
Tak lupa Agler mengucapkan selamat malam sebelum keluar dari kamar Kyra, tentu ia juga mematikan lampunya agar Kyra bisa langsung istirahat.
Ia berniat untuk bergabung kembali dengan yang lain di ruang makan, tapi langkahnya terhenti di Koridor saat melihat semua orang berada di ruang tamu.
Dengan penasaran ia berjalan mendekat untuk mengetahui apa yang membuat mereka berkumpul, dan setelah mengetahuinya Agler cukup menyesal.
"Siapa dia?" tanya Violet sebagai satu-satunya manusia yang awam.
"Semuanya perkenalkan, namaku Tianna dan aku adalah calon istri Hans" jawab Tianna dengan berbangga hati.
Pengumuman itu sontak membuat semua anggota keluarga Hermes terkejut, namun tidak dengan Jack yang justru menelan nasih pahit.
"Hans... " panggil Amelia.
Tanpa ekspresi Hans berjalan mendekati Tianna, berdiri di hadapannya dengan membisu sejenak sebelum kemudian berkata.
"Harusnya kau tunggu kabar dariku, ini terlalu mendadak"
"Kenapa? bukankah ini waktu yang tepat? keluarga mu sedang berkumpul di tengah pesta jadi menurut ku ini waktu yang sempurna" balas Tianna.
"Tetap saja harusnya kau menunggu kabar dariku" ujarnya dingin.
"Baiklah, maafkan aku" sahut Tianna memasang wajah manis.
Hhhhhhh
Sebuah henbusan nafas pelan yang di lakukan untuk membuang energi negatif, setelah beberapa saat Hans berbalik menghadap semua orang.
Menatapnya satu persatu seakan itu adalah hari terakhir ia hidup, sementara yang lain membalas tatapan itu dengan sebuah tatapan yang menunggu jawaban pasti.
"Maaf karena memberitahu kabar ini secara mendadak, Tianna dan aku memang sudah berencana untuk menikah" ujarnya yang membuat semua orang tak bisa berkata-kata termasuk Amelia.
Jack sendiri cukup kaget akan berita itu karena malam dimana ia bertanya kepada Tianna tentang obat Kyra jelas ia memiliki jawaban sendiri.
Saat itu Tianna menyanggupi dengan syarat menjadikannya menantu keluarga Hermes, saat itu Tianna sudah mengatakan bahwa ia menginginkan Hans.
Dan jawaban Jack akan syarat itu adalah tidak, bagita sudah cukup memiliki Catherine sebagai menantu vampire. Lagi pula dulu Rei menikahinya karena ada perasaan, tidak seperti Tianna yang hanya ingin membuat permainan.
Kini mendapati Hans menerima Tianna sebagai calon istrinya dugaannya mengatakan bahwa Hans telah di jebak oleh Tianna.
Apalagi setelah perkenalan itu Tianna meminta di temani ke kamar Kyra, meski dengan alasan menjenguk tapi Jack berfikir Tianna memiliki tujuan lain.
Tok Tok Tok
"Blue... apa kau sudah tidur?" teriak Hans dari luar kamar.
"Belum, masuklah" jawab Kyra dari dalam.
Hans memutar kenop, membuka pintu kemudian menyalakan lampu agar kamar itu terang.
Awalnya Kyra tersenyum melihat Hans datang ke kamarnya, tapi saat melihat Tianna yang berdiri di belakang Hans mulai berjalan ke depan senyum itu hilang.
Kyra masih ingat wajah Tianna, mereka bertemu di istana vampire dan hal itu membuat Kyra cukup takut padanya.
"Hai Kyra, aku Tianna... sepertinya kau tidak lupa pada perjumpaan kita dulu" sapa Tianna menatap ekspresi Kyra.
Tanpa memperdulikan yang lain Tianna duduk di samping Kyra, tersenyum kecil dengan tangan yang mulai meraba bagian kaki Kyra.
Saat Tianna melakukan hal itu Kyra merasakan ada sebuah tekanan kecil di kakinya, itu cukup mengejutkan karena semenjak siuman hingga saat ini kakinya mati rasa.
"Kau merasakannya?" tanya Tianna.
Kyra mengangguk pelan, Tianna tersenyum dan mulai menyentuh bagian telapak kaki. Mengusapnya secara perlahan selama beberapa menit sebelum kemudian menekannya dengan kuat.
"Ah!" pekik Kyra merasa kaget akan sesuatu yang seperti menusuk telapak kakinya.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Jack panik.
"Harapannya lebih besar dari yang kau bayangkan, aku bisa berjanji dia akan berlari mengejar bucket bunga yang ku lempar di hari pernikahan kami" ujar Tianna melepaskan tangannya.
Jack terdiam menatap senyum licik Tianna, bingung harus berekspresi seperti apa sebab hatinya di landa bahagia dan sedih secara bersamaan.
__ADS_1
"Baiklah karena kita masih punya waktu banyak aku permisi dulu, silahkan kalian diskusikan untuk mencari tanggal pernikahan yang bagus" ujarnya sambil bangkit.
