
Pernikahan yang suci itu mengingatkan Alisya akan keinginan Agler untuk mempersuntingnya, betapa hari itu seakan hidup akan berjalan dengan mudah.
Tapi setiap hal yang berharga memang memiliki nilai yang tak murah, untuk itu pula selalu ada pengorbanan. Dalam sepak terjang kisahnya perbedaan yang terlalu kontras itu menjadi ujian paling nyata, dunia mereka terlalu berbeda untuk di persatukan.
"Alisya" panggil Agler lembut sambil mengelus tangannya.
Ia terperanjat, cukup kaget akan sentuhan itu.
"Kau kenapa?" tanyanya cemas.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja" sahutnya.
"Akhir-akhir ini kau selalu melamun, sikap mu itu terlalu membuatku khawatir" akui Agler.
Whhuuuussss....
Desir menyapu rambut panjang Alisya hingga cukup menghalangi wajahnya, tapi ia tak berusaha menyingkirkannya. Dalam diam itu di tatapnya pria yang sudah ia cintai dengan cukup lama, ia tak mengira akan tiba hari dimana ia ragu apakah hubungan yang selalu ia idamkan itu akan mampu bertahan.
"Aku harus pulang, kita bertemu besok lagi" ujarnya tanpa menjelaskan pernyataan Agler.
Agler tak mau memaksa, dibiarkannya Alisya pergi meninggalkannya begitu saja. Sedang dirinya juga ikut pulang dengan membawa serta tanda tanya besar.
"Kau baik?" tanya Ima melihat wajah kakaknya yang begitu kusut.
"Ah ya.. " jawab Agler lemas.
"Kau bertengkar dengan Alisya?"
"Tidak, hanya saja... rasanya dia berubah"
"Apa maksud mu?" tanya Ima ingin lebih di perjelas.
"Dia sering melamun, menjadi pendiam bahkan rasanya dia seperti enggan dekat dengan ku" jelas Agler sambil menjatuhkan diri pada kursi.
Tentu Ima tahu pasti mengapa hal itu dapat terjadi, saat ini Alisya masih dalam fase penyembuhan jadi butuh waktu baginya untuk menerima kenyataan. Meski begitu ia cukup kaget Alisya tetap bungkam dan masih mau menemui Agler.
"Wanita mudah trauma dan stres, kau harus bersabar menghadapinya" ucap Ima.
"Yah, bagaimana dengan hubungan mu sendiri?"
"Tentu saja baik, Chad berada dalam genggaman tangan ku jadi kau tidak perlu khawatir" jawab Ima sambil tersenyum.
"Heh aku masih tidak menyangka kalian berhubungan, jika di pikir lagi kalian benar-benar seperti ikon pasangan vampire"
"Maksudnya?" tanya Ima tak mengerti.
"Yah, kau dengan sifat yang tak mau kalah dan serakah sedang Chad dengan sifatnya yang dingin dan kejam. Kalian adalah couple yang mengerikan"
Hahahaha
"Mungkin karena itu kami berjodoh" tukas Ima merasa geli.
* * *
Dengan perginya Kyra membuat Hans lebih khawatir lagi, tentu karena ia masih ingat akan perjanjian yang dilakukan Jack dengan Tianna. Karena Kyra sudah tidak ada maka sudah bisa di pastikan darah yang akan diambil Jack selanjutnya adalah darah ibunya yaitu Amelia, tentu Hans tak bisa membiarkan hal ini terjadi.
Bingung harus bagaimana yang ia lakukan hanya menghabiskan waktu dengan melamun, sekarang Shishio sudah tidak ada sehingga ia tak tahu harus meminta saran kepada siapa.
Hingga tiba-tiba ia teringat pada Nick, saat itu Nick mau membantunya untuk menyelinap ke dalam istana maka ia harap kali ini ia mau membantunya lagi.
Diam-diam ia pergi seorang diri, beruntung Nick masih tinggal di rumah tua itu sehingga ia tak repot mencari.
Kedatangan Hans tentu cukup membuat Nick kaget karena sudah lama mereka tidak bertemu lagi, terakhir kali mereka bertemu saat Hans meminta bantuan dan Nick kini kembali menerka bahwa Hans akan meminta bantuan lagi.
