
Kediaman Joyi tetap tenang seperti biasa saat sarapan, meski sebenarnya Joyi sendiri masih cemas akan apa yang terjadi belum lama ini.
"Selamat pagi semuanya, Nyonya, tuan dan nona" sapa manager San.
"Pagi manager San, kau sudah sarapan?" tanya Alisya.
"Terimakasih atas tawarannya, tapi saya biasa sarapan di kantor"
"Apa bedanya sarapan di kantor dan di sini? ayolah duduk" ajaknya.
Manager San hanya tersenyum, di liriknya Chad yang tak memalingkan wajah dari piringnya.
"Kau tidak perlu sungkan, kau sudah cukup lama bekerja di sini dan sudah ku anggap sebagai bagian dari keluarga" ujar Joyi.
"Eh.. terimakasih nyonya."
Dia pun duduk tepat di sebelah Alisya, seorang pelayan dengan segera melayaninya dengan menuangkan air dan mengambilkan sarapannya.
"Hei manager San, aku sudah cukup lama tinggal di sini dan sudah sering bertemu dengan mu tapi kita tidak pernah bicara satu sama lain. Jika ada waktu bagaimana kalau kita pergi minum kopi?" ujar Alisya.
"Baik" jawabnya sambil tersenyum yang di balas dengan senyuman lagi dari Alisya.
"Sepertinya kau sedang bahagia sayang" ujar Joyi memperhatikan.
"Ah apa aku sudah memberitahu nenek kalau lukisan ku di pajang di pameran?"
"Benarkah?" tanya Joyi.
"Astaga.... bagaimana bisa aku lupa memberi kabar penting ini? hehehe" ujarnya menertawakan diri sendiri.
"Itu bagus sayang, sepertinya kau punya bakat jadi pelukis"
"Selamat nona"
"Terimakasih manager San" jawab Alisya senang, tapi senyumnya hilang sebab Chad nampak tak perduli.
"Hei, ini pencapaian pertama ku. Setidaknya beri aku selamat meski tanpa senyuman" ujarnya.
"Itu hanya acara kecil" ujar Chad.
"Setidaknya kau harus tetap memberi selamat"
"Baiklah, selamat."
Alisya tersenyum meski Chad menyatakannya dengan wajah datar, sedikit demi sedikit ia sudah bisa memahami Chad dan senang akan perhatian Chad meski hanya sedikit.
* * *
Di tengah keputusasaan yang bercampur dengan rasa khawatir Jack berlari ke hutan, tangannya mulai bergetar karena dingin dan takut. Kerongkongannya hampir kering karena terus berteriak memanggil-manggil, tapi masih saja tidak ada tanda-tanda keberadaan Jessa.
"Jack... "
Sayup di dengarnya sebuah suara memanggilnya, Jack berhenti melangkah dan mencoba menajamkan pendengaran.
Srak
Jack menoleh, menatap sepasang kaki yang menginjak ranting. Perlahan ia menatap piyama putih yang kotor dan wajah keriput yang berseri, ada senyum di sana yang membuatnya meneteskan air mata.
"Jack..... " panggilnya.
"O-ooh.... Jessa... " balasnya lirih.
Ia kembali menatap dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, memastikan kondisi istrinya baik-baik saja.
"Kau... bisa berjalan?" tanyanya.
"Tak hanya itu... aku bisa bicara dan berlari" jawabnya sambil berjalan mendekati Jack.
"Oh... Jessa... " panggilnya segera memeluk.
Puas menangis dalam dekapan istrinya kini mereka kembali ke rumah, Shigima dan Amelia yang melihat kondisi Jessa di buat takjub sekaligus senang. Satu pertanyaan dari mereka hanyalah bagaimana bisa? namun Jessa juga tidak tahu mengapa, ia hanya bangun di pagi hari seperti biasa dan tiba-tiba tubuhnya menggeliat.
Ia pun kaget dan segera mencoba menggerakkan tubuhnya, tak cukup sampai di sana ia mencoba berlari. Tanpa terasa ia sudah berlari ke dalam hutan, tak hanya sampai di sana ia juga bisa bicara dengan normal.
