
Keputusan telah diambil, Nyonya akan memenuhi undangan Keenan dengan di temani beberapa prajurit kepercayaan. Berita besar ini tentu sampai pada telinga Hans yang membuatnya datang menemui Nyonya, tanpa mengurasi rasa hormat ia meminta ijin untuk ikut serta dalam iringan menuju istana vampire.
"Apa yang membuatmu ingin pergi?" tanya Nyonya sebab yakin Hans memiliki maksud lain yang tak di ketahui.
"Itu...saya ingin menemui guru Shishio" jawab Hans.
Nyonya terdiam sebentar baru menanyakan maksudnya, rupanya Shishio kini berada di pihak musuh yang membuat Hans ingin jawaban langsung dari Shishio sendiri perihal persekutuannya dengan kaum vampire.
"Hans...Shishio telah memilih jalannya sendiri, aku yakin dia tidak berniat mengkhianati kita" ujar Nyonya merasa kasian pada kebingungan Hans.
"Meski begitu saya ingin tetap pergi, mohon nyonya ijinkan!" ucap Hans tegas.
Sedikitnya ia memang mengerti atas tindakan Shishio yang berpindah haluan, tapi tetap saja ingin meluruskan hatinya yang masih meragu. Selain itu ia juga harus merebut kembali ramuan jiwa yang telah di ambil darinya, di lihat dari sikap Keenan ia ragu perdamaian akan tercipta dari raja baru itu.
Nyonya sendiri tak bisa terus menolak keinginan Hans, pada akhirnya ia menyetujui dengan satu syarat Hans tidak boleh membuat masalah.
* * *
Ini adalah baju ketiga yang ia coba, sebenarnya semua pakaiannya bagus hanya saja Kyra ingin terlihat sempurna sehingga semua pakaian yang ia kenakan terlihat buruk.
"Astaga ini sudah siang" gumamnya kaget saat melihat jam.
Bergegas ia mengenakan pakaian dan mengenakan riasan tipis, meski ia ingin terlihat cantik dan sempurna tapi jika berlebihan pun maka akan terlihat tidak bagus.
"Ibu aku pergi dulu" ujarnya saat berjalan melewati ruang tamu dimana Violet duduk bersantai.
"Hati-hati di jalan sayang..." teriak Violet sebab putrinya telah berjalan keluar rumah.
Kyra memilih menggunakan taksi agar sampai tepat waktu, jantungnya mulai berdegup kencang saat ia hampir sampai. Sebelum turun masih ada waktu beberapa detik hanya untuk memastikan riasannya sudah sempurna.
Mata birunya menatap sekeliling di tengah keramaian orang sampai menemukan sosok seorang pria yang semalam ia temui, senyumnya mengembang indah sambil berjalan mendekati.
"Kau sudah menunggu lama?" tanyanya.
"Tidak, aku juga baru datang" jawab Manager San padahal selama dua jam ia sudah berdiri di sana.
"Um...mari kita masuk" lanjutnya tersenyum canggung.
Tak banyak yang mereka obrolkan dari semenjak bertemu hingga duduk di bangku penonton sampai acara di mulai, Kyra sendiri terlihat antusias menonton sampai lupa pada segalanya.
Sementara itu Violet yang tak sengaja melintas ke kamar Kyra melihat pintu kamar itu tidak di tutuo dengan baik, maksud hati berniat menutupnya matanya malah melihat kumpulan buku di atas meja belajar Kyra yang berantakan.
"Astaga...aku terlalu memanjakannya sampai ia tidak bisa merapihkan kamarnya sendiri" gumamnya.
Ia pun masuk dan membereskan semua buku itu, diantara semua buku yang ada ia menemukan buku-buku les Kyra.
"Lihat kecerobohan apa yang dia perbuat, bagaimana ia bisa les tanpa membawa buku-buku ini" gerutunya.
Violet segera menaruh buku-buku itu ke dalam tas dan membawanya pergi, saat ini les pasti baru berlangsung jadi masih ada waktu untuk memberikannya.
Tapi saat sampai di tempat les Violet justru tidak menemukan keberadaan Kyra, gurunya berkata hari itu Kyra membolos. Marah bercampur heran membuat Violet pergi meninggalkan tempat itu dalam keadaan kesal, benaknya berfikir tempat mana yang menjadi kemungkinan keberadaan Kyra saat ini.
