
Redupnya ancaman dari kaum vampire membuat Hans memiliki banyak waktu luang sehingga ia menjadi lebih sering pulang, tentu kedua orangtuanya senang akan hal ini termasuk dengan Jack.
Tapi Kyra sebagai sepupu yang cukup dekat kali ini terlihat tidak peduli, seperti dua orang yang berbeda bahkan tidak ada lagi keceriaan dalam diri Kyra.
Hari itu pun dengan wajah datar ia berkata.
"Aku senang masalah mu telah selesai, pernikahan ku di percepat jadi aku harap tak ada lagi masalah yang muncul."
Hans hanya terpaku, menerka seberapa besar luka di hati gadis itu hingga kehilangan warna dalam hidupnya. Padahal ia begitu mengkhawatirkan Kyra, setiap menatap lengannya dimana bekas sayatan itu hampir hilang ada perasaan menyesal tentang masalah serius yang terjadi.
"Aku harap juga demikian" sahutnya tak mau bicara panjang lebar.
Hakan yang di beritahu akan perubahan rencana tak keberatan sama sekali, ia justru senang dan segera mengabarkannya kepada keluarga besar.
Beruntung ia sudah mempersiapkan segalanya sejak awal, termasuk memesan gaun pengantin dan cincin pernikahan yang telah siap. Mereka hanya tinggal mengatur tempat resepsi di lakukan serta jamuan untuk tamu undangan.
Mendekati hari dimana pernikahan itu akan di berlangsungkan Violet datang ke kediaman Joyi, secara resmi ia mengundang keluarga Joyi termasuk Chad dan Amelia.
Jessa juga tak mau kalah dengan mengundang Agler beserta keluarga Colt, dalam pernikahan itu setidaknya ia ingin keluarga Hermes hadir dengan komplit.
Mendapat undangan Chad dan Agler pun sepakat untuk pergi bersama, hanya untuk menyenangkan hati Kyra dan bertemu untuk terakhirkalinya sebelum berpisah.
Waktu yang berjalan dengan cepat memberitahu bahwa esok adalah hari pelaksanaan tiba, Jack yang tak sabar masih saja berada di hotel tempat acara di berlangsungkan meski malam telah larut.
"Ayah" panggil Shigima menghampiri.
"Kau belum pulang?" tanya Jack.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, ini sudah larut kenapa ayah belum pulang?"
"Ah Shigima... aku tak bisa tenang, rasanya sangat gugup hingga tubuhku tak merasakan lelah" akuinya.
"Meski begitu ayah tetap harus pulang dan beristirahat, esok adalah hari penting jadi jangan sampai ayah kesiangan" ujarnya.
"Aku mengerti, setelah memeriksa semua persiapan ini ayah akan pulang"
"Tidak tidak, sebaiknya ayah pulang sekarang bersamaku" desak Shigima yang tak mau ambil resiko.
Jack terus beralasan namun Shigima tak mau mendengarkan, ia sangat kenal ayahnya itu dan seberapa keras kepalanya dia.
Akhirnya mau tak mau Jack pulang juga, memaksakan diri menutup mata untuk beristirahat.
Seolah tahu hari itu merupakan hari bahagia yang bersejarah bagi keluarga Hermes, alam pun nampak mendukungnya dengan memperlihatkan kecerahan langit yang biru.
Awan putih berarak pelan dengan desir lembut menyapa wajah-wajah ceria yang tersenyum, hotel tempat berlangsungnya proses pernikahan Kyra dengan Hakan hampir di penuhi oleh orang-orang yang terdiri dari keluarga besar dan sahabat.
Menuju siang hari keluarga Joyi datang bersama dengan keluarga Colt, Violet yang pertama melihat segera menghampiri.
"Selamat datang nyonya Joyi dan keluarga, aku senang kalian bisa menghadiri acara ini" sambutnya.
"Ini adalah hari istimewa bagi Kyra, sebagai sepupu Chad tentu harus datang dan aku merasa bersalah jika tidak memenuhi undangan mu" sahutnya.
"Terimakasih, mari masuk!" ajaknya.
Memimpin jalan Violet menujukkan tempat duduk yang telah di persiapkan untuk mereka, sambil menunggu berlangsungnya acara Violet menyempatkan diri mengobrol sebentar.
Di tengah wajah-wajah yang tak sabar menunggu satu wajah pucat terlihat kontras, bahkan keringat yang bergulir di keningnya menunjukkan ketidaknyamanannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Alisya pelan.
"Oh ya nona, saya hanya kurang tidur saja" sahut manager San.
"Apa Chad memberi pekerjaan berat padamu hingga tak bisa tidur?"
"Tidak nona, bukan itu. Akhir-akhir ini saya memang sedang susah tidur, sebaiknya saya cari udara segar dulu" jawabnya cepat.
"Begitu rupanya, baiklah" sahut Alisya.
__ADS_1
Ia segera melangkahkan kaki pergi keluar, menyusuri koridor sampai langkahnya terhenti karena pengantin wanita yang keluar dari sebuah ruangan.
