
Dua hari telah berlalu, Jack kini telah sadar sepenuhnya dan boleh di kunjungi kapan pun itu. Secara bergantian mereka berjaga di rumah sakit hingga dokter mengijinkan Jack untuk pulang, di balik derita yang ia rasakan diam-diam Jack senang sebab Kyra terus mengunjunginya.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu?" tanya Jack.
"Semuanya baik ayah, tidak ada yang perlu di risaukan" jawab Shigima.
"Bagus, maaf karena telah merepotkan mu terus"
"Kenapa ayah bicara seperti itu? ini sudah menjadi bagian dari tanggungjawab ku" sahut Shigima.
Jack tersenyum senang, sejak dulu Shigima memang selalu menjadi putra kebanggaannya yang dapat di andalkan. Selama seminggu ia di rawat dan mendapatkan perawatan yang baik di akhir minggu pun akhirnya dokter mengijinkannya pulang, tentu dengan syarat tetap beristirahat tanpa mengerjakan pekerjaan berat.
Semua anak dan cucunya telah menunggunya di rumah sementara ia di jemput Shigima dan Ryu, untuk menyambut kepulangan Jack bahkan Amelia sudah membuat hidangan mewah sebagai bentuk syukur.
"Semua makanan ini baik untuk memulihkan kesehatan ayah, aku sendiri yang memasaknya" ujar Amelia.
"Terimakasih nak, senyum mu saja sudah membuat ayah kembali bugar" jawab Jack.
Setelah sekian lama akhirnya ruang makan di rumah Hermes kembali utuh dengan hadirnya semua anggota keluarga, meski sebenarnya masih kurang satu yaitu Jessa yang tidak bisa bangkit dari tempat tidurnya.
Hari itu berlalu begitu saja tanpa ada masalah, pertikaian baru muncul esok harinya saat salah seorang pelayan mengotori pakaian Kyra tanpa sengaja.
"Bagaimana ini.. nodanya tidak mungkin bisa hilang" gumamnya sedih.
"Ma-maafkan saya nona, saya akan segera mencucinya" ujar pelayan itu ketakutan.
"Apa kau tidak dengar? noda kopi itu tidak akan bisa hilang begitu saja! Blue ada acara penting hari ini dan kau malah merusaknya" teriak Violet yang lebih marah dari Kyra.
"Bukankah kau memiliki banyak pakaian? ini hanya masalah kecil, kau tidak perlu semarah itu" ujar Amelia yang sudah tak tahan akan sikap ibu dan anak yang selalu kelewatan.
Sejak Ryu menikahi Violet sejujurnya Amelia kurang senang sebab di hari pertama mereka bertemu saja menunjukkan sifatnya yang pemilih, di tambah saat Kyra lahir semua perhatian tertuju padanya hingga Hans menjadi nomor dua.
Beruntungnya saat itu Ryu memilih tinggal di negri kelahiran Violet, namun kedamaiannya pun berakhir saat Jack meminta Ryu kembali dan mereka benar-benar datang untuk tinggal bersama.
Amelia sering mendengar di belakang mereka para pelayan sering bergosip tentang Violet, ia terlalu suka memerintah padahal statusnya hanya menantu kedua. Amelia juga tidak bisa berbuat banyak karena ia tak mau ada pertikaian yang merugikan semua pihak, tapi kini ia sudah benar-benar muak.
"Kenapa kau harus ikut campur dalam urusanku? ini bukan masalah pakaian tapi cara kerjanya yang tidak benar" sahut Violet.
"Semua orang bisa melakukan kesalahan, berbaik hatilah sedikit"
"Jika mereka di maafkan begitu saja itu akan membuat mereka lalai dan tidak kompeten, huh pelayan di sini terlalu di manja sehingga tidak bisa bekerja dengan baik. Sangat berbeda dengan pelayan di rumah nyonya Joyi, bahkan aku melihat semuanya tertata dengan rapi tanpa ada kesalahan sedikit pun"
"Jika kau merasa bahagia di rumah itu kenapa kau harus pulang kemari? tinggalah di sana dengan putrimu! kau pun selalu melakukan kesalahan tapi kami selalu memaafkan mu" teriak Amelia yang merasa di rendahkan karena perbandingan itu.
