Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 93 Pendekatan Yang Sempurna


__ADS_3

Senyum Agler di pagi itu membuat Ima tergoda untuk bertanya tentang bunga mana yang telah menancap di hatinya, bagi pria polos seperti Agler mudah menerka tentang suasana hatinya.


"Bukankah musim semi baru tiba? tapi kenapa rumah ini sudah di penuhi dengan bunga?" ujarnya dengan sebuah senyuman nakal.


"Mungkin itu karena Chad baru saja mengecup kening mu" balas Agler sekaligus mengelak.


"Tidak tidak... jika itu benar-benar terjadi maka rumah ini akan di penuhi hadiah bukan bunga" sahutnya.


Berjalan mengikuti Agler yang pergi keluar rumah dengan sengaja ia menampakkan wajah begitu dekat kepada Agler, tersenyum sambil mengedipkan mata.


"Sepertinya hubungan mu berjalan baik, apa mantan kaka ipar yang sekarang jadi teman ku akan kembali menjadi kakak ipar lagi?"


"Bicaralah yang benar, gunakan kosa kata yang mudah di pahami orang" sahut Agler menjauhkan diri.


"Ayolah... kau tahu maksud ku" rengek Ima.


Agler mendengus, ia sangat tahu Ima takkan berhenti sampai mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Janji kau tidak akan menggangguku lagi?" tanyanya.


"Tergantung bagaimana jawabanmu"


Hhhhhhhh


Hembusa nafas lelah, tapi kemudian Agler menjawab.


"Dia menerima hadiah ku dengan baik, setelahnya kami pergi makan bersama"


"Hanya itu?" tanya Ima setelah ada jeda beberapa saat.


"Ya"


"Um baiklah rupanya sedikit sekali kemajuannya"


"Apa yang kau harapkan?" tanya Agler.


"Berhentilah bersembunyi, jelas ada neraka di kedua mata kalian dan dengan bodohnya mengatakan semua baik-baik saja. Buanglah keraguan mu kak.. pada akhirnya aku yakin dia pasti akan menerima mu apa adanya"


"Kau tidak melihat bagaimana wajahnya saat itu" sergah Agler yang masih saja trauma.


"Astaga... apa kau akan tetap diam saat Alisya bersama pria lain?"


"Dia... punya pria lain?" tanya Agler kaget.


"Ya! dia akan menikah!" teriak Ima dengan kesal.


* * *


Ketika ia membuka tirai cahaya itu segera masuk melewati kaca jendela dan menghangatkan ruangan, dengan lembut dari handuk yang basah ia me-lap setiap bagian tubuh Jessa tanpa melewati satu jengkal pun.


Ada sedikit senyum yang mengembangkan d wajahnya, dengan tatapan sendu selesai pada pekerjaan itu di kecupnya kening Jessa.


"Aku tidak bisa memaafkan diriku atas kesalahan ku padamu, saat ini aku masih dalam pencarian obat yang akan menyembuhkanmu. Aku harap kau bersabar sedikit lagi" ucap Jack.


Jessa hanya bisa mengedipkan matanya, sama seperti dulu saat mendengarkan semua cerita Jack.


"Saat ini aku ingin fokus pada Blue, ada seorang pria bernama Hakan yang telah mengetuk pintu hatinya. Aku telah menyelidiki pemuda ini dan dia sangat pantas untuk Blue, aku berniat menemui pemuda ini agar Blue bisa sesegera mungkin menikah" lanjutnya.


"Sebagai kakek harusnya aku memberikan kebahagiaan untuk cucu ku, tapi ternyata dari semua anak ku yang telah memberikan cucu tidak ada satu pun cucu yang mencicipi kebahagiaan dari ku."


Air mata itu mengalir saat rasa bersalah menjadi tombak yang menekan dadanya, ia pikir akan menjadi ayah dan kakek yang baik tapi ternyata tidak.


Padahal selama ini ia telah berusaha dengan sangat keras untuk menyatukan semua anaknya dengan cinta meski mereka berbeda ibu, tapi cinta itu justru malah merenggut Ken, Anna dan Reinner dari hidupnya.


Kini dalam generasi selanjutnya semua cucunya malah mengangkat senjata masing-masing, berdiri tanpa hati dan saling menyakiti.


Sementara itu sang belahan hati kini kembali terbaring tanpa daya, hanya menatapnya sambil berteriak dalam hati bahwa ada seorang lagi cucu yang harus segera ia jemput, ialah Agler.


