Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 51 Kencan Yang Gagal


__ADS_3

Ia pikir Ima tidak akan pernah datang lagi ke air terjun itu, tapi saat ia baru sampai justru Ima sudah berada di sana cukup lama. Bedanya kali ini tidak ada sambutan manja yang biasa ia dapatkan, wajah Ima nampak serius memandang air tanpa peduli kehadiran Chad di sampingnya.


"Sedang menikmati pemandangan hah?" tanya Chad.


"Aku sedang bingung masalah pakaian, besok aku akan kencan dengan kakak kelas ku karena itu aku harus tampil cantik."


Chad mengolo, tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Lalu dengan sombongnya Ima menoleh penuh percaya diri kemudian berkata.


"Tolong jangan ikuti aku, besok adalah hari penting bagiku dan aku ingin semuanya berjalan dengan lancar."


Sudah menjadi sifat alami bagi semua makhluk ketika di larang maka justru rasa penasarannya akan semakin besar, apalagi ini menyangkut gadis yang diam-diam ia sukai.


Chad menanggalkan pakaian resminya dan pergi menggunakan kaus hitam dengan topi bisbol berwarna senada untuk menyembunyikan wajahnya, dengan mudah ia menemukan Ima berdiri di depan sebuah kafe sambil sesekali melirik jam tangan.


Selang tak berapa lama datang seorang pemuda melambaikan tangannya, Ima tersenyum membalas lambaian itu. Meski tak terdengar jelas tapi Chad paham pemuda itu mengucapkan kata maaf karena keterlambatannya, hal itu tak begitu di permasalahkan Ima namun dengan kesal Chad bergumam.


"Sungguh pria yang tidak kompeten, aku heran mengapa Ima mau kencan dengannya."


Mereka mulai pergi sambil sesekali bercanda, tawa kecil Ima sekali lagi membuat Chad bergumam mengapa di hadapannya Ima tak pernah bersikap manis seperti itu.


Hari itu cerah seperti biasa namun Chad mulai kegerahan meski ia ikut masuk ke kafe dengan pendingin ruangan, bahkan ia sampai memesan semangkuk eskrim agar terasa sejuk namun hal itu tidak berhasil.


Yang menyebalkan adalah ia menyadari alasan tubuhnya kepanasan karena pemandangan romantis dua sejoli yang tepat ada di depannya, apalagi saat tangan pemuda itu mengusap sudut bibir Ima hanya untuk me-lap noda makanan.


Ada tatapan dengan maksud tertentu di berikan pemuda itu kepada Ima yang di sadari Chad, sebagai sesama pria Chad paham betul akan adanya fantasi setelah menemukan ketertarikan dan hal itu membuatnya membayangkan rencana sepulang kencan ini.


Hatinya segera menggertak kaki untuk melangkah maju, menghancurkan semua rencana itu.


"Pulang!" ujarnya tiba-tiba yang membuat Ima dan teman kencannya bingung.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ima berakting kaget.


Tentu saja maksud kedatangannya ke air terjun waktu itu untuk memancing Chad agar mengikutinya hari ini, ia ingin membuktikan bahwa dia bisa berkencan dengan seorang pria demi mematahkan persepsi Chad tentang dirinya yang tidak cantik.


Sebagai sesama vampire ia bisa merasakan kehadiran Chad, untuk itulah sedari tadi ia sengaja bersikap manis dan membuat beberapa adegan mesra untuk membuat Chad jengkel.


"Maaf..anda siapa?" tanya pemuda itu.


"Ikut aku!" ujar Chad meraih tangan Ima tanpa memperdulikan pertanyaan itu.


"Hei!" teriak Ima saat genggaman tangan Chad terasa kuat di pergelangan tangannya.


"Tunggu!" sergah pemuda itu menarik lengan Chad yang lain.


