Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 155 Pernikahan


__ADS_3

Mengambil langkah menjadi wali bagi Alisya Chad telah menerima lamaran Agler secara resmi, tanggal pernikahan pun telah di tetapkan yang membuat dua keluarga itu mulai sibuk mempersiapkan segalanya.


Sesuai permintaan keluarga Hermes acara itu akan di berlangsungkan di hotel bintang lima milik Hermes grup, mendekati hari H semua persiapan hampir selesai begitu juga kesiapan mental sang calon pengantin yang telah di tempa sejak lama.


Meskipun begitu tetap saja jantung tak mau memperlambat degupannya, terlebih saat semua menggoda dengan menyebutkan nama kekasihnya.


Bibir yang kemerahan itu tak bisa berhenti tersenyum, semakin merona hingga merah padam pada seluruh wajahnya.


"Kau akan membuat bulan malu dengan tatapan itu" ujar sebuah suara yang membuat Alisya terperanjat.


Ia bangkit dari duduknya, melihat Agler yang entah sejak kapan sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Kau masuk dari mana?" tanyanya sebab ia sudah memastikan pintu kamar terkunci.


"Aku bisa masuk dari mana saja, kau telah membuka hati untuk ku" sahutnya yang membuat Alisya semakin memerah.


"Apa yang kau lakukan di sini? kita tidak boleh bertemu sampai besok" ujarnya sambil memalingkan wajah.


"Aku tidak bisa menunggu sampai besok, kenapa kita tidak menikah sekarang saja? biarkan bulan itu menjadi saksi sekaligus pendeta"


"Bulan akan tetap menjadi bulan, kau tidak bisa memaksanya menjadi seperti apa yang kau inginkan"


"Sungguh? tapi kau berhasil menjadikan ku tangkai sementara kau bunganya" ucap Agler mendekat dengan perlahan.


"Itu bukan permintaan ku, kau hanya mengikuti tempat mu menggenang"


"Walah.... betapa angkuhnya dirimu, sampai kata-kata romantis dalam benakku berlarian menyelamatkan diri"


"Itu karena semua kata itu kau pelajari" balas Alisya lagi.


Kedua mata mereka saling memandang, cukup lama tanpa ada pergerakan apa pun kecuali beberapa kedipan mata.


Perlahan tangan Agler terangkat, membelai pipi Alisya dengan lembut yang membuatnya tenggelam dalam cinta itu. Namun di wajah Agler sendiri senyum itu telah lenyap, justru sebuah genangan di kelopak matanya membuat Alisya bingung.


"Ada yang salah?" tanyanya.


"Berjalan di sampingku tidaklah mudah" ujarnya.


"Aku tahu" sahutnya yakin.


"Aku harus meminum darah manusia"


"Kau bisa mengambilnya dari ku kapan pun kau mau"


"Cakar ku tajam hingga bisa mengoyak dalam satu sentuhan"


"Hati ini sudah lebih dari sekedar hancur saat kau mengambil jarak"


"Ada banyak ancaman yang akan datang, setiap musuh mengatur strategi untuk pembunuhan"


"Maka aku akan berdiri di barisan pertama."


Agler sudah membuka mulut tapi kali ini ia tak menemukan pertanyaan lagi, keyakinan telah memenuhi mata seorang gadis biasa. Nyatanya meski bukan orang spesial tapi manusia biasa sepertinya memiliki kekuatan yang melebihi vampire, itu jelas terlihat dari sorot matanya.


"Meski kau bosan mendengarnya tapi aku akan tetap bertanya, kenapa kau ingin menghabiskan hidup mu dengan ku?" ujarnya.


"Cinta" sahut Alisya tanpa ragu.


"Cinta, seperti gelas yang di penuhi air, seperti malam yang di penuhi bintang, seperti dahan yang di penuhi daun, seperti hatiku... yang di penuhi oleh mu."


Gep


Agler sudah tak bisa menahannya, hatinya sudah semakin meleleh. Dalam pelukan itu ia hanya berharap semuanya akan berjalan dengan baik, meskipun ia tak itu tak akan mudah.


* * *

__ADS_1


Beberapa kali Chad melonggarkan dasi yang telah terpasang rapi di lehernya, terhitung sejak tadi pagi jika dijumlahkan ia sudah menghabiskan wine sebotol.


