
Rumah besar itu sudah sepi tanpa adanya keluarga, di tambah dengan masalah pribadi yang dihadapi masing-masing cucunya Joyi merasa bahkan gurun lebih ramai dari kediamannya. Setiap anggota keluarga seperti biasa berkumpul di meja makan, tapi makanan itu hanya di aduk hingga tak berbentuk tanpa di makan.
"Chad, bagaimana dengan proyek Ooty yang sedang kau jalankan?" tanya Joyi yang ingin sekali mendengar cucunya bicara.
"Ah, um... itu berjalan dengan bagus"
"Begitu ya, lalu bagaimana dengan mu Alisya? kau ikut pameran lagi?"
"Itu... aku belum memikirkannya" jawab Alisya tanpa semangat.
Joyi menghembuskan nafas panjang, mencari jalan keluar dari masalah keluarga itu.
"Bukankah lusa kau akan pergi ke Ooty?" tanya Joyi.
"Mm, aku harus memastikan semua berjalan sesuai rencana" jawab Chad.
"Bagus, nenek dan Alisya akan ikut bersama mu"
"Apa?" tanya Chad memandang Joyi dan Alisya secara bergantian.
"Pemandangan di Ooty cukup bagus, mungkin Alisya bisa mendapatkan inspirasi di sana. Lagi pula nenek pun sudah jenuh di sini, anggap saja kita akan liburan keluarga"
"Itu tidak perlu nenek, aku tidak mau merepotkan" sahut Alisya pelan.
"Omong kosong, siapa yang kau repotkan sayang? Chad akan bekerja seperti biasa sedang kita bisa menikmati sisi lain dari kota itu, satu kali ini ikuti keinginan nenek ya... " bujuk Joyi.
Tentu Alisya tak bisa menolak, Joyi sudah banyak berjasa pada dirinya selain itu liburan ini di tujukan untuk dirinya juga. Alisya mengangguk sebagai persetujuan yang membuat Joyi senang, sementara Chad tak peduli seperti biasa.
Manager San ikut membantu mempersiapkan keberangkatan mereka, sebagai orang kepercayaan Joyi tentu ia juga ikut dalam perjalanan ini. Mereka berangkat pagi sekali agar bisa sampai saat matahari masih bersinar terang, Joyi nampak antusias dalam perjalanan ini dan tak berhenti bicara meski Alisya hanya menanggapi dengan senyuman.
Sesuai keinginan mereka sampai di hotel saat hari masih siang, di bantu dengan para pelayan hotel yang membawakan barang-barang mereka masuk ke dalam.
Alisya dan Joyi memutuskan untuk istirahat dulu di kamar mereka sedangkan Chad terus pergi bekerja, di temani Manager San ia mendatangi tempat dimana pembangunan hotelnya berada.
Sebenarnya Chad hanya merenovasi bangunan itu, membuatnya lebih megah dengan rancangan kayu agar terlihat lebih menyatu dengan hutan.
"Selamat datang pak" sapa seorang bawahan Chad yang bertanggungjawab pada pembangunan itu.
"Bagaimana dengan air terjun yang kau bicarakan kemarin? apakah sudah ada persetujuan dari wali kota?" tanya Chad.
"Semuanya berjalan dengan lancar, rencananya wali kota akan mulai pembangunan mengikuti kita agar saat hotel selesai dia pun selesai. Saat ini baru di buat jalan menuju air terjun, setelah itu baru yang lainnya"
"Bagus, Manager San tolong urus sisanya aku ingin pergi melihat air terjun itu"
"Ah pak! kau mau pergi sendiri?" tanya orang itu khawatir.
"Ya, kenapa?" tanya Chad.
"Sebaiknya anda di temani salah satu bawahan saya, air terjun itu cukup jauh dan hutangnya pun belum tentu aman jadi.... "
"Kau tidak perlu khawatir, jika tuan Chad berkata seperti itu maka hal itu telah di putuskan" potong Manager San yang tahu pasti Chad tidak suka di nasehati.
"Tapi... "
"Sudahlah, tunjukan padaku hasil kerja mu" ujar Manager San tegas.