Saat mata mereka beradu pandang sejenak waktu seakan berhenti, namun kemudian Kyra mengambil langkah lebih dulu. Berjalan tepat di hadapan Manager San secara perlahan di dampingi oleh pelayan, jantung mereka berdegup sangat cepat dan semakin cepat lagi saat mereka semakin dekat.
Mulut yang selama ini bungkam tiba-tiba siap terbuka dengan seribu kata tentang perasaannyanya, namun langkah Kyra tak berhenti. Ia melewati Manager San begitu saja seakan ia hanya sebuah patung.
Degh
Detakan jantungnya begitu besar dan terasa kasar, mengakibatkan rasa sakit yang hebat.
"Kyra!" panggilnya tiba-tiba dengan tangan yang meremas dadanya.
Terpaksa langkah itu terhenti, namun Kyra tak mau menengok kebelakang yang membuat hati itu begitu hancur. Mencoba terlihat tegar Manager San melangkah, mendekati Kyra hingga berdiri tepat di hadapannya.
"Kau terlihat cantik dengan gaun ini, selamat atas pernikahan mu" ujarnya pelan.
Entah mengapa air mata itu jatuh begitu saja, mungkin karena itu ucapan tulus yang teramat ikhlas. Bukan penyesalan yang selama ini ia dengar, dan karenanya rasanya pun lebih menyakitkan.
"Terimakasih" balas Kyra.
* * *
Tersenyum bahagia sekaligus sedih Ryu menggandeng tangan Kyra memasuki altar, perlahan mereka berjalan menuju mimbar pendeta dimana Hakan pun telah berdiri di sana tersenyum haru padanya.
Saat tiba Ryu menggiring tangan Kyra untuk di persatukan dengan tangan Hakan, mereka saling tersenyum hingga mengucapkan sumpah pernikahan di hadapan semua saksi dan pendeta.
"Dengan ini kunyatakan kalian sebagai pasangan suami istri yang sah" umum sang pendeta.
Senyum-senyum sumringah menyambut pengantin baru, di lanjut dengan sorakan saat pendeta mengijinkan Hakan untuk mengecup Kyra yang resmi menjadi istrinya.
Tring....
Gelas-gelas beradu saling bergantian, begitu pula dengan tawa dan musik yang mengalun untuk memeriahkan acara. Di lantai dansa pengantin baru menebar pesona mereka dengan tarian, sedang di sudut ruangan satu hati yang patah terus meneguk wine dengan serakah.
Mina yang ikut larut dalam suasana bahagia itu tiba-tiba kaku saat matanya menatap Shigima, ia teringat pada hari dimana percakapan antara Ima dan Shigima telah membuat ketakutan dalam dirinya kembali muncul.
"Hai" sapanya.
"Mina... apa kabar? sudah lama sekali kita tidak bertemu" sahut Shigima yang segera mengenalinya.
"Aku baik, bisakah kita pergi ke tempat yang lebih sepi? ada hal yang ingin ku bicarakan dengan mu" ujarnya.
Shigima sedikit heran tapi kemudian ia mengajak Mina pergi keluar, berjalan di sekitaran taman hotel sambil menghirup udara bebas.
"Jadi... apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Shigima.
"Aku mendengar percakapan mu dengan putriku di hutan, aku mengetahui semua kebenarannya" jawab Mina langsung pada inti permasalahan.
Shigima terdiam, betapa sialnya dia hingga rahasia itu harus di ketahui oleh orang lain.
"Ima adalah gadis yang baik dan selalu mendahulukan kepentingan keluarga, dia bisa berkorban apa saja termasuk menyimpan rahasia itu demi Agler" ujarnya.
"Jika kau memang ingin perdamaian seperti yang kau katakan pada Ima maka tolong berhenti mengusik Agler, meski dia keturunan Hermes tapi dia adalah putraku dan aku tidak akan pernah mau melihat putraku hancur terlebih oleh keluarga ayah kandungnya"
"Mina aku tidak mungkin berbuat jahat pada Agler" sergah Shigima yang merasa akan adanya prasangka buruk.
"Kalau begitu hentikan semuanya, jangan pernah lagi mendatangi Agler hanya untuk mengatakan seberapa kejamnya Joyi. Jangan libatkan putraku pada masalah kalian, jika kau masih menganggunya maka aku akan beritahu Chad dan Agler bahwa kau telah menyerang Ima"
"Kau mengancamku?" tanya Shigima tersinggung.
"Aku cukup mengenal bagaimana keluarga kalian, Anna selalu menceritakan tentang Hermes dan setahuku kau adalah kebanggaannya. Anna selalu memuji sifatmu yang dewasa dan penuh kasih sayang, karena itu jangan kecewakan aku" ucapnya.
Tentu Mina bahkan mengetahui sifat buruk keluarga itu dengan baik, dia yang bahkan sudah dianggap anak oleh Jack karena berteman dengan Anna tak bisa membiarkan Agler ikut campur dalam balas dendam yang sia-sia.
