
Kisah-kisah itu kini menjadi nyata, tentang kemegahan yang terlindung dari matahari hingga gaun bangsawan yang menyapu lantai. Saat pertama kali bertemu Tianna ia pikir Tianna hanya vampire biasa, namun setelah ia merubah penampilannya Ima bisa melihat keanggunan putri bangsawan yang sesungguhnya.
Ia berjalan menuruni tangga dengan mata binar yang masih menatap kagum pada istana itu, Tianna sebagai pemandu membawa mereka masuk ke sebuah ruang makan yang besar.
"Wow... " decak kagum Ima semakin menjadi melihat banyaknya makanan yang tersaji di meja panjang itu.
"Silahkan" ujar Tianna mengisyaratkan untuk duduk.
Semua makanan itu adalah makanan yang lumrah di konsumsi manusia, itu cukup membuat Kyra sedikit terkejut karena ia pikir akan di sajikan makanan mentah dan darah.
"Aku tidak tahu seleramu jadi aku menyuruh Koki untuk memasak semuanya" ujar Keenan yang baru duduk di kursinya.
"Semuanya kelihatan enak" ucap Ima yang sudah tergiur.
"Kalau begitu jangan sungkan, silahkan di makan" sahutnya sambil tersenyum.
Meski begitu Ima tetap menunggu tuan rumah mengangkat gelasnya dahulu, dengan segelas air putih mereka pun mulai makan. Ima tanpa ragu memakan apa pun yang tersaji, berbeda dengan Kyra yang masih melihat-lihat.
"Nikmatilah makanannya, semua ini aman untuk kau makan" bisik Ima yang sadar akan ketakutan Kyra.
"Kau yakin?"
"Aku juga masih setengah manusia" jawab Ima meyakinkan.
Karena ucapan itu akhirnya Kyra mau mencobanya, di luar ekspetasi rupanya makanan itu cukup enak.
"Kami juga terbiasa makan makanan manusia, apalagi sebagai Raja sesekali aku harus mengundang pemimpin penyihir jadi Koki kami terbiasa membuat jamuan ini" ujar Keenan.
"Ini seperti makan di restoran mahal, bahkan mungkin lebih dari itu" sahut Ima.
Keenan tersenyum senang melihat tamunya puas, acara makan itu di tutup dengan segelaa darah yang segar.
"Ah... ini benar-benar nikmat" ujar Ima memuji.
"Kami memiliki darah dengan kualitas terbaik" sahut Keenan yang membuat Ima terdiam.
Tentu saja sebagai raja ia memiliki segalanya, bahkan untuk segelas darah dengan kualitas terbaik pun bisa dia dapatkan dengan mudah tak seperti Ima yang harus berburu.
Selesai makan Keenan berniat menunjukkan istana kepada mereka, tapi Kyra tidak memiliki keinginan akan hal itu.
"Aku sudah menyiapkan kamar baru untuk kalian, pelayan akan mengantarmu" ujar Keenan.
Berada di sekeliling vampire tentu bukan hal menyenangkan bagi Kyra meski dia di perlakukan baik, rasanya seperti hadiah makanan sebelum hukuman mati.
Hanya Ima yang masih bersemangat untuk menjelajah, ia mengikuti kemana Keenan melangkah sambil bercengkrama.
"Setiap saat aku memimpikan hidup dalam istana megah seperti ini, walau pun hanya sekali dalam seumur hidupku aku tetap ingin merasakannya. Sekarang kaki ku telah berdiri di sini, semua berkat kebaikan anda" ujar Ima.
"Kita memiliki mimpi yang sama, ingin hidup tenang dan di akui. Jika semuanya lancar bahkan kau akan bertemu dengan Anna"
"Aku harap hal itu menjadi kenyataan" sahutnya.
"Yang Mulia, rapat akan segera di mulai harap anda menghadirinya" ujar seorang prajurit.
"Ah sepertinya tur ini harus berakhir di sini" ucap Keenan.
Ima cukup mengerti sebagai Raja tentu Keenan sangat sibuk, setelah kepergian Keenan seorang pelayan pun datang untuk membawanya ke kamar.
