
Akhirnya lukisannya selesai tepat pada waktunya, Alisya dibantu dengan Agler pergi menemui guru lesnya untuk menyerahkan lukisan yang telah ia buat. Awal melihat lukisan Alisya guru lesnya hanya menatap tanpa bicara sepatah kata pun, itu membuat Alisya gugup bukan main.
"Aku suka, akan ku pajang dengan lukisan hasil teman-teman mu" ujarnya.
"Oh... sungguh? terimakasih" ucap Alisya lega.
"Datanglah besok ke pameran dan lihat berapa banyak pengunjung yang tertarik pada lukisan mu"
"Baik, saya pasti datang" ujarnya.
Alisya dan Agler pamit undur diri setelah lukisan itu di terima, mereka merayakan hal itu dengan semangkuk eskrim yang manis.
"Sudah aku katakan kau pasti berhasil, lukisan mu itu sangat indah" ujar Agler.
"Terimakasih, tanpa dukungan mu tetap saja aku tidak akan membuat mahakarya sebagus itu"
"Aku pasti akan mendukung mu" ujar Agler.
"Mm apa kau mau roti tawar? ku kira rasanya enak jika makan eskrim dengan roti tawar" ucap Agler.
"Selera mu cukup aneh, tapi baiklah tidak ada salahnya mencoba"
"Kalau begitu tunggu di sini" ujar Agler.
Ia berlari ke toko terdekat, membiarkan Alisya berjalan sendirian di atas trotoar. Tak butuh waktu lama bagi Agele untuk mendapatkan roti itu dan ia sudah keluar dari toko. Ia tersenyum melihat Alisya yang serius memakan eskrim tapi tiba-tiba di lihatnya sebuah mobil tepat di belakang Alisya yang melaju dengan kecepatan tinggi namun oleng.
Ia bergerak dengan cepat, berlari menghampiri Alisya sebelum mobil itu sampai ke arah mereka dan.
Bruk....
Ngiiiiiiing......
Eskrim di tangan Alisya jatuh entah kemana bersamaan dengan tubuhnya yang ikut terjatuh, telinganya berdenging cukup keras sampai tak ada suara yang bisa ia dengar.
Hanya asap dari mobil yang menabrak pohon yang dapat ia lihat, lalu Agler yang mengguncangnya dengan keras. Waktu terasa berjalan sangat lambat saat orang-orang mulai menghampiri mereka dan membantu supir keluar dari mobil.
"Alisya! kau baik-baik saja?" tanya Agler yang kini suaranya sudah bisa ia dengar.
Alisya mengangguk, meski begitu mereka tetap di bawa ke rumah sakit terdekat bersama supir yang tak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian saat Alisya mendapat perawatan polisi datang untuk menginterogasi mereka, karena keadaan Alisya yang masih syok makan Agler lah yang menceritakan peristiwa itu.
Ia bersaksi sedang berjalan bersama Alisya di trotoar, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencang di belakang mereka dan menabrak pohon. Beruntung Agler dan Alisya cepat sadar dan berlari sebelum mobil itu menabrak mereka, meski begitu Alisya terjatuh dan mengalami luka ringan saat mencoba menyelamatkan diri.
"Terimakasih atas kerja samanya" ujar polisi itu.
"Sama-sama Pak" jawab Agler dan membiarkan polisi itu pergi meninggalkan mereka.
"Tidak... kau sedang di toko saat mobil itu datang, tapi tiba-tiba kau menarik ku dan kita terjatuh sesaat sebelum mobil itu menabrak pohon" ujar Alisya mengingat kejadian yang sebenarnya.
"Kau masih syok, kau tidak ingat mana yang sebenarnya terjadi" ujar Agler mencoba meyakinkannya.
"Benarkah?"
"Tentu saja Alisya, bagaimana bisa aku berlari sangat cepat dalam waktu singkat seperti itu?"
"Kau benar, sepertinya kepalaku sedikit terbentuk tadi" ujar Alisya sambil memegang kepalanya.
