
Terbangun dalam keadaan sendiri membuat Ima kebingungan, tentu saja karena ia tahu kedatangan Chad semalam bukanlah mimpi. Melewatkan sarapannya ia bergegas pergi ke rumah Chad, mengingat bagaimana murungnya Chad membuatnya sangat khawatir.
Tak butuh waktu lama bagi Ima untuk sampai, wajahnya yang sudah di kenali para pelayan masuk tanpa kendala.
"Alisya! apa Chad ada?" tanyanya saat berpapasan di dalam.
"Setahuku dia di kamarnya"
"Baiklah terimakasih" sahutnya.
Segera ia bergegas pergi, pintu itu tidak kunci sehingga Ima dapat masuk dengan mudah. Begitu lihat Chad yang masih terbaring di ranjangnya ia pun menghembuskan nafas lega.
Perlahan ia menghampiri untuk melihat wajah tidur sang pangeran dingin, rupanya saat terlelap Chad nampak seperti anak singa yang menggemaskan.
"Hei... kau di sini?" tanya Chad dengan suara parau.
"Kau sudah bangun?"
"Mm, pukul berapa sekarang?" tanya Chad sambil bangkit.
"Baru pukul enam, kau pergi tanpa memberitahuku semalam jadi aku cepat kemari"
"Oh maafkan aku, aku tidak ingin mengganggu tidur nyenyak mu" sahut Chad kini dengan lebih segar.
"Baiklah ayo turun dan sarapan, kau berhutang penjelasan kepadaku" ujar Ima sambil berdiri.
Chad masih butuh waktu untuk mengumpulkan nyawanya yang bergentayangan saat Ima pegi keluar, beberapa menit kemudian barulah ia ingat akan apa yang sudah terjadi.
"Ya, aku perlu menjelaskannya" gumamnya.
Bangkit dari tempat tidur Chad segera mencuci muka dan mengganti pakainya, setelah siap barulah ia pergi ke ruang makan.
Meskipun tanpa keberadaan Joyi tapi ruang makan itu cukup ramai, ada Reinner, Ima dan Agler yang menemani mereka untuk sarapan.
Sementara itu di ruang makan milik kediaman Hermes justru semakin sepi, ruangan itu hanya di isi oleh Hans, Shigima dan Amelia.
"Kemana ayah dan ibu?" tanya Amelia sebab sarapan sudah siap namun mereka tak juga kelihatan.
"Akan ku periksa" ujar Shigima.
Ia segera pergi menuju kamar Jack, setibanya di sana di ketuknya pintu itu.
Tok Tok Tok
Tapi tak ada jawaban, Shigima mencoba mengulanginya kini sambil meneriakkan nama Jack. Tapi tetap tak ada jawaban, karena penasaran ia pun mencoba membuka pintu itu dan saat ia berhasil masuk di lihatnya Jack tengah duduk di atas ranjang sambil membenamkan kepalanya ke dalam bantal.
"Ayah... " panggil Shigima heran.
Tapi Jack tak menjawab, maka ia pun segera menghampiri dan memegang pundak ayahnya.
"Ayah... " panggil Shigima sekali lagi.
Perlahan Jack mengangkat kepalanya, dan saat ia menoleh kepada Shigima mata bengkak itu jelas mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Ayah ada apa? kenapa ayah menangis?" tanya Shigima khawatir.
"Shigima... apa yang harus aku lakukan... Chad menyekap Jessa dan akan melepaskannya jika aku berhasil menemukan Joyi... tapi aku tidak tahu Joyi dimana... " tuturnya dalam isakan tangis yang begitu dalam.
Mencerna setiap kata yang di ucapkan Jack akhirnya menyulut amarah Shigima, baginya sikap Chad sudah sangat keterlaluan dan tak bisa di maafkan lagi.
Membawa api dalam genggaman tangannya ia pergi tanpa mengatakan apa pun, dimintanya seorang supir untuk bergegas membawanya ke kediaman Joyi dan saat ia sampai.
Boom
Dengan satu serangan ia menghancurkan gerbang itu menggunakan sihirnya, otomatis semua pelayan yang melihat berhamburan ke dalam sambil berteriak ketakutan.