Di sana Kyra terlihat gelisah dengan terus meremas tangannya, dengan wajah yang pucat ia berjalan mendekati Ima untuk bicara.
"Kita harus mencari cara untuk keluar dari sini"
"Jangan lakukan hal yang sia-sia" sahut Ima dengan pandangan yang lebih tertarik pada desain kamar itu.
"Apa maksud mu? apa kau tidak ingin keluar dari sini?" tanya Kyra dengan nada tinggi.
"Seberapa besar kekuatan mu untuk melawan para prajurit itu? pikirkanlah baik-baik resiko yang akan kau ambil"
"Tapi mau sampai kita di sini?"
"Sampai Anna datang, selama apa pun itu yang terpenting adalah mereka memperlakukan kita dengan baik" jawabnya.
"Kau sangat menikmati makanan itu, kau juga begitu antusias melihat istana. Sejak awal kau menginginkan semua ini" tuduh Kyra dengan sinis.
Prang
Aaaaa....
Hanya dengan satu tangan Ima menepis vas bunga yang ada hingga terjatuh dan hancur di lantai, ekspresinya begitu dingin dengan tatapan tajam yang tertuju pada Kyra.
__ADS_1
"Memangnya kenapa jika aku menikmati semua ini? kau yang hidup damai tanpa perlu berpindah-pindah rumah demi keselamatan mu tidak akan pernah mengerti, jika kau ingin kabur maka lakukan sendiri. Aku tidak mau menjamin keselamatan mu yang bahkan tidak bisa menjaga ucapannya sendiri" ujar Ima.
Kyra terdiam akan ucapan itu, sadar bahwa ia terlalu lemah dan sembrono. Dalam keadaan seperti ini memang akan lebih tepat berfikir dengan kepala dingin, lalu mengambil tindakan dalam waktu yang tepat.
Dengan muka masam Ima duduk di pinggiran kasur, berfikir untuk mencari jalan keluar yang aman.
Ia memang senang tinggal di sana tapi bukan berarti ingin tinggal selamanya, ia juga memikirkan Agler dan Chad yang pasti sekarang ini sedang cemas.
Tok Tok Tok
Ketukan di pintu itu membuat mereka terperanjat, berhati-hati Ima melangkah dan dengan perlahan membuka pintu. Ia cukup kaget melihat Ballard yang berdiri di sana, dari wajahnya nampak ia cemas.
"Ah benar dugaan ku" ujar Ballard.
"Apa yang tuan lakukan di sini?" tanya Ima kaget.
Ballard kemudian masuk terlebih dahulu setelah memastikan keadaan aman, matanya tertuju pada Ima yang menatapnya dengan heran.
"Bagaimana bisa kau ada di sini?" tanya Ballard.
"Itu... mereka menculik teman ku, saat aku mencoba menyelamatkannya aku malah ikut terseret" jawab Ima.
Saat ia berjalan mengikuti Tianna ke ruang makan tanpa sengaja Ballard melihatnya, wajah Ima yang familiar tentu membuatnya penasaran hingga mengingatnya.
"Agler pasti cemas jika tahu kau juga di culik olehnya" ucap Ballard.
"Benar, aku sedang memikirkannya"
"Akan ku beritahu Agler kalau kau ada di sini"
"Tuan! tolong katakan pada kakak bahwa aku baik-baik saja, Raja memperlakukan ku sebagai tamunya jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tolong cegah dia jika ingin menyelamatkan ku, untuk saat ini hal itu akan sia-sia" pinta Ima.
Ballard cukup kaget mendengarnya, ia tak mengira gadis seperti Ima bisa begitu tenang menghadapi masalah.
"Yang di inginkan Raja hanya bertemu dengan Anna, selama itu kita bisa pikirkan dengan matang cara keluar dari sini tanpa menimbulkan masalah dan selamat"
"Sepertinya Raja telah banyak berbincang dengan mu" komentar Ballard.
"Dia hanya seorang pria yang ambisius, kami punya satu idola yang sama jadi aku cukup mengerti dirinya" jawab Ima.
Ballard mengangguk tanda mengerti, memastikan bahwa Ima memang baik-baik saja ia pun berjanji akan menyampaikan pesannya kepada Agler.
