Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 69 Berakhirnya Pertarungan


__ADS_3

Bruk


Aaarrgghhhh...


Tubuh yang penuh luka itu jatuh menghantam tanah dengan cukup keras, menerbangkan debu ke segala arah dan melapisi permukaannya dengan darah. Kawanan vampanences tetap menjaga posisi mereka meski berhenti menyerang, mewaspadi gerakan Keenan sekecil apa pun itu.


"Heh, rupanya aku belum kuat seperti yang ku inginkan. Kalau begini aku harus menemui Alabama lagi" gumamnya.


Saat ini matanya tak bisa melihat dengan jelas, tapi itu tidak masalah karena lagit berwarna hitam tanpa ada benda apa pun yang melayang. Dalam kesadarannya yang hampir hilang waktu terus bergulir dan fajar akan menyingsing.


Hans menghembuskan nafas panjang, pertarungan telah berakhir dan pemenangnya telah di tetapkan. Ia bersyukur kawanan vampanences itu lebih kuat sebab dengan begitu niatnya untuk merubah tatanan istana vampire dapat ia wujudkan sesuai rencana.


Tapi dalam pertarungan sungguhan ini memang jangan mengambil kesimpulan dengan cepat, di sisa tenaganya Keenan mengambil sesuatu dari balik sakunya.


Itu merupakan botol berwarna emas yang telah Keenan janjikan jika ia berhasil membawanya kepada Sang Dewi, di luar dugaan Keenan membuka tutup botolnya dan meminum cairan yang ada di dalamnya.


"Tidak!" erang Hans.


Percuma, Keenan telah membuang botol yang sudah kosong itu kesamping. Menatap dengan perasaan kecewa, marah, bingung dan benci Hans hanya mampu terpaku memperhatikan apa yang selanjutnya akan terjadi.


Uhuk Uhuk Uhuk


Awalnya ada rasa gatal di tenggorokan keringnya, cukup mengganggu sebab membuatnya batuk. Ia mengecap lidahnya, merasakan sensai pedas di mulutnya namun dingin kemudian. Tiba-tiba rasa mual membuatnya menutup mata, seolah sesuatu bergerak dalam lambungnya dan menggeliat terus menerus.


Dengan susah payah Hans menelan ludah tatkala melihat tubuh Keenan yang mulai gemetar, semakin lama getaran di tubuh itu semakin kuat hingga membuatnya terpelanting ke sana kemari seperti ikan yang kepanasan di darat.


Beberapa menit dengan tubuh yang gemetar membuat suasana cukup tegang, akhirnya perlahan tubuh Keenan mulai tenang namun seolah kehilangan ruh badannya terkulai lemas dengan mata yang tertutup.


"Apa....dia mati?" tanya Hans.


"Aku tidak tahu" jawab Elf yang juga memperhatikan.


Untuk beberapa saat tak ada berani bergerak mendekati tubuh Keenan, tapi saat seorang vampanences merasa penasaran dan mulai melangkah maju tiba-tiba mata Keenan terbuka.


Anehnya waran matanya berubah menjadi ungu layaknya vampanences, dengan satu gerakan ia bangkit dan menunjukkan diri dengan luka yang menghilang di tubuhnya.


Keenan menyeringai, memperlihatkan bagaimana sepasang taring mencuat keluar. Tajam dan mengkilat, sama halnya dengan kukunya yang ikut tumbuh lebih panjang.


Sssshhhhhhh


Hembusan nafas yang ia keluarkan lewat mulut terdengar cukup mengerikan, tatapannya liar khas pemburu yang mengintai mangsanya.


Vampanences yang sempat melangkah maju segera mundur dan kembali ke posisinya saat instingnya merasakan ada bahaya, kembali meningkatkan kewaspadaan kawanan itu siap menyerang dengan metode yang sama.


Keenan masih terkepung tapi sepertinya kini ia lebih siap menghadapi serangan, dengan cakar yang terbuka matanya melihat sekeliking dengan seksama.


Dari arah belakang seorang vampanences mulai berlari kencang siap meluncurkan serangan tapi.


Arrgghhhh...


Kali ini tangan Keenan lebih cepat sehingga ia mampu mencengkram leher vampanences itu dengan kuat, tentu saja vampanences lain tidak tinggal diam. Ia berlari hendak menyelamatkan kawannya tapi sayang.


Buk


Whhuuusss


Bruk


Tanpa melonggarkan cengkraman di leher itu kakinya bergerak tepat menedang vampanences lain hingga membuatnya terbang dan jatuh dengan menghantam pohon.


