
Dia melepaskan senjata itu begitu saja, berbalik hendak melepaskan amarahnya di tempat lain. Tapi setelah Jack berbicara sebuah tembakan terdengar begitu saja, saat ia kembali berbalik di lihatnya sebuah lubang menganga di perut Jack.
"Ada yang mengawasi kami" gumamnya berpikir keras.
Tentu saja karena Jack tidak menembak dirinya sendiri, dia juga tidak memegang senjata artinya seseorang tengah mengincar Jack juga.
Membawa pertanyaan besar ke dalam rumah tentu raut wajah seriusnya mengundang penasaran Joyi, ia bertanya tentang apa yang telah membuat Chad berfikir keras.
"Seseorang telah menyerang Jack" jawabnya singkat.
"Apa maksud mu?" tanya Joyi semakin bingung.
Chad pun menceritakan apa yang telah terjadi, peristiwa yang tak pernah ia sangka. Mereka sama-sama terdiam setelah cerita itu selesai, memikirkan apa yang sedang terjadi dan siapa pelakunya.
"Apa kau bertemu dengan keluarga Hermes yang lain setelah peristiwa itu?" tanya Joyi.
"Tentu saja, kami bertemu di rumah sakit dan mereka menuduhku atas tragedi yang menimpa Jack"
"Kalau begitu cukup Chad, sejak awal inilah yang kita inginkan. Biarkan dia mati dengan sendirinya, apa pun yang mereka tuduhkan padamu jangan terpancing emosi"
"Tapi aku tidak bisa membiarkannya, nama ku akan tercoreng karenanya"
"Sekali pun kau menemukan pelakunya mereka akan tetap menganggap mu sebagai ancaman, lagi pula apa gunanya kau mencari pelakunya? pada akhirnya bukakah kau juga akan menarik senjata untuk menghabisinya, ingat akan penderitaan yang telah kau lalui selama bertahun-tahun akibat perbuatannya" ujar Joyi mengingatkan.
Chad terkesiap, hampir lupa ia pada misinya.
"Ibu yang tidak pernah melahirkan mu tapi cintanya tak perlu di ragukan dan ayah yang DNAnya tidak pernah mengalir dalam tubuh mu tapi kasih sayangnya menghidupkan mu, apa kau akan melupakan begitu saja kuburan mereka hanya karena telah kering?"
"Tidak! aku tidak akan pernah melupakan balas dendam ku" teriak Chad kembali pada jati dirinya yang telah di bentuk sedemikian rupa.
"Kalau begitu biarkan Jack dalam deritanya" sahut Joyi.
Chad mengepalkan tangan, menahan amarah yang berkecamuk salam batinnya hingga mukanya ikut memerah.
* * *
Kabar duka tentang Jack sampai pada Kyra, Ryu yang membawa kabar itu dan dengan sengaja datang ke rumah Joyi hanya untuk menjemput putrinya itu.
Semarah apa pun Kyra sebagai cucu yang paling di manja ia segera pergi bersama Ryu, sayangnya Jack belum sadar dan semua orang masih menunggu di luar.
"Bagaimana kabar kakek?" tangannya cemas.
"Ia masih belum sadar, tapi masa kritisnya sudah lewat" jawab Shigima.
Lelah habis berlari Kyra duduk di salah satu kursi, menatap wajah Kyra membuat Amelia teringat akan penderitaan Jack akibat salah satu masalah yang di timbulkan Kyra.
"Sebaiknya kau pulang saja" ujar Amelia.
"Tidak apa-apa, aku baru datang jadi belum lelah" sahut Kyra.
"Tidak Kyra, mendengar kabar saja pasti sudah cukup bagimu. Bukankah kau yang memilih tinggal di rumah Joyi? dengan banyak masalah di kediaman Hermes telah membuatmu stres dan sekarang di tambah masalah baru, aku tidak ingin kau semakin menderita jadi sebaiknya kau duduk manis saja di rumah Joyi dan tunggu kabar dari kami"
"Amelia, kenapa kau bicara seperti itu pada Blue?" tanya Shigima kaget.