Chad menatap pemuda itu dengan dingin seolah apa yang dia lakukan merupakan sebuah dosa besar, begitu pun dengan Ima yang merasakan adanya bahaya belum lagi tatapan semua pengunjung kafe yang mengarah kepada mereka.


"Siapa kau hingga berani bersikap kasar kepadanya?" tanyanya lagi.


"Kau...bertanya siapa aku?" sahut Chad mulai melepas genggaman tangannya untuk menghadapi pemuda itu.


"Aaahh......dia kakak ku!" ujar Ima cepat yang membuat Chad menatapnya kaget.


"Benarkah?" tanya pemuda itu yang sama kagetnya.


Ima tersenyum sambil mengangguk, mengingatkan Chad pada malam dimana ia menyatakan Ima hanya pelayan di rumahnya kepada wanita yang ia bawa pulang. Sepertinya ia memang cukup peka sehingga sadar dimana posisinya sekarang, mengikuti keinginan Ima ia menjawab.


"Ya, aku kakaknya jadi aku berhak melakukan apa pun padanya dan kau tidak boleh ikut campur"

__ADS_1


"Oh, maafkan saya.Tapi....bukankah apa yang anda lakukan sudah keterlaluan? mengingat ini di muka umum" ujar pemuda itu yang membuat Chad tersentak.


Baru kali ini ia di nasehati oleh bocah yang baru saja puber, tentu itu sangat menyebalkan terlebih ia sadar akan kesalahan dirinya sendiri. Sementara Ima menahan tawa sebab tak kuasa menatap wajah Chad yang terintimidasi.


"Terimakasih telah mengingatkan ku, tapi sebagai pria kau seharusnya punya keberanian untuk menjemputnya ke rumah bukan membuatnya menunggu di pinggir jalan seperti pengemis" balas Chad.


Tentu balasan itu cukup membuatnya kesal, tapi Chad tak mau lagi berurusan dengan bocah yang sok. Kembali dia meraih tangan Ima dan mengajaknya pergi tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan, ia terus menariknya untuk berjalan tepat di sampingnya hingga mereka tiba di jalanan yang lebih sepi.


"Berhenti! apa yang kau lakukan?" teriak Ima melepaskan tangannya.


"Aku sudah bilangkan jangan ganggu kencan ku"


"Mengganggu? aku baru saja menyelamatkan mu!" balas Chad dengan nada tinggi juga.


"Kau bercanda? aku bahkan tidak dalam bahaya"


"Gadis seperti mu tahu apa tentang seorang pria, meski dia masih bocah tapi dia tetap seorang pria"


"Berhenti bicara omong kosong! dia adalah pria baik-baik yang menghormati ku, bahkan dia lebih baik dari mu. Lagi pula apa pedulimu tentang aku? bukankah aku hanya pelayan mu? lalu apa ini? jaminan keselamatan?" hardik Ima mencemooh.


Peraturan hidup yang pertama kali Chad tahu hingga saat ini adalah jika kau ingin selamat maka jangan pernah berdebat dengan wanita, satu kali Chad melakukannya dan dia mendapati Ima berkencan dengan seorang pemuda.


Kini pikirannya mulai jernih melihat wajah cemberut Ima yang nampak lucu, rambutnya yang berantakan karena tertiup angin segera Chad rapihkan. Membuat Ima tertegun karena sentuhan lembut itu, dengan nada pelan Chad bertanya.


"Apa kau mau eskrim? tadi aku belum sempat menghabiskan eskrim ku"


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi, ayo pergi!" ajak Ima yang kemudian berjalan lebih dulu.


Ada senyum di wajah Chad melihat sikap Ima yang sudah normal lagi, ternyata suasana hatinya memang tergantung pada sikap gadis itu. Dengan senang ia berjalan mengikuti langkah Ima, melupakan kakak kelas Ima yang kena getah akibat perbuatannya. Tak hanya di tinggalkan begitu saja ia juga harus ikut membayar eskrim yang di pesan oleh Chad.