Agler mengelus kepala Alisya dan menyuruhnya untuk istirahat lagi sampai keadaannya benar-benar pulih, apa yang di ingat Alisya memang hal yang sesungguhnya terjadi.
Tapi Agler tidak mungkin mengiyakan sebab sangat tidak masuk akal bagi Alisya, ia tidak mau Alisya sampai curiga dan mengetahui kebenarannya bahwa dia bukan manusia biasa.
Bagi manusia seperti Alisya dia hanya monster penghisap darah, dia berjanji akan memberitahu Alisya tapi bukan pada waktu yang dekat. Ia akan memberitahunya saat Alisya siap menerima kenyataan itu.
* * *
Satu hari berlalu semenjak insiden tabrakan itu, kini Alisya sudah lebih baik lagi dan siap melihat pameran lukisan yang di selenggarakan gurunya. Bersama dengan Agler mereka pergi untuk melihat berapa banyak pengunjung yang tertarik pada lukisannya.
Tempat itu cukup ramai, membuat Alisya semakin bersemangat. Ia juga melihat satu persatu hasil karya teman-temannya juga gurunya, salah satu lukisan abstrak menarik perhatiannya hasil karya gurunya.
"Kau menyukainya?" tanya Agler.
"Mm, aku dapat merasakan emosi yang ada dalam lukisan itu. Guru memang orang yang hebat, pesannya mudah tersampaikan meski abstrak seperti ini"
"Bagaimana dengan lukisan yang lain?"
"Semuanya bagus, aku jadi tidak yakin hasil karya ku akan di nikmati orang-orang"
__ADS_1
"Hei jangan seperti itu, lukisan mu juga bagus" ujar Agler memberi semangat.
Meski begitu Alisya tetap sedikit murung karena para pengunjung hanya melihat sebentar lalu pergi, namun seorang wanita dengan gaun hitam dan sarung tangan tetap berada di sana.
Alisya penasaran siapakah wanita yang menatap lukisannya lama-lama, sedang Agler merasakan aura dingin yang mencekam dari wanita itu yang membuatnya tak nyaman.
"Halo... " sapa Alisya.
"Halo... " jawab wanita itu.
"Aku perhatikan anda sudah cukup lama menatap lukisan ini, apakah lukisan ini menarik bagi anda?" tanya Alisya.
"Siapa yang tidak tertarik melihat maha karya seperti ini, aku merasakan sebuah emosi yang kuat tergambar di dalamnya. Ada bahagia, ambisi dan perjuangan yang menjadi satu kesatuan yang utuh"
"Wah.. bagaimana anda bisa tahu semua emosi itu?" tanya Alisya kagum.
"Aku bukan pakar lukisan, tapi lukisan yang bagus selalu menarik perhatian ku. Perkenalkan nama ku Tianna"
"Saya Alisya dan ini Agler, lukisan yang ada lihat ini adalah hasil karya saya" ujar Alisya.
Tianna menjabat tangan mereka satu persatu, tapi jelas tatapannya kepada Agler cukup berbeda.
"Sepertinya ini hari keberuntungan ku, dapat bertemu dan bercengkrama langsung dengan pelukisnya sungguh di luar dugaan" ucap Tianna.
"Anda terlalu berlebihan"
"Bagaimana kalau kita mengobrol sambil minum, jujur lukisan yang lain tidak terlalu menarik minat ku"
"Kalau begitu ijinkan aku mentraktir anda secangkir kopi" tawar Alisya.
Dengan senang hati Tianna menerima tawaran itu, mereka pergi ke kafe terdekat. Alisya terlihat menikmati obrolan itu dan bahagia bertemu orang yang menyukai hasil karyanya. Berjam-jam mereka di sana bahkan obrolan mereka pun sampai keluar dari topik utama.
"Maaf, permisi sebentar" ujar Alisya yang tak tahan ingin ke toilet.
"Silahkan" jawab Tianna.
Alisya bergegas pergi, meninggalkan Tianna dan Agler yang tidak bicara sama sekali.
"Malam ini datanglah ke pemakaman umum, ada yang harus ku sampaikan sebagai satu kaum yang sama" ujar Tianna.