"Aku dengar pertempuran itu telah berakhir, bukankah harusnya sekarang dunia sudah aman?" ujar Nick.
"Ya, itu memang benar"
"Lalu apa yang membawamu padaku?" tanya Nick.
Hans menarik nafas panjang sebelum ia menceritakan apa yang terjadi, keresahannya akan persekutuan Jack dengan Tianna yang ingin segera ia hentikan.
"Um... ini sulit" gumam Nick sambil mengusap dagunya dengan satu tangan.
Ia nampak berfikir keras, mencari jalan keluar yang mungkin ada.
"Kami bangsa vampire sangat kental dengan perjanjian, saat kami melakukannya tentu akan ada pertukaran yang berharga yang saling menguntungkan sehingga perjanjian sulit untuk di putus"
"Aku mengerti hal itu, tapi tetap saja jika terus di biarkan keluarga ku akan dalam bahaya"
"Bahaya? kenapa?" tanya Nick tak mengerti.
__ADS_1
"Jika di biarkan kakek akan terus mengambil darah, itu sudah menentang hukum penyihir dan jika ketahuan ia pasti dapat hukuman dari pemerintah Akademi. Yah... meskipun dia sudah pengsiun tapi karena kedudukan yang pernah ia tempati hal itu cukup berpengaruh"
"Aku masih tidak mengerti, apa salahnya mengambil darah? dia kan tidak sampai membunuh"
"Sebagai penyihir itu adalah kesalahan besar, kakek sudah membuat perjanjian untuk kepentingan pribadi bukan kelangsungan hidup banyak orang. Intinya dia justru membahayakan ribuan nyawa hanya demi kepentingan pribadi, jika terus di biarkan bukan hanya dapat hukuman tapi memicu kecemasan di antara manusia" jelas Hans dengan wajah ketir.
"Bukankah itu wajar? sifat alami manusia memang seperti itu, selalu mementingkan diri sendiri tanpa berfikir panjang" ujar Nick tiba-tiba yang membuat Hans terpaku.
Betapa ucapannya sangat tajam meski dengan wajah santai, keserakahan memang sifat alami yang di miliki setiap manusia. Tapi Hans tak bisa membiarkan sifat itu ada pada diri Jack sebab itu membahayakan semua orang.
"Cukup pada penjelasannya, intinya apakah kau memiliki cara untuk menghentikan semua ini?" tanya Hans putus asa.
"Kau punya dua pilihan, jangan biarkan kakek mu mendapatkan pilnya atau jangan biarkan vampire itu mendapatkan darahnya"
"Maksudnya?"
"Buat salah satu dari mereka merugi, itu satu-satunya cara memotong tali perjanjian yang saling menguntungkan" ujarnya.
Mudah di ucapkan tapi sulit untuk di lakukan, ia sangat tahu Jack mencintai Jessa lebih dari segalanya. Itu terbukti dari keberanian Jack membuat perjanjian dengan Tianna hanya untuk sebuah pil, maka ia paham akan sulit membuat Jack menyerah pada penyakit Jessa.
Sebagai Penyihir garis depan yang selalu bertarung melawan vampire ia juga cukup tahu sifat vampire yang hanya menginginkan darah, dan hukum mereka yang tidak berperikemanusiaan.
Dalam beberapa hari terakhir Hans kehilangan selera makan karena terlalu memikirkan Jack, diam-diam dia selalu memperhatikan Jack dengan Jessa sambil mencari jalan keluar dari masalah itu.
Sampai satu malam ia kembali menguntit Jack, saat itu Jack masih memiliki persediaan darah dalam botol yang ia tukar dengan sekotak pil.
Tak ada banyak perbincangan yang terjadi sebab memang urusan mereka hanya melakukan pertukaran saja, setelah menerima pil dari Tianna Jack segera pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara Tianna yang juga siap menghilang cepat di hadang Hans setelah kepergian Jack, dengan sengaja Hans tak repot menyembunyikan auranya yang dapat di cium oleh Tianna dengan tujuan agar Tianna tertarik padanya.
"Bau mu mirip dengannya" ujar Tianna.