"Kenapa? ayah sudah tua namun tidak pernah absen untuk melindungi keluarga kita, sekarang lihat apa yang di lakukan cucu tersayangnya? sama sekali tidak mau mendengarkan padahal semua ucapan ayah nyata" sahut Amelia.
"Amelia... aku mohon.. " ucap Shigima pelan.
Lidahnya belum lelah untuk bicara tapi ia tak punya keberanian untuk menyela Shigima, pada akhirnya hanya ada sedikit gumaman yang justru membuat Kyra semakin sedih di buatnya.
Sebagai ayah Ryu cukup peka akan perasaan Kyra, tangannya lembut meremas baru Kyra, melempar senyum yang meski tak bisa menyembuhkan rasa sakit itu tapi setidaknya bisa meredakannya walau sejenak.
"Ayah... " panggil Hans yang baru tiba.
"Maaf aku baru datang, bagaimana kabar kakek?" tanyanya menghampiri.
"Dia masih belum sadar" jawab Shigima.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kakek bisa terluka?"
"Akan ayah ceritakan, ayo kita pergi cari tempat yang nyaman" sahut Shigima.
Hans menatap cemas dan berjalan pelan mengikuti Shigima, pergi keluar untuk bicara sekaligus mencari minuman dan makanan.
Saat senja tiba mereka baru kembali, karena hari yang semakin larut Shigima menyuruh Amelia untuk pulang dan istirahat di rumah.
Tentu awalnya ia menolak, sebagai menantu pertama bahkan ia sudah kenal Jack jauh sebelum menikah dengan Shigima. Baginya Jack adalah ayah tanpa embel-embel sebab setelah kematian ayah kandungnya Jack-lah yang mengurus hidupnya hingga menikahkannya dengan Shigima.
Tapi Shigima tak bisa di bantah, lagi pun di sana sudah ada Hans yang menemani Shigima dan Ryu untuk berjaga. Akhirnya ia pun menurut, diantar Shigima hingga ke depan gerbang ruman sakit.
__ADS_1
"Sebaiknya kau juga pulang dan istirahat" ujar Ryu.
"Tidak ayah, biarkan aku tetap di sini sampai dokter mengijinkan ku menjennguk kakek" sahut Kyra.
"Kau akan kelelahan jika terus berada di sini"
"Ayah, satu kali ini saja biar aku menetap" ujar Kyra memohon.
Ryu berfikir mungkin ini akibat ucapan Amelia sehingga Kyra tidak mau pergi, meski ia memaksa tapi hasilnya pasti akan nihil maka ia pun tak lagi bicara.
* * *
Entah waktu menunjukkan pukul berapa, hanya saja cahaya itu cukup menyilaukan bagi matanya. Meski pandangannya tidak jelas tapi ia tahu bahwa yang di tatapnya adalah langit-langit sebuah ruangan, dan tentu itu bukan ruangan yang ia kenali.
Dengan kesadaran yang hanya setengah tanpa bisa melihat dengan jelas sebuah sosok berdiri tepat di depannya, menghalangi arah cahaya sehingga sosok itu hanya terlihat seperti gumpalan pekat.
"Si... apa... " tanyanya pelan.
"Jack... aku harap kau mati saja, meski tak ada jaminan semuanya akan normal tapi keberadaan mu merupakan ancaman" bisik sosok itu di dekat telinganya.
"Si... apa.. " tanyanya lagi.
Tapi sosok itu tak menjawab, pada akhirnya ia kembali memejamkan mata untuk memulihkan tenaganya.
Pada keesokan harinya saat seorang perawat memeriksa keadaannya barulah ia benar-benar membuka mata, melihat dengan jelas meski dalam keadaan yang masih lemah.
"Tuan Jack, selamat pagi" sapa sang perawat.
"Pagi... " sahutnya.
Mendengar jawaban perawat itu pun melontarkan beberapa pertanyaan biasa, seperti menanyakan nama lengkap dan hal lain yang berkaitan dengan hari, tanggal, bulan dan tahun.
Semua pertanyaan itu di jawab baik oleh Jack, maka perawat itu pun pergi untuk melaporkannya kepada dokter.
Tanpa menundanya Dokter itu segera memeriksa Jack, begitu ia keluar tentu saja keluarga Hermes itu berkerumun untuk menanyakan kabar sang kepala keluarga Hermes.
