
Drap Drap Drap Drap
"Nona!" panggil pelayan itu setelah lelah berlari.
"Ada apa?" tanya Alisya heran melihat wajahnya yang cemas.
"Nyonya.... " ujarnya pelan.
Kabar itu ia terima di detik selanjutnya, hampir ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai tapi untung pelayan menangkapnya tepat waktu.
Butuh beberapa menit baginya untuk menguatkan hati, barulah ia mampu bangkit dan pergi ke rumah sakit.
"Chad!" panggilnya saat sampai.
"Alisya"
"Bagaimana keadaan nenek?" tanyanya cemas.
Chad terdiam, saat ini keadaan Joyi tidaklah baik yang membuatnya takut meski sekedar mengatakannya. Ia juga tak mampu berbohong kepada Alisya dengan mengatakan keadaan Joyi tak masalah, memilih diam membuat Alisya menangis seketika.
"Aku... aku ingin melihat keadaannya" ujar Alisya dalam getir.
"Saat ini dia sedang istirahat paska operasi, biarkan dia pulih dulu" ujar Chad pelan.
Selama beberapa menit Alisya hanya mampu mengeluarkan emosinya dengan curahan air mata, sementara Chad menatap langit kosong dengan pandangannya yang kabur.
Satu-satunya yang masih waras hanya Manager San, itu pun setelah ia bulak balik ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Kenapa ini bisa terjadi? apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Alisya lemah setelah puas menangis.
Pertanyaan itu membuat Chad mengingat kembali peristiwa itu, saat dimana ia mendapat telpon dari Joyi yang mengatakan nyawanya sedang terancam.
Tanpa pikir panjang ia segera pergi menyusul, dan apa yang ia lihat selanjutnya tidak pernah ia duga. Di hadapannya Jessa menusuk Joyi tanpa rasa bersalah, menariknya dengan kuat agar darah mengalir deras bekas tusukan itu.
Grrrttt
Giginya bergemelatuk akibat dari emosi yang meluap, kepalam tangannya semakin keras seperti usahanya yang berusaha menyelamatkan Joyi.
Drap Drap Drap Drap
"Chad!" panggil Alisya melihat Chad yang tiba-tiba berlari.
Ada firasat buruk menyertai kepergiannya, Alisya menerka Chad akan pergi ke suatu tempat yang berbahaya maka ia pun ikut berlari mengejar.
Sesuai perkiraannya amarah Chad membawanya ke kediaman Hermes, tentu saja penjaga menghadangnya masuk terlebih dari raut wajah saja sudah jelas tujuan Chad tidaklah baik.
Tapi dua penjaga tidaklah kuat untuk menghentikan Chad, hanya dengan beberapa pukulan saja mereka terhempas bak kapas tersapu angin.
Kericuhan yang terjadi seketika menarik perhatian seluruh penghuni rumah, termasuk tuan rumah yang segera memeriksa. Saat mendapati Chad berada di halaman dengan dua penjaga yang belum bisa bangun mereka tahu apa yang terjadi.
Set
Tanpa peringatan Chad mengarahkan sebuah pistol tepat kepada Jessa, tentu hal itu membuat semua orang panik.
"Apa yang kau lakukan? turunkan senjatamu!" perintah Violet yang ngeri.
"Katakan padaku mana yang kau pilih? dengan senjata... atau tangan kosong" tanya Chad.
Matanya merah dan membengkak akibat terlalu banyak mengalirkan air mata, kesedihan dan dendam jelas berada di sana dalam satu tempat yang sama.
Di luar dugaan Jessa melangkah tanpa perlindungan, mendekati Chad dimana pelatuknya bisa kapan saja ia tekan.
"Jessa..." panggil Jack mencoba menyadarkan akan tindakan bodohnya.
"Apa pun yang aku katakan tidak akan berarti, tapi perlu kau tahu bukan aku yang melakukannya. Seseorang menelpon dan mengatakan orang yang ku sayangi tengah dalam bahaya, dan saat aku sampai Joyi terhuyung dengan belati yang sudah menancap di tubuhnya"
"Dan kau menariknya agar ia cepat mati!" teriak Chad menyelesaikan kisah yang belum lengkap itu.