Kali ini semua ikut berpartisipasi, meninggalkan metode lingkaran mau kawanan itu menyerang tanpa henti meski mendapat balasan dengan sebuah tendangan atau pukulan.


Kecepatan mereka dalam bergerak dapat Keenan ikuti bahkan melebihi mereka, setiap mereka yang menyerang akan berakhir dengan terpental atau ambruk di tempat itu.


Dalam waktu singkat keadaan berbalik arah, kemenangan bisa menjadi milik Keenan sebab satu persatu vampanences itu ia bunuh dengan cukup brutal.


Serpihan abu berterbangan bercampur dengan debu, menari di setiap langkah Keenan dalam menghindari serangan dan membalasnya.


Angin kecil berhembus, menerbangkan abu milik kawanan vampanences yang menandai berakhirnya pertarungan tersebut. Dengan wajah khawatir Hans dan Elf masih menatap Keenan yang bersimbah darah bercampur abu dan debu milik lawan.


Mereka terdiam, menunggu apa yang selanjutnya akan di lakukan Keenan sebab sosok itu adalah sosok vampanences. Namun setelah sepuluh menit berlalu dan Keenan masih pada posisinya tanpa melakukan apa pun Elf pun memutuskan untuk turun.


"Elf!" panggil Hans dengan suara tercekat karena cemas.


"Kau memenangkan pertarungannya" ujar Elf.


Keenan hanya menatap tanpa menjawab, matanya bergerak melihat Elf dari atas hingga bawah seolah mereka baru pertama kali bertemu.


"Kau tidak mengenaliku?" tanya Elf.


Perlahan Keenan berjalan mendekati Elf, membuat Hans yang masih berada di atas pohon tegang. Saat mereka cukup dekat Keenan mengendus layaknya seekor anjing, penciuman yang tajam itu seolah memberitahunya siapa Elf.


"Yang mulia..." ujar Keenan pelan.


Buk

__ADS_1


Arrgghhh


Bruk


"Elf..." panggil Hans melihat pukulan yang di lancarkan Elf membuat Keenan jatuh dan pinsan.


"Bisa bantu aku membawanya ke rumah?" teriak Elf.


"Ah,oh ya.." jawab Hans kikuk.


* * *


"Kau mengingkari janji mu" ujar Hans dingin.


Entah Keenan mendengarnya atau tidak sebab ia baru saja membuka mata, itu pun tak segera bangun seban rasa sakit di sekujur tubuhnya membatasi gerak.


"Uhhh... aku...dimana?" tanya Keenan sambil memegang kepalanya yang terasa pening.


"Rumah ku" jawab Elf sambil berjalan mendekatinya dan duduk tepat di sampingnya.


Hans bergeser agar Elf dapat duduk dengan luluasa seban ia membawa sebaskom air hangat dan handuk untuk melap noda darah di tubuh Keenan sekaligus memeriksa lukanya yang memang benar-benar telah hilang.


"Oh iya aku memenangkan pertarungan itu" ujarnya yang baru ingat.


"Dengan cara curang" ralat Elf.


"Kau menggunakan ramuan itu untuk menambah kekuatan mu" lanjutnya ketus.


"Maafkan aku, kau tahu dalam pertarungan itu tak ada kata curang. Apa pun bisa aku lakukan demi sebuah kemenangan" ujar Keenan enteng.


"Berani sekali kau melanggar janji yang telah kita tetapi" hardik Hans emosi.


Keenan hanya membalas dengan tatapan tanpa rasa bersalah, senyum tipis di wajahnya begitu menyebalkan hingga membuat Hans ingin sekali memukulnya.


"Baiklah kau menang, tapi karena kau melanggar janji kau tidak berhak menemui Sang Dewi dan harus tetap menjaga perdamain antara kaum penyihir dan vampire" ujar Elf.


"Bagaimana jika aku melanggarnya?" tantang Keenan.


Mata indah itu memberikan tatapan tajam yang dingin, membuat Keenan merasa tenggelam dalam lautan biru yang membuatnya sulit bernafas.


"Kau tidak akan melanggarnya" ujar Elf.


"Sekarang kembalilah ke istana mu, kau tidak memiliki urusan apa pun lagi di sini" lanjutnya sambil bangkit.


