
"Pagi semuanya" sapa Kyra di pagi yang cerah.
"Mana ibu?" lanjutnya bertanya sebab kursi tempat Violet duduk kosong.
"Dia sedang sakit, semalaman kepalanya pusing dan mual" jawab Ryu.
Entah mengapa ada perasaan bersalah menyelimuti hati Kyra saat mendengarnya, seperti yang di katakan Manager San bahwa kenyataannya Violet hanya menginginkan kebahagiaan bagi putrinya meskipun dengan cara yang salah.
Untuk menebus kesalahan yang ia perbuat kemarin Kyra membuatkan bubur untuk sarapan ibunya, dengan nampan di tangan ia berjalan masuk ke kamar ibunya.
"Bu... " panggilnya.
Violet bangun dari tempat tidurnya saat melihat Kyra masuk, dengan senyum tipis Kyra menaruh nampan itu di atas meja laci.
"Aku buatkan ibu bubur, sebaiknya ibu sarapan dulu agar tubuh ibu cepat membaik" ujarnya sambil menyodorkan mangkuknya.
"Ibu tidak nafsu makan"
"Ayolah jangan seperti ini" bujuk Kyra.
"Ah tolong bawa keluar makanan itu, baunya sangat menyengat hingga membuat ibu mual" ujar Violet sambil menutup hidungnya.
Kyra sedikit heran sebab ia tidak mencium apa pun, tapi karena melihat Violet yang sepertinya menderita maka ia pun membawa keluar makanan itu.
"Bagaimana?" tanya Ryu yang berpapasan di luar.
"Ibu tidak ingin memakannya, dia bilang makanan ini bau" sahut Kyra.
Mendengar pernyataan Kyra membuat Ryu terpikirkan sesuatu, ia curiga Violet tidaklah sakit karena itu bergegas ia pun membawa Violet ke rumah sakit untuk di periksa.
Menjelang siang mereka baru kembali ke rumah, Ryu memapah Violet masuk dengan wajah berseri sementara Violet sendiri terlihat sangat tertekan dengan wajahnya yang pucat.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Jessa yang sudah menunggu kepulangan mereka.
"Tidak apa-apa, Violet baik-baik saja" jawab Ryu.
"Sungguh? tapi kau keliatan sangat pucat"
"Itu cukup normal, ini hanya reaksi mual dari kehamilannya"
"Apa? ibu hamil?" teriak Kyra yang datang di waktu yang tepat.
Ryu mengangguk dengan senang sementara Kyra dan Jessa saling pandang selama beberapa saat.
"Aku tidak percaya ini" gumam Kyra menatap ibunya yang kehilangan wajah karena malu.
Kabar bahagia ini cepat menyebar keseluruh penjuru kastil, Jack yang menerima kabar ini mengadakan pesta dadakan untuk menyambut calon cucunya yang lain.
Semua memberi selamat dan larut dalam kebahagiaan, tapi Violet benar-benar tidak menunjukkan semangatnya.
"Berbahagialah, kita akan menyambut anak kedua kita" bujuk Ryu saat mengantar Violet ke kamar untuk istirahat duluan.
"Jangan bicara omong kosong, harusnya saat ini yang kita sambut adalah cucu bukan anak. Benar-benar memalukan, bagaimana bisa aku hamil di usia ini" gerutunya.
__ADS_1
"Apa maksudmu? apa yang harus membuat kita malu? janin ini adalah berkah yang di berikan Tuhan untuk kita, kau masih bisa melahirkan dan biarlah ini menjadi yang terakhir jika kau sudah tidak sanggup"
"Tentu saja" gumam Violet.
* * *
Tianna kembali saat matahari siap menebar sinarnya ke segala penjuru, kantuk sudah menguasai matanya dan ruhnya siap pergi ke alam lain. Tapi sebelum merebahkan diri di atas kasur yang empuk lebih dulu ia menemui Reinner, beberapa informasi yang ia dapat harus segera di laporkan.
"Aku mengantongi dua nama" ujarnya sambil menyerahkan sebuah kantong.
Reinner membuka kantong itu dan menemukan tumpukan koin emas yang berlimpah dan sebuah cincin berukir sayap kelelawar.
"Clarkson dan Yulia, mereka membayar petarung yang menyamar menjadi prajurit istana. Tak hanya itu, Clarkson menggelapkan dana untuk membiayai petarungnya setelah gagal seleksi" jelasnya.
"Sesuai perkiraan ku, saat aku naik tahta dia yang paling tidak menerimanya. Motifnya cukup jelas, terus gali semua informasi tentangnya. Aku butuh lebih banyak bukti untuk menghukumnya" sahut Reinner.
"Sesuai keinginan anda Yang Mulia, tapi sebelum itu ijinkan aku istirahat untuk mengembalikan pesona ku yang telah berkurang. Anda tahu aku sangat bekerja ekstra hingga harus membungkam beberapa sampah"
"Tentu saja Tianna, pergilah ke kamarmu" ujar Reinner seraya tersenyum.
Tianna tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya untuk memberi hormat sebelum pergi, tinggallah Shishio yang masih terjaga sejak semalam.
"Wow... aku baru tahu kalau Tianna benar-benar hebat dalam mencari informasi, jika kami bersaing sepertinya aku akan kalah" ujar Shishio.
"Soal pengalaman meski Tianna lebih tua darimu tapi dia masih mentah, hanya saja dia tahu potensinya sehingga dapat memanfaatkan pesonanya dengan baik"
"Yaah bangsa vampire memang memiliki pesona yang lebih kuat dari sihir penyihir, aku mengakui hal itu" ujarnya.
"Rei! ada sesuatu yang perlu aku bicarakan dengan mu" ujar Jhon yang tiba-tiba datang.