Satu-satunya tempat yang di sukai Kyra hanya pusat perbelanjaan, maka ia pun segera bergegas pergi ke pusat perbelanjaan terdekat.
* * *
"Ah...lihat! gaunnya sangat bagus" ujar Kyra menatap model yang berjalan melewatinya.
"Kau menyukainya?" tanya Manager San.
Kyra mengangguk seraya tersenyum. Akhirnya acara itu selesai yang menandai kebersamaan mereka telah berakhir, Kyra melirik jam tangan dan menyadari masih terlalu dini untuk pulang sebab belum waktunya pulang dari les.
"Um...apa kau lapar?" tanya Manager San.
"Tidak terlalu, tapi aku ingin pergi" jawab Kyra sebagai tanda ia masih memiliki waktu luang.
Menyembunyikan sorakan dalam hati Manager San menawarkan untuk pergi ke restoran langganannya, dengan menggunakan mobilnya mereka pun pergi.
Obrolan ringan menemani santap malam mereka yang romantis dengan lilin yang menyala di tengah meja sesekali Kyra membenarkan rambutnya, kebiasaan yang sulit hilang ketika ia sedang malu oleh seorang pria.
__ADS_1
Manager San sendiri tak bisa berhenti tersenyum, ia merasa kecocokan antara dirinya dengan Kyra membuat apa pun topik yang ada menjadi lebih seru.
"Ah...rupanya kalian sedang menikmati hidangan yang lezat" ujar Violet yang tiba-tiba ada di sana.
"I-ibu...bagaimana ibu bisa ada di sini?" tanya Kyra gugup.
"Suatu kebetulan bukan?" sindir Violey jelas kepada putrinya.
Kyra hanya bisa menundukkan kepala, menahan tangannya yang mulai gemetar ketakutan. Sementara Manager San tidak memahami situasi sulit yang sedang di alami Kyra.
"Ah, silahkan bergabung dengan kami" ujar Manager San mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung.
"Tidak!" ujar Kyra tiba-tiba.
"Ma-maksudku, aku tidak bisa berlama-lama. Aku lupa harus segera pulang karena ada suatu urusan" lanjutnya pelan.
"Oh ya sayang, ibu kemari untuk menjemputmu sebab kau tidak menjawab telpon dari ibu" sahut Violet dengan nada yang di tekankan.
Kini Manager San baru sadar bahwa kehadiran Violet adalah untuk menjemput Kyra, maka mereka pun pamit meninggalkannya sendiri di tengah kegalauan yang mulai melanda.
Sampai di rumah Violet segera membawa Kyra masuk ke dalam kamar untuk sebuah pelajaran yang harus ia dapatkan.
"Katakan sejak kapakan kau dekat dengan orang itu?" bentak Violet tanpa ampun.
"Ibu...kami hanya makan malam bersama"
"Owh...kau pikir ibu bodoh? alasan apa yang bisa membuat kalian bersama?" tanya Violet lagi mencemooh.
Violet sadar hati putrinya mulai terpaut pada Manager San begitu pun sebaliknya, hari ini Kyra sudah berani berbohong hanya demi makan malam romantis dengannya maka di pertemuan selanjutnya mereka bisa melakukan lebih.
Hal ini tentu tak bisa ia biarkan sementara Chad sedang menunggu jawaban Kyra dengan sabar.
"Sebaiknya kau pikirkan kesalahan mu, ibu akan membuka pintunya setelah kau siap menjawab lamaran Chad" ancam Violet.
"Ibu? apa yang akan ibu lakukan?" tanya Kyra takut.
Violet bergegas pergi keluar dan mengunci pintu kamar Kyra sementara teriakan permohonan maaf mulai keluar dari mulut Kyra, suaranya yang parau di tengah isak tangis sampai membuat seisi rumah gempar dan mendatanginya.
"Ayah tidak perlu tahu, ini hanya urusan ibu dan anak" jawab Violet acuh.
Saat semua mata tertuju padanya meminta jawaban dengan santainya Violet pergi ke kamarnya sendiri untuk memikirkan cara yang tepat mengurus Manager San, ia tidak bisa menawarkan uang atau pun jabatan sebab ia sendiri tidak memiliki hal itu.