Sejenak Keenan hanya terdiam sambil memandangi Elf, tapi kemudian ia menurut dan segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Pulanglah dan pantau keadaan di luar, jika Keenan berani berbuat sesuatu kabari aku melalui sebuah surat. Tiup peluit ini maka seekor merpati akan datang menghampirimu, titipkan surat mu padanya" jelasnya.


Hans menerima peluit itu di tangan terbukanya, sejenak memandang wajah gadis yang selama ini ia rindukan dan kembali akan di rindukan lagi.


"Tunjukkan tangan mu" ujar Hans pelan.


Dengan bingung Elf memperlihatkan tangannya, Hans menarik tangan kanan Elf dan menaruh sesuatu di telapak tangannya.


"Kita terlalu sibuk mengurus Keenan hingga tak ada waktu untuk mengobrol, sebenarnya aku masih ingin di sino bersama mu" ujarnya.


Hans melepaskan pegangannya, membiarkan Elf melihat sebuah bungkusan permen dengan berbagai macam rasa di telapak tangannya.


"Mungkin belum saatnya, tapi aku yakin kita pasti akan bertemu lagi dan menikmati secangkir teh di temani biskuit bersama. Seperti yang selalu kau ceritakan kepadaku" jawab Elf sambil tersenyum.


* * *


Sapuan angin itu terlalu kuat hingga membuat rambutnya melayang tak beraturan, beberapa helai menempel pada wajahnya tapi tak jadi masalah karena ia menutup matanya.


Hanya saja saat sebuah tangan menggenggam tangannya seketika matanya terbuka karena terkejut, wajah dingin yang sulit di mengerti mengembangkan senyum pahit.


Dalam udara ia memutar tubuh sambil mencoba merangkulnya hingga mereka bertukar posisi, penuh tanda tanya ia bergumam yang tak bisa di dengar oleh siapa pun.


Anehnya ia bisa mendengar sebuah kalimat yang mengucapkan sesuatu, dan perasann aneh dalam pelukan itu yang membuatnya merasa aman.


"Maafkan aku Kyra, yang telah menyeretmu dalam situasi ini"


Tiba-tiba suara bising bercampur dengan sirine dan pecahnya kaca membuat kepalanya terasa berputar, satu-satunya yang bisa ia lihat hanya Chad dengan tubuh penuh luka dan bersimbah darah.


Haa....hhhhhhhh hhhhhhhh hhhhhh


"Blue...kau sudah sadar" panggil Violet yang dudum tepat di sampingnya.


Dengan nafas yang masih tak beraturan ia hanya bisa menggengam selimut dengan keras, mencoba lepas dari mimpi buruk yang berawal dari kenyataan.


Perlahan ia melihat sekeliking dan sadar bahwa ia berada di rumah sakit, sebuah selang infus menempel di tangannya dan beberapa anggota tubuh yang di perban.


"Ryu! cepat panggil dokter! Blue sudah sadarkan diri" teriaknya melihat Ryu yang baru saja masuk ke dalam ruangan.


"Blue...syukurlah...a-aku akan memanggil dokter" ujar Ryu hampir menangis.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian dokter pun datang, di temani seorang perawat ia mulai memeriksa tubuh Kyra. Dengan gusar Violet menanyakan keadaan putriya, Kyra memang terluka tapi tapi tak ada yang fatal oleh sebab itu mereka tak perlu khawatir.


"Syukurlah...Blue..." ucap Ryu sambil mengelus punggung tangan putrinya.


Tapi Kyra mengambil tangannya, sambil membuang muka ia berkata dengan pelan.


"Biarkan aku sendiri"


"Blue..." panggil Violet lembut.


"Tolong" ujarnya singkat.


Melihat hal itu dokter segera memberi isyarat untuk mengajak mereka keluar, tentu Ryu tidak mau tapi keberadaannya yang tak di inginkan membuat hatinya hancur dan mengalah.


"Suster!"


"Ya?"


"Bisakah suster tetap di sini?" tanyanya pelan.


Perawat itu menatap Violet dan Ryu secara bergantian, tentu saja sebagai orang tua mereka ingin kehadiran merekalah yang di butuhkan Kyra. Tapi apa boleh buat, Violet mengangguk sebagai tanda untuk mengikuti keinginan Kyra.


"Suster, apa kau tahu pria yang jatuh bersama ku?" tanya Kyra setelah mereka hanya tinggal berdua.


"Oh pemuda itu, ya. Kalian di bawa kemari malam itu"


"Bagaimana keadaannya?"


