Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Ban 26 Bukti Cinta


__ADS_3

Nyanyian burung pagi itu menarik perhatian Alisya untuk menatap pepohonan, desiran angin lembut menyapa wajahnya dan menggugurkan beberapa helai daun hingga berjatuhan di bumi.


Satu helainya sampai pada buku yang terbuka di pangkuan Alisya, ia mengambilnya dan sadar warna coklat daun itu sama dengan warna matanya. Ia tersenyum, lalu menyimpannya di buku itu sebagai pembatas.


"Apa yang dimiliki daun itu sehingga ia mendapatkan senyuman dari mu?" tanya Agler.


"Entahlah, sesuatu yang tidak aku mengerti menariknya begitu saja" jawab Alisya.


Mereka saling tersenyum dan kembali pada buku masing-masing, tapi tak lama kemudian setetes air dari langit membasahi bukunya. Alisya menatap ke langit dan kini ribuan tetesan air itu semakin deras membasahi mereka.


"Agler cepat pergi dari sini!" ajaknya.


Segera mereka menutup buku dan berlari mencari tempat untuk berteduh, meski tubuh mereka sudah terlanjur basah tapi demi melindungi buku yang ada di dalam tas mereka tetap berteduh.


"Ah lihatlah langit itu, sedetik yang lalu dia biru dan cerah tapi sekarang hujan deras seakan tidak mau berhenti" gumam Alisya.


"Seorang peramal cuaca sekali pun bisa salah, apa buku ku selamat?"


"Untung ya"


"Baguslah kalau begitu."


Alisya menatap langit yang kelam, berharap dia akan cerah kembali tapi semakin lama justru hatinya yang hanyut terbuai. Setiap tetesan air itu ia rasakan di telapak tangannya, ada rasa rasa geli yang sulit di jelaskan tapi itu cukup menyenangkan.


Agler mengangkat tangan dan membiarkan tetesan air hujan membasahinya, melakukan apa yang sama seperti Alisya lakukan. Ia tersenyum sebab merasakan hal yang sama, tapi melihat wajah tenang Alisya membuatnya tergoda untuk mengusiknya.


Aahh..


Teriak Alisya saat Agler dengan sengaja membasahi wajah Alisya dengan cipratan air hujan.


"Agler apa yang kau lakukan?"


Hahahaha


Agler tak kuasa menahan tawa dan semakin ketagihan mendengar jeritan-jeritan Alisya.


"Agler!"


Tak mau kalah Alisya membalas perbuatan Agler hingga pada akhirnya tubuh mereka benar-benar telah basah, tapi mereka menikmatinya hingga lelah pipi mereka karena terus tertawa. Kini yang mereka lakukan hanya duduk sambil menunggu hujan reda, Alisya mulai menggosok kedua tangannya karena dingin yang mulai melanda tubuhnya.


"Mendekatlah padaku" ujar Agler.


Alisya menoleh dan menatap mata Agler yang tulus.


"Pakaian ku juga basah, tapi jika kita berdekatan kau pasti akan merasa hangat" ujarnya lagi.


Alisya menurut, ia mendekatkan tubuhnya hingga mereka bersentuhan.


"Berikan tanganmu" ujar Agler lagi.


Ia melihat telapak tangan Agler yang terbuka, lalu beralih menatap wajah Agler sebelum kemudian dia pun menyerahkan tangannya. Agler menggenggam tangan itu, sedikit menggosoknya lalu membiarkannya seperti itu sampai Alisya merasakan kehangatan.


"Agler, besok setelah les ku selesai apa kau mau minum kopi dengan ku?" tanya Alisya.


"Tentu, aku akan menemuimu besok" jawab Agler tanpa berfikir.


Mereka kembali menikmati hujan dengan saling berpegangan tangan, berasal dari kampung yang sama dan kini tinggal di kota yang sama membuat mereka seolah hanya memiliki satu sama lain.


Agler bersyukur sebab di kota asing itu ia memiliki seseorang untuk berbagi cerita, sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan kepada keluarganya seperti masalah pekerjaan.


Alisya pun senang karena semakin dekat dengan Agler terlebih kini rasanya Agler pun seolah memiliki perasaan yang sama.


Esoknya sesuai janji mereka bertemu di kafe, mereka memesan kopi yang sama dan menikmati waktu santai mereka.


"Agler, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan" ujar Alisya.


"Apa?" tanya Agler.


Alisya memberikan sebuah buku kepada Agler, dengan penasaran Agler menerima buku itu dan membuka lembaran demi lembaran sampai ia menemukan sketsa wajahnya di atas sebuah kertas putih.


"Kau yang membuatnya?" tanya Agler.

__ADS_1


"Ya, aku masih tahap belajar jadi belum bisa membuat yang bagus"


"Kau bercanda, ini sudah bagus Alisya" puji Agler.


Alisya senang sebab mendapat respon yang bagus, tapi wajahnya mulai tegang saat Agler membalik kertas itu dan menemukan sebuah kalimat tertulis di sana.


"Ini sangat memalukan, tapi aku tidak bisa menahan perasaan ku" ujar Alisya menundukkan kepala.