* * *


Selesai dengan tubuh, Joyi mengajaknya ke salon langganannya untuk creambath. Kali ini pun Alisya menurut sebab ternyata hal itu menbantu mengurangi stres ia alami, bahkan ia juga meminta untuk mengganti model rambut demi merubah penampilan menjadi lebih baik.


Butuh waktu lama hanya untuk memotong rambut Alisya menjadi lebih pendek sebab Joyi terus bernegosiasi dengan sang hairstylist, ia ingin cucunya tak hanya tampil menawan tapi juga terlihat lebih segar tanpa meninggalkan sisi feminimnya.


Tanpa terasa mereka pulang tepat saat makan malam, Aeda yang sudah masak makanan kesukaan Alisya segera mengantarkan semua hidangan itu ke meja makan.


"Silahkan dinikmati" ujar Aeda.


"Terimakasih" jawab Alisya.


Ia mulai makan dengan senang sementara Joyi masih memandangnya sambil tersenyum, tentu hal itu membuat Alisya sedikit terganggu.


"Apa...ada yang salah?" tanyanya.


"Tidak sayang, justru semuanya sangat sempurna karena itulah aku memandangmu" jawabnya.


Alisya tersenyum mendengar ucapan itu sebab terkesan sebuah pujian untuknya.


"Dengar, kondrat seorang wanita adalah hatinya yang lemah tapi bukan berarti kita memang makhluk lemah. Jika suatu masalah datang lagi kepadamu nenek mohon dengan sangat jangan mengurung diri lagi, tolong tinggalkan kebiasaan buruk mu itu" pintanya.


Alisya terdiam, sebenarnya itu cukuo sulit di lakukan sebab sejak dulu ia memang selalu seperti itu. Hanya saja dulu ibunya sering datang ke kamarnya dan membuat masalah apa pun itu hilang begitu saja, kini setelah ia yatim piatu tak ada lagi orang yang melakukan hal itu karenanya ia menjadi berlama-lama mengurung diri.


"Jika....ada sesuatu yang menganggagumu kau bisa cerita kepada nenek, mungkin nenek selalu sibuk tapi jika kau pinta nenek pasti akan luangkan waktu untuk mu."


Joyi memang bersungguh-sungguh tapi Alisya tahu ia tak pernah bisa melakukannya, Joyi sudah begitu baik dan ia tak mau mengganggu lebih dari ini.

__ADS_1


"Aku mengerti" ujar Alisya pelan agar Joyi tidak mengkhawatirkannya lagi.


* * *


Banyak hal yang bisa ia lakukan jika berjalan dengan seorang CEO, semangkuk eskrim bahkan tidak menghabiskan uang receh di sakunya. Memanfaatkan kesempatan yang jarang terjadi Ima meminta semua hal hanya dalam satu waktu, tentu semua itu adalah makanan dan barang-barang yang bisa ia bawa dengan mudah.


Jika Chad mulai kesal dan menghardik maka Ima akan menyalahkannya yang telah merusak kencannya, dengan begitu Chad dapat menelan kembali kekesalannya.


Meski hari sudah malam dan semua toko telah mereka kunjungi tapi Ima masih belum cukup bersenang-senang, di kota yang tidak terlalu besar itu ia mengajak Chad ke taman hanya untuk melihat lampion yang indah.


"Apa kaki mu tidak pegal?" tanya Chad.


"Tidak, kenapa? kaki mu pegal?"


"Astaga, dimana letak batreinya? aku ingin sekali mencabutnya" gumam Chad seolah Ima adalah mesin.


"Berhentilah mengeluh, kau harus tanggung jawab atas kesalahan mu" hardik Ima.


"Apa semua yang ku lakukan sejak siang itu masih belum cukup?"


"Tentu saja belum, kau adalah orang kaya jadi semua itu tidaklah berarti apa-apa. Ah.....aku menyesal telah berharap lebih padamu" tukas Ima lagi.


