
Tegukan demi tegukan itu mengantarkan anggurnya masuk melewati kerongkongan hingga berakhir di lambung, semakin banyak yang ia teguk semakin penuh lambungnya namun tak cukup kuat untuk memenuhi benaknya yang masih berisi berbagai masalah.
Ia masih berada di sana dengan kesadaran penuh namun teritori yang lengah sehingga seorang wanita cukup muda tersenyum nakal menyadari kegagahan statusnya.
Jemarinya yang lentik menyapu batas meja hingga sampai satu jengkal dari sikut Chad yang menopang, ia semakin menebar senyum saat mata mereka beradu pandang meski jelas tatapan Chad cukup tajam mengawasi.
"Boleh aku menemanimu?" tanya wanita itu.
Ia cukup cantik meski dengan riasan yang menurut Chad terlalu tebal, tapi di semua belahan bumi ini wanita sepertinya memang selalu menutup wajahnya dengan riasan tebal. Entah untuk membuatnya terlihat cantik atau menutupi kepolosan yang ingin ia tekan.
"Kau ingin segelas rum?" tawar Chad yang membuat wanita itu cekikikan.
Dia mengangguk masih dengan senyum yang lebar, maka Chad pun memesan satu gelas lagi minuman untuknya. Ada sesuatu yang menarik rasa penasaran wanita itu terhadap diri Chad, ia memulai dengan pertanyaan ringan sampai mengorek informasi yang lebih detail.
Tentu saja Chad tak begitu saja terjebak pada pertanyaan yang di ajukan, justru wanita itu yang terperangkap dalam permainannya sendiri. Mungkin anggur yang telah ia tegak sedari tadi pun termasuk salah satu alasan kini dirinya menceritakan privasinya.
Dengan wajah yang sedikit memerah dan senyum hampa wanita itu mengatakan inilah satu-satunya pekerjaan yang ia miliki setelah terjebak dalam lingkaran nikotin, dengan sisa umur yang hanya tak lebih dari empat puluh tahun ia mencoba menikmatinya.
Hal itu membuat sisi lembut dari bagian seorang pria muncul sebagai pelindung, ia selalu tak tega jika berhubungan dengan diri wanita meskipun sifat seorang wanita itu buruk.
"Hei... tuan, apakah... kita akan terus mengobrol di sini? malam ini aku tidak punya tempat untuk tidur" tanyanya.
Tanpa di duga Chad mengelus lembut wajahnya sambil tersenyum, membuat wanita itu kaget dan menjadi malu akibat sentuhan yang nyata.
"Kau bisa tidur di ranjang ku" jawab Chad pelan.
* * *
Akhirnya setelah berhari-hari yang menyebalkan Ima mendapatkan pesan juga, malam itu bergegas ia pergi ke rumah Chad menyiapkan air hangat untuk mandi sesuai permintaan. Ia juga membereskan tempat tidur dan menyiapkan cemilan ringan kalau-kalau Chad menginginkannya.
Ting Tong
Ima terperanjat, berminggu-minggu sudah ia bekerja di sana dan ini adalah kali pertama bel pintu rumah itu berbunyi. Ada rasa penasaran dan khawatir yang membuatnya bingung harus bertindak bagaimana, namun pada akhirnya ia memberanikan diri untuk membukanya.
Matanya segera beradu pandang dengan Chad yang entah mengapa dapat berdiri pas di depannya, tapi kebingungan semakin merambah benaknya saat matanya bergulir menatap sesosok wanita yang berdiri tepat di sampingnya.
Wanita itu bertubuh jangkung dengan body goals yang menggoda, wajahnya cantik meski rambutnya sedikit berantakan.
"Aku pikir kau tinggal sendiri" ujar wanita itu.
"Aku memang tinggal sendiri" jawab Chad datar.
"Lalu dia siapa?" tanyanya sambil menunjuk Ima.
"Pelayan ku"
"Apa?" gumamnya sambil menatap Ima tak percaya.
Ima hanya bisa menatap Chad, mencerna ucapan itu yang jelas menjelaskan status keberadaannya. Dengan tak terduga Ima berjalan ke pinggir, dengan sedikit membungkukkan badan ia berkata.
"Selamat datang tuan, saya sudah menyiapkan air hangat untuk mandi dan membereskan kamar tuan."
Chad terkesiap, ia tak mengira Ima akan bersikap demikian. Tapi hal itu cukup bagus karena dengan begitu artinya Ima tahu dimana posisinya yang benar, ia pun masuk di ikuti wanita itu.
Mereka pergi ke kamar yang telah di siapkan Ima, si wanita dengan tak sabar mulai membelai leher Chad dan mengecup keningnya dengan lembut.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya wanita itu sebab Chad diam tak bereaksi.
"Tidak ada" jawab Chad meski pandangannya tetap terpaku ke depan.
Sementara itu Ima memutuskan untuk menginap, pagi harinya ia mengerjakan tugasnya sebagai pelayan tanpa menunggu perintah. Ia juga membuat sarapan tepat saat Chad keluar dari kamar dan menghampirinya di dapur.
__ADS_1
"Selamat pagi tuan" sapanya.
