
Tempat yang di katakan Tianna sebagai markas persembunyian Clarkson sangat jelas, ia dapat menemukannya dengan mudah. Tak butuh waktu lama baginya untuk akhirnya sampai di sana, dari kejauhan ia sudah bisa melihat bangunan itu.
Srekkk...
Syuuuuttt
Trang
Dari suaranya Jhon yakin belati yang ia lemparkan berhasil di tangkis, itu tidaklah masalah karena yang terpenting adalah melihat siapa yang sedang membuntutinya.
"Hai Jhon... "
"Jack! apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jhon tak menduga.
"Istri dan sahabat ku sedang di tawan di sana, tentu saja aku harus menyelamatkan mereka"
"Oh tentu saja, kenapa aku harus kaget akan hal itu" tukas Jhon.
Ia mendengus dengan kesal, bukan masalah karena Jack tiba-tiba ada di sana melainkan karena walaupun Jack menua tapi ia masih pandai menyembunyikan diri sehingga keberadaannya tak ia sadari.
"Yah... setidaknya aku mendapatkan bantuan" gumamnya.
Jhon tak banyak berkata karena memang dalam aksi penyelamatan mereka tak perlu strategi, mereka hanya perlu masuk dan membunuh musuh untuk kemudian membawa Joyi dan Jessa keluar dari sana.
"Apa yang kau lihat?" tanya Jack.
"Tiga berjaga di depan, sebaiknya kita lewat samping" jawabnya.
Jack mengangguk, mengikuti arahan Jhon dan bergerak sesuai dengan perintahnya. Mereka berhasil masuk ke dalam dengan melewati jendela, bergerak perlahan sambil mengawasi sekitar.
"Hei kau!" teriak seseorang yang memergoki mereka.
Jack cukup terkejut mendengarnya tapi kemudia ia bergerak cepat untuk menghabisinya, sayangnya tindakannya itu menimbulkan suara gaduh yang mendatangkan penjaga lain.
Alhasil mereka terlibat pertempuran juga, melawan para vampire muda dengan jumlah yang banyak tentu akan sangat merepotkan, terlebih kini Jack sudah tak muda lagi.
Beruntung Jhon masih bugar, ia berhasil menumbangkan mereka satu persatu hingga membuka jalan bagi Jack untuk lari.
Setelah selesai ia pun menyusul, sayangnya yang menjaga tempat itu bukan Tianna melainkan Yulia sehingga kunci yang di pegang ada padanya.
"Wah wah... lihat siapa pahlawan kita hari ini" ujar Yulia menyambut kedatangan Jack dan Jhon telat di depan pintu kamar.
"Yulia... berikan kuncinya dan aku akan mengampuni nyawamu" ujar Jhon.
"Ckckckck, harusnya aku yang bilang seperti itu, kenapa aku harus tunduk pada lumpur seperti mu?" olok Yulia.
Tak ada pilihan lain, memang sejak awal mereka harus saling mengeluarkan cakar dan bertarung.
Mengeluarkan kemampuannya dalam hal kecepatan, Yulia cukup membuat Jhon kewalahan. Seperti yang di katakan Agler semakin lama bertahan maka semakin banyak energi yang terbuang, oleh karena itu ia harus segera melumpuhkan Yulia.
Bukan hal mudah memang, tapi ia yakin pasti bisa.
Aaaaaaa...
Teriakan Jhon begitu kuat, sekuat usahanya mencoba menangkap Yulia.
Buk
Aaahh..
Bruk...
Akhirnya Jhon mendapatkan kesempatannya, satu pukulan itu tepat mengenai Yulia dan merubuhkannya.
"Jack, cepat bawa mereka keluar" perintah Jhon yang tanpa Yulia sadari berhasil mengambil kunci darinya.
"Sial! aaku tidak akan membiarkan mu!" teriak Yulia murka.
Aaaarrhh...
Teriakan amarah itu membuat Jhon kembali waspada, sementara Jack bergegas menuju pintu setelah mendapatkan kuncinya. Mencoba fokus pada misinya untuk menyelamatkan dua wanita yang paling penting dalam hidupnya, Jack berhasil membuka gembok itu dan menerobos masuk.
Wajah pertama yang ia lihat dalam cahaya keremangan adalah istri tercintanya Jessa, menatap bahagia kepadanya dengan air mata yang cepat menetes.
"Jessa... kau baik-baik saja?" tanya Jack.
