Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 67 Bertarung Dengan Leluhur


__ADS_3

Langkah Elf pasti memimpin jalan, sementara Hans berjalan tepat di sampingnya Keenan mendapat posisi paling belakang. Hari itu mereka sepakat untuk pergi ke sarang vampanences sesuai kesepakatan di awal, setelah tubuh Elf pulih barulah malam itu mereka pergi.


Tapi selama perjalanan itu Keenan terpaku pada Elf, meneliti tubuh kecil Elf yang tinggi kurus. Ia tak menyangka gadis cantik itu memiliki kekuatan yang luar biasa hingga mampu mengimbangi kecepatannya bahkan menancapkan sebilah belati padanya, selama perjalanan kesadaran itu membuatnya penasaran jika mereka beradu sekali lagi siapakah yang akan keluar sebagai pemenang.


Srek


Elf berhenti tiba-tiba yang cukup membuat Hans dan Keenan heran, tangannya perlahan di angkat dan menunjuk ke depan.


"Kau hanya perlu berjalan sebentar dan akan menemukan sarangnya" ujarnya.


"Begitu rupanya, baiklah" jawab Keenan melangkah maju.


"Mereka tidak akan menyerangmu meski kau torehkan luka untuk mengeluarkan aroma menggoda, mereka tidak memiliki sifat kanibalisme jadi buka persediaan mu dan jadikan itu sebagai umpan" ucap Elf lagi.


"Aku mengerti" jawab Keenan.


Mencoba menelan ludah dengan susah payah Hans menatap kepergian Keenan sampai hilang di balik pepohonan, ia tak bisa membayangkan perang seperti apa yang akan terjadi.


"Pakai ini untuk menyembunyikan aroma mu, kita akan menonton dari dekat" ujar Elf menyodorkan sebuah botol kecil berisi minyak.


Hans menurut dan mengusapkan minyak itu ke bagian lehernya, setelah persiapan selesai mereka berjalan ke sisi yang lain dan naik ke salah satu pohon besar.


Dari atas dahanya yang kokoh mereka duduk dan menatap ke bawah dimana Keenan berdiri tepat di hadapan sebuah mulut gua.


"Elf, boleh aku tanya sesuatu?" ujar Hans pelan.


"Katakan"


"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Hans jelas merujuk pada tindakan Elf yang menyarankan pertarungan dengan vampanences.


"Jika Keenan kalah dan mati itu bagus karena kau punya kesempatan lagi untuk menghidupkan Lord, jika kawanan vampanences itu yang mati maka aku di untungkan karena berkurangnya beban pekerjaan ku" jelas Elf.


Hans terkesiap, ia tak mengira Elf dapat memikirkan rencana seperti ini. Rupanya Elf memang pintar sehingga ia bisa satu kali merengkuh dayung dua pulau terlampaui.


Perhatian Hans kini berpindah lagi pada Keenan yang mulao menheluarkan sebuah botol beriri cairan merah, perlahan di bukanya tutup botol itu dan membiarkan aromanya di bawa angin masuk ke dalam gua.


Selama beberapa menit mereka hanya menunggu tanpa melepaskan kewaspadaan sampai akhrinya sebuah suara langkah kaki yang berdentum menggetarkan permukaan tanah.


Dari sana Keenan tahu lawan yang keluar memiliki tubuh besar, mungkin bisa lima kali lebih besar dari beratnya.


Dddhhhhsssss....


Hembusan nafas itu keluar melewati taring yang mencuat keluar, serta menunjukkan wujudnya secara keseluruhan kepada Keenan. Sesuai perkiraannya memang tubuh vampanences itu tinggi besar dengan otot tangan yang bulat, mata ungunya terpaku pada botol yang di pegang Keenan.


"Akhirnya kau keluar juga" ujar Keenan.


Tapi makhluk itu tak menjawab, sesuai penjelasan Elf vampanences memang tidak bisa bicara melainkan berkomunikasi lewat telepati. Itu adalah cara kuno yang menandakan identitas mereka sebagai makhluk paling tua di bumi, ciri-ciri pada tubuhnya pun Keenan akui mirip dengan vampire genetik yang di buat Alabama.


Srek Kreeekk..


Keenan menutup botol itu tapi kemudian ia mengacungkannya ke atas, menunjukkannya pada bulan yang bersinar terang.


"Jika kau menginginkannya maka datanglah padaku" teriaknya.