"Tidak bisakah kau santai sedikit? aku yang akan mengucapkan sumpah bukan kau" ujar Agler menghampiri.


Hhhhhhhh


"Ini adalah kali pertama aku menjadi wali, bahkan sebelum menikah" sahut Chad sambil menghembuskan nafas.


"Kau pikir ini pernikahan ku yang ke seratus? berbeda seperti mu, aku bahkan tidak pernah menyentuh Alisya lebih dari rangkulan"


"Apa maksud mu?" tanya Chad tak mengerti.


"Colt adalah orangtua dengan pemikiran kolot dan itu tertanam padaku"


"Ah... aku mengerti" ucap Chad dengan senyum nakal di wajahnya.


"Berhenti menatap ku seperti itu" erang Agler merasa risih.


Hahaha


"Kau tidak perlu malu, aku juga tidak menyentuh Ima"


"Sungguh?" tanya Agler kaget.


"Yeah... "


"Tapi... kalian sering menghabiskan waktu bersama" ujarnya tak percaya akan pengakuan itu.


"Bukan berarti kami akan selalu melakukannya, memang Ima sangat pandai menggoda dan percayalah aku sendiri kaget mengetahui kesabaran ku"


"Lalu apa yang membuatmu menahannya?"


"Aku tidak melakukannya hanya karena cinta atau sifat lainnya, saat dunia ku hancur karena kebencian menggagahinya tidak akan merubahnya begitu saja. Bersama dengannya, aku ingin itu menjadi momen yang paling bahagia bukan kesenangan sesaat"


"Waw... kau sangat romantis" tukas Agler dengan senyuman.


Ia berjalan meninggalkan Agler dan masuk ke salah satu ruangan, di sana Alisya sudah siap dengan gaun pengantin putih yang bersinar.


Ima dan Mina juga berada di sana untuk membantunya bersiap, melihat para wanita yang begitu penting dalam hidupnya membuat matanya memanas karena haru.


"Kau terlihat sangat cantik" puji Chad sambil mendekat.


"Sungguh? aku benar-benar gugup"


"Semua orang sudah menunggu, begitu juga dengan nenek" ujarnya.


"Kau siap?" tanya Ima.


Ffhhuuuuuhhh...


Menghembuskan nafas panjang Alisya mengambil bucket bunga sebelum kemudian meraih tangan Chad yang terulur, sementara Ima dan Mina pergi lebih dulu.


Tempat dimana pernikahan itu berlangsung sudah ramai di padati tamu, mereka adalah keluarga, teman hingga rekan bisnis yang sudah tak sabar ingin melihat sang mempelai wanita.


Begitu juga dengan keluarga Hermes terlebih Hans, sebagai sepupu ia cukup menantikan momen kebahagiaan untuk saudaranya itu. Tapi perhatiannya tiba-tiba teralihkan pada satu gadis yang baru saja tiba, dengan dress merah muda gadis itu terlihat cantik hingga membuatnya berjalan mendekat.


"Apa aku terlambat?" tanyanya.


"Tidak, kau datang tepat waktu" jawab Hans.


"Oh syukurlah" ucapnya sambil menghela nafas.


"Um... apa ada sesuatu di wajahku?" tanyanya risih sebab pandangan Hans cukup menganggu.


"Ah maaf, kau terlihat cantik... Reah" sahutnya.

__ADS_1


Itu adalah sebuah pujian tulus yang telah lama Reah idamkan, pujian yang membuatnya senang sekaligus sedih.


Cukup lama ia menjadi bayangan dan telah lenyap saat Hans tenggelam dalam kegelapan, kini saat ia telah memutuskan untuk berdamai dengan hatinya. Memilih menjadi raga sendiri bukan bayangan lagi, Hans justru datang sebagai pelita.


"Apakah... pada akhirnya kau menemukan satu serpihan dari sekian banyaknya cinta ku?" tanya Reah pelan.


"Apa?" tanya Hans bingung.