"Ya, bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?"
"Itu tidak penting, kita harus segera keluar dari sini. Dimana Joyi?" tannyanya.
Perlahan tangan Jessa terangkat, menunjuk gundukan selimut di atas ranjang. Penasaran Jack menghampiri gundukan selimut itu, saat mendengar deru nafas dari baliknya ia pun menyingkap selimut itu.
"Joyi... "
"Tidak.. aku mohon... jangan sakiti aku.... " teriak Joyi tiba-tiba.
"Joyi ada apa dengan mu?" tanya Jack bingung.
"Jack, dia sakit. Ballard memberinya sesuatu yang membuat kesehatan mentalnya terganggu, dia sudah bukan lagi Joyi yang perkasa" jelas Jessa.
Mengetahui hal itu membuat Jack di landa perasaan bersalah, tapi ini bukan saatnya untuk bersedih. Perlahan ia coba membujuk Joyi agar mau mengikutinya, setelah rayuan yang cukup lama akhirnya Joyi mau ikut dan mereka pun keluar dari sana.
Di luar Jhon masih bertarung dengan Tianna, Jack ingin membantu tapi saat ini keselamatan Jessa dan Joyi lebih utama sehingga ia pun memilih untuk bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
* * *
Door... Dooor...
Dua kali tembakan, itu adalah sinyal yang di berikan Chad untuk Shishio dan Nick. Mengetahui perang telah terjadi mereka pun segera meminun ramuan masing-masing, hanya butuh waktu beberapa detik saja maka ramuan itu sudah berefek pada tubuh mereka.
"Aku merasa lebih kuat" ujar Nick.
"Memang itulah gunanya, ayo pergi!" sahut Shishio.
Mereka segera berlari memasuki area istana, menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalan mereka.
Tiba di ruangan tempat dimana ujian di laksanakan Nick cukup kagum melihat kekacauan yang ada, rupanya anak didiknya benar-benar mampu bertarung.
Sayangnya Ballard sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, ia menyiapkan para petarung yang di bayar Clarkson untuk melindungi sekaligus membasmi pengganggu.
"Chad awas!" teriak Tianna ngeri saat melihat salah satu petarung itu mencoba memenggal kepala Chad menggunakan kapak.
Whuuusss...
Nyaris sekali, andai Chad tidak menunduk tepat waktu dalam detik selanjutnya ia sudah berada di dimensi yang lain.
Melihat keadaan semakin buruk Tianna memilih menuntaskan urusannya dulu dengan Clarkson, di tengah kehebohan yang terjadi ia mendapati Clarkson menyelinap keluar.
"Clark... kau mau pergi kemana?" tanya Tianna yang tahu tahu sudah berada tepat di hadapan Clarkson.
"Tianna... apa yang kau berikan padaku?.. " tanyanya menahan panas dari dalam tubuh.
"Hanya beberapa racun untuk memacu jantung mu yang tak lagi berdetak"
"Kau... beraninya... aaarghhhhh"
Sssshhhhh
"Hemat energimu untuk hal yang lebih baik, contohnya seperti memikirkan bagaimana kisah kita yang romantis" bisik Tianna tepat di telinganya.
Syuuuuttt..
Meski dalam keadaan sakit tapi amarah Clarkson membludak dengan hebatnya, ia ingin sekali mencabik wajah mempesona Tianna dan memajangnya di atas perapian.
Tapi tentu tenaganya saat ini tidaklah cukup untuk melakukan semua itu.
"Dengar Clark, orang seperti mu tidak akan pernah merasa puas. Kau vampire yang menyedihkan sekaligus merepotkan, satu-satunya yang terbaik bagimu adalah pergi dunia yang lebih abadi dari usia kita" ujar Tianna.
Sreekk..
Krek
Ia harus segera kembali ke markas untuk memastikan Jhon berhasil menyelamatkan Jessa dan Joyi tanpa masalah.
Tapi sesampainya di sana yang ia temukan adalah Jhon seorang diri, berdiri dengan luka yang cukup serius.
Nampak di hadapannya Yulia mendapatkan luka yang lebih berat, ini membuat Tianna yakin pekerjaan mereka di sana akan berakhir dengan cepat.
Drap Drap Drap Drap
Whuuusss...
Serangan Tianna yang tiba-tiba rupanya masih bisa di hindari oleh Yulia meskipun posisinya tidak menguntungkan.