Ggggrrrrrrrr.....


Deraman itu Keenan anggap sebagai jawaban ya, ia mulai memasang kuda-kuda siap untuk sebuah penyerangan. Tapi vampanences itu tidak bergerak sedikit pun yang membuat Keenan heran, berbeda dengan Elf yang justru meningkatkan kewaspadaannya.


"Mereka datang" bisik Elf.


Awalnya Hans tidak mengerti, tapi sebuah gerakan di balik pepohonan di belakang Keenan membuatnya mengerti. Kini ia pun ingat bahwa makhluk itu berburu secara berkelompok, seperti yang pernah terjadi padanya setiap vampanences akan menyerang meski buruan mereka tidak memiliki kekuatan.


Srek Srek Srek


Gemirisik daun yang terasa janggal itu kini membuat Keenan waspada, dengan mata tajamnya ia menatap kaget para vampanences yang muncul dari balik pepohonan dan rumput.


"Cih, ternyata kau memanggil bala bantuan" ujar Keenan.


Ia memasukkan kembali botol itu ke balik pakiannya agar kedua cakarnya bebas, mulai memasang kuda-kuda dengan senyum penuh gairah ia telah siap.


Drap Drap Drap


Vampanences yang terlihat lebih muda berlari dengan membungkukkan sedikit badan, yang ia incar adalah tubuh bagian perut dimana mudah terkoyak hanya dengan satu cakaran saja. Tapi Keenan memiliki kecepatan yang luar biasa, dengan mudah ia bisa menghindarinya.


Vampanences yang tentu tak tinggal diam, satu serangan awal itu menandai perburuan mereka yang telah di mulai. Meski mereka masih satu spesies tapi dalam hal makanan atau pun wilayah setiap kelompok akan mempertahankannya.


Satu dua serangan tidaklah berarti hingga tiba si tinggi besar mulai menggerakkan kakinya, dengan cakar yang teracung di langit matanya telah mengunci target.


Boom....

__ADS_1


"Cih"


Beruntung Keenan menghindar tepat waktu, rupanya tubuh tinggi besar vampanences itu tidak membatasi gerakannya sehingga mampu berlari dengan cepat.


Bekas pukulan dari vampanences ity mampu membuyarkan tanah menjadi serpihan debu yang kasar, hal itu membuktikan bahwa lawannya kali ini memiliki kekuatan yang setara dengannya.


Pertarungan berlanjut dengan serangan yang terus di lancarkan kawanan vampanences sementara Keenan masih terus menghindar, hal ini mengundang tanya Hans sebab ia tahu kekuatan Keenan.


"Kenapa dia tidak membalas serangan itu?"


"Lihatlah ke arah mana kepalanya bergerak" ujar Elf.


Hans menurut dan memperhatikan dengan seksama.


"Bawah" jawabnya.


"Sejak tadi dia mengukur kemapuan lawan dengan teliti, karena lawannya ada banyak tentu dia tidak boleh menyianyiakan energinya sebab semakin lama ia bertarung maka tubuhnya akan semakin lemah" jelas Elf.


"Be-begitu rupanya" gumam Hans yang sadar bahwa Keenan bukan hanya kuat tapi juga pintar.


Memang itulah yang sedang Keenan lakukan untuk menikmati pertarungannya, saat ia pulang ke istana dan memamerkan kehebatannya dalam memenangkan pertarungan dengan kaum leluhur sudah pasti itu akan menjadi bahan obrolan yang hits.


Di seluruh pelosok negri namanya akan di anggungkan, seperti keinginannya selama ini.


Buk Buk Buk


Akhirnya setelah beberapa menit menghindari serangan kali ini Keenan membalasnya dengan sebuah tendangan untuk mereka, cukup keras tapi tak sampai mengakibatkan luka berat.


Dengan mudahnya mereka bangkit lagi dan melancarkan serangan lain, kecepatan mereka pun meningkat seiring berjalannya waktu setelah Keenan mulai membalas.


Whuuuuusssss....


Angin berhembus menyertai langkah Keenan yang mulai mengunci target pada salah satu vampanences yang tak terlindungi.


Chaaaassss...


Aarrrrggghhhh....


Satu teriakan yang mengartikan satu poin untuk Keenan.


Bruk...