"Kau bukan vampire buangan, penuhi undangan ku saja" ujar Tianna bersikeras.
Entah mengapa dari jauh saja aura dingin Tianna membuatnya tidak suka, apalagi Tianna menyuruhnya datang tanpa memberitahu alasannya.
Ia merasa Tianna bukan vampire yang baik dan harus dia jauhi, tapi undangan itu pun tak bisa ia abaikan begitu saja.
Alhasil Agele tetap datang sesuai permintaan, Tianna rupanya sudah menunggu kedatangan Agler sejak tadi. Di bawah sinar rembulan Tianna nampak lebih bebas dari tadi siang, Agler baru ingat bahwa kini Tianna tidak memakai sarung tangan atau topi. Hal itu membuatnya yakin kalau Tianna adalah vampire murni.
"Ada apa?" tanya Agler.
"Gadis yang bersama mu tadi, dia manusia bukan?" tanya Tianna.
"Kenapa?"
"Sepertinya dia tidak tahu kalau kau adalah vampire"
"Itu bukan urusan mu!" ujar Agler merasakan bau-bau ancaman.
"Kalian terlihat begitu dekat, apa dia pacar mu?"
"Katakan apa maumu!"
"Kira-kira.... bagaimana jika dia tahu bahwa kau adalah vampire? apa kau bisa membayangkan bagaimana ekspresinya saat tahu bahwa pria yang selama ini ia kenal ternyata monster berdarah dingin?" ujar Tianna tanpa memperdulikan pertanyaan Agler.
Syuuutt....
Gep
Ah...
Secepat kilat Agler berlari dan mencekik Tianna dengan satu tangannya yang kuat, meski nafasnya tertahan tapi Tianna masih bisa tersenyum.
"Apa mau mu?" tanya Agler sekali lagi.
"Bergabunglah dengan ku, vampire seperti kita sampai kapan pun tidak akan di terima oleh manusia. Dia masih tersenyum padamu karena belum mengetahui identitas mu yang asli, namun saat kau menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya maka seketika itu juga dia akan mengusir mu" ujar Tianna.
__ADS_1
Cekikan Agler mulai merenggang, ia tahu Alisya pasti akan takut padanya. Meski begitu ia ingin tetap bersama Alisya, menjalani hari bahagia mereka seperti biasanya.
"Pikirkan lah...sebentar lagi kulit mulusnya akan keriput, lalu rambut indahnya berubah kusam dan wajah cantiknya akan hilang. Dia akan menua dan mati, lalu bagaimana dengan mu? tetap pada tubuh ini dan abadi"
"Tidak! aku manusia setengah vampire, tubuhku tetap berkembang dan bisa mati juga" sergah Agler.
"Tapi dalam waktu yang lama, umurmu bertambah tapi tubuh mu berkembang sangat lama. Pada akhirnya kalian akan berpisah karena dia alasan, jika bukan dia yang meninggalkan mu karena ketakutan maka dia akan meninggalkan mu karena kematian."
Agler melepaskan cengkraman nya, membuat Tianna bebas dan membisikkan kata-kata yang menghipnotis Agler akan melakukan apa yang dia inginkan. Sebenarnya cukup sulit bagi Tianna karena separuh tubuh Agler adalah vampire yang tidak mempan pada hipnotisnya, tapi beruntung setengah lagi adalah manusia sehingga Tianna hanya perlu memancing sifat manusia Agler dengan menanamkan keputusasaan.
* * *
Meski lukisannya kurang populer tapi Alisya tetap senang, terlebih ada pengunjung yang menyadari pesan dari lukisannya. Malam itu Agler mengajaknya bertemu untuk merayakan keberhasilan Alisya, Agler mentraktirnya makan meski di warung kecil pinggir jalan.
Walau pun sederhana tapi Alisya senang karena perhatian kecil itu, selesai makan mereka pergi ke dermaga tempat dimana mereka selalu menghabiskan waktu bersama.
