
Bukan hal mudah menemui Agler setelah mengetahui identitas aslinya, bahkan untuk saat ini ia juga tak bisa menemui Chad dengan wajah tenang. Satu-satunya teman yang saat ini bisa ia ajak bicara hanyalah Ima, untuk itulah hampir setiap hari Ima datang menjenguk.
Matanya yang terus menengok ke arah jendela, menatap dunia luar yang entah mengapa terasa berbahaya. Kini beralih pada pintu saat Ima berjalan melewatinya, dengan nampak berisi buah-buahan ia masuk.
Tuk
Diletakkannya nampan itu di atas meja di samping tempat tidur Alisya, tersenyum ceria seperti biasa ia bertanya.
"Kau ingin memakannya sekarang?"
"Tidak, nanti saja" jawabnya.
"Wajahmu terlihat pucat, bagaimana kalau besok pagi kita pergi jalan-jalan?"
"Entahlah, aku hanya ingin beristirahat di sini saja."
Terlihat jelas memang di wajah Alisya keinginannya untuk tinggal di kamar itu, namun hal itu membuat Ima berfikir tentang sesuatu yang membuat Alisya nyaman di kamarnya.
"Peristiwa itu pasti sangat mengerikan, aku pun tak bisa membayangkannya jika hal itu terjadi padaku. Aku turut prihatin, tapi kau harus percaya bahwa akan ada banyak orang yang melindungi mu" ujar Ima.
Alisya tak menjawab apa pun.
"Seperti kak Agler, ia sangat khawatir padamu" lanjutnya.
Deg
Ucapan itu membuat Alisya tersentak, tiba-tiba jantungnya berdetak dengan cepat. Dalam satu waktu Agler yang ia kenal dan makhluk mengerikan yang ia lihat terus saja melintas dalam Benaknya secara bergantian.
* * *
Satu masalah telah selesai bukan berarti ia bisa menghirup udara bebas, masalah lain yang jauh lebih penting menantang di depan mata. Untuk itulah kini ia lebih sering berada di rumah, hanya untuk memastikan keluarganya benar-benar dalam keadaan aman.
Tapi sekuat apa pun ia berusaha tetap saja ada waktu dimana ia bisa lengah, malam itu yang ia lihat adalah Jack telah pergi menemui Tianna di tempat biasa.
Dengan wajah pucat penuh ketakutan Jack berdiri tanpa bisa tegak, kepalanya terus saja membungkuk untuk menyesali perbuatannya yang tak termaafkan.
"Hohohoho kau berani datang, aku harap dengan permintaan yang telah kau penuhi" ujar Tianna senang.
"A-aku membawanya... " sahut Jack.
Dari dalam sakunya sebuah botol kecil ia perlihatkan, mata Tianna mendadak binar menatap cairan merah yang berkilau terkena sinar rembulan.
__ADS_1
"Ya... kau melakukannya dengan baik" balas Tianna yang terus berjalan mendekat.
"Tunjukan padaku pilnya" pinta Jack menarik kembali botol itu.
"Aish... setelah sekian lama kau masih saja tidak percaya, tak masalah" ucap Tianna.
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi pil di dalamnya, menunjukkannya kepada Jack agar mereka bisa segera melakukan barter.
Jack mengangguk, dengan perlahan mereka saling mengulurkan benda masing-masing dan menukarnya.
Tianna terlihat begitu senang saat botol itu telah berada dalam genggaman tangannya, di bukanya tutup botol itu untuk menghirup aroma darah segar yang begitu memikat.
"Ah... aku sudah bisa merasakan kenikmatannya" gumamnya.
Jack tak mau berkomentar pada darah itu, matanya fokus pada pil-pil penyembuh yang di perlukan Jessa. Tak ada lagi yang mau Tianna katakan, ia bergegas pergi sementara Jack masih saja merasa menyesal meski ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sementara itu Hans pun juga bergegas pulang, kakeknya benar-benar telah larut pada rayuan vampire sehingga tak bisa lagi ia percayai.
Tiba di rumah yang ia lakukan adalah mengecek orang rumah satu persatu, mengingat bahwa yang Tianna inginkan adalah darah seorang wanita maka yang perlu ia periksa adalah Amelia dan Kyra.
Jantungnya berdegup dengan begitu cepat saat langkah kakinya semakin memasuki kamar orangtuanya, terlebih saat ia mulai memeriksa bagian tangan dan leher Amelia. Sejauh ini tak ada luka apa pun yang mencurigakan sehingga ia bisa sedikit bernafas lega, tapi tidak saat ia memeriksa Kyra.
Dengan ini terkuak sudah bahwa Jack telah kehilangan akalnya, bagaimana tidak? ia menuang darah cucunya sendiri ke dalam botol untuk di tukar dengan pil yang tak tahu apa fungsinya.