"Itu...dia mengalami luka yang sangat parah, tulang punggungnya patah serta terdapat luka sobek di san sini. Dia juga kehilangan banyak darah, meski begitu ia bisa melewati masa krisis dan berhasil selamat"


"Begitu ya, syukurlah..." ucap Kyra lega.


"Saat ini dia masih koma tapi...."


"Tapi kenapa?" tanya Kyra penasaran.


"Meski berhasil di selamatkan bukan berarti hidupnya akan kembali normal, aku dengar dia akan mengalami kelumpuhan di bagian kaki. Harusnya dia tidak boleh di pindahkan tapi walinya bersikeras membawanya pulang dengan alasan mengobatinya di luar negri" jelas perawat itu.


"Itu artinya...dia sudah tidak ada di rumah sakit ini lagi?"


"Satu hari telah berlalu semenjak kecelakaan itu, dia di bawa pulang kemarin sore"


"Begitu ya, terimakasih suster" ujar Kyra pelan.


"Jika tidak ada pertanyaan lain aku permisi dulu, masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan" ucap perawat itu.


Kyra mengangguk dan membiarkan perawat itu pergi, meski dia sudah di suruh untuk istirahat tapi rasa bersalah bergentayangan di atas kepalanya. Membuat mimpi buruk setiap malam menjadi momok menakutkan hingga sedikit pun tak ada keberanian baginya untuk menutup mata.


Berkali-kali Violet,Ryu dan Jack meminta maaf tapi sedikit pun tak ia indahkan. Penyesalan yang tak berguna itu menjadi tembok besar nan kokoh yang menjadi pembatas diantara mereka, Jessa dan Amelia terkadang datang sebagai bala bantuan untuk mengajaknya bicara dan makan bersama tapi tetap tak di pedulikan.


"Apa Hans belum pulang dari tugasnya? jika ada Hans setidaknya Blue pasti mau bicara walau satu kata" tanya Ryu di tengah keputusasaannya sebab sudaj berhari-hari tapi Kyra masih tak mau bertemu mereka.


"Belum, ayah pikir misinya kali ini cukup berat" jawab Jack yang tahu pasti tugas Hans.


Dengan wajah murung mereka berkumpul di luar ruangan Kyra, menurut dokter memang luka fisik Kyra bisa sembuh dengan cepat tapi tidak dengan psikisnya.


Ada luka yang membuatnya memilih untuk menutup diri dari dunia luar, hal ini tentu berbahaya untuk kesehatan jiwanya.


"Kakek!" panggil Hans tiba-tiba yang berlari menghampiri mereka.


"Hans! kapan kau pulang?" tanya Jack kaget sebab baru saja mereka membicarakannya.


"Baru...saja, aku dengar..dari ibu Kyra...masuk rumah sakit" jawab Hans sambil mengatur nafasnya.


"Bagaiman dengan misimu?"


"Akan..kuceritakan nanti" jawabnya.


"Syukurlah kau sudah pulang, Hans...tolong lihat keadaan Blue..tolong buat dia makan sudah berhari-hari dia tidak mau makan" sela Ryu bahagia sekaligus cemas.


Masih mengatur nafas Hans menganggukkan kepalanya, setelah siap ia pun memutar kenop dan masuk ke dalam. Melihat Kyra yang duduk bersandar sambil memandang kearah jendela ia tahu Kyra sedang merajuk.


"Blue..." panggilnya.


Suara yang cukup lama tak ia dengar, suara seorang sepupu yang sudah menjadi kakak baginya menimbulkan kerinduan yang membuatnya membalikkan wajah.


"Hans.." balasnya.


Hans tersenyum, berjalan mendekati Kyra dan duduk di sampingnya.


"Maaf, aku terlalu sibuk hingga tak ada waktu untuk menemanimu" ujarnya menyesal.


"Hans...jika aku melakukan kesalahan apa kau masih mau mengakui ku sebagai saudara mu?" tanya Kyra tiba-tiba.


"A-apa maksuud mu? apa pun yang terjadi kau adalah adik ku, jika ada orang yang harus di salahkan maka itu adalah aku. Sebab aku adalah kakak yang bodoh, aku terlalu lemah hingga tak bisa menjagamu dengan baik" jawab Hans dengan suara getir.

__ADS_1


"Tidak Hans...kali ini salah ku, aku...telah membunuhnya...aku yang menyebabkan kecelakaan ini..." ujar Kyra dengan derai air mata yang selama ini tak bisa keluar sebagaimana mestinya.


__ADS_2