"Jhon, mari akhiri ini dengan cepat" ujar Tianna yang mendarat dengan kedua kakinya.
Jhon mengangguk dan segera berlari lebih dulu untuk memberikan serangan, tanganya terentang siap menangkap tubuh Yulia untuk kemudian mengunci gerakannya.
Di susul oleh Tianna yang lebih agresif lagi, membuat Yulia tentu kehilangan kesempatan untuk menyerang.
Di saat genting semperti itu ia tahu harus segera melarikan diri, tapi Tianna tidak mengijinkannya. Ia memotong jalan Yulia dan memberikan satu pukulan telak, di susul oleh Jhon yang segera menangkap kedua tangannya. Mendaratkan kakinya pada punggung Yulia ia berusaha sekuat tenaga untuk menarik tangan Yulia.
Aaaaaaahhh...
Zraaatt...
Kedua tangan itu putus begitu saja seperti boneka, memuntahkan cairan merah yang kental. Raungan hebat terdengar begitu pilu sebab Yulia bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa, Tianna mengambil pematik dari dalam sakunya untuk ia nyalakan dan lempar pada tubuh Yulia yang tak bisa berhenti kejang-kejang.
Saat bara itu menjalar di sekujur tubuhnya raungannya semakin hebat, namun Tianna tersenyum damai mendengarnya.
"Jhon... mana Jessa dan Joyi?" tanya Tianna setelah semua berakhir.
"Jack telah membawa mereka pergi"
"Kalau begitu sebaiknya kita kembali ke istana, keadaan di sana jauh lebih kacau" ujarnya.
Jhon mengangguk, maka mereka pun bergegas pergi.
* * *
Mereka benar-benar kalah jumlah, itu membuat pertarungan di dominasi Ballard hingga akhirnya mereka tersudut.
Berkumpul dalam satu titik mereka menghadapi musuh dengan saling memunggungi, melihatnya membuat Ballard sangat bahagia.
"Lawak sekali, kau datang seperti pahlawan tapi berakhir seperti badut. Inilah akibatnya jika kau berani bermain dengan hukum istana, tak perlu pengadilan karena aku akan menghukum kalian saat ini juga" ujar Ballard.
"Harusnya aku yang bilang seperti itu!" teriak Reinner yang baru menampakkan dirinya.
__ADS_1
Sontak kehadiran sang Raja yang dianggap telah tiada memunculkan kericuhan tersendiri, semua mata tertuju padanya termasuk Ballard.
"Yang... Mulia... " ujar kawanan itu saling bersahutan.
"Ba-bagaimana mungkin? bukankah anda sudah tiada?" tanya salah satu tetua.
"Jangan tertipu!" teriak Ballard tiba-tiba.
"Kalaupun dia masih hidup kalian harus ingat semua kesalahannya, dia pasti datang dengan orang-orangnya untuk membalaskan dendam"
"Tidak Ballard... aku datang untuk menuntut keadilan dan meluruskan apa yang salah" jawab Reinner.
Reinner bergeser, mengijinkan seseorang maju ke depan untuk mengungkapkan kebenaran.
"Siapa kau?" tanya seorang tetua.
"Hamba adalah orang yang di bayar tuan Ballard untuk menyebarkan gosip buruk tentang Yang Mulia Raja Reinner, keberadaan hamba di sini adalah sebagai saksi juga untuk menebus dosa. Silahkan para Tetua menjatuhkan hukuman kepada hamba" jelasnya.
"Aku juga punya bukti lain" ujar Reinner sambil memberikan dua lembar kertas kepada para tetua untuk di lihat.
"Aku membuat perjanjian dengan pemimpin penyihir demi keselamatan kaum kita, pemimpin penyihir memberikan kebebasan untuk kita makan dan sebagai gantinya ia meminta satu wilayah kecil. Tapi Ballard merubahnya seolah aku menjual kehormatan kita demi kepentingan pribadi" jelasnya.
Dengan bukti kuat ini maka semua kejahatan Ballard dapat di ungkap dengan mudah, para tetua pun percaya dan siap menjatuhkan hukuman kepadanya tapi.
Sret
Argh...
Seseorang dari belakang menggorok leher seorang tetua dengan begitu mudahnya, tentu itu membuat semua orang kaget.
Hahahhahahaha
Hanya Ballard seorang yang tertawa, kemudian secara perlahan semua orang yang berada di sana memperlihatkan senjata mereka dan siap menghabisi para tetua serta kelompok Reinner.
