Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 102 Lamaran Resmi


__ADS_3

Ia kembali di jam makan malam, duduk di tempatnya sambil menatap satu persatu orang yang ada. Malam itu ia telah memutuskan, dan seolah tahu akan adanya berita penting bahkan Chad sudah pulang untuk makan malam bersama.


"Sudah lama sekali aku tidak melihat keluarga kita duduk bersama seperti ini, rasanya hal baik akan segera terjadi" ujar Joyi di sela makan.


Tak ada yang menyahut tapi mereka setuju akan hal itu, ia sendiri percaya inilah hal baik yang akan ia sampaikan.


"Hal baik itu... mungkin ada hubungannya dengan ku" ujarnya.


Semua mata tiba-tiba tertuju padanya, Kyra meletakkan alat makannya. Mengangkat kepala untuk membalas tatapan itu satu persatu yang di tambah dengan senyuman.


"Aku... ingin mengucapkan terimakasih karena kalian sudah memperlakukan ku dengan baik selama ini" ucapnya.


"Kyra... semuanya baik-baik saja kan?" tanya Alisya yang tiba-tiba merasa cemas.


"Tentu saja, aku lulus dari ujian ku"


"Ah syukurlah, kami ikut senang mendengarnya" sahut Joyi.


"Selamat" sambung Chad.


"Terimakasih" jawab Kyra seraya tersenyum.


Tapi senyum itu tak bertahan lama, dalam satu detik senyum itu hilang di gantikan dengan raut wajah sedih yang mencoba di tutupi.


"Aku sudah memikirkan hal ini dengan matang dan aku sudah mengambil keputusan, aku akan kembali ke kediaman Hermes" ujarnya.


"Apa? ta-tapi kenapa? kau bisa tinggal di sini selama apa pun yang kau mau" tanya Joyi kaget.


"Ini bukan rumahku, memang Chad adalah sepupuku tapi tetap saja aku hanya tamu di sini" jawabnya sambil menatap Chad.


"Jika kau mau aku bisa belikan rumah untuk mu" sahut Chad serius.


"Tidak, seburuk apa pun sebuah keluarga aku tetap tidak boleh meninggalkannya."


Mereka terdiam, tentu saja karena ucapan itu benar adanya. Bahkan meski Chad bermusuhan dengan keluarganya tetap saja ia tak bisa menampik ucapan itu.


"Jika kau sudah memikirkannya dengan baik maka aku itu sebuah keputusan yang tepat" ujar Chad.


Joyi pun tak bisa bicara apa-apa lagi, ia hanya menyuruh mereka untuk melanjutkan makan malam seperti biasa.


Esok harinya Violet dan Ryu datang untuk menjemput Kyra, bagi Ryu yang pertama kali datang ke rumah Joyi ia di buat takjub oleh kemashuran yang dimiliki mantan pengasuhnya itu.


"Kapan pun kau mau kau bisa berkunjung kemari, ingat di sini bukan hanya ada sepupumu tapi juga aku teman mu" ujar Alisya yang mengantar sampai pintu depan.


"Terimakasih" sahut Kyra.


"Nyonya.. " panggil Violet menghampiri Joyi yang sejak tadi diam.


"Terimakasih atas segalanya, anda adalah malaikat pelindung kami" ucapnya.


"Tidak perlu sungkan, Kyra sudah ku anggap sebagai cucuku sendiri" jawabnya.


Tak banyak yang mereka perbincangkan, Kyra segera berpamitan pada Joyi dan Alisya sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu. Sementara Chad menonton dari balik jendela, bukan ia tak mau melihat Kyra lagi tapi ia selalu benci perpisahan.


Sepanjang jalan setelah kakinya naik ke atas mobil tak ada satu pun kata yang di ucapkan Kyra, benaknya melalang buana pada semua peristiwa yang sudah ia lalui.


Hingga mobil masuk ke dalam kediaman Hermes melewati pintu gerbang, Ryu memarkirkan mobil itu tepat di hadapan pintu utama.