"Saya sudah menyiapkan sarapan" lanjutnya sambil menghidangkan makanan itu tepat di meja makan tempat Chad duduk.
"Apakah tuan ingin segelas jus?" tawarnya.
Chad menatap mata Ima berharap ada bekas air mata di sana, tapi yang ia lihat justru mata binar yang cantik.
"Boleh" jawab Chad menurunkan pandangannya.
"Baik, kalau begitu segera saya siapkan" ujar Ima kembali ke meja dapurnya.
Chad memandang telur orak arik di depannya, dengan perlahan ia mulai menikmati makanannya. Rasanya cukup enak namun hal itu membuat dadanya sakit, ia merasa seperti suami kejam yang telah berkhianat di depan istrinya sendiri tapi tetap di perlakukan dengan baik.
"Ini jusnya" ujar Ima menaruh segelas jus di atas meja.
"Terimakasih"
"Sama-sama, jika tidak ada hal lain saya ijin pergi sebab masih banyak tugas yang belum saya kerjakan"
"Siapkan air hangat untuk wanita itu, jika dia sudah bangun berikan juga sarapan untuknya. Perlakukan dia dengan baik" ujar Chad tanpa mau memandang Ima.
"Saya mengerti"
"Setelah semua pekerjaan mu selesai kau boleh pulang dan tidak perlu kembali lagi kemari, ini adalah hari terakhirmu bekerja"
"Apa?" tanya Ima kaget.
"Kau tidak dengar?" ujar Chad balik bertanya.
"Aku mendengarnya, tapi kenapa?"
"Tidak... berapa bayaran ku sehari sehingga hanya dalam waktu beberapa minggu saja hutang sebesar itu bisa lunas?"
"Kau tidak perlu mengetahuinya, harusnya kau senang karena sekarang kau sudah bebas" jawab Chad pelan.
"Aku menolaknya" ujar Ima yang membuat Chad menatapnya tajam.
Tapi tatapan Ima jauh lebih tajam, tekadnya terbentuk dengan sempurna sehingga tak ada rasa takut di sana. Chad tahu sifat Ima cukup keras kepala, sedikit kejujuran dalam hatinya mengakui bahwa itulah yang membuat Ima menarik di matanya.
"Kau mungkin kaya dan punya kedudukan tinggi, tapi bahkan meski kau seorang raja kau tetap tidak berhak memutuskan semua hal seorang diri. Aku menolak untuk pergi dari rumah ini, aku akan tetap bekerja di sini sebagai pelayan mu sesuai perjanjian kita di awal" tegas Ima.
"Konyol sekali, aku memberimu kebebasan dan kau menolaknya"
"Benarkah? jelaskan padaku kenapa aku harus pergi dari sini? kebebasan apa yang kau maksud? atau.... kau merasa risih dengan keberadaan ku sebab kau membawa pulang seorang wanita setiap malam"
"Jika itu memang kenyataannya lalu kenapa? apa peduli mu tentang hal itu?" potong Chad dengan suara yang lebih tinggi.
Sejenak Ima terdiam, mencari sesuatu dimata bening Chad yang mulai memerah.
"Aku tidak perduli.. " ujarnya pelan.
"Aku tidak perduli berapa banyak wanita yang akan kau undang ke rumah ini, aku tidak perduli bahkan jika mereka menginap dan tidur di ranjang mu setiap malam aku tidak perduli! tapi aku tidak akan pergi dari sini!" teriaknya bersikeras.
"Kenapa kau sangat keras kepala?!"
"Karena aku mencintaimu!" teriak Ima yang membuat Chad terdiam.
Entah air apa yang keluar dari mata Ima dan mengalir di pipinya, tapi jelas tak ada keraguan di sana. Tiga kata yang baru saja ia dengar bak lemon yang begitu asam tapi menyegarkan, sehingga ia hanya terdiam.
"Perlu kau ketahui, aku tidak mudah menyerah pada apa yang aku inginkan. Dan kau perlu ingat! kau berhutang ciuman kepadaku" ujarnya sambil menunjuk Chad.
__ADS_1
Sepanjang hidupnya tak ada satu orang pun yang berani menatap matanya, tapi hari itu seorang gadis biasa dengan sekaligus menatap, menunjuk serta bicara padanya tanpa rasa takut sedikit pun.
Baginya yang tak pernah terbantahkan Ima layaknya boomerang yang siap kembali setelah di lemparkan, jika dia tak pandai menangkap maka dia harus siap menerima rasa sakit itu.
Ima bergegas pergi meninggalkan dapur untuk mulai mengerjakan tugas lain, saat ia melewati kamar Chad secara bersamaan wanita itu keluar dari kamar dalam keadaan berantakan.
"Selamat pagi nona" sapa Ima.
"Oh, ah.. um... ya pagi" jawabnya gugup.
"Apa anda membutuhkan sesuatu? atau nona ingin makan sesuatu?" tanyanya.
"Oh... tidak, um... dimana pria itu?"
"Maksud nona.... tuan Chad?" jelas karena tidak ada orang lain lagi di rumah itu.