"Bukankah pria-pria kaya sepertimu selalu memberikan hadiah istimewa kepada seorang gadis? seperti perhiasan, barang-barang mewah bahkan membelikan sebuah rumah adalah hal yang mudah di lakukan"


"Kau ingin semua itu? matre sekali!" ujar Chad.


Ima melirik dengan tajam sehingga Chad memalingkan wajahnya, ia tahu dalam posisi ini apa pun yang ia katakan akan selalu salah. Meski begitu Chad tetap tidak tahan untuk mengomentari, rasanya seperti ada yang mengganjal meski ia tahu pada akhirnya hanya akan menjadi pertengkaran yang sulit ia menangkan.


"Guru Nick bilang gadis-gadis bangsawan selalu memakai gaun yang berenda dengan kerah yang terbuka, rambut mereka selalu di tata rapih dan berjalan perlahan di ikuti pelayannya. Seorang vampire bangsawan seperti mereka tidak pernah pergi ke hutan untuk berburu, mereka telah di siapkan darah kualitas terbaik untuk memenuhi kebutuhan" ujar Ima bercerita.


"Heh..kehidupan seperti itu sepertinya akan terus menjadi mimpi bagiku, jika tidak mendapatkan mangsa dalam waktu satu bulan setiap hari aku harus berburu kelinci. Belum lagi berakting layaknya manusia normal, menjadi manusia setengah vampire itu memang merepotkan."


Rupanya ada alasan lain di balik sifat kasar Ima, kehidupan kerasnyalah yang membuat gadis semuda itu harus kuat dan mandiri. Berbeda dengannya yang lahir dalam genangan harta, saat dirinya menuang darah ke dalam gelas saat itulah ia mengeluarkan cakarnya untuk menoreh luka di tubuh seseorang.


Teringat bagaima ia pertama kali bertemu Ima, lalu mendapati dia telah pindah dan satu kota dengannya kemudian demi keselamatan akhirnya keluarga Ima kembali pindah ke kota itu. Total yang Chad ketahui Ima telah pindah rumah sebanyak dua kali, bagi vampir miskin sepertinya itu sudah merupakan hal berat.


Akhirnya malam itu Chad mengantarkan Ima pulang, tidak sampai rumah sebab Ima tidak mau ada drama keluarga akibat Colt melihat putrinya pulang bersama seorang pria yang mirip kakaknya.


Tapi apa yang di takutkan selalu menjadi kenyataan, esoknya drama keluarga itu benar-benar terjadi akibat paket yang di kirimkan ke rumah Colt.


Ada banyak sekali kurir yang mengirimkan berbagai bingkisan dengan berbagai ukuran, setelah di buka rupanya isinya berbagai macam barang mewah sampai perhiasan dan gaun.


"Apa ibu memesan semua barang ini?" tanya Agler.


"Jangan bercanda! dari mana ibu dapatkan uang untuk membeli semua barang-barang ini?"


Mata Mina dan Agler segera menatap Colt, tentu karena mereka tahu Colt selalu boros.


"Kenapa melihat ku? aku pasti bertanya padamu sebelum membeli" ujar Colt yang merasa di tuduh.


"Ibu lihat!" seru Agler saat melihat sebuah kartu yang di selipkan diantara bunga.


Ia mengambil kartu itu dan membacanya keras-keras agar semua bisa mendengarnya dengan jelas.


"Untuk nona Ima, semoga hadiah yang ku berikan ini sedikitnya bisa membuatmu bahagia. Dari Chad Menhad"


Semua mata segera tertuju kepada Ima, tentu saja karena yang tertera adalah namanya. Dengan perasaan tak karuan Ima hanya bisa nyengir sedang dalam hati mengutuk CEO muda sang biang keladi yang telah membuat masalah untuknya, perlahan Ima menundukkan kepala berfikir haruskah ia terus terang sebab tak ada alasan masuk akal yang bisa ia katakan.

__ADS_1


__ADS_2