"Karena aku punya hak untuk tinggal di sini! kedudukan ku sama dengan mu kenapa aku tidak boleh mendapatkan apa yang kau miliki?"
"Heh... jangan bercanda, kita jelas jauh berbeda. Aku adalah putri Beckir dan sudah kenal dengan keluarga Hermes bahkan saat aku masih kecil, berbeda dengan mu yang hanya artis opera lulusan kelas menengah" sahut Amelia.
Kali ini tak ada balasan dari Violet, bahkan Kyra yang sejak tadi menatap cemas pada pertengkaran itu mendadak syok tanpa bisa bergeming.
Ia sangat tahu bagaimana perasaan ibunya yang trauma akan masa lalunya, saat kata-kata Amelia keluar menyinggung masa lalu itu rasanya seperti dua anak panah yang menusuk ibu dan anak itu.
"Baik, aku akan pergi dari sini" ujar Violet pelan sambil menahan air matanya.
Saat ia beranjak pergi Jack baru datang dengan wajah heran.
"Ada apa? kenapa kalian berteriak-teriak?" tanyanya.
Tak ada yang menjawab, tapi dengan tatapan tajam Kyra melangkah maju kehadapan Amelia.
"Ibu ku memang berasal dari kaum rendahan, tapi dia juga manusia yang berhak mendapatkan kebahagiaan. Bahkan meski dia bukan seorang bangsawan seperti mu dia berhasil mendidik ku dengan benar, aku selalu juara kelas dan akan lebih berguna dari anak mu" ujarnya tajam.
Amelia hanya mampu mendengarkan ucapan itu tanpa bisa menjawab, tentu saja karena ada Jack di sana yang membuatnya membeku.
"Blue... kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Jack tapi Kyra tidak mengindahkannya, ia justru pergi begitu saja.
Menyusul ibunya yang pergi ke kamar dari pintu ia melihat Violet mengemasi barang-barangnya, itu dapat di mengerti.
Sejenak Kyra terdiam, melihat luka di ibunya yang menganga besar nampak begitu menyakitkan. Berfikir sejenak ia pun membulatkan tekad dan membantu ibunya untuk berkemas.
"Blue... " panggil Violet heran.
__ADS_1
"Sejak awal kita bisa hidup mandiri tanpa keluarga ini, kita bisa melakukannya lagi" ujar Kyra tanpa berhenti mengemasi barang-barang itu.
Air mata di mata Violet semakin tumpah, ada rasa hari melihat putrinya lebih perhatian padanya bahkan mengerti perasaannya dengan baik.
"Sayang.. Blue.. ada apa? aku dengar dari ayah kau bicara tidak sopan kepada bibi Amelia" tanya Ryu sekonyong-konyong tanpa melihat air mata kedua wanita itu.
"Sayang... " panggil Ryu lagi sambil mengelus pundak Violet.
"Tinggalkan aku!" bentak Violet.
Seketika mereka membatu, Kyra pun terdiam mendengarkan apa yang akan di katakan ibunya.
"Yang kau dengar dari mereka hanya kesalahan kami, apa pernah kau berfikir bahwa mereka hanya mengadu hanya untuk melemparkan kesalahan kepada kami?"
"Apa maksud mu?" tanya Ryu heran.
"Amelia mengusir kami dari rumah ini, dia juga menghinaku dengan tingkat pendidikan yang tidak tinggi sepertinya"
"Apa? ti-tidak mungkin, kakak ipar adalah wanita baik-baik kenapa dia bicara sekasar itu padamu?" tanya Ryu lagi yang justru membuat Violet semakin sedih.
"Jadi kau lebih percaya pada kakak ipar mu dari pada istrimu? kalau begitu kenapa kau tidak menikahinya saja dan berbagi wanita itu dengan kakak mu!" teriak Violet murka.
"Violet!" teriak Ryu murka sebab ucapan itu tidaklah pantas.
Dengan cepat tangannya mengayun hendak memberi pelajaran tapi tiba-tiba.
Zzzhhhaaasss...
Sebuah perisai muncul untuk melindungi Violet, perisai dengan kekuatan hebat yang membuat Ryu terjatuh. Matanya nanar menatap perisai itu, tapi ia lebih syok lagi saat Kyra berjalan ke hadapannya untuk berkata.