"Kau tahu? langkah mu menggetarkan hatiku, mengguncangnya dengan hebat hingga tidak membiarkan ku dalam damai. Aku berpura-pura menjadi teman terbaikmu hanya untuk membuat jarak antara kita semakin kecil, tapi bahkan meski kulit kita saling menempel cintaku tidak bermuara pada hatimu"


"Reah... aku sangat menyesal, tolong jangan siksa hati yang sudah pernah hancur ini"


"Bagaimana mungkin bisa aku menghancurkannya sementara hidup ku ada padanya? setelah waktu yang ku habiskan hanya untuk membuatmu terkesan, aku hanya akan menghabiskan sisanya dengan hubungan yang awal kali kita jalin."


Ada senyuman pahit menghiasi wajah cantik Reah, sejenak ia hanya memandang Hans sampai puas dan berbalik untuk pergi ke sisi yang lain.


"Ikhlas itu bohong, yang benar adalah terpaksa lalu terbiasa*" ujar Hans yang membuat langkah Reah terhenti.


"Aku mengalaminya dalam kisah cintaku, kau juga pasti akan mengalaminya. Memang pahit tapi itu tidak buruk, setidaknya masih ada satu hubungan baik yang bisa kita jalin" lanjutnya.


"Aku akan bersikap profesional" balas Reah.


Saat langkahnya kian menjauhi Hans orang-orang mulai berdiri dari duduknya, itu karena sang pengantin wanita muncul di dampingi oleh Chad.


Senyum bahagia terpancar dari keduanya saat berjalan perlahan melewati barisan tamu, sementara Agler yang berdiri di altar tak kuasa menahan haru hingga air mata itu jatuh begitu saja.


Alisya menatap Chad dengan sedikit gemetar pada bibirnya setelah mereka sampai di altar, dengan sebuah anggukan kecil Chad memberikan tangan Alisya pada Agler.


Tak ada yang bisa menahan tangis mereka saat upacara itu berlangsung, namun tentu saja sorak bahagia menggema setelah pendeta mengumumkan Agler dan Alisya telah resmi menjadi pasangan suami isteri.


Semakin gaduh lagi saat pasangan itu saling mengecup satu sama lain, lalu pesta pun menjadi puncak kemeriahan acara itu.


"Ayo ikut!" ajak Chad.


"Kemana?" tanya Hans.


"Alisya akan melempar bucket bunganya, kau tahu? siapapun yang mendapatkan bunga itu maka dia yang akan menikah selanjutnya"


"Kau percaya mitos itu?" tanya Hans cukup heran.


"Tidak juga, tapi aku akan tetap berjuang untuk kekasih ku" sahutnya sambil tersenyum.


Hans hanya bisa menggeleng, tapi ia tetap ikut juga ke barisan belakang sementara para gadis di barisan depan.


"Jika kau mendapatkan bunganya aku mohon berikan saja padaku" ujar Ima kepada Reah.


"Kau sungguh menginginkannya?"


"Itu akan menambah alasan ku agar Chad cepat-cepat menikahi ku"


"Astaga... kau membuatku ngeri" tukas Reah sambil tersenyum.


Agler dan Alisya sudah bersiap di altar mereka, membalikkan badan memunggungi para gadis dan bujang. Dalam hitungan ketiga mereka meleparkan bucket bunga itu hingga melayang di udara, cukup tinggi dan membuat semua orang mengira-ngira kemana ia akan jatuh.


Dengan mata vampire Ima bisa melihat dengan jelas bucket bunga itu akan jatuh padanya, tapi semua gadis di sampingnya tiba-tiba memiliki kekuatan super hingga menggeser posisinya.


Tentu saja ia tidak akan mengalah begitu saja.


Aaaaaahhhhh...


Bruk


Sayang, kakinya tergelincir dan jatuh begitu saja. Saat bangkit hal pertama yang ia lihat adalah bucket bunga itu, berada tepat di tengah antara Reah dan Hans.


Tangan mereka sama-sama memegang bucket bunga itu, saling menatap satu sama lain dengan pandangan kaget.

__ADS_1


Tak bergerak seakan waktu berhenti begitu saja, namun degup jantung mereka amatlah kencang hingga semua orang bisa mendengarnya.


Seperti sebuah degupan jantung seseorang yang tengah tenggelam dalam lautan asmara.


__ADS_2