
"Manager San!" panggil Chad untuk yang ketiga kalinya.
"Ma-maafkan saya tuan" jawab manager San yang tersadar dari lamunannya.
"Ada yang sedang kau pikirkan?" tanya Chad.
"Mohon maaf, saya telah lalai" jawabnya sambil membungkukkan badan.
Pertemuannya dengan Krya cukup berkesan di hatinya, ia tak bisa lupa begitu saja pada kecantikan yang di miliki Krya. Bahkan suara lembutnya saat mereka berkenalan, bagaikan takdir yang di tulis langit pertemuan itu rasanya akan kembali terjadi dan lebih berkesan.
"Ya sudah, aku ingin kau menyiapkan dokumen untuk besok" ujar Chad.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu" jawab manager San.
Satu yang ia sesalkan adalah tidak meminta nomor telpon Krya, andai ia memilikinya mungkin takdir itu dapat ia genggam dengan nasib yang jalankan sendiri.
Tiba di waktunya makan siang manager San bebas selama dua jam, sebab Chad ingin tidur siang tanpa di ganggu. Entah mengapa memang akhir-akhir ini Chad jadi suka tidur siang, tanpa manager San ketahui setiap malam memang Chad kini tidak bisa tidur sehingga lebih mudah mengantuk dari biasanya.
Teringat akan ucapan Alisya ia pun iseng bertanya apakah Alisya mau menemaninya makan siang, ternyata Alisya menjawab mau maka ia pun pergi menjemputnya.
"Kau sering datang ke sini?" tanya Alisya setelah mereka tiba di sebuah restoran kecil.
"Ya, ini tempat favorit ku"
"Kau punya selera yang bagus manager San"
"Terimakasih" ujar manager San.
Mereka memesan makanan dan menikmati minuman sebelum makanan yang mereka pesan datang.
"Kau pasti suka membawa pacarmu kemari" ujar Alisya.
"Ah itu..... sebenarnya kau adalah orang pertama yang ku ajak kemari"
"Apa?"
"Hehe aku... belum punya pacar"
"Benarkah? ah manager San kau adalah pria muda yang sudah sukses mana mungkin tidak punya pacar" ujar Alisya tidak percaya.
"Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku, jadi aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu"
"Astaga... kau tenang saja, aku akan bicara pada nenek agar pekerjaan mu tidak terlalu sulit"
"Tidak! bukan itu maksud ku" ujar manager San cepat.
"Nona salah paham, aku senang bisa bekerja di perusahaan Sanwa. Aku punya masa depan yang cerah dan lagi nyonya sangat baik padaku"
"Manager San, aku penasaran bagaimana bisa kau bekerja di perusahaan nenek" ujar Alisya.
Manager San tersenyum, ia memulai ceritanya di masa saat ia masih kuliah dulu. Ayahnya adalah seorang pegawai bank sedang ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa, awalnya hidupnya normal dan bahagia tapi semua berakhir saat ayahnya di paksa melakukan pensiun dini.
Ia memang mendapat tunjangan besar tapi kehilangan masa depan yang menjanjikan, sayang sifat ibunya terlalu boros sehingga di semester akhir manager San mengalami kesulitan dalam pembayaran kuliah.
Ia pun mulai kerja paruh waktu untuk membayar biaya sekolah sekaligus biaya hidupnya sehari-hari, awalnya tidak sulit. Tapi saat kakaknya terlilit hutang dengan terpaksa sisa uang tunjangan itu di pakai oleh kakaknya, pada akhirnya mereka mengalami kesulitan keuangan.
Kehidupan yang bahagia itu lenyap seketika, dalam satu atap setiap hari hanya ada teriakan amarah yang membuatnya lama-lama menjadi muak. Ia memilih angkat kaki dan mulai hidup sendiri dengan menyewa kamar dengan harga murah, setidaknya ia merasa tidak perlu mendengar pertengkaran yang tidak berarti.
Di masa tersulitnya Joyi datang bak malaikat bersayap emas, awalnya Joyi memberi pekerjaan dengan posisi OB kepadanya. Tapi suatu hari hal yang tak terduga terjadi, Chad yang sudah terjun ke kantor hari itu terjatuh gara-gara lantai yang licin.