Agler terdiam sejenak, ada banyak hal tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Tentang keluarganya, hidupnya, identitasnya bahkan status mereka yang berbeda. Tapi ia tahu Alisya adalah gadis baik yang jujur, di kota asing ini mereka saling bergantung satu sama lain dan Agler harap itu akan berlangsung lama.


"Butuh keberanian bagi seorang gadis untuk melakukan hal ini, dan kau membuat ku kagum. Andai kau menunggu lebih lama maka aku yang akan mengatakannya lebih dulu" ujar Agler.


Alisya mengangkat kepalanya, melihat Agler yang tengah tersenyum kepadanya. Ia tersenyum senang sebab hatinya terbalas dengan lancar, di balik sketsa wajah Agler Alisya menuliskan 'Apakah kau mau menjalani hubungan yang dilandaskan cinta antara pria dan wanita denganku?' dan Agler menjawabnya dengan ucapan yang menggantikan kata 'Ya'.


Mereka merayakan hari jadian itu dengan menghabiskan waktu bersama, setelah puas menikmati kopi Agler membawa Alisya ke dermaga. Melihat ombak yang menerjang batu karang, menikmati angin sepoi yang membawa senja.


Tiba-tiba terlintas sebuah ide dalam benak Agler, ia turun ke bawah yang di ikuti Alisya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Alisya.


"Apa kau punya spidol?" balas Agler bertanya.


Alisya mengeluarkan benda yang di minta dan memberikannya kepada Agler, di atas permukaan tembok pembatas itu Agler membuat bentuk hati yang cukup besar. Kemudian ia menuliskan nama Alisya di dalamnya dan tepat di bawahnya ia kembali menggambar bentuk hati yang lebih kecil.


"Kau ingin menulis nama seseorang di sini?" tanya Agler sambil menyerahkan spidol itu.


Alisya tersenyum lalu menulis nama Agler tepat di bawah gambar hati itu, setelah selesai ia berjalan mundur dan menatap hasil tulisan mereka sambil memeluk Agler.


"Itu adalah bukti cinta kita, aku harap tulisannya akan bertahan lama sampai anak kita dapat melihatnya" ujar Agler.


"Astaga.... kita baru memulai hubungan ini beberapa jam saja dan kau sudah membicarakan anak, aku tak menyangka kau senakal itu"


"Kenapa? aku ingin melakukannya dengan mu"


"Apa maksud mu?"


"Tentu saja hidup berkeluarga, memiliki rumah dan dua anak yang menggemaskan"


* * *


Meski sudah malam tapi mau tak mau Ima harus memenuhi panggilan Chad, ia datang ke rumah yang gelap itu dan menemui Chad yang sedang duduk sambil membaca buku di ruang baca. Hanya itu kamar yang terang dan begitu masuk Ima cukup merasa pusing karena silau.


"Ambilkan aku minum dari box itu" ujar Chad tanpa memalingkan wajahnya.


"Kau menyuruhku datang kemari hanya untuk mengambilkan minum? apa kau tahu berapa jarak yang harus aku tempuh dengan berlari demi memenuhi panggilan mu?" tanya Ima kesal.


"Aku tidak perduli, sudah ku katakan tugasmu hanya menuruti perintah ku dan kau tidak boleh mengeluh" jawab Chad.


Ingin rasanya Ima meledak, mengeluarkan semua kekesalan yang ada dalam hatinya tapi ia cukup tahu diri sehingga ditelannya semua rasa kesal itu.


"Baik tuan" ujar Ima mencoba tersenyum.


Ia pun segera membuka box yang di maksud dan mengeluarkan sebotol darah dari dalamnya, dituangkannya darah itu ke dalam gelas sebelum ia berikan kepada Chad.


"Silahkan tuan"


"Terimakasih" jawab Chad yang segera minum.


"Kalau begitu saya permisi"


"Tunggu! aku lapar, tolong buatkan aku sesuatu" ujar Chad.


Hampir rasa kesal membuat Ima berteriak, tapi ia harus tahan dan memenuhi permintaan itu. Ia pun pergi ke dapur dan menghidupkan lampu agar mudah mengerjakan tugasnya, di dalam kulkas ia menemukan banyak makanan tapi justru itu membuatnya bingung.


Ia tidak tahu harus memasak apa terlebih ia juga tidak tahu selera Chad, ia hendak pergi untuk menanyakan makanan apa yang di inginkan Chad tapi tiba-tiba ia teringat ucapan Chad. Dia tidak mengatakan jenis makanan apa yang dia inginkan, itu bisa jadi Chad sedang menguji dirinya.


Akhirnya Ima memilih untuk membuat omelet dan roti panggang, sesuatu yang tidak terlalu sulit namun tetap enak. Ima membawa makanan itu ke ruang baca dan menaruhnya di atas meja agar Chad dapat memakannya.


"Jadi hanya ini yang bisa kau buat?" ujar Chad.


"Anda mengatakan sedang lapar, hanya ini makanan yang tidak butuh waktu lama untuk membuatnya" jawab Ima.