"Aku cucunya" sahut Hans.
"Oh, pantas saja"
"Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu" ujar Hans.
"Aku mendengarkan" sahut Tianna sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Aku.... minta padamu, tolong putus perjanjian yang telah kau buat dengan kakek" ujar Hans sedikit ragu.
"Pil itu sangat berharga bagi kakek, tapi dia tidak bisa terus mengambil darah cucunya sendiri untuk memuaskan dahagamu. Karena itu aku mohon tolong putuskan perjanjian kalian"
"Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapan mu? sepertinya kau tidak cukup kenal bangsa vampire dan hukum perjanjian"
"Aku tahu.. "
"Jika kau tahu tidak mungkin kau memohon, aku tidak peduli bahkan jika dia harus membunuh seluruh anggota keluarganya. Itu bukan urusan ku karena dalam perjanjian ini kami saling menguntungkan, dia mendapatkan apa yang dia inginkan dan membayarnya dengan sesuatu yang aku butuhkan" potong Tianna.
Hans terdiam, Nick sudah menjelaskan hal ini namun tetap saja ia tidak punya cara lain untuk menghentikannya.
"Jika... jika aku menawarkan diri apakah kau mau melakukannya?" tanya Hans sambil menelan ludah dengan susah payah.
Seperti pengecut pada umumnya, detak jantungnya mulai berdegup kencang dengan bayangan menakutkan tentang hal-hal mengerikan yang akan terjadi pada dirinya.
Perlahan Tianna melangkah maju, meneliti wajah Hans hingga tubuh prianya yang kekar. Menghirup aroma tubuhnya dari leher hingga mengelus punggungnya yang lebar.
"Kau cukup bagus dari segala sisi, tubuh dan kemampuan mu ku akui memiliki potensi" bisik Tianna.
"Jadi... bagaimana? bukankah ini sepadan?" tanya Hans.
Fufufu hahahahahaha
Tawa Tianna yang awalnya hanya singgangan kecil kini semakin besar, seolah Hans adalah badut yang begitu lucu dimatanya.
"Aku sangat suka manusia seperti kalian, penuh cinta dan kasih sayang yang memuakkan. Kenapa kalian sangat suka berkorban untuk keserakahan manusia lain? bukankah Jack hanya benalu? dia rela mengorbankan darah cucunya hanya demi kepentingan pribadi dan kau.... kau justru menawarkan diri untuk membantu keserakahannya" ujar Tianna.
Itu memang benar, Hans tahu betul tindakan Jack tak bisa di maafkan dan tindakannya adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan. Tapi mau bagaimana juga Jack adalah kakeknya, selain itu ia juga tahu rasanya berkorban demi hidup bersama cinta.
"Aku akan melayani mu dengan sepenuh hati asal kau mau menerimaku dan tetap memberikan pil itu kepadanya" ujar Hans pelan.
Tianna terlihat mulai menimbang, kembali menatap Hans mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Baiklah" ujarnya akhirnya.
Fuhh...
Ada sedikit lega di hati Hans sebab setidaknya pengorbanannya di terima dengan baik.
"Berikan darahmu seminggu sekali padaku, tapi aku ingin menghisapnya langsung jadi temui aku minggu depan sebelum Jack"
__ADS_1
"Aku mengerti" sahut Hans.
Tianna tersenyum tipis, berjalan ke arah Hans dan melewatinya sebelum akhirnya hilang dalam kegelapan malam yang pekat.
* * *
Seorang wanita dengan kalung mutiara yang besar menghampirinya, wajahnya yang tegas terkadang membuatnya takut hingga tak berani mengangkat wajah.
Tapi tangan wanita itu selalu mengambil dagunya, perlahan mengangkatnya agar mata mereka bisa beradu pandang.
"Jangan pernah menundukkan kepalamu, kau adalah pion besar yang harus menjadi benteng. Tunjukkan kekuatan mu agar tak ada yang berani melewati batasan mu" ujar wanita itu dengan suara yang menggema.
"Saya... tidak berani.. nyonya.. " sahutnya dengan mata sayu.