Sebuah surat yang tiba pagi itu membuat semua penghuni kastil tua heboh, teriakan hingga isakan tangis memicu perdebatan yang membuahkan omong kosong.
Berkali-kali Jack hendak pergi dan berkali-kali juga Shigima menghentikannya, pada akhirnya mereka hanya diam dalam penyesalan.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Violet dengan mata kosong.
"Aku akan menyelinap masuk ke istana untuk memastikan keadaan Blue, tapi aku tidak bisa membawanya pulang" ujar Hans.
"Kau bisa melakukannya kenapa tidak sekalian menyelamatkan Blue?" tanya Violet dengan nada meninggi.
"Keenan bukanlah vampire yang bisa di kalahkan begitu saja, dia bahkan bisa membunuh kawanan vampanences seorang diri."
Diantara mereka memang Hans yang paling tahu Keenan, untuk itulah Jack mempercayakan masalah ini kepadanya setelah bujukan Shigima.
"Sebaiknya kita jangan bertindak gegabah, aku tidak ingin ada korban lagi dalam peristiwa seperti ini" ucap Shigima.
Jack dan Ryu tersentak akan u apan itu sebab mereka teringat akan kematian Ken yang menyedihkan, andai mereka tidak gegabah dalam menyelematkan Anna mungkin saat ini Ken masih ada.
"Aku sudah mengirimkan surat kepada Elf, aku harap dia bisa membantu kita" ujar Hans.
"Semoga saja" sahut Jack.
Sementara itu menunggu matahari terbenam baru Ballard pergi menemui Agler, sebelumya ia juga datang menemui Chad namun hanya meminta untuk ikut dengannya bertemu Agler.
"Aku membawa pesan dari Ima" ujarnya.
"Apa? kau tau dimana Ima berada?" tanya Chad cepat.
"Dengarkan baik-baik pesan yang ku bawa dan ingatlah untuk tetap tenang" ucapnya.
Chad dan Agler menganggukkan kepala tapi Ballard terdiam beberapa saat hanya untuk memastikan mereka siap dengan kabar yang ia bawa.
"Keenan memiliki rencana baru dalam menarik perhatian Anna, yaitu dengan menculik anggota keluarga Hermes. Saat ini gadis bernama Kyra telah ia culik dan sayangnya Ima yang berniat menolong ikut di culik juga"
"Apa? bagaimana bisa?" tanya Agler.
"Aku tidak tahu bagaimana peristiwa yang sebenarnya, tapi untuk saat ini Ima ada di istana. Untuk keadaannya sendiri dia sangat baik-baik saja, Keenan memperlakukannya sebagai tamu kehormatan jadi kalian tidak perlu terlalu risau"
__ADS_1
"Lalu apa pesan dari Ima?" tanya Chad.
"Dia minta untuk jangan bertindak gegabah, itu lebih di tunjukkan kepada mu" jawabnya sambil menunjuk Agler.
"Dia akan tetap tinggal di sana sampai Anna benar-benar datang, dia juga menjamin keselamatannya Kyra" lanjutnya.
Ada senyum tipis di wajah Chad mengingat pesan itu sangat khas dengan Ima, gadis keras kepala yang pemberani. Jika Ima sudah berkata begitu artinya ia memang sudah memikirkan segalanya dengan matang, meski begitu ia juga tetap ingin pergi untuk memastikannya.
Melihat raut wajah kedua cucunya yang masih saja cemas membuat Ballard berfikir untuk meraih hati mereka.
"Aku tahu kalian sangat khawatir, jika kalian mau aku bisa membantu kalian menemuinya" ujarnya yang membuat saudara kembar itu tersenyum.
"Tapi ingat! kalian hanya boleh menemuinya lalu pergi, seperti kata Ima jika ia kabur maka masalahnya semakin runyam" ucapnya memperingatkan.
Agler dan Chad mengangguk tanda mengerti, maka mereka pun segera pergi. Di tuntun oleh Ballard mereka mengambil jalan pintas agar bisa cepat sampai, saat kaki mereka telah menginjak wilayah vampire Ballard kembali mengingatkan untuk tidak gegabah.