Sayangnya vampanences yang tersisa meningkatkan kewaspadaan mereka sehingga Keenan tidak mudah menemukan celah, dengan bergerak secara berkelompok mereka saling melindungi satu sama lain tanpa melupakan tugas untuk menyerang.


Untuk beberapa menit ia hanya mencakar angin dan hampir terluka karena keteledorannya yang semapat sombong di awal, tak mau berakhir konyol ia mulai membaca situasi kembali.


"Dia....apa kata yang pantas untuk memuji keunikan itu?" gumam Elf yang terpaku pada tarian perang Keenan yang indah.


"Apa?" tanya Hans.


"Vampanences menghabiskan hidup mereka dalam berburu secara berkelompok, itu sudah mereka lakukan sejak dulu maka pengalaman bertarung mereka tidak perlu di ragukan. Tapi Keenan dengan cakar kakunya mampu mempertahankan diri dengan baik, seolah dia tercipta untuk bertahan dan menyerang."


Sorot mata itu tak pernah Hans lihat sebelumnya, bahkan kepada dia manusia pertama yang Elf lihat. Apa yang di miliki Keenan rupanya sangat menawan hingga membuat kekaguman Elf menatapnya begitu lama, tatapan yang mengakibatkan rasa sakit di ulu hatinya karena sebuah perasaan tersaingi yang konyol.


Sementara itu Keenan kini telah menemukan cara lain untuk menang ia mulai dengan si tinggi besar yang memanggil kawanannya, jika menghabisi yang paling kuat lebih dulu maka sisanya hanyalah nyamuk.


Persentase keberhasilannya mungkin hanya 5% tapi itu patut di coba, sambil bertahan dan menghindar dari serangan yang lain sebisa mungkin ia mencari celah untuk menyerang.


Whuuuuusssss.... Whhuuuuuussssss...


Ia berlari ke sana kemari menciptakan angin di tengah kerumunan vampanences, dengan konsentrasi penuh matanya hanya tertuju pada tubuh besar itu hingga ia menemukan leher yang tanpa perlindungan.


"Yosh!" teriaknya mengangkat cakar siap untuk menyerang.


Sret...


Buk


Aaahhh....


Bruk....


"A-apa?" gumamnya terkejut.


Dalam waktu satu detik itu kuku tajamnya berhasil mengenai leher vampanences itu tapi di waku yang bersamaan tubuhnya di hantam oleh satu pukulan yang keras hingga membuatnya hatuh ke tanah.


Ggggggrrrrrr....


Geraman tanda peringatan itu harus Keenan waspadai sebab kini kawanan vampanences itu sudah lelah bermain, terlebih saat ia mengetahui bahwa serangannya hanya membuat satu goresan yang tak berarti di leher itu.

__ADS_1


Rupanya kulit yang ia cakar itu cukup tebal sehingga butuh beberapa kali serangan untuk melukainya, konsepnya sama dengan kaum vampire. Setiap vampanences memiliki kekuatan yang berbeda dan tugasnya dalam berburu, ada yang memanggil kawanan hingga si algojo yang bertugas membunuh untuk di hidangkan kepada anggota kawanannya.


Mengambil nafas untuk persiapan penyerangan Keenan mengumpulkan semua energinya pada kedua tangan dan kakinya, menambah kecepatan serta tekanan yang kuat pada tangan untuk mengoyak hanya dalam satu waktu.


Gggggrrrrrrrr...


Geraman lain ia sambut dengan senyum penuh percaya diri, satu vampannences memulai dengan serangan simpel yang mengarah perutnya. Keenan dapat menghindar dengan berlari ke depan meski cakar vampanences lain siap menyambutnya, dalam waktu seeersekian detik Hans pikir Keenan tak kan lolos tapi tanpa di duga ia mengubah posisi dengan menundukkan badan dan tangan sebagai pijakannya.


Satu dorongan kuat dari tangan itu meluncurkannya dua kali lebih cepat, lolos pada serangan kedua ia mengincar si tinggi besar sekali lagi. Kini yang menjadi targetnya adalah bagian perut, mungkin aknn sulit karena bisa saja kulit bagian itu lebih keras dari lehernya tapi Keenan punya sesuatu yang menjadi senjata rahasianya.


Ssyyyuuuttt....


Ggggrrrrroooooaaaaarrrrr...


"I-itu...." ujar Elf melihat sebuah benda tajam yang Keenan lemparkan.