__ADS_1


Chad mengangguk dan mulai makan, dalam suapan pertama ia bisa merasakan bumbu yang di pakai dengan takaran pas sehingga menciptakan rasa yang enak.


Chad terlihat menikmati makanan itu sampai habis, selesai makan ia membiarkan Ima membersihan mejanya dan piring bekas ia makan.


"Tuan, saya sudah selesai membereskan pekerjaan saya di dapur. Jika tidak ada lagi yang anda perlukan saya mohon undur diri" ujar Ima yang sudah mulai mengantuk.


"Bereskan dulu kamarku, setelah ini aku mau istirahat" ucap Chad.


"Baik tuan" jawab Ima yang sudah malas berkelahi.


Tenaganya hampir habis sebab sejak pagi banyak hal yang sudah ia kerjakan, mulai dari pergi sekolah sampai membantu pekerjaan Mina di rumah. Kini ia juga harus melayani Chad dengan segala permintaannya yang sederhana namun merepotkan.


"Ah... apakah ini karma karena telah membuat kak Agler repot dengan segala keinginan ku? sekarang aku di buat repot oleh orang yang wajahnya mirip kakak" ujar Ima kesal.


Selesai membereskan kamar itu rencananya Ima hendak pergi memberitahu Chad, tapi rasa ngantuk yang sudah menyerangnya sejak tadi membuat Ima malah tertidur di lantai sambil bersender di ranjang.


Chad sendiri yang heran karena Ima tak kunjung datang pergi mengecek keadaan dan menemukan Ima yang sudah tertidur.


"Apa-apaan ini? ah... sebagai pelayan dia benar-benar tidak becus" ujar Chad emosi.


Ia hendak membangunkan Ima dengan menggoyangkan bahunya, tapi saat melihat wajah damai Ima yang sedang terlelap membuatnya teringat pada sosok Ima di hutan yang bak seorang putri.


Chad menjadi tak tega dan pada akhirnya ia menggendong Ima untuk membaringkannya di atas ranjang, setelah melepas kedua sepatunya perlahan Chad menarik selimut hingga leher Ima dan membiarkannya tidur.


* * *


"Selamat malam nek" ujar Alisya yang baru pulang.


"Malam sayang, kau dari mana saja? kenapa pulang selarut ini?" tanya Joyi.


"Maaf, aku tadi hanya jalan-jalan dengan teman"


"Benarkah? teman seperti apa yang bisa membuatmu betah berlama-lama dengannya?" goda Joyi.


"Nenek... " rengek Alisya karena malu.


hahaha


"Astaga... aku tak menyangka kedua cucuku dilanda asmara dalam waktu yang bersamaan"


"Apa? maksud nenek... Chad... " ujar Alisya kaget.


"Meski Chad tidak mau mengakuinya tapi tanpa bertanya pun nenek tahu kalau saat ini ada seorang gadis yang memenuhi pikirannya"


"Dari mana nenek tahu?"


"Dia sering melamun, juga tidak fokus pada pekerjaannya"


"Nenek bisa saja dia sedang banyak masalah bukannya sedang jatuh cinta" ujar Alisya yang tidak percaya pria sedingin Chad dapat merasakan cinta.


"Tidak sayang, jika dia banyak masalah maka seharian dia akan marah-marah. Saat dia melamun kadang ada senyum tersungging di bibirnya dan itu sudah merupakan bukti cinta"


"Benarkah?" tanya Alisya masih tak percaya.


"Akhir-akhir ini dia juga lebih sering menghabiskan waktu di rumah istirahatnya, itu semakin membuat nenek yakin kalau dia sedang jatuh cinta"


"Apa itu rumah istirahat?"


"Belum lama ini Chad membeli rumah khusus untuk dia tempati jika ingin istirahat, rumah ini terlalu ramai dan bising untuknya karena itu Chad membeli rumah baru untuk ia tinggali sendiri" jelas Joyi.


Sebenarnya Alisya tidak mengerti mengapa Chad harus membeli rumah baru karena menurutnya rumah ini sudah besar dan tidaklah berisik meski banyak pelayan yang tinggal. Tapi jika ingat lagi sifat Chad yang terlalu cuek dan pendiam sedikitnya ia mengerti mengapa Chad membeli rumah baru.


"Lalu bagaimana denganmu? kapan kau akan mengenalkan pria itu kepada nenek?" tanya Joyi membuyarkan lamunannya.


"Ah itu... hubungan kami tidaklah seperti yang nenek kira, tapi suatu saat aku pasti akan membawanya kemari" jawab Alisya.


Akan gawat jika tiba-tiba ia membawa pria yang wajahnya sangat mirip dengan Chad, meski ia yakin Joyi tidak punya penyakit jantung tetap saja ia butuh waktu untuk mengenalkan Agler.


Perlahan setelah hubungannya dengan Agler lebih lama dan serius ia pasti akan mengenalkannya kepada Joyi dan Chad.


"Baiklah, nenek tidak akan memaksamu" ujar Joyi mengalah.

__ADS_1


__ADS_2