Chad dan yang lain tentu mendengar kegaduhan ini dan cepat pergi keluar untuk melihatnya, saat menemukan Shigima berada di sana satu-satunya yang mengerti hanyalah Chad.
Dengan santai ia berjalan ke hadapan Shigima, seolah siap beradu kekuatan.
"Chad kau sudah keterlaluan! bisa-bisanya kau menculik Jessa, bukankah kau cerdas? lalu mengapa kau limpahkan amarah mu padanya padahal tidak ada bukti bahwa hilangnya bibi Joy adalah kesalahannya" teriak Shigima murka.
Itu merupakan sebuah pengumuman yang tentunya mengagetkan semua orang, mata mereka segera tertuju pada Chad yang berlagak seperti orang tak berdosa.
"Sebelum kau menghancurkan gerbang milik orang lain sebaiknya kau cari tahu dulu duduk perkaranya, lagi pula sekalipun kau tahu ini bukanlah urusan mu" ujar Chad dingin.
"Persetan! semua ini hanyalah omong kosong! seharusnya kau sadar bahwa selama ini bibi Joy sudah mencuci otakmu, dialah biang dari segala masalah ini"
"Apa kau bisa buktikan bahwa kematian ibuku bukan salah Jack? lalu bagaimana dengan kematian kedua orangtua asuh ku yang jelas dia tabrak?" balas Chad berteriak.
Shigima tiba-tiba membisu, masalah orangtua angkat Chad adalah hal lain yang tak bisa ia sangkah.
__ADS_1
"Itu.. itu kecelakaan" sahutnya ragu.
"Sudahlah, sebaiknya kau pergi dari sini"
"Tidak sebelum kau lepaskan Jessa" tukas Shigima sambil menarik bahu Chad.
Baru saja tangannya menyentuh pundak dengan cepat Chad sudah menariknya dan dengan satu gerakan saja ia mengangkat tubuh Shigima untuk kemudian ia banting ke bawah.
Bruk
Ah...
Itu adalah bantingan yang cukup kuat, Shigima merasakan seolah tulang punggungnya retak semua. Tapi ia bangkit dengan cepat untuk membalas serangan itu, satu pukulan mengarah pada rahang Chad.
Buk
Tepat mengenai sasaran, Chad terhuyung ke belakang. Saat kakinya mampu menapak dengan tepat darah segar mengalir dari hidungnya, segera ia seka dengan menggunakan punggung tangannya.
Saling menatap penuh emosi akhirnya pertempuran pun tak bisa di elakkan, mereka mencoba saling memukul dan menendang sebisa mungkin.
Ima yang melihat pertarungan nampak lebih cemas dari yang lain sebab ia tahu tingkat kekuatan Shigima, dirinya saja yang terbiasa berburu cukup kesulitan melawan Shigima apalagi Chad yang tak pernah keluar rumah.
Shigima memang lebih kuat dari keliahatannya, tapi Chad sudah berlatih jauh lebih sering sehingga kekuatannya dapat menandingi Shigima dengan baik.
Hingga saat ini mereka seri, sama-sama bertahan dan saling menyerang hingga Shigima mulai kelelahan. Ia cukup cerdas untuk menyadari bahwa dalam segi stamina Chad lebih unggul, oleh karena itu ia akan mengakhiri pertarungan tersebut.
Buk
Whuuss..
Bruk
"Chad!" teriak semua orang melihat Shigima berhasil memukul Chad hingga terhempas dan jatuh.
"Chad! kau tidak apa-apa?" tanya Ima yang lebih dulu menghampiri.
Uh..
Erang Chad sambil mencoba bangkit, Ima yang tak tega dengan sigap membantu namun tiba-tiba.
Dooor....
Ah......
"Tidak... " gumam Chad terpana.
Bruk
"Ima.... " teriakan itu lebih memilukan dari lolongan anjing.
Tubuh Ima seketika ambruk tepat di hadapan Chad dengan darah yang mengalir lewat lubang di punggungnya.
"Ima! Ima! bangunlah" teriak Agler yang bergegas menghampiri.
Ada begitu banyak teriakan yang memanggil namanya namun Ima tak dapat mendengarnya, perlahan ia menutup mata dan kehilangan kesadarannya.