"Di sudah boleh di kunjungi, hanya saja untuk saat ini aku baru bisa mengijinkan satu orang yang masuk dan dalam waktu yang tidak lama" sahut dokter itu.
"Terimakasih dokter, terimakasih" ujar mereka senang.
Tentu mereka semua ingin menjenguk Jack tapi setelah perdebatan yang membingungkan akhirnya di putuskan bahwa Shigima yang akan mulai duluan.
"Ayah... " panggil Shigima lirih.
Perlahan Jack bergerak menggulirkan kepalanya, menatap Shigima yang sudah duduk di sampingnya.
"Shigima... " panggilnya.
"Aku di sini ayah, jangan risau! ayah pasti akan sehat kembali" ujar Shigima menahan air mata.
Jack diam tak menjawab, tentu karena tenaganya belum cukup sebuah obrolan yang panjang.
"apa yang terjadi ayah? siapa yang telah melakukan ini padamu?" tanya Shigima.
Jack kembali menggerakkan kepalanya, menatap langit-langit tapi benaknya bertamasya ke tempat lain. Mencoba mengingat peristiwa apa yang telah menimpanya hingga bisa berakhir di sana.
"Seseorang... dari balik pohon" jawab Jack.
"Dimana itu?" tanya Shigima lagi.
"Pondok.. tempat... kebakaran itu terjadi" sahut Jack.
Tak lama Jack kembali memejamkan mata, kekuatannya telah habis hanya untuk menjawab dua pertanyaan penting itu.
Shigima tak memaksa, ia membiarkan Jack beristirahat sementara setelah kunjungan itu ia beralasan untuk pergi sebentar.
Tak membuang waktu Shigima pergi ke tempat dimana Jack celaka, tak ada apa pun di sana kecuali puing yang hampir hilang di telan alam. Ia menyisir tempat itu dengan seksama namun tiga puluh menit berlalu tanpa adanya hasil, ia menemukan sedikit bercak darah di tanah yang di duga milik Jack tapi selain itu tak ada lagi.
Membawa kekecewaan ia pun pulang, kembali ke rumah sakit untuk bergabung dengan yang lain.
"Kau dari mana?" tanya Amelia yang baru datang dengan Violet.
"Mencari udara segar" jawabnya.
"Sebaiknya kau pulang dulu, tidurlah dan makan biarkan aku di sini menggantikan mu"
"Aku tidak apa"
"Jangan seperti itu nanti kau sakit, kita sudah sedih dengan kecelakaan ini jadi jangan sampai kau juga ikut sakit" bujuk Amelia.
__ADS_1
"Itu benar kak, pikirkan kesehatan mu sendiri" timpal Ryu.
"Kalau begitu kau dan Blue juga harus ikut istirahat, semalam kalian berjaga pasti sangat lelah"
"Aku tidak apa-apa, aku akan tetap menunggu di sini" sahut Kyra.
"Jangan keras kepala, jika kau sakit semua akan repot" ucap Violet.
"Sekali ini saja dengarkan keluarga mu, jangan selalu merepotkan orang lain" ujar Amelia yang membuat mereka menatapnya terlebih Violet.
"Apa hakmu bicara seperti itu pada putriku?"
"Aku mengatakan yang sebenarnya, bukankah dia memang terlalu keras kepala hingga kita mengalami masalah seperti ini? andai dia tidak pernah berhubungan dengan Chad peristiwa ini tidak mungkin terjadi"
"Berhenti bicara omong kosong! putriku tidak bersalah dalam hal apa pun!" teriak Violet murka.
"Ibu... aku mohon hentikan" bujuk Kyra dengan cepat.
"Kalau begitu ini semua salah mu, kau terlalu bersikukuh menjodohkannya dengan Chad tanpa mau mendengar ucapan ayah. Bahkan setelah tahu Chad adalah anak dari Rei kau tetap membiarkannya berhubungan dengan pemuda itu"
"Dari pada kau sibuk mengurusi keluarga ku kenapa kau tidak perhatikan anak mu sendiri? sebagai putra bahkan tidak ada yang bisa dia harapkan, di tangannya perusahaan malah berakhir dengan kebangkrutan" balas Violet tajam.