Hari itu juga Chad memecat manager San, tapi dengan semua kebutuhan yang dia miliki manager San tidak punya pilihan selain terus memohon agar tidak di pecat.
Ia sampai sujud demi mendapatkan kembali pekerjaan itu, Chad yang tidak suka melihat caranya memohon semakin di buat kesal.
"Sampai saat ini aku masih ingat bagaimana tatapan tuan kepadaku, tatapannya lebih tajam dari sebilah pedang yang terhunus. Lebih dingin dari es yang beku, aku merasa tubuhku berada di ujung jurang dan siap terjatuh kapan pun" ujar manager San.
"Tapi nyonya melihat dengan baik tekad ku dan penyesalan ku, dia mengajukan saran kepada tuan agar aku di beri kesempatan. Saat itu tuan menyetujuinya, tapi aku harus menunjukkan keseriusan ku dalam bekerja dengan membuat laporan untuk proyek yang sedang tuan tangani. Aku di beri waktu dua hari untuk mengerjakannya, tapi dalam waktu satu hari aku sudah selesai" lanjutnya.
"Wah... kau memang orang yang berbakat manager San" puji Alisya.
Chad paham betul bahwa manager San adalah orang pintar, dengan memanfaatkan kekuatannya dalam memimpin Chad pun tiba-tiba mengangkatnya sebagai manager.
Tentu saja manager San cukup kaget akan hal itu, tapi perintah Chad tak bisa ia bantah. Ia selalu takut pada Chad bahkan untuk menatap matanya saja ia tak pernah berani, belajar dari kesalahan ia menjadi lebih hati-hati agar tidak membuat kesalahan lagi.
Kini ia sudah menjabat sebagai manager selama dua tahun, masih baru memang tapi hidupnya sudah berjalan dengan baik. Ia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya bahkan tinggal di apartemen yang mewah, kehidupannya yang sekarang sangatlah sempurna dan idaman banyak orang.
__ADS_1
"Chad memang sangat keras dan dingin, bahkan kesan pertama ku saat bertemu dengan Chad saat pertama kali bertemu sangatlah buruk. Tapi perlahan aku mulai mengerti dan dapat memaklumi nya, Chad itu sebenarnya baik dan penuh perhatian" ujar Alisya.
"Bagiku.. justru yang harus di takuti adalah nyonya"
"Hah? kenapa? nenek kan sangat baik" tanya Alisya.
"Nyonya memang sangat baik, tapi melihat bagaimana tuan Chad patuh pada Nyonya sampai tidak berani menyela ucapannya membuatku merasa nyonya lebih menakutkan. Mungkin karena dia bisa menenangkan tuan Chad yang begitu kejam, saat orang kejam tunduk pada seseorang bukankah itu berarti seseorang itu lebih dari orang kejam?"
"Ah... kau benar juga, aku juga sampai heran kenapa Chad begitu patuh pada nenek"
"Tapi ku dengar tuan Chad hidup hanya berdua dengan Nyonya sejak kecil, mungkin rasa hormat itu yang membuat tuan Chad tidak berani"
"Yah.. mungkin saja"
"Eh... mohon maaf atas kelancangan ku, aku tidak bermaksud membicarakan nyonya seperti itu" ujar manager San yang tiba-tiba menyadari ucapannya.
"Kau tenang saja, aku tidak mungkin mengadukan mu"
"Terimakasih... " ujarnya.
Mereka mengganti topik pada kehidupan Alisya, semua orang tahu Alisya adalah anak dari keponakan Joyi karena itulah ia bisa tinggal di sana. Alisya banyak membandingkan kehidupannya sat di desa dan di kota, dimana pun itu keduanya punya sisi baik dan buruk yang harus Alisya mengerti.
Ia juga mulai terbuka pada masalah percintaannya dengan Agler, bahkan Alisya mencurahkan isi hatinya yang sedang gundah gulana.
"Aku tidak tahu kenapa tapi tiba-tiba aku merasa dia sengaja menjauhiku, ini benar-benar menyebalkan" keluhnya.