"Jadi namanya Chad" gumam wanita itu yang membuat Ima heran, tentu saja karena mereka tidur dalam satu selimut tapi bahkan namanya saja tidak tahu.
"Tuan ada di ruang makan, nona hanya perlu berjalan lurus saja" jawabnya menunjukkan jalan.
"Oh terimakasih."
Segera wanita itu berjalan pergi sementara Ima memutuskan untuk masuk ke dalam kamar itu dan membereskannya. Di luar dugaan kamar itu cukup rapih tidak seperti bekas di pakai, entah mungkin mereka bermain cantik mengingat sifat Chad yang suka kebersihan.
Wanita itu tetap tinggal di sana sampai sore hari saat Ima meminta ijin untuk pulang, Chad terlihat tak perduli maka Ima pun bergegas pergi namun untuk kembali esok harinya.
Saat malam telah larut dengan rembulan yang sembunyi di balik awan sehingga hanya kelam yang mengisi langit, seolah mendukung pekatnya hati Chad agar tumpah dalam bentuk buliran air.
Sayangnya ia terlalu menjaga image untuk melakukan hal itu, sebagai gantinya sebotol rum berdebu hampir habis menemani dalam kurun waktu tiga jam.
"Kau ingin aku temani?" tanya Jhon yang entah datang kapan.
"Boleh, memang tidak enak jika minum sendirian" jawab Chad.
Jhon mengambil gelasnya kemudian menuangkan rum itu sebanyak yang ia inginkan, bersama dengan Chad ia duduk tepat di dekat jendela sambil menatap ke langit malam yang gelap.
"Tak ada yang lebih menarik dari bulan yang menyembunyikan sinarnya, seperti putri malu ia akan mulai menampakan diri pada saat yang tepat" ujar Jhon yang tak mendapatkan respon apa pun.
"Namun malam ini aku sadar ada yang jauh lebih menarik dari hal itu, seorang wanita beberapa jam yang lalu mengumpat di depan rumah mu" ucapnya lagi yang kini mendapatkan lirikan.
"Semua wanita sepertinya selalu mengumpat" jawab Chad.
"Dan aku tahu umpatan itu tidak akan mempan padamu, itu artinya ada hal yang lebih menyebalkan dari umpatan wanita itu."
Jelas yang di maksud Jhon adalah sesuatu yang ada dalam benak Chad, sesuatu yang membuatnya membuka tutup botol rum berdebu.
"Seumur hidupku yang ku tahu hanya balas dendam, tak ada yang lebih penting dari hal itu. Tapi hari ini aku merasa ingin berlari menjauhi hal itu, mati untuk kemudian terlahir kembali menjadi warga biasa" akui Chad.
Jhon sangat paham tentang hal itu, terjebak dalam lingkaran dendam telah ia rasakan dalam waktu lebih dari dua puluh tahun. Bahkan sampai saat ia memiliki Rocky kakinya masih berdiri dalam lingkaran itu, barulah ketika ia kehilangan satu-satunya kebahagiaan dalam hidupnya dan mengangkat cakar memerangi kaumnya sendiri ia mulai memberanikan diri untuk keluar.
"Hingga saat ini aku masih membenci Jack, dia adalah alasan ku kenapa sekarang aku duduk bersama mu. Tapi kebencian yang ada dalam hati ku bukan berarti aku akan ikut dalam rencana balas dendam mu, jauh sebelum kau lahir aku adalah orang terdekat pertama yang menghunuskan pedang kepadanya. Setelah puluhan tahun hidup aku masih berdiri dengan gagah sementara dia mulai rusak di makan masa, dia hanya seorang tua yang menunggu kematian meski hasratnya besar untuk memimpin.
Aku tidak akan menyuruhmu untuk berhenti, aku juga tidak akan menyuruh mu untuk meneruskan dendam mu. Tapi dari pengalaman ku sebaiknya kau ambil langkah yang bisa membuatmu bahagia, bukan membuatmu puas."
Dalam permainan kehidupan yang kuat selalu menang dan yang lemah menjadi santapan, hukum rimba selalu berlaku meski di kota sekali pun. Hanya saja ia bermetamorfosa menjadi bentuk yang lebih modern, dalam hal ini Chad paham betul ia harus tetap kuat untuk keluar sebagai pemenang.
Tapi menang saja tidak cukup jika akhirnya ia pun hancur dari dalam, untuk pertama kalinya ia mendengar ungkapan cinta yang manis dan tegas. Rasanya ia mampu meraih tangan gadis itu dan mengajaknya berlari menjauhi permainan kehidupan yang telah membuatnya letih, tapi jika ia melakukan hal itu apa yang dapat ia katakan kepada mendiang ibu dan ayahnya dalam penghujung nafasnya.
Ia tak akan punya wajah untuk pergi begitu saja, ia juga tak bisa mengabaikan Joyi yang selama ini menjadi rumah baginya.
Keinginan Joyi adalah cita-cita yang harus ia kejar dan wujudkan, ia tak bisa egois dengan bermanja pada hatinya yang tengah berbunga. Sialnya, berjam-jam ia merenung ia sadar pilihan apa pun yang ia ambil pada akhirnya ia tetap akan hancur.
__ADS_1