"Jika ayah ingin melukai ibu maka langkahi dulu mayat ku, selama ini meskipun ibu sangat keras dan egois tapi dia selalu ada untuk ku. Semua yang dia lakukan hanya untuk masa depan ku yang baik, tidak seperti mu yang selalu bersikap lembut tapi tidak pernah ada untuk mendukung kami."
Ryu melihat tatapan itu begitu tajam, sangat intens hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Rupanya selama ini kekuatan sihir Kyra cukup kuat tapi tidak pernah di asah sehingga mereka tak tahu seberapa besar kekuatannya.
Prang....
Perisai itu pecah saat Kyra berbalik menghadap Violet, tanpa kata ia kembali membereskan semua pakaian ke dalam tas hingga selesai.
"Ayo bu" ajaknya.
Saat mereka menuju pintu utama Jack yang melihat hal itu segera berlari sambil memanggil nama mereka, tapi baik Violet maupun Kyra tidak ada yang peduli sampai tiba-tiba Ryu berlari dengan kencang dan menghalangi langkah mereka.
"Tolong... aku mohon maafkan aku, tolong jangan pergi.. " ujarnya sambil mengepalkan kedua tangan.
"Blue.. Violet... kita bisa membicarakan masalah ini dengan baik-baik, aku sudah bicara dengan Amelia dan aku paham jika kalian tersinggung" sahut Jack ikut membujuk.
Tapi Kyra dan Violet tidak mau bicara, mereka hanya diam membiarkan dua pria itu memohon.
"Blue... apa pun yang kau mau akan kakek kabulkan tapi tolong jangan seperti ini, keluarga adalah segalanya jadi mari bicara" bujuk Jack lagi kini sambil memegang tangan Kyra.
Amelia yang datang melihat hal itu menjadi geram, seumur hidupnya baru kali ini ia melihat dua orang laki-laki bersimpuh hanya demi wanita keras kepala.
Apalagi itu merupakan Jack dan Ryu Hermes yang yang terpandang di luar, kini bahkan mereka telah kehilangan kehormatannya.
"Ayah... " panggil Amelia.
Ia segera berlari dan menarik tangan Jack agar melepaskan genggamannya pada Kyra, ia juga membuat Ryu bangkit dari duduknya.
"Kalian adalah laki-laki, pemimpin keluarga. Kenapa harus terhina seperti ini?" ujarnya.
"Kakak ipar, ini adalah salah ku. Aku bukan suami dan ayah yang baik sehingga mendapatkan kehinaan ini" jawab Ryu.
"Satu-satunya kesalahan mu adalah tidak mendidik mereka dengan benar, jika kau bersikap seperti Shigima kau pasti akan di segani"
"Kau benar, ajari dia bagaimana caranya menjadi Shigima agar lebih mencintai istri dan anaknya bukan orang lain" sahut Violet kembali marah.
"Violet, aku akan memperbaiki kesalahan ku jadi aku mohon taruh kembali semua barang-barang mu" ujar Ryu cepat sambil memegang tangan istrinya.
"Lepaskan tanganmu, hanya pria yang bersumpah akan membahagiakan ku yang boleh melakukan ini" ujar Violet tegas.
Tanpa mengatakan apa pun lagi Kyra dan Violet benar-benar melangkah pergi melewati mereka, keluar dari gerbang kediaman Hermes.
__ADS_1
* * *
Berjam-jam mereka berkeliling kota hanya untuk mencari tempat tinggal, hingga senja tiba akhirnya mereka sampai di satu rumah kecil yang nampak berantakan.
"Sewa perbulannya tidak terlalu mahal, meski kotor tapi ibu bisa membersihkannya" ujar Violet menatap rumah itu.
"Ibu... kita bisa tinggal di rumah Chad, rumah ini tidaklah baik untuk ibu" sahut Kyra yang merasa jijik.
"Nyonya Joyi sudah terlalu baik kepada kita, mau bagaimana pun ibu tidak mau terus merepotkannya. Kau adalah sepupu Chad dan masih berhak atas kebaikan mereka, pulanglah ke rumah mereka dan beristirahatlah kau pasti lelah"
"Tidak! aku tidak akan membiarkan ibu sendirian" ujar Kyra bersikukuh.
