Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 62 Jawaban Kyra


__ADS_3

Sarapan di kediaman Hermes akan selalu dengan sesuatu yang bergizi, Jack ingin semua anggota keluarga hidup sehat dan panjang umur terlebih Jessa yang kini sudah normal.


Bangku di meja makan itu kini penuh lagi seperti dahulu, seperti saat ia pertama kali membawa Anna yang menjadi satu-satunya gadis di sana.


"Kemana Blue?" tanya Jack sebab cucunya itu belum kelihatana sementara sarapan sudah di mulai.


"Aku akan mengantarkan sarapannya nanti" jawab Violet.


"Kau masih mengurungnya di kamar?" tanya Jack dengan nada yang cukup tinggi.


Violet menatap ayah mertuanya itu tanpa rasa takut sedikit pun, tidak seperti anak-anak Jack yang bahkan tidak berani membantah Violet bicara dengan nada tegas.


"Dia harus belajar merenungkan kesalahanya agar tidak mengulanginya lagi."


Jack hendak bicara lagi tapi Jessa dengan lembut segera memegang tangannya, mengisyaratkan dengan tatapannya untuk tidak memperpanjang masalah. Sementara anggota keluarga yang lain bahkan tidak berani mengangkat kepala mereka.


"Permisi nyonya, ada kiriman paket untuk nona Kyra" ujar seorang pelayan menghampiri.


"Oh terimakasih" jawabnya segera meletakkan sendok dan garpu.


Dengan penasaran Violet membuka bungkusan paket itu dan menemukan sebuah gaun indah, di baliknya terdapat kartu si pengirim yang membuat wajah Violet semakin berseri.


"Oh lihatlah apa yang di buat calon menantu ku pagi-pagi sekali? aku rasa Blue akan terlihat cantik mengenakannya" ujarnya memamerkan gaun indah itu di hadapan semua orang.


Ia bergegas menaruh kembali gaun itu pada tempatnya dan pergi membuka kunci pintu kamar Kyra, pagi itu rupanya Kyra sudah bangun dan tengah memandang luar kamarnya lewat jendela dengan putus asa.


"Ibu harap kau sudah menyesali perbuatan mu, bergegaslah mandi dan kenakan gaun itu. Jangan menunggu sarapan mu sampai dingin" ujarnya menaruh paket itu di atas ranjang.


Saat Violet pergi keluar dan menutup pintu rasa penasaran membuat Kyra menganbil paket itu untuk melihat benda apa itu, matanya yang kosong segera berisi melihat gaun yang ia kenali.


Itu adalah gaun yang di pakai seorang model kemarin di acara fashionshow, ia ingat betul sebab ia mengatakan menyukai gaun itu kepada Manager San. Rasa senang kini memenuhi dadanya hingga tawa kecil keluar begitu saja, namun saat matanya melihat sebuah kartu yang ada di sana justru tertulis nama Chad.


Ini agak membingungkan, jelas bahwa kemarin ia jalan dengan Manager San tapi setelah mengingat apa pekerjaan Manager San seketika hatinya hancur. Sudah bisa di pastikan Chad meminta saran kepada Manager San untuk mengiriminya hadiah dan disinilah gaun itu berada, rasa senang itu kini berubah menjadi kecewa.


Menghapus air mata di pipi mulusnya segera Kyra bersiap, mengenakan gaun yang susah payah telah di kirimkan untuknya. Keluar dari kamar dan memperlihatkan betapa cantiknya dirinya Kyra berkata.


"Ibu...aku sudah siap bertemu dengan Chad."


* * *


Dering telpon itu membuat Joyi beranjak dari tempat duduknya, sebuah kabar yang ia dapat membawanya ke kantor secepat mungkin. Menemui Chad yang sibuk dengan pekerjaannya sebuah senyum getir membuat Chad bertanya-tanya.


"Kyra ingin menemui mu" ujar Joyi memberitahu.


Bukan hanya Chad yang cukup kaget mendengar berita itu tapi juga Manager San, dalam benaknya terbayang satu hari dimana ia memiliki Kyra hanya untuk dirinya sendiri sebelum kenyataan datang dan membawanya pergi.


"Baiklah, ayo kita pergi" jawab Chad kepada Manager San.


Dengan berjalan lebih dulu Manager San pergi mengambil mobil, setelah Chad duduk di kursi penumpang mobil pun melaju.


Mereka tiba tak berapa lama kemudian, dari pintu restoran yang terbuka Manager San bisa melihat Kyra mengenakan gaun yang ia kirimkan. Rasa sakit yang entah mengapa ada di sana membuatnya sulit berjalan, seolah dia telah melakukan kesalahan yang tak termaafkan.


"Selamat pagi" sapa Chad.


"Selamat pagi, maaf telah mengganggu pekerjaan mu" jawab Violet.


"Tidak masalah, kebetulan hari ini pekerjaan ku tidak terlalu banyak."


Chad duduk tepat di hadapan Kyra, memperhatikan gaun yang di kenakannya. Semalam yang telah larut tiba-tiba terlintas dalam benaknya untuk mengirim hadiah kepada Kyra sebagai bentuk perhatian yang di butuhkan dalam misinya, ia meminta Manager San untuk memilih barang yang bagus dan sekarang ia tahu gaun seperti apa yang di pilihkan Manager San.