"Aku mengetahuinya, kau mencintainya.. meski tak bisa mendapatkan status yang kau inginkan tapi takdir mu adalah bersama dengannya selamanya, kau akan menjadi ibu bagi anak-anaknya meski mereka tak pernah lahir dari rahim mu"
"Nyonya... " panggilnya sendu.
"Joyi... kuserahkan semuanya padamu" ujar wanita itu sebelum kemudian cahaya datang untuk menenggelamkannya.
Matanya terbuka, menatap seisi ruangan hanya untuk memastikan ia berada di kamarnya. Perlahan Joyi bangkit dari ranjangnya untuk membuka tirai, membiarkan mentari pagi menyapanya dengan sinar hangat.
Hhhhhhhhhhh
Satu hembusan nafas berat keluar dari mulutnya, mencoba melepaskan aura negatif dari tubuhnya.
Entah mengapa setelah sekian lama tiba-tiba mimpi itu muncul begitu saja, mimpi yang membuat hatinya menjadi tak tenang sebab ada firasat buruk yang datang merajam benaknya.
Satu hal yang ia ingat adalah sumpahnya untuk menjaga keturunan Hermes dan itu kini membuat kerongkongannya tandus seperti padang pasir.
Glek Glek Glek
Dihabiskannya satu gelas air putih untuk membasahi tenggorokan, namun tetap saja rasa dahaga itu tak hilang.
Mencoba melupakannya ia mulai hari itu seperti biasa, saat tiba di ruang makan pelayan telah menyiapkan semua hidangan sesuai daftar menu.
"Selamat pagi" sapa Chad yang sudah rapi dan siap pergi ke kantor.
"Pagi sayang" jawab Joyi.
"Selamat pagi semuanya.. " sapa Alisya yang masih memakai baju tidurnya.
"Pagi juga sayang... " balas Joyi.
Kini anggota keluarganya telah lengkap, dua cucu yang akan ia jaga dengan nyawanya duduk tepat di sampingnya.
Sejenak ia memperhatikan Chad yang berketurunan Hermes, meski dia begitu dendam pada Jack tapi akhir-akhir ini Chad seolah lupa pada misinya dan hidup damai dalam dunia baru yang hanya ada kantor dan Ima.
Seharusnya tak ada masalah dengan Chad jadi ia tak perlu mencemaskannya, tapi firasat buruk itu jelas mengacu pada keturunan Hermes.
Maka benaknya mulai menerka pada Agler yang masih mentah dalam dunia fana itu, tapi keputusan Agler untuk tetap menjadi keluarga Megan adalah keputusan tepat yang harusnya tidak menimbulkan masalah.
Selain dari kedua orang itu yang tersisa kini hanya Hans dan Kyra, diantara mereka hanya Hans yang menganggapnya benar-benar musuh.
Jika di pikir dengan baik sudah tiba waktunya bagi Joyi untuk mendekati Hans, memastikan dia aman dan jauh dari Jack.
"Nenek" panggil Chad.
"Ah ya... maaf nenek sedikit melamun"
"Ada apa?" tanya Chad khawatir.
"Tidak ada, hanya saja semalam nenek bermimpi buruk jadi sekarang masih terbawa suasananya"
"Oh astaga... itu memang tidak menyenangkan" ujar Alisya yang pernah mengalaminya.
"Sebaiknya hari ini nenek tidak perlu kemana-mana, istirahat saja di rumah" ucap Chad.
"Tidak apa-apa, nenek ada beberapa acara yang harus di hadiri"
"Tapi... "
"Nenek baik-baik saja Chad, justru dengan bertemu teman-teman nenek akan merasa lebih baik sebab bisa melupakan mimpi itu"
"Baiklah... tapi jangan memaksakan diri" ujar Chad lebih pada memperingatkan.
Joyi mengangguk dengan senyum tipis di wajah yang mulai di penuhi kerutan, mereka pun mulai sarapan sambil mengganti topik pembicaraan.
Menjelang siang dengan diantara oleh supirnya ia pergi ke suatu tempat yang cukup sepi, bukit dan hutan adalah pemandangan satu-satunya yang ada.
"Kau memanggilku?" tanya seseorang yang memang Joyi panggil diam-diam.
__ADS_1