Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 79 Pangeran Ke Dua


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa langkahnya membuat jejak di atas salju, memastikan sekitarnya aman ia masuk melewati pagar yang tinggi. Chad sudah sembuh dan kembali pada rutinitasnya sehingga ia tahu malam itu Chad berapa di rumahnya, dari bawah dengan jelas dapat dilihatnya pantulan gelas yang menyilaukan terkena sinar bulan.


"Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu" ujarnya yang kini telah berada di samping Chad.


"Tentang apa?"


"Keenan memberikan perintah untuk menghabisi kaum penyihir"


"Lantas?"


"Kau harus menghentikan ini, kau harus segera naik tahta" ujar Ballard dengan tidak sabar.


"Kenapa harus? justru aku di untungkan dalam hal ini karena tidak perlu mengotori tangan ku untuk membalaskan dendam, baik mereka yang di istana atau mereka yang berdarah penyihir bukanlah urusan ku" jawab Chad.


Ballard terdiam, rupanya Chad lebih sulit di ajak kerjasama. Jika begini keinginannya untuk mendapatkan martabat hanyalah mimpi belaka, ia harus memutar otak mencari cara lain.


Teringat akan betapa patuhnya Chad kepada Joyi maka ia pun mencoba mendekatinya, membuat beberapa penawaran seperti biasa.


Namun kali ini rupanya Joyi angkat tangan, ia tidak sepenuhnya merangkul Ballard dengan semua keinginannya.


"Ini terlalu berbahaya untuknya, kau yang bilang dia bukan tandingan tetua lalu bagaimana dengan Chad? dia bahkan tidak tahu caranya berburu di hutan" ujar Joyi.


"Chad tak harus menunjukkan kekuatan kepadanya, kita bisa menyusun strategi yang bisa menjatuhkan Raja baru itu"


"Kalau begitu kenapa tidak kau pikirkan saja sendiri?"


"Kau tahu apa yang aku butuhkan" ucap Ballard penuh makna.


Matanya sarat akan tuduhan yang memaksa Joyi harus setuju, tapi bayi yang telah ia asuh sedemikian rupa tidak akan ia lepas begitu saja hanya untuk sang kakek yang selalu mengambil untung.


Tiba-tiba ia teringat akan seseorang yang bisa menggantikan Chad, seseorang yang bisa menjadi benteng kedua baginya sekaligus kuda perang.


"Aku bisa mengarahkan mu pada seseorang" ujarnya.


"Siapa?"


"Aku bisa jamin dia akan melebihi ekspetasi mu" ucapnya yakin.


* * *


Kembali di sibukkan dengan bertugas di perbatasan membuat Hans sedikit resah, kali ini lawannya bukanlah monster melainkan para prajurit yang memiliki akal. Meski vampire itu masih terpaku pada kekuatan fisik tapi mereka juga cukup lihai dalam memainkan pedang.


Dalam satu malam setidaknya ada tiga korban hanya di satu pos, jika di hitung secara menyeluruh sudah bisa di pastikan korban yang jatuh mencapai puluhan.


Dengan cemas Nyonya mengadakan rapat mendadak yang di hadiri Jack sebagai tamu, mereka kembali mengungkit masalalu yang memaksa Jack untuk menemukan Sang Dewi.


Bicara memang mudah tapi kenyataannya Hans yang sudah dua kali pergi tidak mendapatkan persetujuan, hal ini memicu keteledoran Jack di masa lalu yang membiarkan Sang Dewi hadir.


Tanpa di duga perang dingin terjadi di dalam Akademi antara para Dewan dan Jack, imbasnya Nyonya sulit mengambil keputusan untuk menyelamatkan rakyatnya.


Membawa luka di hati Jack pergi menemui Hans, berdiskusi dengannya tentang Sang Dewi yang tidak mau keluar dari sarangnya.


"Percuma, apa pun yang terjadi dia tidak akan pernah keluar" sahut Hans.


"Apakah tidak ada cara lain?" tanya Jack lagi.

__ADS_1


Hans berfikir keras sampai ia teringat ucapan Elf, jika dia tidak bisa merayu Sang Dewi mungkin Elf Sang penjaga hutan dapat melakukannya.


Dia pun menulis sebuah surat yang menyatakan kegentingan dunia, berharap Elf benar-benar bisa membantunya.


* * *


Bruk


Satu pukulan itu mampu membuat retakan di dinding yang siap jebol, meski begitu Joyi masih bisa menatap tanpa rasa takut.


"Kenapa kau sembunyikan dia dariku?" teriak Ballard dengan kepala yang berasap.


"Aku pun baru tahu kalau dia masih hidup" jawab Joyi tenang.


"Apa maksudmu?" tanya Ballard tak mengerti.


Mau tak mau Joyi akhirnya menceritakan apa yang selama ini dia pendam, memang sudah seharusnya Ballard mengetahui hal ini. Dengan begini ia memiliki satu pion lagi yang menguntungkan.


Bruk


Sekali lagi tinju itu meretakkan dinding bagian lain dan membuatnya menjadi sama, kemarahannya dua kali lebih besar dari yang pertama hingga membuat wajahnya memerah.


"Kurang ajar! tidak akan ku biarkan Jack hidup, aku bersumpah atas nama putriku akan ku bunuh semua keturunan Hermes!" teriaknya menggebu.


"Kalau begitu kau pun harus membunuh Chad dan Agler" ujar Joyi santai.


"A-apa?"


"Jangan lupa, cucumu pun adalah keturunannya" ucap Joyi dengan matanya yang tajam.


"Diamlah saat amarah memenuhi otakmu jika tidak hatimu hangus dalam penyesalan, yang perlu kau lakukan hanya mendidik Agler agar mampu bersaing dalam tahta kerajaan selebihnya kita pasti akan menggulingkan Jack" ujar Joyi menasehati.