"Ba-baik" jawabnya pelan.
Manager San sempat tersenyum sebelum pergi mengikuti anak buahnya yang di balas oleh Chad, setelah kepergian mereka Chad pun mulai melangkah.
Bersama dengan Jhon ia pernah tinggal beberapa hari di hutan, memakan yang ada dan tidur di bebatuan. Pengalaman itu cukup membuatnya mengerti bahaya di hutan dan itu bukanlah ancaman besar baginya yang seorang vampire.
Dengan tenang ia berjalan menyusuri jalan setapak, menikmati udara sejuk yang masuk ke paru-parunya dan mendengar nyanyian penghuni hutan yang beragam.
Semakin jauh ia masuk ke dalam semakin bising para kumbang bersuara, beberapa menit kemudian suara air terjun mulai terdengar meski yang dia lihat masih rimbunnya pepohonan.
Chad berjalan dengan tenang namun berhenti seketika saat yang ia lihat bukan hanya pelangi di air terjun, tapi surgawi yang sudah lama ia rindukan.
* * *
__ADS_1
Saat pertama kali ia membuka mata kewaspadaan segera membuat otot-ototnya menegang, di luar dugaan tangan dan kakinya bebas tanpa terikat apa pun padahal jelas ia ingat caranya di undang merupakan sebuah penculikan.
Seisi ruangan itu cukup gelap meski siang hari sebab jendela-jendela di tutup rapat oleh gorden, hanya beberapa lilin yang berfungsi sebagai sumber cahaya. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar, Tianna yang berdiri tepat di samping pintu bak pengawal menyambutnya dengan wajah datar.
"Keenan ingin bertemu dengan mu" ujar Tianna.
"Apakah aku tidak di berikan makanan?"
"Jika kau aku bisa menyiapkan darah terbaik yang kami punya" sahut Tianna.
"Tolong air putih saja" balas Shishio.
Tianna memutar bola matanya dan mulai berjalan memimpin, di ikuti Shishio mereka pergi ke ruang depan dimana Keenan sudah menunggunya.
"Tidur dengan nyenyak tuan Shishio?" tanya Keenan.
"Jika bukan karena bantuan obat bius aku tidak mungkin tidur senyenyak itu di rumah sekotor ini"
"Aku setuju dengan mu" sahut Tianna yang membuat Shishio sedikit kaget.
"Well, jika kau memenuhi permintaan ku akan ku pastikan kunjungan mu yang berikutnya akan nyaman"
"Kalau begitu sebaiknya aku mendengarkan" jawab Shishio.
Keenan mempersilahkan Shishio untuk duduk sementara Tianna mengambilkan air minum, sofa itu sedikit berdebu tapi Shihio tak begitu mempermasalahkannya.
Ia justru tertarik pada rumah vampire itu, selama dirinya berkarir baru kali ia menemukan vampire kelas bangsawan yang hidup di rumah tua bekas peninggalan manusia. Tentu hal ini menjadi ilmu baru yang harus ia serap, terlebih Keenan menunjukkan gelagat yang mengingatkannya pada Viktoria.
"Aku mendengar kehebatan mu dalam ilmu pengetahuan, jujur kau membuat ku kagum. Sejauh ini kau adalah penyihir pertama yang mendapat sanjungan ku" ujar Keenan.
"Oh ya? rupanya aku memang populer di dua dunia"
"Kau harus bertemu dengan Alabama, dia maniak ilmu pengetahuan meski sering menyangkalnya"
"Kenapa aku harus?"
"Karena setelah kau menemuinya kau akan tahu alasan mengapa aku mengundang mu" jawab Keenan.
* * *
Senyum gadis itu lebar dan indah, bermain dengan cipratan air yang membasahi sekujur tubuhnya. Pakaian serba putih yang ia kenakan mengambang di atas permukaan air mengikuti kemana ia berenang, lalu tenggelam tepat saat kakinya turun ke bawah air.
Tanpa sadar Chad tak berkedip hingga gadis itu membalikkan badan dan mata mereka beradu pandang.