"Mungkin... dia tidak percaya diri, status nona dan pacar nona berbeda jauh. Mau bagaimana pun kekayaan seseorang selalu berpengaruh pada hubungan percintaannya"
"Tapi yang kaya adalah nenek, yang punya status tinggi juga nenek. Aku hidup menumpang di rumah besar itu"
"Tetap saja, nona adalah bagian dari keluarga"
"Lalu... menurut mu apa yang harus aku lakukan?"
"Um... bagaimana dengan menunjukkan bahwa nona adalah gadis sederhana, contohnya dengan tidak menunjukkan barang bermerek padanya. Hanya dengan pakaian bermerek saja orang sudah tahu bahwa nona dari kalangan atas, karena itu sebaiknya nona mencoba pakaian sederhana"
"Ah... kau benar juga, baiklah terimakasih atas sarannya"
"Sama-sama" jawab manager San.
Dua jam pun telah berlalu, baik Alisya atau pun manager San sama-sama menikmati waktu yang telah mereka habiskan bersama untuk saling mengenal lebih dekat.
Manager San tersenyum membalas sapaan itu, auranya semakin memancar lagi tersenyum ramah.
"Andai aku punya pacar sepertinya" ujar salah satu karyawati.
"Jika di suruh memilih antara pak Chad dan pak manager aku lebih suka pak manager, di sangat ramah dan baik sekali" jawab temannya.
Mereka tak henti memandang manager San sampai ia masuk ke dalam kantornya, ia kembali bekerja dengan menyiapkan berkas-berkas yang harus ia serahkan kepada Chad.
Setelah selesai ia pun pergi ke ruangan Chad, nampak Chad sudah bangun dan kembali bekerja.
"Maaf tuan, ini berkas yang anda minta. Saya juga sudah dapat informasi tentang Hermes grup" ujarnya.
"Katakan!"
"Keuangan perusahaan mereka sudah stabil, saat ini bahkan mereka berhasil membeli sebuah saham dari Hook. Saya rasa kita perlu ambil bagian juga, dengan begitu setengah yang dimiliki Hermes adalah setengah milik kita juga"
"Ide yang bagus, kalau begitu tolong persiapkan segalanya" perintah Chad.
"Baik, akan segera saya laksanakan" jawabnya.
Manager San pun kembali ke ruangannya, dia terus bekerja hingga waktunya pulang. Tentu ia mengantarkan Chad lebih dulu ke rumahnya baru kemudian dia pulang ke apartemennya.
Sampai di kediamannya Manager San segera membersihkan badan dan memasak untuk makan malamnya, seperti hari-hari yang sudah biasa ia lalui. Masak sendiri untuk di makan sendiri.
Sebenarnya ibunya sudah menyuruhnya untuk kembali tinggal di serumah tapi ia menolak, alasannya karena kakaknya yang sudah menikah kini membawa keluarganya untuk tinggal bersama orangtua mereka.
Ia paham betul kalau kondisi keuangan kakaknya sedang tidak baik, itulah alasan mengapa ia terlilit hutang. Tapi hal itu tak hanya berdampak pada orang tuanya saja tapi padanya juga, ia sering kali di mintai tolong dengan meminjam sejumlah uang.
Awalnya ia merasa kasian, tapi saat melihat kakaknya menggunakan uang itu untuk berjudi ia berhenti meminjamkan uang.
Pada akhirnya ia bersitegang dengan keluarganya sendiri, ia di anggap sebagai anak yang tidak berbakti kepada orang tua meski sering mengirimkan uang. Ia juga di anggap sebagai adik yang buruk karena pelit, kini satu-satunya keluarga yang ia anggap hanyalah Sanwa.
Pernah satu kali Joyi mendapati dirinya sedang menangis sendirian karena lelah atas pertengkaran keluarga, dengan bijak Joyi berkata.
__ADS_1
"Itulah keluarga, orang yang membuatmu bahagia tapi juga menderita. Sejauh apa pun kau pergi pada akhirnya kau pasti akan kembali pada keluarga mu sendiri, gunakan saja uang yang kau miliki sekarang untuk kebutuhan orang tua mu. Mereka yang paling berhak atas itu, jika pada akhirnya uang itu tetap mereka berikan pada saudaramu maka itu sudah bukan menjadi urusan mu."
Kriiiingg....... Kriiiiingg.......
Dering telpon itu membuatnya cukup kaget, ia beranjak dan pergi mengangkat telepon.