"Aku mengerti" jawab Ballard patuh.


"Ingat, jangan sentuh keturunan Hermes yang lain. Tujuan kita hanya Jack dan Jessa, mereka adalah sumber dari segala bencana yang selama ini terjadi" ujarnya lagi.


Ballard mengangguk pelan, menarik kembali sumpahnya ia memang harus banyak belajar kepada Joyi yang selalu mampu berdiri di bawah kakinya sendiri.


Bermodal alamat yang di berikan Ballard pergi menemui Agler di kediamannya, rumah itu sangatlah normal seperti kediaman manusia pada umumnya.


Meski malam telah larut ia memaksakan diri untuk bertamu secara hormat, menemui Sang pangeran kedua yang mungkin bisa naik tahta.


Kakinya baru melangkah mendekati pintu itu namun segera seorang gadis keluar, mereka bertatapan yang membuat Ballard sadar bahwa dia merupakan seorang darah campuran.


"Um... ada yang bisa aku bantu?" tanya Ima.


"Aku... ingin menemui Agler" jawabnya.


"Oh, kakak ada di dalam. Masuklah" ujarnya.


Dengan panggilan kakak Ballard telah mengetahui Ima adalah adik dari orangtua angkat Agler, memenuhi undangan itu ia pun melangkah masuk.


Nick yang pertama kali melihat di kejutkan akan sosok Ballard yang memasuki ruangan, saat mata mereka beradu dengan segera ia menundukkan kepala.


"Tuan!" teriaknya tegas.

__ADS_1


Sontak hal itu membuat Ima heran sekaligus terkejut, bahkan Agler dan yang lain sampai keluar karena teriakan itu. Colt yang sempat melihat Ballard di masa lalu tentu cukup tahu bahwa ia adalah salah satu tetua yang di hormati, namun Ballard yang lebih terkejut akan kehadiran Colt.


"Kau... asisten Viktoria" ujarnya.


"Keperluan apa yang membawa anda sampai ke sini?" tanya Colt jelas karena mereka memiliki hubungan yang kurang baik di masa lalu.


"Kau mengenalnya?" tanya Mina.


"Tuan Ballard, salah satu tetua di istana" ujar Nick menjawabkan.


"Jadi... yang mengasuh cucuku adalah kau..." ujar Ballard yang membuat semua orang dalam ruangan itu kaget.


"Ma-maksudmu, Rei menikahi Catherine? jadi... Agler adalah putranya?" tanya Colt memastikan.


Ballard mengangguk yang membuat Colt hampir terjatuh karena kenyataan itu, benaknya memaksa untuk kembali ke masa lalu dimana dia adalah seorang asisten Viktoria.


"Apa yang sebenarnya terjadi? bisakah kalian menjelaskannya padaku?" tanya Agler yang bingung akan keadaan itu.


Butuh beberapa waktu bagi Ballard dan Colt untuk menguasai diri, setelah mendapat ketenangan yang cukup mereka duduk dan Colt mulai dalam ceritanya.


"Ini adalah kisah yang terjadi saat perang dingin terjadi, aku masih seorang asisten Ratu Viktoria yang hendak ia jodohkan dengan Catherine putri Tuan Ballard"


"Dan aku menggagalkan pernikahan itu" sambung Mina yang membuat semua mata mengarah padanya.


"Setelah kau pergi Reinnerlah yang di tunjuk Viktoria, dia bersedia menikahi Catherine tanpa paksaan apa pun dan menduduki tahta dengan usahanya sendiri. Tapi aku tak menyangka ada banyak yang ingin menggulingkannya, dengan kejam ia di fitnah hingga di jatuhi hukuman mati" ujar Ballard.


Wajahnya sarat akan penyesalan dan kesedihan, membuat satu ruangan itu penuh akan perasaan duka.


"Aku datang kemari untuk memberitahumu bahwa kau adalah pangeran, kau berhak atas tahta yang di tinggalkan ayahmu" ujar Ballard.


Agler tak bisa bicara apa pun, terlalu syok untuk segala kenyataan yang baru saja ia dengar. Dunia ini rupanya begitu kecil, orangtua kandungnya memiliki ikatan tak terlihat dengan orangtua angkatnya.


"Aku...beri aku waktu" ujarnya sambil berdiri perlahan.


Tentu Ballard tak bisa memaksakan kehendaknya pada cucu yang baru ia temui, dengan penuh perhatian ia memberikan waktu sebanyak apa yang di butuhkan.


"Maaf tuan, tapi bukankah tahta telah di duduki raja baru?" tanya Nick.


"Ya, dia adalah Keenan. Tapi dia bukan Raja yang pantas berkuasa, dia hanya orang gila yang terobsesi dengan Anna"


"Apa... maksudmu?" tanya Mina kaget.


"Dia ingin memiliki kekuatan yang sama dengan Anna, dia berusaha mencari keberadaan Anna bahkan sekarang dia mengeluarkan perintah untuk membasmi kaum penyihir sampai Anna di temukan" jawabnya.


"Dia... memicu perang kembali" ujar Nick.


"Jika di biarkan bukan hanya para kaum penyihir tapi bangsa vampire pun akan musnah karena perang"


"Ini gawat" gumam Nick membayangkan perang yang pernah ia lalui di masa lalu.


"Itulah kenapa aku datang ke sini, hanya Agler satu-satunya harapan kita semua"


"Tapi bagaimana caranya?"


"Untuk saat ini aku hanya berharap Agler mau menerima keadaan dulu, aku berniat mengajarinya sebagai pangeran sambil menyusun strategi untuk menggulingkan Keenan" jawab Ballard.

__ADS_1


__ADS_2