
Lidah memang tak bertulang, mungkin itu alasan mengapa ia mudah bergerak dengan meliuk-liuk sehingga terucap kata pengganti. Kata yang orang bilang dusta sebab berlainan dengan hati, kadang saat mulut tertutup pun dia masih mampu mengatakan kebohongan lainnya memaksa hati untuk percaya.
Setidaknya, dalam kasus ini ia tidak berkata jahat. Hanya saja rasa lelah itu telah membuatnya menyerah, mengakui tidak ada gunanya berjalan dengan satu kaki.
Hhhhhhh
Hembusan nafas itu menghangatkan cat air di atas kanvas yang belum rampung, lebih dari dua puluh menit ia menerawang masa yang terlewat. Mengingat bagaimana keegoisan telah menipu hatinya, membiarkan dia yang selama ini di cari lepas begitu saja.
Tok Tok Tok
Ketukan itu hampir saja membunuhnya karena serangan jantung, dengan malas ia berdiri dan membuka pintu.
"Hai sayang.. " sapa Joyi ceria seperti biasanya.
"Ada apa nek?"
"Mm ada hal yang ingin nenek bicarakan dengan mu" jawab Joyi sedikit ragu.
Alisya mempersilahkannya masuk ke dalam, duduk di kursi yang tersedia Joyi mulai bicara meski dengan tergagap.
"Um... apa yang sedang kau lakukan?"
"Hanya melukis, hal apa yang ingin nenek bicarakan?" tanya Alisya langsung pada inti permasalahan.
"Itu... nenek harus segera kembali, ada pekerjaan mendadak yang harus segera nenek selesaikan" ujar Joyi dengan perasaan tak enak hati.
Alisya terlihat merenung sejenak sebelum ia menjawab akan ikut serta pulang, Joyi menyarankan agar tetap tinggal sebab ia pasti akan kembali. Namun Alisya telah kehilangan seleranya, justru ia ingin menjauhi tempat itu agar bisa move on dari Agler.
Percuma berdebat, Joyi tidak melihat apa pun di mata cucunya sehingga ia memilih untuk mengiyakan.
* * *
Hans sudah membayangkan raut wajah sumringah Shishio saat ia kembali ke akademi, tapi justru berita buruklah yang pertama kali menyambutnya. Dengan tergesa-gesa ia berjalan menuju ruang Nyonya atas perintah Reah, sebab di tangan Nyonya ada sesuatu yang harus segera ia ketahui.
Dengan raut wajah sedih Nyonya memberikan sepucuk surat kepadanya, lalu membiarkannya membaca sendirian.
Di atas kertas putih Hans tahu itu merupakan tulisan tangan gurunya, di tulis dengan terburu-buru namun dengan pikiran yang matang.
"*Semoga kau selalu dalam keadaan baik,
Secara sadar dan tanpa paksaan dari siapa pun telah ku putuskan untuk keluar dari Akademi dengan meninggalkan jabatan beserta semua identitas yang berkaitan dengan hukum penyihir.
Mohon maaf atas segala kesalahan yang telah saya perbuat, dan terimakasih atas segala kebaikan serta ilmu pengetahuan*."
Tangan itu sempat gemetar saat akan membubuhkan tanda tangan sehingga namanya terlihat tidak rapi, tentu saja karena tekanan yang ia terima akan jauh lebih hebat dari saat ini.
Dalam hembusan nafas itu Shishio menengadah sambil mengingat pamannya, dalam sunyi ia berbisik.
"Akhirnya aku melakukan apa yang paman lakukan."
Namun Hans belum juga mengerti, ia masih terlalu muda dan lahir dalam perang yang telah bergejolak sehingga yang ia tahu hanya berjuang dan menang. Sampai Ryu menghampirinya di taman untuk melihat seberapa parah hatinya terluka karena kabar itu.
"Dia tidak meninggalkan apa pun lagi, tak ada yang lain" ujar Hans pilu.
"Seharusnya kau cukup mengerti dengan datangnya surat itu, kami para senior bahkan sudah menduga Shishio akan melakukan hal ini"
"Tapi kenapa paman? kenapa guru memilih mundur di saat seperti ini?"