Entah sudah berapa lama saat ia mulai sadar, tapi rasanya seperti melayang di atas awan yang lembut dengan matahari yang menyilaukan, itu sedikit membuat kepalanya pening hingga kemudian Ima memutuskan untuk menutup matanya lagi.
"Maaf kalian tidak boleh masuk" ujar perawat yang ikut membawa Ima ke ruang operasi.
Tak ada yang berani membantah, meski cemas tapi Agler bisa menahan dirinya untuk diam. Saat ini yang bisa mereka lakukan hanya berharap keadaan Ima akan baik-baik saja, tiga puluh menit adalah waktu terasa sangat lama hingga seorang perawat keluar menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Chad dan Agler berbarengan.
"Dia kehilangan banyak darah, stok darah kami sudah habis jadi apa ada diantara kalian yang bergolongan darah O dan bisa mendonorkannya?" balas perawat itu.
Mereka saling bertatapan satu sama lain, membisu yang artinya tidak ada yang bisa mendonorkannya untuk Ima.
"Agler, kau harus memberitahu ibumu" ujar Reinner.
Itu adalah hal yang sulit untuk di lakukan meskipun demi kebaikan Ima, Mina yang memiliki penyakit gampang cemas di khawatirkan akan jatuh pingsan atau semacamnya bila mendengar berita ini.
Tapi ia tak punya pilihan jadi segera ia pergi keluar untuk menelpon, butuh beberapa detik sebelum akhirnya telpon itu tersambung.
"Ha-halo... bu... " panggil Agler.
"Halo, ya nak?"
"Bisakah... ibu ke rumah sakit sekarang?"
"Apa? rumah sakit? ada apa?" tanya Mina di seberang sana yang sudah khawatir.
__ADS_1
"Ima... membutuhkan donor darah" jawab Agler meskipun ragu.
Tak ada jawaban dari Mina, hening secara tiba-tiba sebelum akhirnya ia mendengar suara sesuatu yang jatuh dan pintu yang di tutup dengan keras.
Tanpa melihatnya Agler sudah tahu bahwa Mina menjatuhkan telponnya dan berlari keluar rumah dengan cepat.
Hhhhhhhhh
Menghela nafas panjang, Agler merasa lelah menjalani hidup yang di penuhi dengan masalah. Beberapa menit kemudian Mina datang bersama dengan Colt, wajah mereka jelas sangat cemas dan menanyakan apa yang terjadi dengan Ima.
Tak ada waktu untuk menjelaskan, Mina segera di bawa ke ruang lain untuk di periksa sebelum di ijinkan mendonorkan darahnya di temani oleh Alisya.
Sementara Colt menunggu dengan yang lain, dalam kesempatan itu Reinner menjelaskan apa yang telah terjadi dan Chad segera meminta maaf karena merasa ini adalah salahnya.
"Ima memiliki sifat yang di wariskan ibunya, dia akan mengorbankan apa pun untuk orang yang ia cintai. Kau tidak perlu menyesal, sebagai gantinya aku ingin kau menghukum orang yang sudah melakukan hal ini kepada putriku" ujar Colt menahan emosinya.
Chad mengangguk yakin, bukan hanya dia saja tapi Agler pun pasti akan membalas orang itu. Ia masih ingat dengan jelas wajah orang yang telah melukai adik tersayangnya itu, seorang pria dengan jas hitam dan janggut yang di cukur rapi.
* * *
"Ini susah cukup, sekarang istirahatlah sampai tubuhmu pulih" ujar perawat mencabut selang yang terpasanh di tangannya.
"Apa suster yakin? jika masih kurang kau bisa mengambilnya lagi" tanya Mina.
"Tidak bu, ini sudah cukup. Peluru di tubuh pasien berhasil di ambil, kini kita hanya perlu menunggu kepulihannya saja"
"Begitu ya..."
"Baiklah selamat beristirahat" ujar perawat itu dan pergi dengan membawa peralatannya.
"Alisya... kenapa ada sebuah peluru bersarang di tubuh putriku?" tanya Mina pelan.
Awalnya Alisya ragu untuk menceritakan apa yang telah menimpa Ima, tapi karena Mina bersikeras akhirnya ia pun menceritakannya juga.