"Istirahatlah sayang, aku akan kembali setelah pekerjaan ku selesai" ujarnya menghapus air mata.


Pekerjaan yang satu ini ialah menemui seorang pemuda yang menarik hatinya, dialah Hakan yang ia temui di sebuah kafe.


Saat mereka bertemu Hakan menyambut kedatangan Jack dengan senyum hangat, tentu tak lupa ia menjabat tangan itu.


Jack berdalih memberikan sebuah pekerjaan kepada Hakan, ia berencana membangun sebuah hotel dengan gaya baru yang bisa menarik minat masyarakat.


Tentu Hakan tidak serta merta mengiyakan sebab awalnya ia sudah memiliki janji dengan Chad, tapi ia setuju untuk memikirkannya.


Chad yang telah memprediksi akan hal ini menghubungi Hakan esok harinya, mengatakan bahwa proyeknya akan di tunda sampai waktu yang belum di tentukan. Alasan ini berhasil membuat Hakan menerima tawaran Jack dan bekerja sama dengannya untuk sebuah proyek baru.


Dalam waktu seminggu Jack dan Hakan sudah menjadi lebih dekat, tak ingin menyia-nyiakan waktu Jack mengirim undangan kepada Hakan untuk makan malam di kediamannya.


Tentu Hakan menerima undangan itu dengan senang hati, maka bergegaslah Violet ke rumah Joyi untuk menjemput Kyra agar ikut menghadiri acara makan malam itu.

__ADS_1


"Violet, kau tak perlu ragu pada pemuda itu" ujar Joyi sebelum Violet menemui Kyra.


"Apa maksud nyonya?"


"Hakan, dia pemuda yang Chad pilih untuk Kyra" jawabnya.


Mendengar hal itu membuat Violet senang sebab ia percaya pada Joyi dan Chad meskipun Kyra pernah terluka karena mereka, ia pun meyakinkan Kyra untuk menerima Hakan.


Patuh pada sang ibu Kyra sempat berpamitan kepada Alisya dan Joyi, pulang ke kediaman Hermes semua pelayan menyambut kedatangannya dengan senang.


Terlihat mereka sangat sibuk mempersiapkan acara itu yang di pimpin oleh Amelia, sementara itu Violet segera membantu Kyra untuk bersiap.


Tok Tok Tok


Setelah memakan waktu selama berjam-jam di dalam kamar akhirnya pintu itu di ketuk, saat di buka rupanya Hans yang datang.


"Um... kau terlihat cantik sepupu, kakek menyuruh mu untuk turun" ujarnya.


"Terimakasih, aku akan segera datang" jawabnya.


"Baiklah.. " sahutnya yang kemudian pergi lebih dulu.


Sekali lagi Kyra berkaca, melihat pantulan wajahnya di cermin yang memang cantik sempurna. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, ia menyiapkan hati sebelum menemui pria yang mungkin adalah takdirnya.


Tuk Tuk Tuk


Sepatunya mengetuk lantai membuat irama yang teratur, saat langkahnya semakin mendekati ruang makan suara itu adalah hal pertama yang memancing Hakan menengok ke arah pintu.


Kyra melangkah masuk, berdiri di sana untuk menatap semua orang yang telah hadir di ruangan itu dan penjelajahannya berhenti di Hakan.


Aura musim semi yang khas dengan harum bunga begitu kental tercipta dari gadis yang membuat mawar malu untuk bermekaran, meski tak ada senyum di wajah itu tapi tak lantas membuatnya cacat.


"Kemarilah nak" panggil Jack.


Memenuhi panggilan sang kakek Kyra berjalan mendatanginya, berdiri tepat di hadapan Hakan.


"Kau sudah mengenal semua anggota keluarga ku, tentu kau belum melupakannya. Kalian bertemu di pesta malam itu" ujar Jack.


"Tentu saja, selamat malam nona Kyra" jawab Hakan yang segera menyapa.


Kyra hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sedikit, cukup pada perkenalan mereka pun mulai pada acara utamanya.


Seperti biasa Jack selalu menyuguhkan makanan istimewa untuk tamu pentingnya, membuat kesan baik agar momen itu bisa di kenang.


Obrolan santai terdengar ringan di telinga meski sebagian besar di dominasi cerita tentang keluarga Hakan, tapi itu tidak menjadi masalah.


"Tunggu Blue!" ujar Violet melihat Kyra yang hendak menuju kamarnya.