Maka kini satu-satunya cara adalah mencari tahu dulu kelemahan Manager San, jika dia mulai bertindak lagi maka mungkin selanjutnya ia bisa berdiskusi dengan Chad untuk mengurusnya.
* * *
Mereka memulai perjalan saat matahari baru saja terbenam, dengan memakai sebuah kereta kuda di iringi beberapa ksatria dan Hans total yang ikut ada sepuluh orang.
"Pst, kenapa nyonya memakai kereta kuda? bukankah mobil jauh lebih cepat?" bisik Hans pafa seorang ksatria yang telah cukup lama menemani Nyonya.
"Kuda bisa mendeteksi bahaya sedangkan mesin tidak" jawab ksatria itu.
Mereka tiba di hutan wilayah vampire dengan cepat, anehnya kali ini Hans merasakan aura mencekam seolah tindak tanduknya di perhatikan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Saat mereka tiba di istana kini ia melihat gerbang itu di jaga oleh dua prajurit vampire yang mengenakan baju zirah lengkap, sorot mata mereka dingin dengan wajah tanpa ekspresi.
Dari dalam istana Keenan di temani Tianna dan beberapa tetua datang menyambut kehadiran mereka saat Nyonya keluar dari kereta kudanya.
"Selamat datang, terimakasih anda sudah mau memenuhi undangan ku" sapa Keenan.
"Sebuah suatu kehormatan bagiku bisa menerima undangan mu" balas Nyonya.
"Silahkan masuk" sahutnya.
Mereka mulai berjalan kembali dengan Nyonya yang memimpin di temani Keenan, saat matanya beradu pandang dengan Hans sebelum berjalan masuk ada senyum tipis yang misterius.
Tiba di ruangan makan dengan meja panjang yang di penuhi makanan Keenan segera mempersilahkan mereka duduk, barulah Keenan mengutarakan niatnya mengundang Nyonya ke istana.
"Sebagai Raja baru aku sadar kondisi antara kaum vampire dengan penyihir tidaklah baik, meski kita tahu perjanjian telah di buat tapi para vampire individu mulai lepas kendali dan menyerang dengan brutal. Hal ini sebenarnya di luar dari kendali pemerintahan tapi tentu sebagai Raja aku tidak bisa menutup mata begitu saja, karena itulah aku ingin diskusikan hal ini dengan pemimpin kaum penyihir secara pribadi"
__ADS_1
"Aku mengerti" jawab Nyonya.
Tanpa di dampingi oleh siapa pun Nyonya dan Keenan masuk ke dalam sebuah ruangan, sementara yang lain hanya bisa menunggu.
Hans melihat keadaan di sekitar ruangan itu dan sadar kini semakin banyak vampire yang tinggal di istana, hal ini berarti ia tak bisa bergerak dengan bebas.
Rupanya diskusi antar pemimpin itu cukup lama sampai membuat mereka resah, salah satu ksatria bahkan sampai hilang kesabaran dan berniat menyusul. Beruntung saat itu Nyonya dan Keenan kembali sehingga keributan dapat di hindari, saling penasaran mereka menunggu salah satu bicara.
"Kami telah membuat kesepakatan yang perlu kalian ketahui, mulai saat ini ksatria dari kaum penyihir dan prajurit dari kaum vampire akan bergabung untuk perdamaian. Jika sampai ada vampire individu yang membuat kekacauan maka ksatria dari kaum penyihir harus membawanya ke istana ini untuk di adili, tapi mereka juga di perbolehkan membasminya andai saja terlalu membahayakan" umum Keenan.
"Hal ini pun berlaku bagi kaum penyihir, jika di dapati seorang penyihir individu yang membuat onar apalagi merugikan pihak kaum vampire maka prajurit dari kaum vampire harus membawanya ke akademi untuk di adili dan boleh membunuhnya jika membahayakan" tambah Nyonya.
Keenan menunjukkan sebuah kertas yang telah di tandatangani oleh pemimpin dari kedua belah pihak sebagai bukti.
"Baiklah, aku rasa ini saatnya kita angkat gelas kita dan merayakan kesepakatan ini" ujar Keenan.
