
Bukan hal mudah menghadapi perpisahan dari seseorang yang berhak atas kasih sayangnya, namun bercermin pada pengalaman ia tahu saat inilah waktu yang tepat untuk memutuskan.
Kini langkahnya begitu tegap dengan hati yang bertekad bulat, dari matanya yang sembab terbaca sebuah penyesalan yang akan menjadi kekuatan.
Tapi langkah itu terhenti sejenak saat melihat Kyra mendorong rodanya ke dalam lift, ia bergegas pergi namun pintu lift terlanjur tertutup sehingga ia harus menunggu sejenak.
Mengikuti jejak Kyra ia sampai di atap, namun baru saja kakinya melangkah keluar tubuh Kyra sudah berada di atas pembatas. Di detik selanjutnya tubuh itu terhuyung ke depan dan siap menghantam tanah.
Drap Drap Drap Drap
Gep
Ah Hhhhh Hhhh Hhhh
Nafasnya seketika memburu waktu, dengan satu tangan yang berhasil meraih tangan Kyra.
"San.... " panggil Kyra terkejut.
"Jangan....bergerak.... aku akan menarik mu" ujar Manager berusaha menarik tubuh itu sekuat tenaga.
Tapi Kyra tak ada keinginan untuk naik lagi ke atas, tatapannya begitu pasrah begitu juga dengan tangannya yang menjadi licin.
"Lepaskan San! aku ingin mengakhiri penderitaan ini"
"Tidak!" teriaknya yang membuat Kyra terpaku.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi, mulai saat ini aku akan terus menggenggam tanganmu" lanjutnya.
Whuuuuussss
Angin malam itu menyapu tubuh yang masih menggantung di atas ketinggian, sedikit menggoyangkannya sehingga beban yang di tanggung Manager San bertambah berat.
Tapi ia tak mau menyerah, sedikit demi sedikit di tariknya tubuh itu. Semakin ia mencoba terasa semakin sulit hingga membuat seluruh wajahnya memerah, nafasnya juga mulai tak beraturan.
"San... lepaskan aku" pinta Kyra untuk yang terakhir kalinya.
Tapi Manager San tak mau mendengar, ia terus berusaha menariknya menggunakan kedua tangan. Perjuangan itu membuat semua masa indah yang pernah mereka lewati bersama melintas dalam benaknya, sehingga tercipta sebuah kebencian terhadap Manager San.
"Lepaskan San! kedatangan mu sia-sia!" teriaknya bersamaan dengan buliran air mata yang tersapu angin.
"Kyra.... aku minta maaf atas keterlambatan ku... tapi aku tidak akan menyerah sekarang" jawabnya.
Sebuah kekuatan tiba-tiba muncul begitu saja, seakan di kirim Tuhan dari surga untuk membuktikan keseriusannya. Tangannya berhasil menarik hingga ke lengan yang membuat Kyra pada akhirnya menyerahkan tangannya yang lain.
Hatinya memang marah, kecewa dan benci tapi pada saat-saat ia ingin di cintai secara naluri tubuhnya akan mencari Manager San. Merangkulnya dan menggenggam tangannya, meski hanya dalam waktu sekejap.
"Sedikit... lagi" ucap Manager San berhasil meraih tubuh Kyra.
Aaahhhh
Bruk
Dengan satu tarikan yang kencang Manager San akhirnya berhasil menarik tubuh Kyra ke atas, menimpa tubuhnya yang telah kehabisan tenaga.
Perlahan Kyra bangun, duduk dengan bersandar pada tembok pembatas. Menatap Manager San yang mencoba mengatur nafasnya, masih dengan posisi terbaring.
"Untuk apa kau lakukan ini? pada akhirnya hidupku tidaklah berarti" tanya Kyra.
Sejenak Manager San masih menatap langit malam itu, kemudian ia bangkit untuk memandang Kyra.
"Aku tidak akan biarkan kau mengakhiri hidup di malam yang indah ini, mulai saat ini aku tidak akan menangisi ketidakmampuan ku dalam menggapaimu. Sebab mulai saat ini apa pun yang terjadi aku akan terus berada di sampingmu" jawabnya.
Degh
Sebuah panah menancap tepat di hatinya, membuat sebuah debaran yang terasa tak asing. Tanpa ia sadari wajahnya memerah dengan mata yang tak bisa berpaling pada wajah Manager San, detik itu ia melihat sesosok pria yang membuatnya gila karena cinta.