"Karena inilah waktu yang paling tepat"
"Apa... maksudnya?" tanya Hans bingung.
"Bagi seorang informan handal sepertinya akan sulit hidup diantara dua kubu, meski Shishio lebih pro kepada penyihir tapi justru itu lebih berbahaya lagi. Dia adalah mangsa empuk bagi vampire yang ingin menghancurkan dunia, kapan saja Shishio bisa di desak untuk memberikan segala informasi tentang kita kepada mereka. Aku yakin kau tahu jika sampai hal itu terjadi maka dunia benar-benar dalam kehancuran"
"Tapi guru Shishio tidak mungkin melakukan hal itu" sergahnya.
__ADS_1
"Mungkin tidak jika di paksa, tapi saat keadaan terpaksa maka itu pengecualian. Itulah kenapa para penyihir seperti Shishio kebanyakan memilih mundur dari organisasi dan hidup bebas, agar ia bisa tetap hidup tanpa terikat apa pun dan bebas membantu siapa pun tanpa konsekuensi" jelas Ryu.
Sejujurnya Hans masih belum benar-benar paham, hanya saja dalam garis besarnya ia tahu Shishio harus keluar demi hidup dan membantu tanpa embel-embel pahlawan.
Baginya kini Shishio adalah pahlawan di balik layar yang berjuang paling keras tapi tidak mendapatkan mendali atau sekedar tepuk tangan.
Kini yang perlu ia lakukan adalah meneruskan rencananya, menghidupkan Lord vampire dan membuat perjanjian. Terdengar mudah tapi tentu itu hal yang sangat sulit, dia sendiri tidak tahu dimana kastil vampire berada untuk itu yang ia perlukan adalah teman yang bisa menjaga rahasia.
"Kau gila!"
Sssssshhhhtttt
Hans segera menempelkan telunjuknya di mulut agar Reah tak menimbulkan keributan, taman itu tidak benar-benar sepi seperti kelihatannya. Siapa pun bisa tiba-tiba datang dan memergoki mereka, memastikan tak ada yang datang Hans kembali bicara.
"Ini adalah rencana guru Shishio, hanya ini satu-satunya cara untuk menghentikan perang"
"Tapi ini sama saja dengan bunuh diri" ujar Reah khawatir.
"Selama ini kita selalu berkorban, bukan satu dua Ksatria yang gugur jadi tidak ada salahnya untuk mencoba. Lagi pula pada akhirnya kita akan mati juga baik di medan perang atau di atas ranjang, aku tidak meminta mu untuk ikut tapi cukup bantu aku mencari jalan menuju kastil itu."
Reah menggigit bibir bawahnya sambil berfikir dengan keras, selama ini ia melawan vampire dengan gagah berani tapi tidak pernah berfikir untuk menyusup ke sarang musuh.
"Kau ingat alasan ku menjadi Ksatria, aku tidak mungkin tidak ikut dengan mu" jawabnya memutuskan.
Hans tersenyum, gadis itu memang punya keberanian yang tak perlu di ragukan lagi. Dengan skill yang ia miliki Hans yakin mereka bisa melakukannya, tak perlu menyerang hanya menyelinap untuk mencuri abu Lord vampire.
"Lalu... apa langkah pertama kita?" tanya Reah.
"Mencari keberadaan kastil, lebih bagus jika kita punya denah bangunan itu"
"Benda itu tentunya ada di kastil vampire, untuk mendapatkannya kita harus tahu jalan menuju kastil. Setahuku hanya guru Shishio yang pernah pergi ke tempat itu, Nyonya dan beberapa Ksatria dulu juga pernah tapi aku yakin akan sulit mengorek informasi dari mereka"
"Bagaimana dengan vampire? kita bisa mengorek informasi dari seorang vampire" ujar Hans yang baru mendapatkan ide.
"Ada! vampire yang membuat perjanjian dengan guru, dia pasti bisa membantu kita."