"Apa yang terjadi? kenapa kalian menodongkan senjata pada kami?" tanya salah satu tetua.
"Tidakkah kau bisa mengerti? semua penghuni istana ini sudah sepakat pada jalan yang ku tempuh, kita harus tetap berada pada adat terdahulu dimana darah lumpur tidak memiliki hak atas istana kecuali dia seorang budak!" teriaknya.
"Lihat... lihat apa yang terjadi saat kalian setuju pada Ratu pertama, kedatangan Jhon membuat malapetaka besar dimana perang akhirnya pecah dengan kekalahan bagi kita" lanjutnya.
Tak ada yang berani menyela orasi itu, terlebih karena leher mereka dalam keadaan bahaya.
"Aku akan mengembalikan kejayaan kita, tidak seharusnya kaum suci ini di pimpin oleh makhluk rendahan sepertinya. Di tangan ku, kita tidak perlu tunduk kepada siapa pun."
Ballard mengepalkan tangan dengan kuat, seolah dunia berada dalam genggamannya.
"Sekarang... siapa yang akan kalian pilih? aku? atau makhluk rendahan itu?" tanyanya.
Para tetua saling menatap, berfikir jawaban apa yang harus mereka berikan.
"Jawaban yang salah.. " gumam Ballard melihat keraguan di mata para tetua.
"Habisi mereka semua!" teriaknya sekuat tenaga.
Aaaaaaahhh...
Door...
Trang....
Klang....
Andai telat satu detik saja sudah bisa di pastikan pedang itu akan menebas lehernya, tapi beruntung peluru yang di tembakkan berhasil membuatnya jatuh.
Semua mata tertuju pada si penembak, melihat rentetan mata merah membuat nyalinya ciut hingga mundur beberapa langkah.
"Kerja bagus Alisya" ujar Reah menahan langkahnya agar tidak keluar dari tempat itu.
Alisya menatap ragu sebab mata para makhluk malam itu seolah tak senang kepadanya, terlebih mata Chad dan Agler yang menatap kosong padanya.
"Orasi yang menarik tuan Ballard, aku akui kau pandai memainkan hati dan membuat keyakinan hebat. Tapi sayangnya ada yang kurang dalam orasi mu, harusnya kau menambahkan bahwa kami... para penyihir akan terus memburu kalian seperti monster walau pun kedamaian telah tercipta, lalu dengan bangganya mengatakan pada dunia bahwa kami adalah pahlawan yang sebenarnya" ujar Reah sambil berjalan memasuki arena.
"Bedebah, makhluk rendahan seperti mu sangat tidak pantas datang ke tanah suci kami"
"Begitu juga dengan kau... " balas Reah.
"Mungkin semua penghuni istana telah berhasil kau cuci otaknya, tapi para tetua... aku yakin mereka masih jernih hingga bisa mengambil keputusan yang lebih tepat. Walau pun Raja Reinner adalah lumpur tapi kami hidup berdampingan dengan damai, dan saat tahtanya di gulingkan makhluk seperti mu datang dari kegelapan dan merenggut kebahagiaan ku. Menjadikan setiap malam adalah mimpi buruk dan mengasah kemampuan ku untuk membalas dendam, kau... di bawah pimpinan mu anak-anak seperti ku akan terus tercipta " lanjutnya dengan penuh kebencian.
"Berisik!" teriak Ballard.
Langkahnya di mulai, berlari menghampiri Reah dengan tangan terulur siap mencabik. Tapi yang ia lawan adalah gadis yang seumur hidupnya bertarung, walau dia seorang tetua sekalipun atau vampanences pedangnya akan terhunus kuat.
Sreeett..
Argh..
Menghindar dan menyerang dalam waktu bersamaan, Reah menunjukkan bagaimana sang ketua beraksi.
"Hans! amankan para tetua!" teriaknya sambil kembali bangkit untuk menghadapi serangan selanjutnya.
Dari balik pintu Reinner bisa melihat Hans, Ima dan para penyihir berhamburan masuk. Menghunuskan pedang tajam mereka dan mulai menyelamatkan para tetua, sadar pada keadaan Chad dan yang lain pun kembali bertarung.
Di arena itu, tempat dimana harusnya ujian terakhir di lakukan untuk menentukan siapa yang pantas menjadi Raja, Reinner melihat perang telah pecah.
__ADS_1