Kyaaaaa.......
Teriakan khas seorang gadis cukup membuat Chad kaget hingga lari bersembunyi di balik pepohonan, jantungnya berdegup kencang sadar akan dosa yang baru saja ia lakukan.
Sret...
"Siapa kau?" tanya Ima dari belakang dengan kuku yang lebih dulu menancap di leher Chad.
"Kau.... kenapa ada di sini?" lanjutnya saat melihat wajah pucat Chad.
"I.. itu... " kuku Ima terlalu menancap sehingga yang paling ia khawatirkan adalah nyawanya, sebab jika ia salah menjawab bisa-bisa Ima menebasnya dengan mudah.
"Jangan-jangan... kau sudah mengintip ku dari tadi!"
"Itu tidak benar!" sergah Chad panik.
"Aish... tuan muda, aku tahu tubuhku sangatlah indah tapi sebelum kau menikahi ku kau tidak boleh bersikap nakal seperti ini" goda Ima sambil menarik cakarnya.
"Apa maksud mu? menikah apanya?"
"Hei... kau jauh-jauh datang kemari untuk melacak keberadaan ku kan? tidak perlu malu begitu, setelah pernyataan cinta itu aku tahu kau tidak bisa melupakan ku" sahutnya sambil tersenyum.
"Jangan bicara omong kosong! aku kemari karena ada pekerjaan, kau bisa lihat di dekat sini ada pembangunan hotel" ujar Chad mencoba bersikap biasa.
"Hotel? ah.... jadi itu pekerjaan mu, aku memang mendengar soal pembangunan hotel itu gosipnya wali kota juga akan membuat air terjun ini menjadi tempat wisata utama. Hhhhhhhhhh.... sayang sekali, beberapa bulan lagi tempat ini akan ramai" ucapnya sambil menatap air terjun.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau ramai?"
"Ini adalah tempat ku biasa menghabiskan waktu sebagai vampire."
Jawaban itu cukup membuat Chad mengerti, bagi mereka kaum makhluk malam cukup sulit menyembunyikan identitas asli mereka agar bisa hidup dengan tenang di dunia manusia.
"Eh, kau belum jawab alasan mu ada di sini" ujar Ima tiba-tiba.
"Sudah ku bilang kan aku ada pekerjaan"
"Hotel mu ada di sana, lalu apa yang kau lakukan di sini?" ujar Ima sambil menunjuk arah dimana hotel Chad kemungkinan berada.
"Ah.. itu... aku ingin melihat air terjunnya, orang bilang tempat ini sangat bagus untuk di kunjungi"
"Tuan Chad, rasanya kita memang berjodoh. Aku sekarang tinggal di kota ini jadi kau pasti paham kalau aku butuh waktu untuk sampai di rumah mu, bisa bertemu dengan mu di sini dan seperti ini aku yakin ini bukan kebetulan"
"Kenapa bicara mu selalu melantur?" tanya Chad sambil membalikkan badan untuk pergi mendekati air terjun.
Tapi jika di pikir lagi pertemuan pertama mereka pun cukup berkesan, Chad tak bisa membohongi hati bahwa ia jatuh cinta tapi terlalu pengecut untuk mengakuinya. Semua hal yang terjadi pada hubungan mereka terlalu aneh untuk di sebut kebetulan, bahwa dirinya yang membuat ikatan sendiri agar Ima tetap berada di sampingnya.
Terpengaruh oleh ucapan Ima membuatnya berfikir mungkin saja mereka adalah dewa dewi yang saling jatuh cinta di langit lalu berengkarnasi menjadi makhluk yang sama di dunia.
* * *
Biasanya Alabama tak pernah keluar dari markasnya jika bukan untuk menyelamatkan diri, tapi demi menemui penyihir hebat ia rela keluar untuk menyambutnya meski itu di ruangan lain yang gelapnya tak jauh beda dari ruangannya.
Shishio cukup terkejut melihat betapa tua dan pucat nya Alabama, sangat khas seorang ilmuan gila. Bisa di pastikan bahwa Alabama sudah mencapai umur ribuan tahun, mungkin saja dia adalah satu-satunya vampire yang paling tua di muka bumi ini.