Ia memberi petunjuk untuk masuk lewat jendela di bagian samping istana sementara dia akan masuk lewat pintu depan seperti biasa, hanya dengan satu lompatan saja mereka sudah bisa melewati jendela tersebut.
Bersembunyi di balik kegelapan mereka menunggu hingga Ballard menjemput, barulah bersama mereka berjalan kembali.
Saat ada prajurit yang lewat dengan cepat mereka bersembunyi sementara Ballard bertugas mengalihkan perhatian.
"Majulah terus dan belok kiri, kalian akan menemukan sebuah kamar dan tunggulah di sana sebentar. Aku akan beritahu Ima dulu kalau kalian datang agar ia bisa bersiap" ujar Ballard.
"Kami mengerti" sahut Chad.
Mereka pun berpisah, Ballard mengambil jalan lain sementara mereka mengambil langkah sesuai petunjuk.
Koridor itu cukup sepi sehingga mereka bisa leluasa berjalan, telat di persimpangan setelah belok kiri dengan mudah mereka menemukan kamar yang di maksud.
Perlahan Chad membuka pintu itu, suaranya yang berderak cukup berisik hingga membuat mereka agak takut ketahuan. Hanya butuh waktu beberapa detik bagi Chad untuk memastikan kamar itu memang kosong sebelum akhirnya masuk.
Setelah pintu kembali di tutup debu-debu berterbangan yang membuat hidung Chad cukup gatal, dia yang tidak suka kotor tentu cukup terganggu karena hal itu.
Agler melihat sekeliling kamar itu, dengan debu yang menempel di sana sini kamar itu lebih cocok di sebut gudang dari pada kamar meskipun ada tempat tidurnya.
Tiba-tiba sebuah langkah kaki yang cepat membuat mata mereka mengawasi pintu itu, sebelum pintu terbuka dengan cepat mereka bersembunyi di balik kegelapan.
Seorang pria berpakaian serba hitam masuk dan segera menempelkan tubuhnya di samping pintu, mengawasi suara lain yang berada di luar.
Meski kamar itu cukup gelap tapi Chad dapat melihat wajah pria itu dengan cukup baik, hatinya yang sejak tadi bisa tenang tiba-tiba membara hingga membuatnya keluar dari persembunyian.
Syuuuttt...
Trang
Ah..
Hans yang telah terlatih tentu dapat merasakan kehadiran Chad meski datang tiba-tiba, secara refleks ia melemparkan belati namun Chad dapat menangkisnya mudah.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Chad.
"Kau... " panggil Hans mengingat wajah yang sempat ia lihat.
Ia ingat dia adalah Chad yang datang ke rumah untuk menjenguk Kyra meski sebenarnya saat itu yang datang adalah Agler.
"Aku hendak menemui Kyra" jawabnya.
"Kau mengenalnya?" tanya Agler yang tiba-tiba keluar.
Melihat wajah mereka yang sama membuat Hans cukup kaget, ia tak menyangka Chad memiliki kembaran yang begitu mirip.
"Dia Hans Hermes, orang yang sudah menculik dan melecehkan sepupuku" tuduh Chad memendam amarah.
"Apa?" tanya Agler kaget.
"Itu tidak benar, aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu" ujar Hans yang tak menerima tuduhan itu begitu saja.
"Bedebah! dengan mudah kau melupakannya, jika nenek tidak bertindak cepat kau pasti telah melakukan hal yang lebih gila lagi."
Hans hanya termenung heran sampai ia ingat bahwa beberapa waktu lalu dia sempat menyelamatkan seorang gadis yang melihat pertarungannya dengan vampire, karena sebuah kesalahpahaman Joyi menuduhnya sebagai dalang penculikan bahkan Shigima dan Jack sempat menyinggung hal ini.
"Kau salah paham, aku tidak melakukan itu pada sepupumu" ujar Hans membela diri.
"Tidak ada pencuri yang mengaku telah mencuri" sahut Chad.
Ia sudah terlalu lama memendam kebencian kepada Hans akan kasus Alisya, kini saat Hans tepat berada di depannya dengan wajah polos tentu itu mengundang amarahnya.
Tak membiarkan Hans lolos Chad pun melancarkan satu serangan.
__ADS_1
Buk.