Dimana Jack sudah menunggunya dari tadi, saat ia keluar dari mobil anggota keluarga Hermes yang lain baru keluar untuk menyambut mereka.


"Kyra... " panggil Jack mesra.


Bergegas ia menghampiri cucu tersayangnya ituitu, memberinya pelukan hangat yang biasa. Meski Kyra dalam suasana hati yang kurang nyaman tapi ia membiarkan Jack melakukan apa yang ia suka, setidaknya hanya untuk kali ini saja.


"Selamat datang kembali" ujar Amelia.


"Terimakasih, kami tidak akan lama jadi kau tidak perlu khawatir" sahut Violet yang masih tidak bisa melupakan pertikaian itu.


"Apa yang kau bicarakan saudariku, kami senang akan kepulangan mu" balas Amelia yang tentu saja karena itu demi kebahagiaan Jack.


"Aku senang sekali kita bisa berkumpul lagi, mari kita masuk!" ucap Jack seraya tersenyum.


"Ayo" ajak Violet lembut kepada Kyra.


Mereka pun melangkah masuk ke dalam, berkumpul di ruang keluarga dengan cemilan ringan yang menemani segelas teh panas.


"Kepulangan ku kemari hanya karena ada sesuatu yang perlu aku katakan" ujar Kyra menarik perhatian mereka.

__ADS_1


Terlebih Jack yang tiba-tiba merasa cemas, takut akan kabar yang di bawa Kyra bukanlah sesuatu yang menyenangkan.


"Aku.... akan menikah" umumnya.


"Apa? dengan siapa?" tanya Hans yang sejak tadi diam.


"Beberapa hari yang lalu Hakan melamar ku secara tidak resmi, aku sudah memberi jawaban dan dia akan datang dengan keluarganya untuk lamaran resmi" jawabnya.


"Itu berarti kau menerima lamaran pemuda itu?" tanya Shigima.


Kyra mengangguk yang membuat satu ruangan itu tiba-tiba hening, tapi kemudian Jack tersenyum bahagia atas kabar yang menggembirakan itu.


"Oh sayang, kakek sangat senang mendengarnya" sahutnya.


"Kapan keluarga Hakan akan datang?" tanya Amelia.


"Kamis besok" jawab Kyra.


Itulah alasan kenapa mereka pulang, saat di rumah Violet mereka bertiga telah bicara serius masalah ini. Kyra sudah memberitahu kedua orangtuanya akan lamaran yang di katakan Hakan, juga jawabannya yang setuju akan hal itu.


Karena ia kini sudah lulus maka tidak ada salahnya menikah muda, mereka sepakat dan memutuskan untuk kembali tinggal di kediaman Hermes sampai upacara pernikahan Kyra selesai.


* * *


Luka itu belumlah sembuh total, karenanya Agar harus rajin mengganti perban dan mengoleskan minyak khusus agar lukanya cepat sembuh. Tapi pekerjaan sederhana itu rupanya tidak bisa ia lakukan sendiri, ia cukup kerepotan meski hanya sekedar membalut perban.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Ima yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.


"Ah astaga... kau membuatku kaget" gumamnya.


Ima mendekat untuk melihat luka yang di alami Agler, jelas itu adalah bekas sayatan benda tajam.


"Dari mana luka ini berasal?" tanya Ima lagi.


"Hanya orang-orang yang terlalu banyak minum, mereka menggangu kami dan inilah yang akhirnya"


"Kak... kau seorang vampire, senjata biasa tidak akan melukaimu begitu saja" sahut Ima.


"Tentu saja, kebetulan salah satu diantara mereka memakai belati yang terbuat dari perak. Itulah alasan luka ini ada" jawabnya.


Agler bersikap seperti biasa namun Ima jelas menampakkan kekhawatiran, ini karena Chad sudah memberitahunya untuk memperingati Agler tapi ia lupa.


"Apa maksud mu?" tanya Agler heran.