"Untuk kerja sama antara kaum penyihir dan vampire, demi kedamaian!" teriak Keenan mengacungkan gelasnya.
"Demi perdamaian!" sahut seluruh kaum yang hadir sambil mengangkat gelas mereka.
Tring
Suara gelas bersulang meramaikan sorakan yang ada, tawa dan obrolan ringan mulai memenuhi ruangan sebagai bentuk kebahagiaan.
"Raja memanggilmu" bisik seorang vampire menghampiri Hans tiba-tiba.
Ia pun melirik dan melihat Keenan tersenyum kepadanya, dengan benak yang penuh tanda tanya Hans pun berjalan mendekati
"Anda memanggil saya?" tanya Hans.
"Antarkan dia kepada Shishio dan tunggulah di luar sampai urusan mereka selesai" ujar Keenan kepada seorang prajurit vampire yang berdiri di belakangnya.
Mendengar ucapan itu Hans menatap Nyonya yang kemudian mendapat anggukan dan senyum kecil darinya, rupanya Nyonya secara pribadi meminta Keenan agar murid dan guru itu di pertemukan meski dalam waktu singkat. Mungkin juga Nyonya tidak mau mengambil resiko atas tindakan Hans yang bisa saja menimbulkan masalah.
"Terimakasih...Yang Mulia" ujar Hans pelan.
"Tidak masalah" jawab Keenan singkat.
Mengikuti vampire yang menunjukkan jalan ia berjalan keluar dari ruang pesta itu, melewati koridor yang di terangi cahaya obor hingga sampai pada satu pintu dimana vampire itu berhenti.
Sejenak Hans menatap vampire itu sebelum ia membuka pintu, suara berderak cukup ngilu di telinga di tengah kesunyian. Perlahan Hans melongok ke dalam dan menemukan Shishio yang menoleh ke arahnya dari tempat ia berdiri, mata mereka beradu sampai seluruh tubuh Hans kini masuk ke dalam.
"Kau...." ucap Shishio.
"Raja vampire yang mengijinkan ku menemuimu" ujar Hans agar benar Shishio tidak berfikir macam-macam.
"Begitu rupanya" jawab Shishio pelan.
"Kelihatannya guru betah tinggal di kandang musuh"
"Mereka memperlakukan orang yang berilmu dengan baik, aku hanya perlu bekerja sesuai porsiku saja"
"Pekerjaan macam apa yang membuat seorang guru teladan di Akademi memilih tinggal di balik batu tanpa sinar matahari?"
"Sesuatu yang sulit di mengerti bagi makhluk penghisap, contohnya seperti benda yang kau bawa malam itu" jawab Shishio sambil menunjukkan ramuan jiwa.
Mata Hans tak bisa beralih pada botol emas itu, ada perjuangan yang penuh drama demi mendapatkannya terlebih nyawa Elf hampir dalam bahaya karenanya.
"Sepertinya kau lebih tahu dari aku" ujar Shishio.
"Tentu saja, aku yang membawanya. Tapi jangan kira aku akan mengatakannya sebab aku sudah tidak bisa percaya pada orang yang bersekutu dengan vampire" sahut Hans sarat akan kekecewaannya.
Shishio hanya menelan ludah kepahitan, menerima dengan ikhlas salah satu resiko yang dia ambil saat menyetujui ajakan Keenan.
"Itu bagus, mulai saat ini kau harus bertindak atas keinginan mu sendiri. Kita di ciptakan untuk suatu alasan dan apa pun itu orang lain belum tentu dapat memahaminya dengan baik" ujar Shishio seolah mengatakan bahwa semua yang ia lakukan benar dalam sudut pandangnya sendiri.
"Aku mengerti, sejujurnya aku ingin meminta benda itu tapi aku yakin guru tidak akan memberikannya karena itu aku hanya minta tolong jaga benda itu"
"Aku pasti akan menjaganya dengan baik" jawab Shishio.
__ADS_1
Mendengar langsung jawaban dari Shishio memang membuat segala keraguan dan pertanyaan di hati Hans lenyap seketika, ia pun berbalik dan hendak pergi namun untuk yang terakhir kalinya ia berkata.
"Meski kini kau berdiri di jajaran musuh bagiku kau tetap seorang guru, setidaknya aku masih belajar dari mu meski tidak secara langsung."