Seperti saat pertama kali mereka bertemu, ia kembali terkena panah asmara dari dewa.
__ADS_1
* * *
Seperti biasa rumah itu selalu dalam keadaan gelap saat ia tiba, sudah menjadi rutinitasnya untuk membereskan kamar Chad meski tidak setiap hari Chad tidur di sana.
Tapi saat ia tiba di depan pintu kamar itu di lihatnya sebuah cahaya yang keluar dari celah pintu, tentu ia cukup mengherankan mengapa kamar itu terang.
Ceklek
Dengan penasaran segera di bukanya pintu itu dan dilihatnya sebuah pemandangan yang tak biasa, kamar itu di penuhi lilin-lilin yang menyala terang dalam gelap.
Bahkan ia mencium aroma bunga yang semerbak, saat ia mulai melangkah masuk sebuah rangkaian bunga berbentuk hati nampak lebih jelas terlihat.
"Kau suka?" tanya Chad keluar dari persembunyiannya.
"Kau membuat semua ini?" tanya Ima penasaran.
"Sesekali aku ingin bertindak sesuai kekasih pada umumnya" jawabnya.
Ima tak pernah berharap Chad akan bersikap romantis padanya karena sejak awal ia sudah tahu Chad bukan pria yang seperti itu, ia juga tak mempermasalahkan hal itu sebab baginya hidup bersama Chad sudah lebih dari cukup.
Namun tetap saja sebagai seorang gadis mendapatkan kejutan indah dari sang kekasih membuat air mata mengalir begitu saja, sebuah air mata kebahagiaan.
"Boleh aku tanya dalam rangka apa?" ucap Ima.
Chad berjalan mendekat, hingga tiba di hadapan Ima tangannya pun menggenggam kedua tangan Ima.
"Setahuku alasan ku hidup hanya untuk balas dendam, seingatku kebahagiaan ku terdapat pada kesuksesan ku menjalankan misi. Aku tidak pernah menyangka melihat gadis di hutan dengan tangan yang merangkul kelinci akan merubah seluruh hidupku, hingga aku cukup sulit berkonsentrasi sebab wajah gadis itu tidak membiarkan benakn ku memikirkan yang lain selain dirinya."
Ima mendengarkan dengan senyum yang semakin merekah.
"Bagaimana kalau kita langsung ke intinya saja?"
"Apa?" balas Ima bertanya.
Tiba-tiba Chad berlutut dengan menyodorkan sebuah kotak kecil berisi cincin.
"Chad... aku masih kecil!" teriak Ima seketika.
Wajah polos Ima saat meneriakkan kalimat itu terlalu lucu hingga membuat Chad tak bisa menahan tawanya, sementara Ima berdiri layaknya orang bodoh.
"Aku tahu... " sahut Chad.
"Lalu kenapa kau lakukan ini?" tanya Ima.
"Karena aku tidak ingin kehilangan mu, aku akan menikahimu nanti setidaknya setelah kau lulus kuliah. Sementara itu aku akan menjadikan mu tunangan resmi ku, kau mau?" ujarnya.
Sejenak Ima nampak berfikir, memandang Chad dengan begitu cermat hingga bibirnya merekah dengan sebuah anggukan tanda setuju.
Maka Chad pun melingkarkan cincin itu di jari manisnya, mengecupnya dengan penuh kasih yang kemudian di balas dengan sebuah rangkulan oleh Ima.
Saling tersenyum sisa malam itu mereka habiskan dengan pesta kecil, memutar musik agar dapat berdansa di atas rangkaian bunga.
* * *
Dengan waspada Alisya menatap sekeliling, memastikan keadaan aman sebelum ia melangkah keluar dari kamar. Lampu-lampu sudah di matikan sehingga rumah itu menjadi gelap, meski begitu ia masih bisa melihat dengan cukup baik.
Perlahan ia menuruni tangga sambil sesekali menatap ke kiri dan kanan, memastikan memang tak ada yang melihatnya. Hingga pada akhirnya ia berhasil keluar dari rumah, mengitari taman dan pergi ke belakang rumah.
"Hai" sapa Agler yang sudah menunggu sejak tadi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Alisya dengan suara tersekat.
Agler hanya tersenyum tanpa peduli kekhawatiran yang di rasakan Alisya, bagaimana tidak? tiba-tiba saja Agler menelpon dan meengajaknya bertemu di belakang rumah di malam yang sudah larut.