"Kau terlihat cantik, sepertinya bunga yang baru merekah pun akan iri kepadamu hari ini" ujar Chad.


Sebuah pujian yang tidak pernah bisa ia katakan kepada Ima sebab hanya ada kebohongan di dalamnya, sebab saat ia melihat Ima jantungnya terlalu berdegup kencang tak terkontrol hingga membungkam mulutnya begitu saja.

__ADS_1


"Terimakasih, aku menyuaki gaun ini. Kau memilih dengan tepat, bagaimana kau bisa tahu seleraku?" tanya Kyra yang justru membuat Manager San tak sanggup berada di sana.


"Um...sebenarnya aku tidak yakin, tapi saat melihat gaun itu aku membayangkan kau memakainya dan akan terlihat indah" jawab Chad.


"Ah kalau begitu silahkan lanjutkan, um...Manager San bisakah kita pergi meja yang lain?" tanya Violet yang begitu senang.


Manager San menganggukkan kepalanya, maka mereka pun memilih duduk di meja lain yang tak terlalu jauh.


"Ah...bukankah mereka adalah pasangan yang ideal?" ujar Violet sembari duduk.


"Menurut ku pun seperti itu" jawab Manager San pelan.


"Sudah berapa lama kau bekerja untuk Chad?"


"Lebih tepatnya aku bekerja untuk keluarga Menhad, itu berlangsung sudah cukup lama"


"Kalau begitu aku yakin kau sudah paham di mana posisimu, aku juga pernah muda Manager San dan aku bisa melihat mata yang berbinar saat sedang jatuh cinta" ujar Violet menatap tajam.


Tanpa di beritahu Manager San pun selalu sadar dimana posisinya, sekali pun ia tidak pernah membangkang pada keluarga Joyi yang telah banyak membantunya.


Tapi masalahnya ia menyuaki Kyra dan tidak tega melihat Kyra hanya di jadikan pion balas dendam bagi Chad, semua yang telah di lakukan Chad ia tahu betul hanyalah sebuah kebohongan yang tidak bisa ia ungkap kepada Kyra.


"Saya paham maksud anda, sepertinya terjadi kekeliruan diantara kita" ujarnya yang memutuskan lebih setia pada Joyi.


"Benarkah?" tanya Violet tidak serta merta percaya.


"Hari ini saya di tugaskan untuk mencaritahu apa saja yang di sukai nona Kyra, mengetahuinya dari orangnya langsung menurut saya itu lebih tepat. Jadi saya memutuskan untuk mengajak nona Kyra ke acara fashionshow, di sanalah nona Kyra memberitahu saya seleranya dan gaun yang dia kenakan sekarang adalah salah satu gaun yang ia sukai di acara itu" jelasnya.


"Jadi...Chad menyuruh mu melakukan semua itu?"


"Tuan Chad tidak suka kesalahan, karena itu ia selalu mencaritahu dulu sebelum memutuskan"


"Ahahahaha, calon menantu ku rupanya sangat telaten" ujar Violet tertawa girang.


"Sayangnya pertemuan kita harus berakhir di sini, kalau begitu nyonya Violet sampai bertemu lagi nanti" ujar Chad.


"Oh, ah ya..hati-hati di jalan" jawab Violet bingung.


"Apa yang kau katakan padanya?" tanya Violet cepat saat Chad telah pergi.


Namun mata Kyra masih tertuju pada Manager San yang sempat meliriknya dengan tatapan sedih, seolah ia tak senang pada apa yang di lakukan Kyra.


"Blue!" panggil Violet lagi.


"Ah, aku mengatakan apa yang ibu inginkan"


"Kau meneriman lamarannya?"


"Tidak juga"


"Astaga jangan buat ibu pusing dengan permainan kata-kata mu, katakan kau menerimanya atau tidak?" ujar Violet kesal.


"Aku menerimanya, tapi tidak dalam waktu dekat. Aku memintanya menunggu sampai ujian ku selesai dan lulus barulah kami bertunangan"


"Kenapa kau lakukan itu? kau membuatnya menunggu lagi"


"Ibu...dia mau menungguku, itu hanya tinggal beberapa bulan lagi kami sepakat untuk mulai secara perlahan agar lebih saling mengenal" ujar Kyra yang sudah terlalu lelah.


"Baiklah itu tidak terlalu buruk" gumam Violet.


"Bisakah kita pulang sekarang? aku sudah lelah" pinta Kyra.


* * *

__ADS_1


Kehadiran Jack di Akademi mengundang tanda tanya besar bagi Hans, bagamiana tidak? kakeknya itu sudah lama pengsiun bahkan sudah tidak mau tahu lagi urusan dunia penyihir saat ini.


Dengan sabar ia menunggu Jack menyelesaikan urusannya di ruangan Nyonya, setelah menghabiskan waktu berjam-jan barulah Jack keluar dengan memasang wajah serius.


"Kakek" sapanya.