Shigima dan Amelia hanya bisa menyimpulkan bahwa ini keajaiban, padahal Jack jelas tahu semua berkat pil yang di berikan Tianna. Tapi karena jelas Tianna adalah vampire maka Jack memilih untuk diam, yang terpenting adalah kesembuhan Jessa dan kebahagiaan keluarganya.
"Jack... sudah lama sekali kita tidak makan bersama, bisakah kau panggil semua anak-anak kita? aku ingin sekali makan bersama dan mengobrol kembali dengan mereka" ujar Jessa pada saat makan malam.
"Benar juga, kita sudah lama tidak berkumpul. bagaimana kalau sekalian kita buat pesta sebagai bentuk syukur atas kesembuhan ibu" saran Amelia.
"Ide bagus, aku akan suruh Ryu untuk mengajak keluarganya pulang" ujar Jack.
Semua mengangguk tanda setuju, makan malam itu mereka habiskan dengan penuh kebahagiaan hingga tiba waktunya tidur.
"Ah... rasanya bagaikan mimpi, aku tidak menyangka dapat bicara dan berjalan normal lagi" ucap Jessa saat ia sudah berbaring di tempat tidur.
__ADS_1
"Minumlah ini" kata Jack menyerahkan pil yang di berikan Tianna, ia ingat bahwa pil itu harus di berikan satu hari satu kali.
"Apa ini?"
"Obat dari dokter, kau harus meminumnya meski tubuhmu sudah normal"
"Aish..... Jack, aku sudah sembuh"
"Ini hanya vitamin biasa, kau harus tetap minum agar tubuh ku semakin kuat. Minum saja agar aku tidak khawatir, apakah susah mengerjakan permintaan kecil ku ini?"
"Baiklah... kau selalu saja penuh kekhawatiran" jawabnya.
Jessa meminum pil itu tanpa sedikit pun rasa curiga, tanpa di duga tak berapa lama kemudian ia sudah tertidur. Jack bergegas keluar rumah dan pergi ke hutan, ia tahu pasti Tianna ada di sana.
Tepat di mana pertama kali mereka bertemu Tianna sudah ada di sana seperti yang ia duga, bersandar di bawah pohon sambil memainkan kukunya yang di cat merah.
"Sepertinya kau sudah percaya padaku" ujar Tianna.
"Aku.... berterimakasih atas pertolongan mu"
"Tidak masalah, begitulah tugasku. Untuk selanjutnya berikan pil itu secara rutin setiap hari, jika tidak dia akan kembali lumpuh" ucap Tianna sambil menyerahkan satu kotak berisi pil.
"Aku mengerti, ah.. nona.... "
Jack hanya menundukkan kepalanya sekali tapi Tianna sudah pergi padahal Jack ingin bertanya lebih banyak mengenai identitasnya dan tujuannya melakukan semua ini.
Esoknya Hans pulang setelah di kabari tentang kesembuhan Jessa, ia nampak senang dan terus mengajak Jessa mengobrol. Sedang Ryu mengatakan akan datang nanti sore sebab harus menjemput istri dan anaknya dulu di bandara.
Hari itu sejak pagi mereka sudah sangat sibuk, banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan untuk pesta nanti malam. Rencananya mereka juga akan mengundang para warga dan tinggal tak jauh dari sana, karena itu semuanya harus beres hari itu juga.
Beruntung mereka adalah keluarga penyihir, Shigima dan Jack tidak kesulitan dalam memindahkan barang berat seperti kursi dan meja. Satu-satunya yang perlu mereka urus hanyalah makanan saja.
"Kakek... " panggil seseorang di tengah kesibukan.
Jack berhenti bekerja dan menatap seorang gadis dengan rambut merahnya yang berkibar di tiup anging, kulit putih dan hidung mancung mirip Ryu namun dengan mata biru bak samudra.
"Blue!" panggil Jack senang.
Segera ia menghampiri gadis itu dan memeluknya dengan sangat erat, si gadis hanya tertawa karena pelukan itu.
"Apa kabar ayah?" sapa seorang wanita yang sama-sama berambut merah namun lebih pendek sebahu.
"Violet... kabar baik nak, bagaimana dengan mu?" jawabnya.