"Setidaknya Hans tidak egois dan keras kepala, dia anak yang baik. Masalah mengurus perusahaan suatu hari nanti dia juga pasti bisa bekerja dengan baik"
"Benarkah? kapan? bukankah usianya sudah cukup matang untuk terjun dalam perusahaan? sebaiknya kau serius memperhatikannya karena kau hidup tergantung pada perusahaan"
"Cukup! apa yang kalian perdebatkan? ayah sedang sekarat di dalam sana dan kalian malah berkelahi dengan tidak jelas" bentak Shigima melerai.
Mereka semua diam meski hati mereka masih berdumel kesal, tanpa kata Violet menarik tangan Kyra pergi dari tempat itu yang di susul oleh Ryu.
* * *
Wangi harum parfum yang ia pakai hari ini begitu semerbak mengalahkan wangi bunga, bahkan senyum yang menghiasi wajahnya lebih cerah dari mentari.
Sambil bersenandung kecil langkahnya teratur menapaki aspal hingga tiba di rumah, hari baru senja dan seperti biasa akan mulai dengan membersihkan kamar.
Tapi saat pintu di buka Chad telah berada di sana, terbaring namun matanya tajam menatap luar jendela.
"Chad... " panggilnya pelan.
Ia tak bergeming, bahkan saat Ima menyentuh wajahnya.
"Apa kau sakit?" tanya Ima.
Chad masih diam tak menjawab, membuat Ima bingung dengan apa yang telah terjadi. Tapi ia tak berusaha mencaritahu, sebaliknya ia tetap diam disana menunggu Chad hingga ia bangkit dan mau bicara.
"Kemarin aku bertemu dengan Jack di puing-puing, kami bersitegang hingga Jack mengeluarkan senjata dan menyuruh ku untuk menghabisi nyawanya"
"Lalu apa yang terjadi?"
"Aku membalikkan badan hendak pergi, tapi sebuah suara tembakan tiba-tiba terdengar begitu nyaring. Jack terjatuh dengan luka di perutnya"
"Apa?" tanya Ima kaget.
"Seseorang telah menembaknya, seseorang yang pasti mengintai kami. Tapi aku tidak tau siapa, aku sudah kembali ke tempat itu untuk mencari petunjuk namun tak menemukan apa pun"
"Bagaimana dengan keadaannya sekarang?"
"Masa kritisnya sudah lewat, tapi dia masih belum pulih"
"Apa dia punya musuh lain?" tanya Ima lagi.
"Aku tidak yakin, sebenarnya bisa saja itu rekan bisnisnya yang lain. Tapi peluru yang di gunakan adalah perak, bukan peluru biasa" jawab Chad.
Mereka terdiam, memikirkan siapa yang bisa menjadi tersangka dalam kasus ini. Tapi tiba-tiba Ima memikirkan sesuatu yang lain, yang tidak pernah terpikirkan Chad sejak kemarin.
"Chad, bagaimana jika yang ingin ia lukai adalah kau bukan dia"
"Apa maksud mu?"
"Itu adalah peluru perak, benda yang di gunakan untuk membunuh vampire bukan penyihir. Mungkin saja seseorang ingin mencelakai mu tapi Jack sadar akan hal itu lalu melindungi mu. "
Chad terdiam, tiba-tiba ia menyadari bahwa dalam peristiwa kemarin ia tidak merasakan kehadiran orang lain selain Jack. Padahal ia seorang vampire yang bisa merasakan aura seseorang, ia juga tidak merasakan adanya bahaya yang datang sampai sebuah tembakan itu mengenai Jack.
"Tapi... siapa yang ingin membunuh ku?" tanya Chad bingung.
"Kau seorang pangeran, seharusnya kau naik tahta menganggantikan ayah mu. Mungkin dia adalah seseorang yang membunuh ayah mu dan saat bahwa kau masih hidup dan berencana menghabisi mu juga" ujar Ima.
"Kita tidak bisa diam saja, aku akan meminta pendapat paman Jhon. Ah kau juga harus memberitahu Agler, bisa saja dia juga dalam bahaya"
__ADS_1
"Aku mengerti" jawab Ima.