Ya, itu adalah Nick. Vampire yang harus segera mereka cari demi kesuksesan misi ini, Reah mengangguk dan mulai melacak sebisa mungkin.
* * *
Saat malam tiba biasanya langit bertabur bintang dengan cahaya bulan yang begitu terang, desir angin akan menerbangkan kelopak bunga dan daun-daun coklat yang telah kering. Lalu binatang malam saling bicara dengan suara-suara khas yang membuatnya sulit tidur, tapi begitu melihat gadis berambut perak yang terlelap tepat di hadapannya hatinya akan damai dan tertidur dengan sendirinya.
Tapi langit hari itu kelam dengan awan hitam yang mendominasi, bunyi klakson dan suara bising kendaraan masih liar di telinganya.
Duk
Ia menengadah, menatap Reah yang memegang sekaleng cola tepat di dekat bahunya. Ia tersenyum dan mengambil minuman itu sementara Reah duduk di sampingnya, menatap hiruk pikuk perkotaan dari atap gedung.
"Damai dan ramai dalam waktu bersamaan, kau tahu maksud ku bukan?" ujarnya.
"Mm" sahut Hans sambil meneguk minumannya.
Reah telah mencari informasi sebisa mungkin dan mendapatkan hasil Nick kemungkinan berada di luar kota, mungkin sebuah pedesaan tenang tanpa akses kendaraan yang baik.
"Kita bisa pergi besok, nikmatilah malam ini dengan istirahat kau pasti lelah dari perjalanan jauh"
"Aku baik-baik saja" jawab Hans.
Untuk pertama kalinya Reah menatap Hans dari dekat, betapa bodohnya ia selama ini sebab baru sadar ternyata Hans adalah pria yang tampan yang selama ini berada di dekatnya. Ia teringat saat teman-teman gadisnya begitu iri saat Hans di tugaskan dalam regunya, bagi gadis yang hanya tahu balas dendam tentu ia tak paham mengapa teman-temannya ribut hanya karena hal itu.
Setelah lama bekerja dengan Hans dan kini duduk dalam kondisi santai sisi feminimnya keluar dan menyadarkan tidak ada yang lebih baik dari malam buta bersama pria tampan.
"Kau lama menghilang, dari mana saja kau selama ini?" tanyanya memulai obrolan berharap Hans dapat meliriknya dengan cara seorang pria.
"Tempat terluar biasa yang tidak akan pernah kau temukan, itu merupakan tempat ajaib yang dimana bahaya mengancam setiap saat tapi selalu damai di waktu bersamaan"
__ADS_1
"Aku sungguh tidak mengerti ucapan mu" kata Reah jujur.
"Begitulah tempat ajaib" sahut Hans seraya tersenyum.
"Sepertinya kau betah tinggal di sana, tentu mengingat betapa lamanya kau pergi"
"Aku melakukan perjalanan panjang demi ramuan itu, tapi yah... tak bisa ku pungkiri memang aku betah tinggal di sana."
Jika seorang pria bicara soal kenyamanan maka hanya ada satu jawaban pasti, dia jatuh cinta dan Reah terlalu peka untuk sadar hanya dalam waktu sepersekian detik.
"Dia pasti sangat cantik" gumam Reah yang ternyata di dengar oleh Hans.
"Sangat, dia adalah dewi sintal yang nyata" sahut Hans yang tak bisa menutupi hasratnya.
Sebagian gadis akan merasa canggung bahkan segera menghindari obrolan yang panas itu, tapi Reah sudah cukup dewasa untuk mengerti. Ia bahkan bersyukur mengetahui isi hati Hans tepat saat hatinya baru pada tahap awal, dengan ini hatinya tidak akan hancur hanya kerena tidak berhasil mendapatkan harapannya.
"Kalau begitu kau pasti akan menemuinya lagi, apa yang kau janjikan padanya?" tanya Reah bukan penasaran tapi tak ada topik ringan yang bisa ia pikirkan.
"Permen"
"Apa?" teriaknya.