Air laut yang sejuk menerbangkan rambut Alisya hingga berantakan, tapi ia tidak perduli dan menikmatinya. Rembulan yang nampak lebih besar dari biasanya terpantul di atas air laut yang tidak mau tenang, dan sayup debur ombak melengkapi malam romantis mereka.
"Kau senang?" tanya Agler melihat senyum Alisya yang tidak pernah padam.
"Mm, semuanya berjalan dengan baik. Terlebih ada kau di sampingku" jawab Alisya sambil menyenderkan kepalanya di bahu Agler.
Mereka saling tersenyum dan menikmati malam itu, namun tak lama kemudian beberapa pengganggu datang mengusik ketenangan mereka. Tiga orang pria bersikap sok jago dengan pisau di tangan, mereka meminta seluruh harta benda yang Agler miliki serta mencoba menyentuh Alisya.
Tapi tentu Agler tak akan tinggal diam saja saat gadisnya di usik oleh orang lain, ia meminta Alisya agar tetap berada di belakangnya dan sedikit mundur agar lebih aman.
"Heh mau sok jadi pahlawan di depan pacar ya... " ujar salah satu diantara pria itu.
"Sebaiknya kau menyerah saja, tiga lawan satu tidaklah seimbang. Dari pada kau mati sia-sia akan lebih baik jika kau tinggalkan uang dan gadis mu untuk kami."
Hahaha
Tawa menyertai lelucon salah satu pria itu meski bagi Agler tidak lah lucu, tanpa memberi kesempatan ia maju dan memukul salah satu pria dengan cukup keras hingga jatuh di atas pasir.
"Sialan!" teriak temannya.
Buk Buk Buk
Agler melawan dua orang sekaligus tapi ia tak merasakan kesulitan sama sekali, tentu saja karena tubuhnya lebih kuat dan cepat dari mereka. Tapi tetap saja ada satu kesempatan dimana Agler lengah dan.
Sreett...
"Agler!" teriak Alisya melihat tangan Agler yang berdarah karena terkena sayatan pisau.
Para pria itu tersenyum sebab merasa diri mereka akan menang, tapi sesuatu yang di luar nalar terjadi. Agler menghapus darah yang keluar dari bekas luka itu, anehnya tak ada bekas sayatan yang tersisa di sana. Tangan Agler mulus seolah tak pernah terluka, hal itu membuat para pria dan Alisya heran.
Ekspresi Agler kini menjadi dingin dengan tatapannya yang tajam, ia mengangkat tangan dan dengan kukunya yang tajam di cakarnya salah satu pria itu.
Aaaaarrrrggghhhhh.....
Teriakan itu sangat kencang hingga membuat teman-temannya bergidik, mereka sadar yang sedang mereka lawan bukanlah manusia biasa.
"Mo-monster!" teriak salah satu dari pria itu.
"Lari... selamatkan diri mu!" ujar yang lain sambil mengambil langkah seribu.
Namun ia tak cukup cepat bagi Agler, dengan mudah Agler menyusulnya dan menarik tangan pria itu hingga ia tak bisa lari lagi.
Buk
Sreet...
Aaaahh.....
Meski jaraknya cukup jauh tapi Alisya dapat melihat Agler mencakar pria itu dari depan, potongan baju dan darah bercampur jadi satu dari luka yang Agler beri. Tak cukup sampai di sana Agler kembali dengan langkahnya yang cepat dan.
Sreeeett...
Hanya dengan satu sayatan Agler memotong leher pria yang tepat berada di depan Alisya dengan kukunya, kini mereka sudah selamat dari perampok yang mencoba menyakiti mereka. Satu-satunya yang tidak selamat hanyalah mental Alisya, tanpa kata atau apa pun itu Alisya berdiri menatap pria yang berubah di depan matanya.
Tiba-tiba Alisya teringat pada insiden kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, ia tidak salah ingat. Saat itu Agler memang berada jauh darinya, dan alasan mengapa ia bisa selamat karena Agler berlari sangat cepat untuk menarik tangannya.
"Alisya.... " panggil Agler pelan.
"Aku.... bukan manusia, aku adalah monster" ujarnya pelan.
__ADS_1