"Aku tidak bisa tidur, karena itu aku ingin bertemu dengan mu" ujarnya.
"Itu alasan yang sangat konyol" sahut Alisya sambil sesekali menatap sekeliling.
__ADS_1
Melihatnya membuat Agler malah senang, sebab di matanya ekspresi Alisya nampak lucu.
"Ayo ikut!" ajaknya sambil menarik tangan Alisya.
"Eh tunggu!" sergah Alisya namun Agler tak menghentikan langkahnya.
Mereka berjalan melewati pepohonan yang tumbuh di belakang rumah itu sampai tiba di tembok pagar, sebuah tangga sudah berada di sana entah sejak kapan.
"Aku akan naik lebih dulu" ujar Agler memberitahu.
Tanpa menunggu jawaban dari Alisya ia segera menaiki tangga itu hingga mencapai puncak, lalu dengan satu lompatan saja ia berhasil mendarat di bawah dengan sempurna.
Menengadag ke atas Alisya sudah sampai di sana, menatapnya dengan ragu sebab tembok itu cukup tinggi.
"Melompatlah, aku akan menangkapmu" ujar Agler.
Dengan sedikit risau Alisya memutuskan untuk percaya, mengambil nafas dalam-dalam akhirnya ia menjatuhkan diri begitu saja.
Hap
Ahhh hhhh hhh
Agler berhasil menangkapnya dengan sempurna, itu membuat senyum di wajah Alisya mengembang sempurna.
Menurunkannya dengan perlahan kini Agler meraih tangan Alisya, menggenggamnya erat untuk kembali mengajaknya berjalan.
Menyusuri trotoar di tengah malam yang sepi, seakan mereka adalah satu-satunya penghuni di alam itu.
"Kita mau kemana?" tanya Alisya.
"Dermaga" jawab Agler.
"Malam-malam begini?" tanya Alisya tak percaya.
Tapi Agler hanya tersenyum tanpa mengatakan apa pun, sampai akhirnya mereka tiba. Agler membawanya melewati kapal-kapal pesiar dan tanpa di duga ia mengajak Alisya memasuki salah satu kapal itu.
"Agler... " panggil Alisya tidak yakin akan yang mereka lakukan.
"Tenang saja, aku di beri ijin untuk memasuki kapal ini"
"Benarkah?" tanya Alisya kurang percaya.
"Aku membersihkan kapal ini setiap malam, jadi kau tidak perlu risau" sahutnya.
Maka Alisya pun tersenyum dan mengambil langkah untuk memasuki kapal itu, ini adalah kali pertama baginya menginjakkan kaki di atas kapal laut.
Dengan antusias Agler menunjukkan setiap ruangan yang boleh ia masuki, menjelaskannya seolah dia adalah pemandu wisata. Hingga tur itu berakhir di geladak, dari sana Alisya dapat melihat langit malam yang tercermin di lautan.
"Indah bukan?" tanya Agler.
Alisya mengangguk, kemudian berlari hingga ke ujung untuk melihat ombak kecil yang menerpa di bawah.
"Pemandangannya akan lebih bagus jika kapar ini sedang berlayar, akan ada banyak pemandangan yang bisa kau lihat"
"Kau pernah berlayar?" tanya Alisya.
"Aku pernah ikut menjala ikan bersama nelayan sekali, saat itu tentunya kapal yang di gunakan bukanlah kapal pesiar seperti ini"
"Hebat... aku belum pernah sekali pun berlayar" akui Alisya.
"Kau mau?" tanya Agler yang di jawab dengan sebuah anggukan.
"Kalau begitu maukah kau menunggu hingga aku kaya?" tanya tanya Agler.
Alisya tersenyum hangat, berjalan mendekati Agler untuk memberikan pelukan. Tentu Agler menyambut pelukan itu dengan bahagia, membalasnya dengan belaian lembut di kepala Alisya.
"Aku tidak hanya akan menunggumu, tapi juga menemanimu untuk meraih semua mimpi kita" ujarnya pelan.
__ADS_1
Itu adalah ucapan yang tak hanya membuat Agler senang tapi juga bersemangat, seakan semua masalah dapat dia selesaikan dengan mudah.
"Terimakasih" bisiknya sambil membenamkan kepala di bahu gadis itu.