Fufufufufu hahahahahahaha


Tawa yang mengerikan disaat sebuah tubuh tengah bersimbah darah, pada detik-detik berikutnya tubuh tinggi besar itu lenyap menjadi butiran debu yang terbawa angin.


"Aku adalah vampire generasi baru, aku punya akal sekaligus cakar jadi kenapa tidak aku gunakan sebilah belati berlumur bawang putih untuk kemenangan mutlak?!" ujar Keenan di hadapan kawanan vampanences yang tersisa.


Menyisakan senyum tipis khas vampire ia mengacungkan jarinya dan menunjuk para kawanana vampanences.


"Mari kita mulai kembali pestanya" ujarnya.


Gggrrrrooooaaaaaarrr....


Vampanences memang tidak memiliki akal tapi bukan berarti mereka tak bisa berpikir, dengan insting dan naluri mereka bisa merasakan marah dan sedih dalam hati mereka saat salah satu anggota kawanan mati.


Satu vampanences menyerang secara brutal, sangat khas layaknya makhluk primitif. Dengan gejolak amarah yang membuat mata ungunya semakin menyala cakarnya melayang siap mengoyak setiap inci dari tubuh Keenan, tentu Keenan menghindar tapi rupanya ia berlari ke arah yang salah.


Di hadapannya dua vampanences siap menghadang dan melancarkan serangan, merubah posisi seperti tadi ia menundukkan badan.


Gep


Ahhh


Belum sempat ia meluncur kakinya yang bebas di genggam oleh satu tangan kuat vampanences, terlambat untuk menghindar gerakannya telah terkunci sehingga dengan mudah tubuhnya di tarim dengan paksa.


Aaaaa...


Bruk


Tubuhnya yang kurus sangat mudah untuk di angkat kemudian di lempar hingga menabrak pohon, rasa sakit di punggungnya membuatnya butuh waktu untuk pemulihan tapi.


Set


Buk


Bruk


Hhhhhhhh


Seolah tak bisa merasa lelah vampanences itu tak menberinya waktu untuk beristirahat, dengan cepat ia menghampiri Keenan untuk kemudian meluncurkan satu pukulan keras.Beruntung Keenan menghindar tepat waktu sehingga sebagai gantinya pohon tempat ia jatuh ambruk.


"He-hebat, dia mampu merubuhkan pohon besar itu" ujar Hans menatap ngeri.


"Makhluk yang menghisap darah langsung dari korban hingga kering dan makhluk yang minum melalui cangkir tentu saja memiliki kekuatan yang berbeda, satu-satunya yang menguntungkan Keenan hanya akalnya saja" sahut Elf.


Wwhhuuuusssss....


Dengan kening yang berkerut dan seringai yang memperlihatkan sepasang taring kawanan vampanences itu bergerak sangat cepat, mengulurkan cakar mereka untuk membelah dan mengoyak meski hingga saat ini mereka belum berhasil.


Keenan masih terus menghindar hingga tiba pada satu titik dimana semua serangan itu berhenti, ia menatap sekeliling dengan heran dan baru sadar bahwa ia sengaja di arahkan pada titip itu untuk di kepung.


"Gawat! dia tidak akan selamat" ujar Elf khawatir.


"Apa?" tanya Hans.


"Dia masuk ke dalam perangkap, jika di biarkan dia akan mati" jawabnya.


Hans tidak mengerti mengapa hal itu sangat berbahaya, tapi kemudian ia mengerti saat melihat satu vampanences itu berlari dengan kecepatan tinggi untuk menyerang.


Awalnya Keenan bisa menghindar tapi kawanan vampanences itu secara bergantian menyerang Keenan namun tetap mempertahankan posisi mereka, semakin lama lari mereka semakin cepat bahkan cakar mereka terasa semakin tajam hingga pada akhirnya Keenan mendapat luka di bagian tubuh, kaki hingga wajahnya.


Berusaha keluar dari lingkaran itu ia melompat ke atas, tapi vampanences itu mengikuti kemana arah Keenan pergi masih tetap mempertahankan lingkaran mereka sehingga mempersempit ruang gerak mangsa.


Darah mulai menetes ke bumi menandai pertarungan yang pasti akan di menangkan bangsa vampanences, tak dapat melihat celah membuat senyum tipis mengembang di wajah Keenan.

__ADS_1


'Mungkin...ini kutukan ku yang melawan leluhur ku sendiri' batinnya.


__ADS_2