Jessa menggeleng, tentu bukan hal itu yang terjadi.
"Nak... tolong turunkan senjatamu, kita bisa bicarakan ini baik-baik" bujuk Reinner mencoba menghampiri.
Tapi hanya mata Chad berpaling, tangannya masih terangkat dengan tegas.
"Sudah aku katakan, sekali lagi kau menjelekkan nenek aku tidak akan mengampuninya nyawamu" ujar Chad.
Dengan ancang-ancang Chad menarik nafas panjang, matanya mengunci sasaran dengan tepat dan.
Doooooorrr...
Aaaaaaaa......
__ADS_1
Buk
Bruk
"Jessa!" panggil Jack panik.
Tapi tubuh itu masih utuh, ia masih berdiri dengan tegak sementara Chad ambruk di tanah. Shigima yang datang tepat waktu berhasil meringkus Chad dari belakang, peluru yang di tembakan mencapai langit membelah awan.
"Jangan pernah melakukannya" ujar Shigima memperingatkan.
Set
Buk Buk
Dengan satu hentakan Chad bangkit dan memukul mundur Shigima, tangannya terkepal sebagai ganti pistol yang telah terlempar entah kemana.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Shigima jelas karena ia baru pulang dari kantor sehingga tak tahu apa yang terjadi.
"Haruskah aku katakan penderitaan ku berulang kali?" balas Chad bertanya.
Shigima menatap heran sementara yang lain tertunduk, air mata kembali mengalir di pipinya yang semakin membahasi pakaiannya.
"Setidak beruntungnya hidupku, kehilangan kedua orangtua di usia pertama ku lahir kedunia. Lalu kehilangan orangtua asuhku di saat baru saja tubuhku sedang tumbuh berkembang, kini haruskah aku kehilangan lagi?" tanya Chad yang membuat sakit di hati Reinner.
Bagaimana tidak? ia sudah mengetahui semuanya dari Joyi, ketidakberuntungan sang pangeran yang malang.
"Tidak Chad! kau masih memiliki ku" teriak Alisya tepat di belakangnya.
Chad berbalik dan menatap sepupunya itu tengah banjir air mata, tapi anehnya senyum mengembang di wajah yang memerah.
Perlahan ia berjalan menghampiri, merentangkan tangannya di kedua sisi pipi Chad dan menepuknya dengan lembut.
"Kau masih punya aku, apa aku tidak pernah kau anggap hingga hatimu terasa kesepian? padahal selama ini kau adalah kakak yang baik untuk ku, dan juga nenek... dia pasti akan sembuh, kau percaya pada keajaiban kan? satu hal lagi, jangan lupakan San" ujarnya.
Itu adalah kebenaran yang menyentakkan hati Chad, ia termangu pada gadis yang selama ini ia lindungi karena penderitaan yang sama.
"Alisya... dia yang merenggut nenek dari kita" ujar Chad sambil menunjuk Jessa.
Mata Alisya menatap Jessa, cukup lama hingga membuat Jessa merasa tak nyaman.
"Biarkan saja" ujar Alisya yang membuat semua orang kaget termasuk Chad sebab mereka pikir Alisya akan marah hingga mengamuk.
Trauma Alisya tidak mengizinkannya untuk kehilangan lagi, apa pun yang terjadi yang ia mau kini hanya orang-orang yang ia sayangi ada bersamanya.
Alasan itulah yang memberinya kekuatan untuk menggandeng tangan Chad, berjalan melewati gerbang kediaman Hermes dan pergi tanpa jejak.
* * *
Seluruh anggota keluarga Hermes berkumpul dalam satu ruangan, termasuk Agler yang baru mengetahui insiden itu setelah ia pulang dari kantor.
Menatap satu persatu anggota keluarga Hermes benak Agler di penuhi dengan tanda tanya, dari ekspresi dan bahasa tubuhnya Jessa nampak tidak berbohong.
Tapi tentu saja jelas dia adalah satu-satunya orang yang memegang belati itu dan membiarkan Joyi ambruk karena kehilangan darah.