"Kau tidak biasa hidup seperti ini, sejak lahir takdirmu adalah menjadi nona kemudian nyonya. Jangan sampai Hakan kabur karena bau mu sampah yang menempel di tubuhmu gara-gara membantu ibu"
"Biarkan saja, aku tidak peduli" balas Kyra.
Violet tersenyum melihat perhatian putrinya itu, dalam hati ia sangat bersyukur telah dianugrahi putri yang sempurna.
"Baiklah, jika kau bersikeras kau bisa bantu ibu"
"Kalau begitu aku akan mulai menyapu lantai" sahut Kyra bersemangat.
Berdua mereka membersihkan rumah itu, beruntung rumah itu kecil dengan lima ruangan sehingga pekerjaan itu tidaklah terlalu sulit.
Meski tetap saja Kyra merasa sangat kelelahan sebab baru pertama kali ia membersihkan rumah seperti ini, pukul delapan malam mereka baru selesai dan makan mie instan untuk mengganjal perut yang sudah sejak tadi keroncongan.
Sebenarnya Kyra masih ingin menemani ibunya tapi Violet bersikeras menyuruhnya untuk pulang ke rumah Joyi, karena Violet tak bisa di bantah lagi akhirnya Kyra benar-benar pulang sendiri.
Seperti biasa pelayan di kediaman Joyi menyambutnya, karena sudah malam ia bergegas mandi dan bersiap untuk tidur.
Tapi sejam lebih ia hanya berguling-guling di atas kasur tanpa bisa memejamkan matanya, pikirannya di penuhi tentang Violet yang pasti kesusahan karena harus tinggal di rumah kecil seperti itu.
Karena tak kunjung bisa tidur ia pun memutuskan untuk membuat susu hangat, ternyata saat sampai di dapur Alisya juga berada di sana dan tengah membuat susu hangat.
"Tidak bisa tidur?" tanya Alisya.
Kyra mengangguk, Alisya pun tersenyum dan membuat dua gelas susu hangat.
"Kau juga tidak bisa tidur?" tanya Kyra.
"Seseorang memenuhi pikiran ku sampai aku tidak bisa tidur" jawab Alisya.
Tentu yang di maksud adalah Agler, mereka baru saja berbaikan dan sepakat untuk memulai hubungan baru. Perasaan bahagia yang memenuhi dadanya tentu membuat musim semi semakin berbunga di kepalanya.
"Apa yang membuat mu tidak bisa tidur?" ujar Alisya bertanya balik.
Kyra hanya terdiam, berfikir keras apakah ia akan menceritakan masalahnya kepada Alisya atau tidak. Tapi saat ini ia memang ingin sekali curhat untuk meringankan beban pikirannya, dan tak ada lagi orang selain Alisya.
"Ini... tentang ibuku.. " ujarnya akhirnya.
"Ada apa dengan ibumu?"
"Um... tapi kau janji jangan pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun, terlebih Chad dan nyonya Joyi" ujar Kyra.
"Baiklah, aku tidak akan bilang pada mereka" sahutnya.
Kyra sempat melirik ke kiri dan ke kanan hanya untuk memastikan tidak ada orang lain lagi, di rasa cukup aman ia pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tentang masalah Violet yang minggat dari rumah karena di usir juga oleh Amelia, Kyra merasa kasihan pada ibunya dan bingung harus berbuat apa.
"Kejam sekali wanita itu, kenapa kau tidak membawa ibu mu kemari? aku yakin nenek justru akan senang dengan kehadirannya" ujar Alisya setelah cerita itu selesai.
"Ibu tidak mau merepotkannya terus, karena itu aku minta kau jangan cerita masalah ini padanya"
"Ah... benar-benar, nenek tidak pernah merasa di repotkan meski kau keruk habis hartanya. Dia orang yang kesepian sejak lahir karena itu semakin banyak anggota keluarga yang mendekatinya pasti dia akan semakin senang"
"Itu pikirannya bukan pikiran ibuku, jadi menurut ku aku harus bagaimana?" tanya Kyra.
Alisya sedikit berfikir, ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa sampai sebuah nama muncul dalam benaknya.
"Ima!" ujarnya.
__ADS_1
"Ima?" ulang Kyra heran.
"Dia adalah satu-satunya orang yang bisa membantu kita, dia adalah si pemecah masalah" jawab Alisya yakin.