"Kabarku baik-baik saja, terimakasih ayah sudah mengundang kami datang"
Mereka pun tersenyum dan masuk ke dalam rumah, Jessa dan yang lainnya terlihat bahagia saat mengetahui mereka telah tiba terlebih lagi Hans.
"Hai Blue! ah... kau semakin cantik saja" ujar Hans.
"Terimakasih kak Hans, kau pun terlihat lebih gagah. Jadi.... apa aku sudah punya calon kakak ipar?" godanya.
Hahahaha
"Sepertinya aku yang akan lebih dulu mendapat adik ipar"
Aww.....
Erangnya saat Blue mencubit pinggangnya, tapi kemudian mereka tertawa bersama dan menikmati pesta yang berlangsung kemudian. Meski pesta di adakan untuk Jessa kenyataannya yang menjadi pusat perhatian adalah Blue, tentu saja kecantikan dan warna rambutnya yang cukup mencolok jadi alasannya.
Blue mewarisi kecantikan dari Ryu yang tampan sedang warna rambut dan mata dari ibunya, saat ini dia sudah berusia enam belas tahun tentu tubuhnya pun semakin terlihat ideal.
Orang-orang terlebih anak muda saling bertanya tentang identitasnya, dengan bangga Jack mengatakan namanya Kyra namun di rumah sering di panggil Blue karena matanya yang biru.
* * *
Hanya hari ini saja ia tidak bertemu dengan Agler karena kesibukan masing-masing, Agler punya tugas yang harus di kerjakan dari dosennya sedang ia sendiri sibuk mengikuti les yang berubah jadwalnya.
Saat ia melihat jam tangan waktu menunjukkan pukul 18.30 yang artinya masih cukup sore untuk ia pergi minum, biasanya ia selalu pergi dengan Agler tapi kali ini meski sendiri ia tak begitu masalah.
"Alisya?" tanya Tianna menghampiri.
"Oh nona Tianna, sungguh kebetulan sekali"
"Benar, kau... hanya sendiri?" tanya Tianna sebab ia tak melihat adanya Agler.
"Ya, saya sendiri"
"Kalau begitu boleh aku mentraktir mu minum? rasanya akan menyenangkan jika ada teman minum"
"Sungguh suatu kehormatan bagi saya" jawab Alisya.
Tianna pun duduk tepat di hadapan Alisya dan mulai berbincang-bincang, mereka mulai membahas kehidupan Alisya di rumah yang kurang ramai dan itu menjadi topik yang lebih menarik bagi Tianna.
"Ngomong-ngomong kau bisa memanggilku dengan nama ku saja, itu lebih baik dan membuat ku nyaman" ujar Tianna.
__ADS_1
"Saya terlalu segan untuk itu"
"Apa yang kau bicarakan? jika karena segan maka harusnya aku yang segan karena bicara dengan pelukis hebat"
Ahahaha
"Anda terlalu memuji" ujar Alisya yang tak bisa menahan malu.
Tanpa terasa satu botol telah mereka habiskan, Alisya mulai kehilangan kendali pada pikirannya sehingga Tianna dengan mudah dapat mempengaruhinya.
"Apa kau tahu Alisya?"
"Hmm?"
"Di bumi yang sedang kita pijak ini manusia bukanlah satu-satunya yang berburu binatang untuk makan, ada sesosok makhluk malam yang juga mengincar darah binatang. Bahkan manusia termasuk ke dalam daftar mangsanya, dia adalah makhluk yang pandai berkamuflase sehingga tidak ada yang mencurigainya"
"Benarkah? Hewan apa namanya?"
"Dia bukan hewan, melainkan sesuatu yang lebih dari itu. Dia berwujud manusia tapi dengan kemampuan yang luar biasa, jika tubuhnya terluka maka luka itu dapat hilang hanya dalam satu kedipan mata. Dia bisa melompat dari gedung yang tinggi tanpa terluka sedikit pun, dia juga mampu bergerak dengan cepat dan tidak ada yang mampu menandinginya"
"Hebat... apakah makhluk seperti itu benar-benar ada?"