Tanpa mengatakan apa pun lagi Tianna berjalan melewati Hans dan Jack yang terdiam, kemudian menghilang dari balik pintu.
"Hans... kakek... kenapa dia datang kemari? lalu pernikahan siapa yang dia bicarakan?" tanya Kyra membuyarkan lamunan mereka.
"Dia... memiliki obat yang bisa membuatmu berjalan kembali" jawab Hans mencoba tersenyum.
"Benarkah?" tanya Kyra tak percaya.
"Ya, kau akan hidup normal lagi"
"Lalu pernikahan siapa yang dia bicarakan?"
"Kau tidak perlu memikirkan hal lain, fokus saja pada kesehatan mu agar bisa sembuh dengan cepat" ujar Hans yang tak ingin membahas hal itu.
Berhasil menenangkan Kyra tanpa memberitahu pengorbanannya Hans kemudian pergi, di ikuti oleh Jack yang mengajaknya untuk bicara empat mata.
"Hans apa kau sudah memikirkan baik-baik keputusan yang kau ambil? menikahi vampire bukanlah hal yang mudah? kau akan di uji dalam kesetiaan dengan sebuah ritual yang kejam" ujar Jack panik sambil mengawasi keadaan.
"Ini satu-satunya jalan agar Blue bisa sembuh" sahut Hans tenang.
"Meski begitu tetap saja... " sahut Jack yang kemudian kehilangan kata-katanya.
Ia bisa melihat keteguhan Hans dalam hal ini, melihat tak ada keraguan dalam mata itu akhirnya Jack terdiam.
* * *
Kedatangan Tianna benar-benar membawa kehebohan di kastil itu, Hans cukup kerepotan karena harus menjelaskan situasinya kepada semua orang.
Tentu ia harus membuat karangan bagus agar tujuan asli dari pernikahan itu tidak banyak yang tahu, akan semakin merepotkan jika berita aslinya tersebar.
Lelah membuatnya cepat masuk ke kamar tidur untuk beristirahat, tapi Amelia datang untuk menagih penjelasan yang lebih rinci.
Tanpa ia duga Amelia bertanya tentang sesuatu yang telah terkubur dalam sanubarinya.
"Apa kau mencintainya?" begitulah pertanyaan yang di ajukan seorang ibu.
"Dia wanita cukup baik jika ibu lebih mengenalnya lagi, dia tidak seburuk keliatannya" sahut Hans akhirnya.
"Hans...tidak ada yang lebih buruk dari berkompromi dengan vampire" ujar Amelia yang jelas mengetahui makhluk seperti apa Tianna itu.
Tapi Hans tak menjawab, ia mengunci mulutnya begitu rapat.
"Saat seseorang sedang berkompromi maka hanya ada satu alasan, dia telah kalah dalam mewujudkan impiannya" tukas Amelia yang tetap menagih penjelasan.
Dengan sorot mata yang hanya terpaku padanya akhirnya Hans menyerah, ia mengatakan isi hatinya.
"Aku telah berdosa dalam hal mencintai, gadis yang kucintai adalah orang yang mengorbankan dirinya demi kehidupan ku. Dia adalah Anna, bibi ku sendiri"
"Apa?" tanya Amelia jelas tak mengira akan mendengar jawaban seperti itu.
"Dia bersembunyi dalam identitas sebagai Elf, selama ini yang ku cintai hanyalah Elf dan mengetahui kisah ku tak kan pernah bisa di mulai maka Tianna adalah satu-satunya jawaban dari penderitaan ku terhadap cinta" jelas Hans.
Maka kini tak ada yang bisa Amelia katakan, ia cukup menyesal telah mengorek luka dalam yang kembali basah.
* * *
Semenjak Joyi membuat berbagai peraturan untuk Alisya tentu bukanlah hal mudah pergi keluar rumah, ia harus menyiapkan berbagai alasan hanya untuk menghirup udara bebas tanpa risih.
Apalagi jika ingin membuat janji bertemu dengan Agler, maka semalaman ia akan mencari alasan logis agar bisa keluar.
Beruntungnya ia tak sendiri, ada Chad yang siap membantunya hanya sekedar memberi alasan pergi keluar.
Hari itu tanpa menimbulkan kecurigaan Chad berhasil membawa Alisya pergi dari rumah, tanpa penjaga yang akan mengawasinya.
Di dermaga tempat mereka biasa bertemu Agler sudah menunggunya, senyum senang terpatri dalam wajah yang merona. Satu pelukan mengobati rindu setelah beberapa hari tak bertemu.
"Baiklah akan ku jemput nanti, aku harus pergi ke kantor sekarang" ujar Chad yang juga tak ingin mengganggu kencan saudaranya itu.
"Tunggu Chad! ada yang perlu ku bicarakan dengan mu sebentar" sahut Agler.
__ADS_1
Ia melepaskan Alisya untuk bicara dengan Chad, ini adalah berita terbaru mengenai keluarga Hermes.
Mendapat kabar tentang pernikahan Hans dan Tianna bagai menemukan harta karun di tengah lapang, begitu mudah dan menyenangkan.