"Oh, Hans" jawab Jack sedikit terkejut.


"Apa yang kakek lakukan di sini?"


"Um...itu tidak ada, kami hanya sudah lama tidak bertemu jadi kakek menemuinya"


"Kakek... apa ini ada hubungannya dengan Raja vampire yanh baru?" tanya Hans jelas tidak percaya begitu saja.


"Ah, Nyonya sempat menyinggungnya. Dia berkata sekarang kita tidak perlu mengkhawatirkan apa pun" jawab Jack berusaha tersenyum.


Tapi Hans ada di sana, di istana vampire sebelum Nyonya datang karena sebuah undangan. Sejak awal ia merasa ada yang salah dengan Raja baru itu, tak mendapat jawaban yang memuaskan dari Jack maka Hans akan membuka mata dan telinganya lebar-lebar.


Ia memang mengharapkan perdamaian, tapi ia tidak mengharapkannya dari Raja baru yang sedikit aneh itu. Kecurigaannya mulai muncul di malam saat menemukan sekumpulan penyihir dengan pakaian serba hitam, para penyihir itu keluar dari ruangan Nyonya dan bergerak diam-diam meninggalkan Akademi.


Hatinya semakin yakin bahwa undangan itu bukan hanya untuk membahas monster penghisap darah saja, saat pemimpin dari kedua kubu itu bicara empat mata pastilah ada sesuatu yang lain. Yang menjadi topik utama dan alasan Jack datang ke Akademi, selain itu alasan mengapa ada kelompok penyihir misterius yang mencurigakan.


* * *


Terpenjara dalam kamarnya sendiri bukanlah sesuatu yang buruk, berapa pun lamanya ia terkurung hal itu tak akan mengubah sifatnya untuk mencari kebebasan.


Lagi, malam itu diam-diam Kyra menyelinap keluar dari kamarnya lewat jendela. Di malam dingin dengan salju yang mulai menutupi jalan ia berjalan menyusuri trotoar hingga sampai pada toko dimana ia bertemu Manager San.


Sayangnya malam itu Manager San tidak kebetulan lewat sana, maka hanya ada satu tempat yaitu restoran favoritnya.


Dunia Manager San hanya ada dua, yaitu kantor dan restoran kecuali ia pergi atas perintah Chad atau Joyi. Beruntung malam itu ia ada di sana menikmati segelas anggur tanpa teman, wajahnya nampak kacau tak sepadan dengan pakaiannya yang selalu bersih.


"Boleh aku minta minum?" tanya Kyra mengejutkannya.


"Ka-kau? apa yang kau lakukan di sini?"ujarnya balik bertanya.


"Meluruskan apa yang perlu di jelaskan" jawab Kyra serius.


Manager San cepat mengerti seolah mereka memang satu pemikiran, dia pun memesan satu gelas minuman untuk Kyra.


"Apakah kau yang merekomendasikan gaun itu kepada Chad?" tanya Kyra memulai.


Manager San hanya mengangguk.


"Apakah...Chad memberitahumu isi percakapan kami tadi pagi?" tanyanya lagi.


Kini Manager San terdiam, tentu saja ia tahu sebab Chad telah mengatakan semuanya. Perlahan ia kembali menganggukkan kepala.


"Chad adalah pria yang sempurna, dia tampan dan juga kaya. Siapa pun gadis yang dia lamar sangatlah beruntung, tapi....menurut mu apakah aku memiliki alasan untuk menolaknya?" tanya Kyra untuk yang terakhir kalinya.


Seketika Manager San menatap sepasang mata biru yang indah itu, tentu saja ada sebuah alasan kuat yang bisa ia utarakan kepada Kyra hanya saja alasan itu mengganjal dalam tenggorokan tanpa bisa keluar.


Mungkin ia akan menyesali perbuatannya kali ini, tapi ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan maka dengan perlahan ia menggelengkan kepala.


Saat itulah Kyra menutup mata indahnya untuk menjatuhkan sebutir air yang asin, menahan hatinya yang telah mendapat penjelasan.


"Kau benar, aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya sekali pun ada seseorang yang aku harapkan" ujarnya mencoba tersenyum di tengah air mata yang tak mau berhenti mengalir.


Apa daya, Manager San hanyalah seorang kacung yang sekali pun hidupnya bebas ia tak akan bisa menggapai Kyra dengan derajat yang lebih tinggi darinya.


Menghapus air mata Kyra bangkit dari tempat duduknya dan berpamitan pergi, tapi sebelum ia benar-benar pergi sesuatu yang menggangal dalam hatinya ia putuskan untuk di keluarkan saat itu juga.


"Kau tahu, aku senang kita bisa bertemu dan saling mengenal. Hari-hari singkat itu terasa menyenangkan dan sempat membuat ku berharap lebih, tadinya aku besar kepala karena kita satu pemikiran. Tapi ternyata tidak pernah ada kata 'kita' dalam hubungan ini, semoga harimu menyenangkan."

__ADS_1


Andai saja tidak ada nama Hermes di belakang nama Kyra mungkin saja kata 'kita' itu benar-benar ada, atau dia bukanlah Manager San yang setia.


__ADS_2