"Tentu saja, bahkan dia hidup diantara manusia. Karena itu kau harus hati-hati, sebab makanan utamanya adalah darah manusia" ujar Tianna pelan.
Kata-kata yang mengalun itu dengan mudah masuk ke dalam pikirannya, membuka kotak yang telah terkunci rapat dengan paksa. Mengeluarkan kenangan yang seharusnya tidak pernah muncul dan mengakibatkan trauma, tapi malam itu Alisya kembali mengingatnya.
Saat dimana Agler menyelamatkan nyawanya dari tabrakan mobil, lalu darah-darah menodai pasir di pantai. Alisya menatap sesosok pria yang ia kenal baik tapi begitu menyeramkan, sepasang mata tajam menatapnya hingga membuat tubuhnya merinding.
Anehnya ia merasa dia akan selamat, tapi rasa takut akan cakar yang berlumuran darah itu membuatnya meneteskan air mata.
'Alisya... aku monster'
'Aku monster... '
'Monster'
Aaaaaaaahhh........
Hhhhhhhhh Hhhhhhhhh Hhhhhhhhh
Keringat dingin bercucuran dari tubuhnya, dengan nafas yang tersenggal-senggal sebisa mungkin ia mencoba tenang hingga beberapa menit kemudian ia mulai bisa bernafas dengan normal.
Di minumnya segelas air putih agar lebih tenang lagi, mencoba menghilangkan bayangan mimpi buruk yang baru saja ia alami.
"Kenapa aku bisa mimpi seperti itu? astaga..." gumamnya.
Alisya ingin kembali tidur tapi terlalu takut akan kembali bermimpi buruk, pada akhirnya ia memutuskan untuk membuat susu hangat. Tapi saat ia keluar kamar di lihatnya Chad baru keluar dari ruang baca.
"Kau belum tidur?" tanyanya.
"Aku baru mau tidur, apa yang kau lakukan?"
"Aku bermimpi buruk tadi, jadi sekarang aku mau membuat susi hangat agar bisa kembali tidur"
"Oh... "
"Um... Chad" panggilnya.
"Maukah... kau menemaniku sebentar?" tanyanya.
Chad sedikit merenung, tapi melihat wajah Alisya yang masih cemas akhirnya ia mengangguk. Alisya pun membuat dua gelas susu hangat yang mereka nikmati di ruang makan.
"Ah..... rasanya sangat enak" ujarnya setelah menyeruput.
"Mimpi itu hanya bunga tidur, kau tidak perlu takut meski begitu menyeramkan" ujar Chad.
"Aku tahu, tapi rasanya seperti nyata solah aku benar-benar mengalaminya"
"Begitulah mimpi"
"Ini bukan mimpi biasa, aku melihat seseorang dengan tangan yang berlumuran darah. Tepat di tengah kami ada sesosok mayat yang menjadi korbannya, matanya sangat tajam menatapku dan yang lebih menakutkan lagi dia berkata bahwa dia adalah monster. Aku..... aku berfikir dia adalah makhluk malam penghisap darah manusia" ujar Alisya menceritakan mimpinya.
Chad tahu betul makhluk apa yang di maksud Alisya, ia juga sedikit terkejut karena Alisya bisa memimpikan hal itu.
"Mengapa kau berfikir itu makhluk penghisap darah?"
"Aku mendengar bisikan-bisikan di telingaku, dia mengatakan bagaimana ciri-ciri makhluk itu dan memperingatkan ku agar tetap waspada sebab makhluk itu bisa saja berada begitu dekat denganku" jawabnya.
"Dengar Alisya, kau tidak perlu khawatir akan hal itu. Mimpi hanyalah mimpi jadi jangan kau percayai begitu saja, mungkin kau terlalu lelah sehingga bermimpi buruk seperti itu"
"Mungkin kau benar"
"Sudahlah, habiskan minuman mu dan kembali tidur"
"Baik" jawabnya membiarkan Chad pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Meski masih takut tapi Alisya mencoba melupakan mimpi itu sesuai perintah Chad, ia juga tidak mau terus memikirkan hal yang tidak penting karena takut akan mengganggu aktivitasnya jika terkena penyakit cemas.