Chad belum memiliki ide untuk menyerang keluarga Hermes lagi, tapi dengan mendapatkan informasi ini sepertinya ia memiliki gambaran yang bagus.
"Terimakasih, kabari aku lagi nanti" sahut Chad setelah obrolan mereka selesai.
Agler menganggukan kepalanya dan membiarkan Chad pergi.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Alisya sebab ia di larang untuk ikut campur.
"Hanya masalah biasa, tak ada yang perlu kau khawatirkan"
"Kalian selalu bersikap seperti itu, rasanya aku benar-benar tidak berarti karena tidak pernah kalian anggap" tukas Alisya merasa kesal.
"Dari pada memikirkan hal lain sebaiknya kau fokus pada hubungan kita, ingat bahwa sekarang nenek mu melarang kita untuk bertemu"
"Ada benarnya juga, sampai sekarang nenek masih tidak mau bicara padaku jika mengenai dirimu. Apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan restunya?" tanya Alisya beralih topik.
"Sederhana, cukup ikuti keinginannya. Jadilah cucu yang baik dan biarkan takdir membawa kebersamaan kita ke pelaminan"
"Konyol sekali.. " ucap Alisya sambil tersenyum geli.
"Aku tidak main-main, sebentar lagi aku akan meminangmu seperti yang dulu pernah ku katakan" ujar Agler serius.
Alisya tak bisa menolak sentuhan ringan di pipinya yang membuat perasaan nyaman, mata Agler yang jernih telah mengungkapkan bahwa semua ucapan itu benar adanya tanpa di lebih-lebihkan.
* * *
Bekerja di kantor adalah satu-satunya hal yang di kuasai Shigima, meski dulu ia pernah belajar sihir di Akademi tapi kepiawaiannya kalah oleh Ken.
Untuk itulah sejak awal ia sudah memutuskan akan meneruskan usaha keluarga Hermes, sementara urusan sihir ia serahkan kepada adik-adiknya.
Sering payah di Akademi namun tak ada masalah yang tak bisa ia selesaikan di kantor, bahkan di tangannya perusahaan yang sudah bangkrut dapat kembali berjaya seperti sebelumnya.
Namun sehebat apapun Shigima ia tetap seorang ayah yang akan kehilangan konsentrasi jika anaknya dalam masalah, benaknya hanya di penuhi dengan Hans sehingga pekerjaannya terbengkalai.
Tak tahan akan gunturan dalam kepalanya ia pun memilih pulang dengan cepat, menemui Hans hanya untuk bicara sebagai ayah dan anak.
"Tumben ayah pulang cepat" komentar Hans mendapati Shigima sudah di rumah.
"Ya, hari ini ayah pulang cepat"
"Begitu ya"
"Hans, bisakah kita bicara sebentar?" tanya Shigima sedikit gugup.
Awalnya Hans terdiam, tapi kemudian ia cepat mengerti dan menganggukkan kepala.
Mereka memilih bicara di taman, dimana udara yang bersih di percaya akan membawa efek positif bagi otak yang sedang semrawut.
"Jika ini masalah Tianna maka ayah tak perlu repot bertanya apa pun lagi, keputusan ku sudah bulat untuk menikahinya" ujar Hans sebelum Shigima mulai bicara.
Mendengarnya membuat Shigima terpaku, ia tak mengira Hans akan seteguh itu jika berhadapan dengan masalah lain. Tidak seperti saat di kantor, ia terlihat tak percaya diri meski memiliki potensi.
"Eh-mm, jika itu sudah keputusan mu maka ayah tak bisa menentangnya. Tapi kau harus tahu kita tidak bisa begitu saja melangsungkan pernikahan, calon menantu dari keluarga Hermes haruslah orang yang layak" ujar Shigima.
"Ayah tahu dia bukanlah orang, meski begitu ayah berhak mengujinya sampai ayah merasa dia layak menjadi bagian dari keluarga kita"
"Tentu ayah paham betul identitas aslinya, sebenarnya itu juga tidak masalah karena bibi ku Catherine juga bukan manusia. Hanya saja kondisinya berbeda, paman mu Reinner lebih dulu menjadi bagian dari makhluk malam sebelum menggandeng menantu untuk kakek mu dan seperti hal itu juga berlaku padamu " jelas Shigima.
"Aku sudah memikirkannya, itu tidak masalah bagiku"
"Apa kau serius?" tanya Shigima memastikan.
Hans mengangguk yakin meski anggukannya itu pelan.
"Apa ayah sudah cerita kalau paman Rei di cap sebagai pengkhianat karena memilih menjadi vampire? dia kehilangan segalanya termasuk istri dan anak-anaknya" ujar Shigima lebih seperti memperingati.
Hans membuang nafas panjang, mengalihkan pandangannya pada taman yang di penuhi dengan bunga. Saat ia menarik nafas yang tercium adalah aroma bunga yang begitu wangi, sejenak membuat ototnya yang tegang menjadi santai.
__ADS_1
"Aku ingin memberi tugas kepada ayah, jika tidak merepotkan tolong carikan tanggal yang bagus untuk pernikahan kami" ujar Hans yang kembali menegang.