Tapi selain Jessa di tempat itu juga ada Chad, Jack dan Ryu yang entah apa tujuan mereka ke sana. Setelah ia selesai bicara dengan Joyi saat itu tanpa kecurigaan Agler pergi ke kantor, bekerja seperti biasa dan pulang di sambut oleh berita yang menggemparkan.
Saat ini bisa di bilang pelaku sementara adalah Jessa dan yang lain adalah saksi, tapi ia yakin ini hanya berlaku sementara.
"Kau mau kemana?" tanya Reinner melihat Agler berjalan ke arah pintu keluar.
"Menjenguk Chad, aku ingin memastikan keadaannya dan.... aku tidak akan pulang untuk sementara waktu" jawabnya sebelum kemudian pergi.
"Ayah ikut dengan mu" ujar Reinner sambil berjalan.
Tentu di saat seperti ini Reinner tidak ingin kehilangan posisinya sebagai seorang ayah, apalagi setelah mendengar penderitaan yang di alami putranya.
Tak ada yang berani menghalangi langkah mereka sebab apa yang di lakukan Reinner dan Agler adalah sebuah kewajaran, tapi apa yang di katakan Kyra selanjutnya mendapatkan protes.
"Ayo bu, kita juga harus segera berbenah"
"Apa maksud mu? kau mau kemana?" tanya Amelia.
"Meninggalkan rumah"
"Tapi... kenapa?" tanya Jack bingung.
"Kenapa? seseorang tengah sekarat di rumah sakit dan kakek bertanya kenapa? maaf saja tapi aku tidak mau ambil resiko untuk adik ku, rumah ini sudah tidak aman bagi kami bahkan sejak dulu selalu seperti itu" jawab Kyra dengan tatapan tajamnya.
"Berani sekali kau bicara seperti itu? ini semua hanya salah paham, sebagai keluarga seharusnya kau tetap tinggal untuk mendukung tapi kau hanya bertamu layaknya orang asing" omel Amelia yang jelas tersinggung.
"Benar, aku hanya orang asing" sahut Kyra yang membuat mereka semua tertegun.
__ADS_1
"Aku tinggal di luar negri dengan kehidupan yang damai, lalu siapa yang meminta kami datang kemari dan tinggal di kastil tua ini? siapa yang mengatur dengan siapa aku pergi atau yang aku lakukan? siapa yang menyuruh ku menikahi Hakan dan berakhir di lumpuh dengan status janda? siapa yang mengubur ketenangan ku?" teriak Kyra dengan lantang.
Untuk semua pertanyaan itu Jack adalah satu-satunya yang punya jawaban sebab namanya adalah jawaban tersebut, ia cukup mengerti kekhawatiran Kyra hingga dengan sungguh-sungguh ia berkata.
"Kakek akan siapkan mobil untuk kalian, setelah selesai berbenah kalian bisa langsung pergi"
"Jack!" panggil Jessa heran.
"Maaf, karena kakek sudah membuatmu takut dan menderita. Hanya ini yang bisa pria tua ini lakukan untuk keluarga kecilnya, maaf atas karena pria tua ini begitu egois" ujarnya.
Permintaan maaf itu sangatlah tulus dan datang dari lubuk hati yang dalam, semua orang bisa merasakannya namun tidaklah kuat untuk meluluhkan hati Kyra.
Ia benar-benar mengemasi barang-barangnya dan Milik Violet, kali ini rupanya Violet yang merasa ragu untuk pergi.
"Apa kau sungguh-sungguh?" tanyanya.
"Aku tidak ingin menunggu sampai hal buruk terjadi pada ibu, aku tidak peduli ibu menyukainya atau tidak keputusan ku tidak akan berubah" sahutnya.
Violet cukup heran melihat ketegasan Kyra, ia hanya bisa diam dan patuh sampai Kyra menyelesaikan pekerjaannya.
"Ayo pergi" ajaknya setelah selesai menutup koper.
Namun saat mereka hendak pergi dari kamar Ryu berdiri tepat di hadapan pintu, menghentikan langkah mereka sebab tak ada celah untuk di lewati.