Jhon pun memberitahu apa yang dia dapat di istana, sesuatu yang cukup mengejutkan lebih dari informasi yang Tianna bawa.
"Jika aku tidak menemukannya sendiri aku tidak akan pernah mempercayainya, dia adalah yang paling di untungkan saat kau menjabat sebagai Raja" ujar Jhon di akhir laporannya.
"Terkadang kita memang harus waspada kepada semua orang, tidak ada yang mengetahui isi hati seseorang"
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Jhon penasaran.
"Lakukan investigasi lebih lanjut, hukum berlaku untuk semua orang dan pada waktu yang tepat dia akan mendapatkan ganjarannya" jawab Reinner.
Jhon mengangguk setuju, ia lekas pergi lagi untuk melanjutkan pkerjaannya. Kini dalam keheningan hatinya yang kesepian mulai merajuk pada langit cerah, di balik perlindungan rumah yang kumuh di tatapnya awan putih yang berarak pelan.
Sudah cukup lama ia hidup dalam darah campuran, setelah menduduki tahta dengan lingkungan vampire hampir ia melupakan identitas dahulunya.
Hingga kini meski matahari tidak akan membakarnya sampai menjadi abu tapi Reinner merasa tak nyaman di bawah sinar matahari langsung, ia terlalu lama berada di bawah permukaan bumi.
* * *
Pagi ini pun Violet tidak keluar dari kamarnya untuk sarapan bersama yang lain, hamil di usia tua sangatlah melelahkan hingga ia tak mampu bangkit dengan baik.
Tak ada yang mempermasalahkan hal itu, mereka cukup maklum bahkan menjaga kondisi Violet dengan baik demi calon anggota keluarga baru.
Bahkan Kyra melunak di hadapan Violet dengan memanjakannya, setiap saat ia akan ada di sana untuk memenuhi semua kebutuhan ibunya.
__ADS_1
Mendapatkan perlakuan istimewa dari Kyra membuat Violet senang dan bersyukur atas kehadiran anak keduanya, ia memanfaatkan momen itu dengan meminta semua yang bisa ia dapatkan dari Kyra.
Cukup melelahkan tapi Kyra sangat bersabar, ia masih terus tersenyum tanpa lelah hingga sore itu saat Violet tidur di kamarnya Kyra menyelinap keluar rumah.
Ia mengabari Manager San secara mendadak sebab ada perihal yang perlu ia sampaikan kepada kekasihnya itu.
Mereka bertemu di tempat biasa dimana tak ada orang yang bisa mengenali mereka, Manager San yang datang lebih dulu cukup heran akan pertemuan mereka yang mendadak.
"Ada apa?" tanyanya tak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Sebelum aku mengatakannya aku minta kau jangan marah kepadaku"
"Kenapa kau bicara seperti itu?" tanya Manager San yang merasakan firasat buruk.
"Jika kau mencintai ku maka kau harus bisa mengerti keadaan ku, kau harus janji untuk tidak marah"
"Tapi apa yang terjadi?" tanyanya semakin kesal karena Kyra bertele-tele.
"Pokoknya kau harus janji dulu!" ujar Kyra bersikukuh.
"Baiklah aku janji, aku tidak akan marah padamu jadi sekarang katakan" ucap Manager San mengalah.
Kyra menggigit bibir bawahnya, tidak cukup yakin dengan apa yang akan ia sampaikn tapi jelas keinginannya untuk bertemu adalah untuk menyampaikan hal yang tak bisa ia tutupi.
"Kyra... " panggil Manager San mulai kehilangan kesabaran.
"Aku akan berhenti menemui mu mulai sekarang, jadi apa pun rencana yang telah kau siapkan sebaiknya di tunda dulu"
"Apa maksud mu? kenapa.. kenapa kau tiba-tiba bicara seperti itu?" tanya Manager San dengan hati yang telah meledak karena terkejut.
"Ini terdengar tidak masuk akal tapi aku tidak mengarangnya, ini sungguh benar-benar terjadi"
"Katakan padaku dengan jelas, apa yang sebenarnya terjadi?" pinta Manager San dengan nada tinggi.
"Aku... akan mendapatkan seorang adik" jawab Kyra akhirnya.
"Apa?"
"Aku tahu ini konyol tapi ibuku benar-benar hamil, saat ini ia sedang mengandung calon adik ku dan karena kehamilannya ini aku tidak bisa pergi jauh darinya. Dia membutuhkan aku di sampingnya dan jika aku bersikukuh meninggalkannya atau berdebat masalah hubungan kita dengannya aku takut itu akan berpengaruh pada kesehatan janinnya, aku berjanji ini hanya berlangsung sampai adik ku lahir kedunia jadi.... aku mohon kau mengerti posisiku" jelas Kyra.
Manager San benar butuh waktu untuk mencerna ucapan Kyra, di usia Violet yang harusnya menggendong cucu memang terdengar seperti gurauan.
Tapi jika di pikir lagi memang Violet belumlah terlalu tua, masih ada kemungkinan bagi Violet untuk mengandung meskipun itu di usia yang rentang.
Setelah beberapa menit berfikir kini Manager San mengerti, ia menggenggam tangan Kyra dengan lembut dan berkata.
"Aku bisa menjaga hatiku saat kau di sandingkan dengan tuan muda atau pun memilih menikahi Hakan, kini hanya untuk berbakti pada ibumu tentu itu hal tidak terlalu sulit"
"Oh... San terimakasih" ujar Kyra bersyukur atas pengertian itu.
"Tapi sungguh, aku tidak menyangka ibumu akan hamil"
hahahahaha
__ADS_1
"Ya, aku pun sama dengan mu saat pertama kali mendengarnya" sahut Kyra setuju.