"Dia tidak pernah keluar dari hutan, bahkan aku adalah manusia pertama yang ia temui. Sebenarnya aku ingin mengajaknya kemari tapi sayang dia tidak bisa keluar dari tempat kelahirannya, karena itu aku berjanji akan menemuinya lagi dengan membawa beberapa permen dan makanan lainnya"
"Astaga... aku pikir dia hanya gadis desa, ternyata dia lebih dari itu" ujar Reah yang tak bisa membayangkan bagaimana terbelakangnya gadis itu dari teknologi.
"Meski begitu dia tetap menarik dan pintar, bahkan kecantikannya seolah tak nyata. Dalam masalah bertempur pun dia tak kalah hebatnya, dia ahli dalam memanah"
"Benarkah? sepertinya dia menang hebat"
"Aku bicara jujur" ujar Hans sebab Reah menunjukkan ekspresi yang tidak percaya.
"Aku mengerti, sudahlah cepat tidur! besok pagi kita harus sudah berangkat" sahut Reah sambil berdiri dan berjalan meninggalkan Hans.
* * *
Jika ada urusan penting yang di ucapkan Joyi maka sebenarnya itu hanya menyangkut dua hal, pertama bisnis dan kedua Hermes.
Kali ini urusan penting itu menyangkut menantu cantik Hermes yakni Violet, mendadak ia menghubungi Joyi dan mengatakan ingin bicara empat mata terkait hubungan putrinya Kyra dengan Chad.
Joyi memenuhi undangan wanita itu di sebuah kafe biasa tempat mereka bertemu, masing-masing memesan segelas teh dengan cake yang manis. Sepertinya biasa Violet menunjukkan statusnya dengan pakaian keluaran terbaru dan tas mewah yang di bandrol jutaan dolar, tapi tanpa barang-barang mahal Joyi sudah menunjukkan diri hanya dengan caranya duduk dan bicara.
"Bagaimana keadaan nak Chad? sudah lama aku tidak mendengar kabarnya, itu sedikit membuat ku khawatir masalah kesehatannya" tanya Violet.
Yang paling ia khawatir tentu hilangnya Chad tanpa kabar apa pun, setelah kencan dengan putrinya ia berharap besar Chad akan datang ke rumah untuk menemui anggota keluarga Hermes yang lain tapi kenyataannya Chad malah hilang beberapa hari.
"Dia dalam keadaan sehat, saat ini ia harus pergi mengurus beberapa pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan"
"Owh begitu, syukurlah" jawab Violet lega.
Ia sangat paham betul jika seorang CEO muda bahkan tiba-tiba hilang, pekerjaan adalah hal utama dan paling penting bagi Chad.
"Putriku sangat senang nak Chad mengajaknya makan malam, dia memintaku untuk mengajak kalian datang ke rumah kami dan makan malam bersama. Aku pikir ide baik dan sungguh tidak pantas jika aku mengatakannya di telpon, aku harap anda mengerti"
"Tentu saja, aku senang mendengar undangan ini. Aku akan memberitahu Chad dan jika bisa akan ku jauhkan dia dari pekerjaan untuk beberapa waktu agar bisa memenuhi undangan mu"
"Aku senang mendengarnya" jawab Violet sumringah.
Pertemuan itu di akhiri dengan obrolan santai lainnya sampai tiba waktunya untuk pulang Violet kembali memastikan Joyi dapat menghadiri undangannya tersebut.
Ada sebuah ide lain yang terlintas dalam benak Joyi terkait undangan makan malam itu, ide yang harus segera ia ceritakan kepada Chad.
Setelah berpamitan dengan Alisya Joyi segera tancap gas untuk kembali ke Ooty, butuh waktu memang tapi begitu sampai meski tubuhnya sedikit lelah tapi Joyi memilih segera pergi ke pembangunan untuk mencari Chad sebab ia tak bisa di hubungi.
Namun Chad tak ada di sana, salah satu pegawai mengatakan mungkin dia ada di air terjun sebab beberapa waktu lalu ia pergi ke sana seorang diri. Dengan di temani penunjuk jalan Joyi pergi membelah hutan mencari keberadaan cucunya, saat ia sampai rupanya Chad tidak sendirian.
__ADS_1