Ia pun menceritakan apa yang telah terjadi padanya dan Chad, hari dimana sekelompok penyihir menyerang mereka tanpa maksud yang jelas.


Dengan penuh sesal ia meminta maaf karena terlambat memperingatkan Agler akan ancaman ini, tentu Agler di buat kaget akan hal ini.


"Maksudmu orang-orang yang menyerang ku dan Alisya adalah mereka yang menyerang kalian?" tanya Agler.


"Belum bisa di pastikan, tapi bisa saja mereka adalah pembunuh bayaran yang di sewa kelompok penyihir itu atau memang hanya berandalan biasa" sahut Ima.


"Apa pun itu kita harus waspada" lanjutnya mengingatkan.


* * *


Akhirnya apa yang di nantikan Hakan tiba juga, dengan penuh semangat ia membawa keluarganya ke kediaman Hermes dengan hadiah-hadiah yang telah ia persiapkan.


Kedatangannya untuk lamaran resmi tentu mengundang kegatalan para pelayan untuk bergosip, bagaimana tidak? Hakan membawa keluarga besarnya dengan menggunakan mobil mewah. Tak hanya itu, dari segi pakaian saja keluarga itu jelas menunjukkan kasta yang tinggi.


"Lihatlah perhiasan yang di pakai mereka, itu membuatku lebih bersemangat" bisik Violet kepada Ryu.


"Kyra beruntung mendapatkan pemuda yang mapan" balas Ryu.


Jack yang berdiri paling depan menyambut rombongan itu dengan riang, mereka bersalaman dan segera di persilahkan masuk.


Hakan hanya mengenalkan sang ayah sedang yang lain sebagai keluarga besar saja kepada keluarga Hermes untuk mempersingkat waktu.


"Aku rasa sudah saatnya kita panggil Kyra" ujar Jack.


"Biar aku yang menjemputnya" sahut Violet.


Ia pun segera pergi, tak butuh waktu lama baginya untuk kembali dengan Kyra sebab memang sudah sedari tadi Kyra bersiap.


Saat ia memasuki ruangan kecantikan itu membuat semua pasang mata tertuju padanya, bahkan ayah Hakan memujinya dengan tulus.


Kyra duduk tepat di hadapan Hakan, membuat senyum di wajah pemuda itu kian merekah. Terlebih saat Kyra mengangkat pandangannya untuk menatap Hakan dan senyum manis mengambang di wajah cantiknya, membuat Hakan tak bisa mengontrol perasaannya.

__ADS_1


Acara pun di mulai kemudian, tak lupa Jack menuturkan kegembiraannya menyambut keluarga Hakan yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarganya juga.


Mencapai puncak acara Hakan dan Kyra berdiri saling berhadapan untuk saling melingkarkan cincin pertunangan di jari manis masing-masing, saat proses itu berlangsung riuh tepuk tangan mengantar dua pasangan itu pada hubungan yang lebih dalam.


Canda dan tawa menandai kebahagiaan yang harusnya bisa di nikmati semua orang, sayangnya hati Kyra tidak merasakannya. Entah mengapa ada sebuah rasa bersalah yang mengatakan bahwa semua ini hanyalah kompromi, ia tidak benar-benar bahagia meskipun mendapatkan pemuda yang sempurna.


Selesai tukar cincin keluarga Hakan di jamu dengan hidangan mewah khas Jack, sebuah pujian terlontar yang membuat Jack hampir besar kepala.


Pesta sederhana yang di hadiri hanya keluarga itu berakhir larut malam, keluarga Hakan berpamitan pulang dengan mengucapkan terimakasih atas jamuan yang memuaskan.


"Besok setelah pekerjaan ku selesai aku akan segera menemuimu, ku harap kau tidak keberatan" ujar Hakan.


"Apa-apaan itu? kenapa setelah sebagian dari diriku adalah milik mu kau justru bersikap sangat formal?" olok Kyra.


Dengan senyum kecil Hakan berbisik.


"Keluarga kita sedang memperhatikan."