"Kakek tidak mungkin berbuat sekeji ini tanpa ada alasan yang jelas, vampire itu pasti telah mencuci otaknya" gumam Hans yang tak bisa menerima kenyataan itu begitu saja.
Menyadari Jack telah kembali Hans mengendap-endap untuk melihat apa yang di lakukan kakeknya, tapi tak ada tindakan mencurigakan yang di buat Jack.
Seperti biasa dia masuk ke kamarnya, namun Hans yang tak mau menyerah diam-diam tetap mengawasi.
Dan alangkah kagetnya ia saat melihat Jack mengambil satu pil untuk kemudian dia campurkan dengan minuman, kemudian dengan lembut ia membangunkan Jessa hanya untuk meneguk air yang telah ia campur dengan pil.
"Ini sudah malam, aku bisa minum obatnya besok" ujar Jessa yang masih mengantuk.
"Kau tahu kau tidak boleh telat minum, tentu kau tidak ingin penyakit mu kambuh lagi" balas Jack.
Jessa hanya merengut sebentar sebelum kemudian ia meneguk air itu, menelannya hingga habis baru kemudian ia kembali tidur.
Melihatnya cukup membuat Hans mengerti apa fungsi pil itu dan hubungan antara Jack dan Tianna, rupanya selama ini diam-diam Jack meminta bantuan vampire untuk menyembuhkan penyakit Jessa.
"Tidak bisa dibiarkan, ini sama saja dengan melakukan sihir terlarang" gumam Hans geram.
__ADS_1
* * *
Langkahnya begitu cepat menyusuri koridor dengan benak yang hanya fokus pada satu tujuan, saking fokusnya ia sampai tidak sadar bahwa sedari tadi Reah sedang memanggilnya.
Pok
"Ah, Reah!" panggil Hans terkejut setelah Reah berhasil mengejarnya.
"Kau mau kemana? kenapa buru-buru sekali?" tanya Reah penasaran.
"Oh aku mau menemui guru Guin, ada hal yang ingin aku tanyakan padanya" sahutnya.
"Begitu rupanya, baiklah kalau begitu kita bicara nanti" ujar Reah yang merasa tak nyaman karena berada di waktu yang salah.
"Baiklah sampai ketemu nanti!" ucap Hans yang kembali melanjutkan langkahnya.
Ia sudah tak sabar lagi, semalam ia terdiam cukup lama di luar kamar Jack hanya untuk memastikan nenek dan kakeknya itu sudah tidur pulas.
Beberapa menit berlalu yang sangat mengesalkan akhirnya memberi Hans peluang untuk masuk ke dalam kamar itu, mengendap-endap layaknya pencuri meski itulah kenyataan yang akan ia lakukan.
Ummmm....
Set
Satu gerakan cepat membuatnya membungkuk di bawah tempat tidur saat Jessa bergumam tak jelas dalam tidurnya, menunggu beberapa saat sampai Jessa nyaman ia pun kembali bangkit.
Jantungnya yang semakin tak karuan membuat tangannya gemetar saat mencoba menarik laci keluar, perlahan namun pasti dari dalam kotak kecil diambilnya satu pil yang kemudian ia taruh ke dalam saku.
Dengan satu gerakan cepat namun tanpa menimbulkan suara ia tutup laci itu seperti semula agar tak ada yang sadar bahwa sesuatu telah hilang dari dalamnya.
Kini setelah berhasil mendapatkan apa yang ia butuhkan guru Guin adalah satu-satunya orang yang dapat membantunya, jika benar pil itu untuk menyembuhkan Jessa maka Hans berfikir guru Guin dapat membuatnya asal ada contohnya.
Tapi pikirannya terlalu picik, tentu Jack sudah lebih dulu melakukan hal itu namun berakhir sia-sia.
"Dalam pil ini mengandung banyak fosfor dan kalsium, Jack sudah pernah memberikannya padaku dan memintanya untuk membuatnya lebih banyak. Tapi sayangnya ada satu kandungan lagi yang aku sendiri belum tahu berasal dari tanaman apa, yang jelas pil ini bisa di sebut sebagai vitamin" jelas Guin setelah kembali melihat pil itu.
Hans hanya bisa terpaku menatap kosong, tanpa banyak bicara ia segera mengambil kembali pil itu lalu pergi.
Kini ia sadar alasan Jack rela mengorbankan darah cucunya sendiri untuk sang istri, itu karena hanya Tianna yang memiliki pil itu. Dan ia sangat yakin Tianna memiliki rencana tersembunyi hingga membuatnya repot-repot mengikat Jack dengan pilnya.
"Aku tidak boleh membiarkan hal ini terus berlarut" gumamnya.
__ADS_1