"Tadi Shigima datang ke rumah dan berkelahi dengan Chad, dalam pertarungan itu Shigima berhasil memukul Chad hingga terhempas dan jatuh menghantam tanah. Saat Ima menghampiri Chad yang terluka bawahan Shigima menembak Ima dan tepat mengenai punggungnya, setelah itu kami membawa Ima ke sini."
Cerita yang singkat itu sangatlah jelas bagi Mina, ia sudah mengantongi sebuah nama yang wajib di eksekusi tanpa keringanan.
Dengan murka ia mencabut selang infus yang membuat Alisya kaget, meskipun tubuhnya terasa lemah tapi Mina dapat berjalan dengan baik untuk menghampiri yang lain di luar sana.
"Sayang... apa yang kau lakukan? kau seharusnya istirahat dulu" tanya Colt kaget sekaligus cemas.
Tapi Mina tidak mengacuhkannya, matanya yang di penuhi kebencian menatap Agler dengan tajam.
"Ada sesuatu yang perlu kau ketahui, saat kita pertama kali pindah ke kota sebenarnya itu bukan hanya karena nenek Janet ingin bertemu kalian. Tapi karena sesuatu yang buruk sudah menimpa Ima, dia di serang oleh seorang penyihir dan penyihir itu adalah Shigima"
"Apa?" tanya Agler tak menduga.
Rahasia yang Mina simpan rapih ini sudah waktunya untuk keluar dari sarangnya, ia mewangi-wanti Shigima agar jangan membawa Agler dalam bencana tapi bukan berarti Ima harus ikut dalam bahaya.
Justru nyawa Ima jauh lebih berharga lagi, gadis yang di cintai semua orang ini hampir kehilangan nyawanya karena sebuah peluru yang bersarang dalam tubuhnya.
Kini semua orang mengambil keputusan yang sama, peluru itu akan mereka kembalikan pada tempat asalnya.
"Ibu... tetaplah di sini bersama Alisya" ujar Agler.
Mina mengangguk, tak hanya menurut tapi anggukan itu juga merupakan sebuah restu untuk menggiring mereka ke kediaman Hermes.
"Tunggu dulu! pasti ada sebuah kesalahpahaman yang terjadi, tidak mungkin Shigima menyerang Ima begitu saja" sergah Reinner yang tidak mau melihat perkelahian antara putra dan kakaknya.
"Aku mohon Rei, jika hal ini terjadi pada Agler atau Chad apakah kau juga akan membelanya? tidak cukupkah pengorbanan mu saja yang menjadi korban keluarga mu?" tanya Mina yang sudah tak menoleransi.
"Mina... jangan sangkut pautkan masa lalu karena itu adalah hal yang berbeda"
"Tidak Rei! maafkan aku tapi urusan putriku adalah hal yang berbeda" sahut Colt.
Reinner tahu ia tak bisa menahan amarah orangtua yang begitu sayang kepada putrinya, tapi tetap saja ia tak mau ada pertumpahan darah yang terjadi.
"Baiklah, aku tidak akan ikut campur. Tapi tunggu hingga Ima membaik sebelum kau membuat perhitungan dengan Shigima, sementara ini pelaku yang sebenarnya adalah supirnya jadi balaskan dendam kalian hanya kepada supir itu saja" pinta Reinner.
Mereka terdiam sejenak dan saling bertatapan satu sama lain.
"Ku mohon Colt, aku hanya ingin sebua kejelasan karena Shigima adalah kakak yang tidak pernah menyakiti siapa pun. Aku butuh pengakuan Ima dan untuk itu tolong tahan emosi mu dulu, demi aku... demi pertemanan kita... " ujar Reinner memohon.
Hhhhh
"Baiklah, ingat aku hanya menundanya saja" ujar Colt menyerah.
"Terimakasih" ucap Reinner sungguh-sungguh.
"Ayo nak, kita harus mencari supir itu sebelum ia melarikan diri" ajak Colt tetap tak akan memaafkan orang yang melukai putrinya saat ini.
__ADS_1
Agler mengangguk, maka mereka pun tetap pergi ke kediaman Hermes.