"Suguhkan kopinya kepada mereka"


"Baiklah, aku tunggu di luar" ujarnya sedikit malas.


Violet tersenyum dan segera pergi ke dapur, membuatkan kopi agar putrinya sekali lagi bisa bertemu dengan Hakan. Meski sebentar tapi momen itu biasanya mampu mengikat seorang gadis dengan pemuda yang telah di jodohkan.


Sementara itu Kyra nampak tidak terlalu peduli, meski ia tahu Hakan bisa jadi takdirnya itu tidaklah terlalu penting. Selama ia bisa bebas dari keluarganya apa pun lebih baik.


"Bulan yang indah bukan?" tanya Hakan yang tiba-tiba berada di sana.


"Ah, ya" jawab Kyra sedikit kaget.


"Maaf, aku pasti membuat mu kaget"


"Tidak masalah" sahut Kyra kembali menatap langit.


"Apa kau tidak kedinginan berada di luar sini?"


"Udaranya tidak terlalu dingin" jawabnya.


Ada keheningan setelahnya yang membuat Kyra sedikit tak nyaman, saat ia menengok rupanya perasaan itu muncul dari mata Hakan yang tak beranjak dari menatapnya.


"Apa?" tanyanya.


"Aku bertanya-tanya apakah semua gadis cantik di negri ini memang selalu bersikap dingin kepada tamunya?"


"Aku tidak tahu, meski keluarga ku di sini tapi sebenarnya aku tinggal di luar negri" jawab Kyra pelan.


"Ah... begitu rupanya" sahut Hakan sambil berjalan mendekati Kyra.


Wajahnya nampak santai dengan senyum manis yang mempesona, membuat Kyra merasa sedikit canggung hingga sedikit melangkah mundur.


"Rupanya ini masalah mu, kau belum melihat semua keindahan kota ini sehingga semua otot di tubuhmu menjadi tegang. Besok siang temuilah aku di stasiun kereta, akan ku tunjukkan padamu semua hal yang bisa membuat mu tersenyum" ujar Hakan menatap yakin.


Kyra tak menjawab, matanya terlalu fokus pada wajah Hakan yang teramat dekat dengannya. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat sebelum kemudian Hakan menarik diri.

__ADS_1


"Aku hendak ke kamar mandi, bisakah kau tunjukkan jalannya?" tanyanya.


"Ka-kau hanya tinggal lurus saja" jawab Kyra agak gugup.


"Baiklah terimakasih" sahutnya.


Hakan pun pergi, memperlihatkan punggungnya yang Kyra perhatikan sampai ia hilang dari pandangan. Merasa tak nyaman ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, Violet yang selesai dalam pekerjaannya segera menyuruh Kyra mengantarkan kopi itu dulu sebelum pergi ke kamarnya.


Mencoba menenangkan diri Kyra mengambil nampan itu untuk melaksanakan tugas terakhirnya, saat ia masuk ke dalam ruangan itu rupanya Hakan telah berada di sana.


Semua pria itu menatapnya sambil tersenyum, tapi senyum Hakan-lah yang paling membuatnya kehilangan konsentrasi.


Satu persatu ia menghampiri pria di sana dan menyodorkan secangkir kopi, tiba saat di depan Hakan mata mereka beradu dengan cukup intens yang membuat Jack lebih yakin telah ada percikan kecil diantara mereka.


* * *


Kebiasaan yang sulit hilang dari diri Chad adalah meskipun pekerjaannya di kantor tidaklah banyak ia tetap selalu pulang larut malam, saat semua orang sudah tertidur lelap dan tengah bermimpi indah.


Karena itu Joyi pun mudah terbangun di tengah malam hanya untuk melihat apakah malam itu Chad sudah pulang atau belum, ia duduk di kursi dengan segelas teh hangat sambil menatap pintu hingga Chad masuk melewatinya.


"Nenek belum tidur?" sapanya menghampiri.


"Sudah, nenek hanya terbangun untuk melihat kepulangan mu"


"Hentikan ini, nenek bisa sakit jika terbangun tengah malam seperti ini"


"Kau tidak perlu khawatir, malam ini Kyra tidak pulang. Sepertinya ia terlalu lelah dengan acara keluarga itu hingga memutuskan untuk tidur di sana" ujarnya melapor.


"Tidak masalah, selama dia nyaman itu lebih baik"


"Violet mengatakan semuanya berjalan dengan lancar, ada kemungkinan Hakan dan Kyra dapat memulai hubungan dalam waktu dekat" lanjutnya.