"Aku menyambut mu dengan penuh suka cita" ujar Alabama memberi hormat.
Vampire bangsawan dengan segala kehormatannya begitu lekat pada nada ucapan Alabama, Shishio tak pernah lupa bagaimana para bangsawan bersikap.
"Terimakasih" jawabnya.
"Maafkan atas ketidaksopanan kami terhadap mu"
"Tidak masalah, kau tidak perlu khawatir soal itu."
Saat Shishio di buat takjub oleh tata krama Alabama Keenan justru kaget di buatnya, tentu saja karena selama ini yang ia lihat adalah si vampire tua yang pemarah dan gila.
"Bagaimana kalau kita langsung ke intinya saja, aku terlalu penasaran mengapa kalian mengundang ku datang" ujar Shishio.
Alabama mengangguk tanda mengerti, ia pun memimpin jalan memasuki ruangan kerjanya yang lebih bau dan gelap dari semua ruangan yang ada. Bahkan Shishio terbatuk saat ia pertama kali memasuki ruangan itu, matanya pun butuh waktu beberapa menit untuk penyesuaian.
Shishio cukup kaget melihat peralatan laboratorium yang di miliki Alabama, alat-alat itu cukup lengkap dan modern. Tapi hal yang membuatnya lebih kaget lagi saat Alabama menunjukkan spesies yang telah ia ciptakan sendiri.
Makhluk itu di kurung dalam ruangan khusus yang di terhalang terali besi berlapis, matanya merah dengan kulit putih pucat mirip Alabama. Taringnya mencuat keluar dengan tubuh kekar sambil duduk dengan posisi kaki dan tangannya yang menapak di lantai.
"Dia... vampire?" tanya Shishio.
"Lebih dari sekedar itu, dia adalah makhluk yang tidak berakal tapi berinsting kuat. Kekuatannya sama dengan seratus prajurit vampire, sel ini tidaklah cukup kuat menahannya tapi dia selalu dalam keadaan tenang jadi tidak masalah"
"Dia... seperti vampire yang akhir-akhir ini menyerang manusia"
"Mereka adalah produk gagal, sementara dia satu-satunya yang bertahan. Hanya saja dia butuh sesuatu yang kau miliki agar tidak pernah lepas kendali"
"Apa maksud mu?" tanya Shishio heran.
"Selama ini aku terus memberinya makan tanpa pernah terlambat sedetik pun, tapi sejinak apa pun seekor singa dia tetaplah Raja hutan. Jika aku tidak mengembalikan akalnya maka dia bisa lepas kendali kapan saja, dan jika hal itu sampai terjadi maka baik dunia manusia atau pun Vampire semuanya akan musnah" jelas Alabama.
"Kami butuh bantuan mu untuk membuat ramuan yang bisa mengembalikan akalnya" ujar Keenan.
"Kenapa kalian pikir aku bisa melakukannya?" tanya Shishio heran.
"Sekitar dua puluh lima tahun yang lalu Viktoria mengambil seorang manusia untuk menjadi asistennya, suatu hari asistennya itu menggila seperti vampire yang ada saat ini. Tapi tiba-tiba ia sembuh total dan berdiri di barisan penyihir untuk memerangi para kaum vampire, nama dari asisten itu adalah Colt"
"Ba-bagaima kau tentangnya?" tanya Shishio kaget.
"Aku adalah vampire yang memberinya obat agar naluri vampirenya cepat keluar, di luar dugaan ia lebih brutal hingga hampir membunuh seorang manusia" jawab Alabama.
__ADS_1
Terkuak sudah, teka teki yang terjadi pada Colt dua puluh lima tahun yang lalu ternyata akibat ulah Alabama, julukan maniak ilmu pengetahuan dan gila yang di berikan Keenan memang sangat cocok untuk Alabama.
Ia tak menyangka akan bertemu dengan dalang di balik semua ketidak masukakalan ini, bagai benang merah yang telah di tarik oleh sang dewa dengan takdirnya ia menemukan jawaban.