaannya dengan cepat namun tanpa kesalahan.
Itu karena ia berencana sepulang dari kantor ia akan langsung menuju rumah sakit untuk menengok Kyra lagi, tapi saat waktunya tiba entah mengapa hatinya merasakan firasat buruk.
Dan itu di mulai saat ia menemukan kamar Kyra sudah kosong dan rapi, kalap dalam kebingungan ia mencari tahu apa yang telah terjadi.
"Pasien sudah meninggalkan rumah sakit sejak tadi siang, mulai besok ia akan menjalankan terapi di rumahnya" begitulah kabar yang ia dapat dari salah satu perawat yang bertugas.
Siang tadi Violet dan Jessa sudah memikirkan rencana ini, mereka yakin harus mulai menjauhkan Kyra dari Manager San.
Tanpa meminta persetujuan dari Kyra mereka telah mengurus semuanya, termasuk meminta persetujuan dokter dengan dalih Kyra akan lebih baik berada di rumah dari pada rumah sakit yang membosankan.
Mereka siap membayar mahal untuk hal ini maka dokter pun dengan mudahnya setuju, Violet bertugas membantu Kyra bersiap untuk pulang sementara Jessa melakukan persiapan di rumah untuk menyambut kepulangan Kyra.
Tak ada yang mengetahui rencana di balik kepulangan Kyra kecuali mereka berdua, semua berjalan dengan baik bahkan menyambut kepulangan Kyra dengan bahagia.
Pesta kecil di adakan dengan hidangan mewah yang di sukai Kyra, sementara Jessa tetap berjaga-jaga. Ia pergi ke gerbang hanya untuk menemui para penjaganya, dengan serius ia berkata.
"Jangan biarkan siapa pun melewati pintu gerbang ini tanpa seijin dariku, termasuk Manager San terlebih jika dia ingin menemui Blue"
__ADS_1
"Baik nyonya" jawab kedua penjaga itu tegas.
Ia telah bertekad untuk menghancurkan Joyi, dan dari balik pintu gerbang yang berdiri kokoh selama ratusan tahun ia akan mulai dengan menghancurkan satu tekad seorang pemuda yang sedang jatuh cinta. Itu merupakan tekad Manager San.