Hampir Kyra tertawa terbahak, beruntung segera ia menundukkan kepala sambil menutup mulut dengan punggung tangan.


"Baiklah, aku akan menanti kedatangan mu" jawabnya.


Hakan tersenyum dan segera berpamitan sebab keluarganya telah menunggu, lambaian tangan Kyra mengantarnya keluar dari gerbang hingga hilang dari pandangan.


Rasanya cukup lelah meski tak banyak yang ia lakukan, dengan lesu ia pergi ke kamar untuk mengganti pakaian.


Tok Tok Tok


"Boleh ibu masuk?" tanya Violet sambil mengintip dari balik celah pintu yang terbuka sejak tadi.


"Masuklah" jawab Kyra sambil melepaskan anting-anting dari telinganya.


Violet berjalan masuk dan duduk di atas ranjang tepat menghadap Kyra, sejenak ia memperhatikan putrinya itu.


"Ibu melihat kalian tadi, sepertinya kalian sudah saling cukup mengenal" ujarnya.


"Sebenarnya kami pernah bertemu beberapa kali di luar, kesempatan itu kami gunakan untuk mengobrol" jawabnya.


"Itu bagus, ibu melihat kalian sangat cocok. Kau juga terlihat nyaman dengannya, tapi.... kenapa ibu tidak melihat hal yang biasa di tunjukkan sepasang kekasih?" tanya Violet.


Kyra terdiam, tentu saja karena ia tak mencintai Hakan sehingga apa yang Violet harapkan tidak akan ia lihat.


"Aku memilih berkompromi dengan hidup nyaman yang bahagia, terkadang cinta tidak memberikan kebahagiaan seperti yang kita harapkan" ucapnya.


Rasanya memilukan mendengar ucapan itu dari gadis yang pernah gagal dalam satu hubungan, oleh karenanya Violet tidak meminta apa pun lagi.


"Ibu berharap keputusan yang kau ambil ini akan membawamu pada kebahagiaan yang sesungguhnya" ujar Violet sambil berdiri.


Sebelum ia pergi tak lupa dikecupnya kepala Kyra dan memberi ucapan selamat malam yang lembut.


* * *


Angin bertiup kencang, menerbangkan daun-daun cokelat yang di lewati Tianna. Kecepatannya tidak berkurang meski tak ada apa pun yang mengejar, hingga ia sampai di kastil tua di puncak tebing.


Kreeeeeeetttt...


Pintu itu selalu berderak saat di buka, engselnya yang sudah berkarat tak hanya menimbulkan suara yang cukup menganggu tapi juga debu yang kotor.


"Aku kembali" teriaknya melewati ruang utama.


Suaranya cukup menggema di setiap ruangan, di tambah ketukan sepatunya yang menandai akan kehadirannya.


"Cepat sekali kau pulang" ujar Shishio keluar dari salah satu ruangan.


"Aku sudah mengisi persediaan, oh aku juga menemukan barang bagus" sahutnya sambil mengeluarkan dua botol berisi cairan berwarna merah.


"Ta... da... " teriaknya menunjukkan sebuah guci kecil.


"Dari mana kau dapatkan itu?" tanya Shishio.


"Toko barang antik, aku mengambil persediaan darinya dan menemukan benda ini di kotak sampah"


"Kau tahu artinya itu bukan barang bagus"


"Kita bisa gunakan ini untuk menyimpan ramuan, kau tahu benda ini terbuat dari tanah" sahutnya.


"Ah, terserah kau saja" ujar Shishio tak ingin berdebat.

__ADS_1


Tianna hanya tersenyum sebelum kemudian ia pergi ke ruangan lain, melewati koridor ia masuk ke salah satu kamar. Cahaya lilin adalah satu-satunya sumber penerangan yang ada, membuat kamar itu nampak cukup gelap namun tidak menyulitkan Tianna untuk melihat.


Ia duduk di atas ranjang dimana seseorang sedang terbaring di sana, matanya intens memperhatikan hanya untuk melihat keadaannya.


__ADS_2