"Aku sudah menemui orang itu, dia pandai menggaet wanita mana pun dengan pesonanya. Tapi Kyra bukanlah gadis yang mudah jatuh cinta hanya karena ketampanan atau harta, ini pasti membuat Hakan memiliki rasa penasaran yang tinggi kepada Kyra"


"Kau memperhitungkan segalanya dengan akurat"


"Kyra berasal dari keluarga yang terpandang, sikapnya yang jelas memperlihatkan statusnya akan membuat Hakan serius dalam mendekatinya. Dia tidak akan melakukan rayuan bodoh apalagi memaksakan kehendaknya, semuanya akan berlangsung secara alami tanpa mereka sadari"


"Nenek harap semuanya berjalan lancar sesuai perhitungan mu" ujar Joyi.


"Semoga saja, sekarang sebaiknya nenek kembali ke kamar dan tidur"


"Baiklah" jawab Joyi menurut.


Sementara itu Chad sendiri pergi ke kamarnya hanya untuk mengganti pakaian sebelum pergi lagi, tentunya yang ia tuju adalah rumah istirahatnya dimana sang pujaan hati menantinya di sana.


Begitu sampai aroma mentega menyambut kedatangannya dari arah dapur, menyadari gadisnya tengah membuat sesuatu perlahan ia berjalan ke sana.


Nampak Ima baru saja mengeluarkan sebuah kue dari dalam oven, sibuk sendiri dengan pekerjaannya tanpa menimbulkan suara Chad menyergap pinggang mungil itu dan memeluknya erat.


"Tumben kau cepat datang" ujar Ima yang tidak terkejut sama sekali.


"Pekerjaan ku tidak banyak, apa yang kau buat?"


"Cookies... " jawab Ima sambil memindahkan satu persatu kue itu ke tempat lain.


"Kenapa kau membuat itu malam-malam?"


"Aku makan sesuatu yang manis, karena bingung akhirnya aku membuat ini"


"Makanan ini tidak bagus di makan saat malam hari, itu menyebabkan penyakit gula" komentar Chad melepaskan rangkulannya.


"Ayolah... aku bahkan sudah memiliki penyakit gula karena sering menelan cintamu yang terlalu manis" erang Ima sambil membalikkan badan.


Chad tersenyum akan godaan yang tak di sadari Ima itu, seolah ia memang tercipta untuk terus menggoda sampai membuat Chad menjadi budaknya. Tersenyum nakal Chad menghadiahi kecupan yang membuat Ima sulit bernafas, tapi ia selalu menyukainya karena itu bentuk Chad menunjukkan ketertarikannya padanya.


Selesai membuat cookies mereka memilih duduk di balkon sambil berpelukan, menikmati udara yang tak sedingin musim salju.


"Chad, boleh aku bertanya?"


"Katakan"


"Jika Alisya dan kak Agler memiliki hubungan apa kau akan mendukung mereka?"


"Kenapa bertanya seperti itu? sebelumya mereka pernah memiliki hubungan bahkan Alisya terlihat sangat mencintai Agler, tapi apa pun pilihan yang mereka buat aku sudah memutuskan diri untuk tidak ikut campur" jawabnya.


"Sebenarnya... Alisya pernah melihat kakak berburu bahkan membunuh orang-orang yang hendak berniat buruk pada Alisya"


"Apa?" tanya Chad melepaskan rangkulannya dan menatap Ima lekat-lekat.


"Saat itu mereka masih berpacaran, kakak kehilangan kontrol pada dirinya dan mengamuk demi menyelamatkan Alisya. Tapi sosok vampire yang di lihat Alisya membuatnya takut hingga pingsan, itulah alasan mereka putus" jelas Ima.


"Tapi... Alisya tidak mengatakan apa pun tentang itu, malah dia terlihat seperti tidak mengetahui rahasia ini"

__ADS_1


"Setelah peristiwa itu mereka tidak bertemu selama beberapa hari, saat bertemu lagi Alisya bertingkah normal seolah tak terjadi apa-apa. Kak Agler menduga Alisya lupa tentang kejadian itu saking syoknya, tapi hal itu membuat kak Agler menjadi enggan berhubungan lagi dengan Alisya meski kenyataannya mereka masih saling mencintai" ujarnya.


Chad hanya bisa terdiam, bingung harus bicara apa atau merespon seperti apa.


__ADS_2