"Halo.. " ujarnya.
"Halo... San? kau sudah pulang kerja? ini ibu.. " jawab sebuah suara di seberang sana.
"Iya, aku sudah pulang"
"Apa kau sudah makan?"
"Aku baru selesai makan"
"Baguslah, um... San? jika ayah mu menelpon dan meminta uang sebaiknya tidak kau beri, kakak mu telah membujuknya agar minta uang padamu. Dia beralasan butuh uang untuk membuat pesta kecil anaknya yang akan ulang tahun besok, tapi ibu melihat tadi siang dia berjudi dan kalah"
"Aku mengerti bu"
"Baguslah, ah... jika... besok kau punya waktu pulanglah ke rumah dan beri keponakan mu hadiah sepatu roda. Dia sangat ingin bermain sepatu roda dengan teman-temannya tapi ibu tidak punya uang untuk membelikannya"
"Ibu tidak perlu khawatir, aku akan berikan apa yang dia minta"
"Baguslah, kalau begitu ibu tutup telponnya"
"Baik"
Tuuuuuut... Tuuuuuuutt
Dia meletakkan gagang telpon di tempatnya, sambil bersandar di tembok benaknya kembali merasa terbebani.
Sejak dulu ia merasa ayahnya terlalu memanjakan kakaknya sedang pada dirinya selalu saja bersikap keras, beruntung ibunya punya rasa keadilan yang tinggi. Baik dirinya atau pun kakaknya selalu di perlakukan sama dan juga pengertian, lama tak pulang ke rumah orang tuanya membuat manager San terkadang rindu dengan suasana rumahnya yang damai.
Tapi ia terlalu malas berhadapan dengan kakaknya, terlebih ia tidak ingin bertengkar di hadapan kakak ipar dan keponakannya.
Besoknya ia menyempatkan waktu untuk membeli sepatu roda sebagai hadiah ulang tahun keponakannya, tapi dia tidak pergi ke rumah melainkan datang ke sekolah tempat keponakannya belajar.
Tepat di pinggir jalan ia menunggu sampai melihat kakak iparnya berjalan ke luar sekolah bersama dengan anaknya, manager San segera bergegas menghampiri mereka.
"Paman.... " teriak anak kecil itu.
"Hai sayang... " sapanya.
"San? apa yang kau lakukan di sini?" tanya kakak iparnya.
"Ini... paman sengaja datang untuk memberimu hadiah ulang tahun" ujarnya sambil menyerahkan kotak kado.
"Wah.... terimakasih paman, boleh aku buka?" tanya gadis kecil itu girang.
"Tentu saja" jawabnya.
Tangan yang masih kecil itu membuka ikatan pita dan mengambil tutup kotaknya, saat ia melihat sepasang sepatu roda berwarna pink ia loncat kegirangan.
"Ibu... ibu... lihat bu! lihat! paman memberiku sepatu roda"
"Wah... cantik sekali.. "
"Kau bisa memakaikannya nanti, bermainlah dengan teman-teman mu"
"Terimakasih paman"
"San, pulanglah... kakak sudah masak banyak makanan, ibu pasti senang melihat mu datang" ujar kakak iparnya yang membuat senyum itu hilang.
"Tidak perlu kak, aku masih ada banyak pekerjaan"
"Begitu rupanya"
"Ah ini untuk kakak, tolong gunakan hanya untuk keperluan si kecil saja. Jika sampai kakak ku bertanya jawab saja ibu yang memberi, nanti beri tahu ibu pasti dia akan mengerti" ujarnya sambil menyerahkan sebuah amplop putih.
"Terimakasih... kau sangat baik, saking baiknya aku merasa sungkan padamu"
"Kita ini keluarga, seorang gadis yang telah di nikahi akan menjadi tanggung jawab keluarga pria karena itu kakak tidak perlu sungkan"
"Baiklah, sekali lagi terimakasih" ujarnya.
__ADS_1
Manager San berpamitan sebelum pergi untuk kembali ke kantor, ia masih sempat tersenyum sebelum membawa mobilnya melaju.
Entah sampai kapan ia akan lari dari kakaknya, menghindari satu orang yang selalu menyusahkannya padahal hidup sendirian pun ia merasa kesepian.