Percakapan itu berakhir begitu saja tanpa ada persetujuan dari Shigima, tapi itu bukanlah masalah karena Mina tahu Shigima dapat di percaya.
* * *
__ADS_1
Setelah mengganti pakaian Kyra di boyong ke rumah barunya, rumah yang telah Hakan persiapkan untuk menghabiskan waktu bersama dengan istri tercintanya.
Seorang pelayan dan penjaga menyambut kedatangan mereka di rumah besar dengan gaya eropa yang klasik, Kyra tersenyum senang sebab akhirnya ia bebas dari Hermes dan resmi menjadi nyonya Kyra Berk.
"Kau suka?" tanya Hakan.
"Sangat indah" sahut Kyra terkagum-kagum.
"Ayo masuk!" ajaknya sambil menggandeng tangan Kyra.
Mereka masuk ke dalam rumah itu, melihat bagaimana penataan ruangan yang terlihat simpel namun elegan. Dengan antusias Hakan mengajak Kyra berkeliling untuk melihat setiap ruangan yang ada, sampai akhirnya mereka tiba di kamar sang pengantin.
Nuansa putih membuat kamar itu terlihat indah dan nyaman, dengan badan yang letih Kyra duduk di atas ranjang sambil menatap seisi ruangan.
Bruk
Hakan menjatuhkan diri tepat di samping Kyra, tubuhnya yang juga letih terasa nyaman berbaring di atas ranjang yang empuk. Diam-diam dia menatap punggung Kyra yang memperlihatkan bentuk pinggangnya, tergoda akan keindahan itu tangannya mulai merayap pada pinggul.
Kyra cukup tersentak akan sentuhan itu, tapi kemudian dia pasrah dan ikut berbaring.
"Kau senang?" tanya Hakan sambil mengelus tangan Kyra.
"Tak ada alasan yang membuatku harus bersedih" sahutnya.
"Kau meninggalkan keluarga mu" ujar Hakan mengingatkan.
"Aku bisa mengunjungi mereka kapan saja, tentu itu pun atas ijin dari mu"
"Jangan buat aku menjadi suami yang jahat, setelah bulan madu kita ajaklah orangtuamu tinggal bersama kita di sini"
"Sungguh?" tanya Kyra kaget.
"Tentu saja, ingat! setelah bulan madu kita"
"Oh Hakan.... terimakasih banyak... " ucap Kyra segera memeluk pria yang begitu baik itu.
Mereka pun mulai membicarakan rencana bulan madu yang tentu harus dilaksanakan sesegera mungkin, Hakan memiliki ide untuk pergi ke Bali sementara Kyra justru ingin Dubai.
Sedikit perdebatan mengawali rumah tangga yang masih kuncup, desilingi tawa dari candaan Hakan. Puas bercengkrama Kyra meminta ijin untuk mandi sebelum ia harus melayani sang suami, dengan sabar Hakan mengijinkan.
Tapi Kyra terlalu lama berendam hingga saat ia selesai Hakan sudah tertidur pulas masih dengan stelan jas yang lengkap, tak ada lagi yang bisa ia lakukan sehingga Kyra pun memilih untuk tidur.
Drrrrrrrrrtttt Drrrrrrrrrtttt Drrrrrrrrrtttt
"Halo... " sapa Hakan dengan suara berat karena kantuknya.
Seseorang bicara di sebrang sana, mengatakan sesuatu yang membuat matanya terbuka lebar.
"Baik aku mengerti" jawabnya sebelum menutup telpon.
"Hakan... ada apa?" tanya Kyra yang ikut terbangun.
Belum ada jawaban dari mulutnya, tapi sorot mata itu telah mengatakan semuanya. Kyra hanya bisa mendengus kecewa mengetahui sang suami harus pergi ke luar negri karena satu pekerjaan yang tak bisa di tunda, siang itu ia cepat berkemas agar bisa sampai di bandara tepat waktu.
Kyra hanya bisa mengantar hingga depan pintu, itu karena Hakan sendiri yang mengatakan untuk tidak perlu di antar.
"Maafkan aku, harusnya kita bisa segera berbulan madu" ujar Hakan yang begitu menyesali kepergiannya.
"Tidak apa, pekerjaan mu lebih penting"
"Mintalah ibumu untuk menginap di sini, aku tidak mau kau menghabiskan waktu sendirian"
"Akan ku telpon nanti" jawabnya.
Koper telah di masukkan ke dalam bagasi, dengan sabar sang supir menunggu tuannya yang menatap istrinya dengan perasaan bersalah. Kyra tetap tersenyum cantik agar Hakan tak merasa berat meninggalkannya, untuk terakhir kalinya sebelum pergi sebuah kecupan dia berikan tepat di kening Kyra.
Setelahnya lambaian tangan mengiringi kepergian Hakan meninggalkan rumah dan Kyra yang baru satu hari sah menjadi istrinya.
__ADS_1