"Aku berjanji akan menjaga ibu dengan baik, setelah kami dapat rumah akan segera kami kabari tapi untuk malam ini mungkin kami akan di hotel dulu" ujar Kyra.
"Bisakah... kalian tunggu sebentar? ada beberapa barang yang harus ayah kemasi" tanya Ryu.
Kyra dan Violet tertegun, menatap Ryu yang memaksakan diri untuk tersenyum. Tapi kemudian Kyra merangkul dengan cepat, mencurahkan kebahagiaannya sebab akhirnya Ryu berpihak pada keinginannya.
* * *
Ima baru mendengar berita itu saat malam hari, dimana Agler dan Reinner sudah sampai di rumah sakit. Tanpa pikir panjang Ima bergegas pergi menyusul, melihat Chad yang berantakan ia segera duduk di sampingnya dan menghibur sebisa mungkin.
"Alisya... pulanglah, kau harus istirahat di rumah agar kesehatan mu tetap terjaga" saran Ima.
"Tidak, aku ingin tetap di sini" jawabnya lemah.
Sekilas saja Ima sudah bisa melihat ketakukan memenuhi mata Alisya, memang insiden ini terlalu menyeramkan untuk Alisya yang lemah. Merasa tak tega Ima mengambil sepotonh roti dan menyerahkannya kepada Alisya, tanpa semangat Alisya menggelengkan kepalanya.
"Saat nenek Joyi bangun nanti dia akan memarahiku karena kau sangat kurus, apa kau tega melihatku di marahai? padahal aku sudah baik pada kalian tapi ini balasannya" ujar Ima.
"Heh, itu lelucon yang payah" tukas Alisya pelan.
"Sebenarnya aku ingin membuat lelucon yang bagus, tapi aku takut kau tertawa lebar dan itu sungguh tidak pantas mengingat nenek masih kritis bisa-bisa nanti kau di bilang cucu durhaka."
Awalnya Alisya tertegun, tapi kemudian perlahan ekspresinya berubah hingga ia tertawa kecil.
Ima tersenyum melihat aura Alisya yang kembali membaik, akhirnya ia mau mengambil roti itu dan memakannya. Tentu ia juga meminta Chad untuk ikut makan dan Chad menurut tanpa mengatakan apa pun.
Meski tidak bisa membuat Alisya pulang untuk beristirahat tapi setidaknya kesehatan mereka tetap terjaga dengan baik, hingga esoknya Ima bertugas tetap menjaga kesehatan mereka dengan memberikan sarapan.
"Tuan muda, aku tidak bermaksud untuk melangkahi tapi ijinkan aku untuk mengurus pekerjaan hari ini sementara tuan bisa tetap berada di sini" ujar Manager San yang tak bisa lalai pada pekerjaannya.
"Tentu saja, tolong urus semuanya" sahut Chad.
Manager San mengangguk dan siap untuk pergi.
"Chad, maafkan aku tapi ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus juga" ujar Agler dengan raut wajah bingung.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, pergilah" ucap Chad.
"Alisya, aku akan kembali nanti siang dan... Ima tolong temani dia"
"Serahkan padaku" sahut Ima yakin.
Agler berpamitan untuk terakhir kalinya sebelum pergi juga dari sana, kini tinggalah Chad, Ima, Alisya dan Reinner yang masih menunggu.
"Apa kau tidak mengantuk?" tanya Alisya melihat Ima yang masih keliatan bugar.
"Aku sudah terbiasa begadang, apa kau mau pulang dulu dan ganti pakaian?" balas Ima.
"Mungkin nanti, aku masih ingin di sini" jawabnya.
"Baiklah" sahut Ima tak memaksa.
Mereka kembali terdiam, sementara Reinner bingung harus bertindak apa sebagai seorang ayah. Ini adalah kali pertama ia melihat putranya begitu tersiksa, mata kosongnya berbicara tentang berbagai kepedihan selama dua puluh tahun lebih.
"Chad... bibi Joy pasti baik-baik saja" ujarnya mencoba menghibur.
"Andai Alisya tidak ada di sana makan saat ini keluarga Hermes sudah kehilangan nyonya mereka" sahut Chad tanpa ekspresi.
__ADS_1