Hello Brothers: Pangeran Kembar

Hello Brothers: Pangeran Kembar
Bab 81 Kebetulan Yang Mengerikan


__ADS_3

Jumlah mereka ada tiga, dua pria dan satu wanita. Yang membuat Ima heran adalah sikap kasar mereka terhadap Kyra, saat Kyra mencoba memberontak salah satu pria itu mengangkat tangan yang dimana cakarnya nampak tajam.


Tak bisa tinggal diam Ima segera menghentikan bis hendak menolong sebelum Kyra cedera, namun sebuah kilatan cahaya muncul begitu saja.


Saat ia turun dari bis dan berlari menghampiri, hanya dalam jarak beberapa meter saja ia bisa melihat Kyra jongkok sambil melindungi kepalanya di dalam perisai.


"Pe... nyihir... " gumam Ima kaget.


"Wah wah... aku tak menyangka kau juga memiliki kekuatan itu" ujar Tianna santai.


Ia berjalan lebih dekat lagi, menatap Kyra yang ketakutan dengan senyum licik seolah Kyra hanya boneka mainan.


Prang.....


Ah..


Hanya dengan satu pukulan perisai itu pecah yang membuat Kyra menatap ngeri, tak ada waktu untuk kabur ia hanya terpaku saat tangan Tianna kembali bergerak hendak meraihnya.


Trang


Buk


Uh Uhuk Uhuk


Pukulan itu cukup keras hingga terasa menyakitkan, sambil memegang bagian perutnya Tianna mengangkat wajah untuk melihat siapa yang berani menyerangnya.


"Ima... " panggil Kyra.


"Saat ada kesempatan larilah" ujar Ima tanpa basa basi.


Semakin meningkatkan kewaspadaan Ima mulai merasakan aura yang di keluarkan Tianna dan kedua pria itu, jelas mereka adalah vampire yang lebih kuat darinya.


Tianna pun dapat merasakan aura Ima dan cukup heran mengapa darah campuran sepertinya melindungi seorang penyihir, jika lebih di perhatikan lagi Ima bahkan lebih muda.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Ima.


"Itu bukan urusan mu, pergilah sebelum kau terkena masalah yang lebih buruk" ujar Tianna memperingatkan.


"Sayangnya aku tidak bisa melakukan hal itu" jawab Ima.


Mata Tianna mulai menatap tajam, ia tak peduli meski Ima adalah salah satu dari bangsanya sekali pun jika di perlukan maka akan ia singkirkan.


Whuuusss...


Bergerak secepat angin Tianna mulai melayangkan serangan dengan tangan kosongnya, hanya perlu membuat memar di beberapa bagian tubuh Ima saja itu sudah cukup.


Buk Buk Buk


Tapi meski terbilang muda Ima adalah gadis yang tumbuh di hutan dengan berburu merupakan kesehariannya, ia bisa menangkis setiap pukulan atau tendangan Tianna yang bahkan jarang bergerak kecuali untuk mempercantik diri.


"Cih" decak Tianna yang mulai kesal.


Dalam pertarungan yang bisa di anggap seimbang ini Kyra hanya bisa terpana melihat betapa hebatnya Ima, setiap gerakannya begitu gesit dan tepat sasaran.


Whuusss...


Memilih mundur untuk sementara waktu adalah pilihan tepat, mengetahui Ima cukup tangguh dengan kesal ia berkata.


"Apa yang kalian lihat? menunggu perintah hah?"


"Ma-maaf nona" jawab kedua prajurit itu.


Dengan sigap segera mereka menghampiri Ima, tentu Ima mulai mempersiapkan diri untuk sebuah serangan.


Whhuuuuusssss...


Buk


Ah


Saat mata Ima terpaku pada seorang prajurit yang hendak mendekati Kyra kewaspadaannya menurun sehingga tanpa sadar prajurit yang lain memukul bagian belakang kepalanya.


Kesadarannya mulai hilang secara perlahan, satu-satunya yang ia ingat hanya Kyra yang meneriakkan namanya dan sebuah suara lain berkata.


"Apa yang akan kita lakukan kepadanya?"


"Bawa saja dia sekalian, mungkin bisa berguna."


Rasanya ia baru terlelap tapi nyatanya waktu telah berlalu cukup lama hingga pagi telah menjelang, bahunya yang di guncang dengan keras membuatnya perlahan tersadar.


Tengkuknya yang terasa sakit cukup menyiksa saat ia mencoba bangkit, perlahan ia membuka mata dan melihat Kyra yang terduduk di sampingnya sambil memasang wajah cemas.

__ADS_1


"Kau sudah bangun" ujarnya.


"Kyra.. di.. mana kita?" tanyanya melihat sekeliling yang hanya merupakan sebuah tembok.


"Aku juga tidak tahu, aku pingsan dan saat sadar sudah ada di sini" jawabnya.


Ima mulai bangkit dan meraih pintu besi tepat di hadapan mereka, dari celahnya yang sempit di bawah tak ada yang dapat ia lihat kecuali tembok.


"Apa yang terjadi? siapa sebenarnya mereka dan kenapa mereka mengincarmu?" tanya Ima.


"Mana aku tahu, mereka tiba-tiba menghampiri ku dan berkata harus ikut mereka" jawab Kyra jujur.


Mencoba mencari cara untuk keluar dari sana Ima terus meneliti setiap sudut dan celah di ruangan itu hingga ia tersadar untuk meminta pertolongan Chad lewat telpon, sayangnya ponsel itu tak ada pada dirinya.


"Sial! apa mereka menyitanya?" celetuk Ima kesal.


Tak bisa tinggal diam namun tak ada juga yang bisa ia lakukan Ima terus mondar mandir sambil berfikir, sementara Kyra diam dengan isak tangis pelannya.


"Bisakah kau berhenti? lama-lama kau membuatku pusing" ujar Kyra.


"Argh... ini membuatku jengkel!" teriaknya yang membuat Kyra kaget.


Ia pun duduk di samping Kyra dan mencoba menenangkan diri, setelah beberapa kali menarik nafas hal pertama yang ia sadari adalah ketakutan Kyra.


Dari matanya yang sembab ia bisa tahu Kyra hampir menghabiskan air matanya, jika di pikir lagi dikurung di tempat gelap oleh orang asing tentu akan sangat menakutkan terlebih Kyra adalah gadis kota yang di manja.


Dengan satu tangan ia pun merangkul Kyra, membuatnya merasa tenang agar bisa berhenti khawatir. Kyra menyambut pelukan itu dengan pasrah, saat ini ia memang membutuhkannya.


"Hei kau tidak bilang jika kau pandai berkelahi" ujar Kyra setelah mulai tenang.


"Kau juga tidak bilang kalau kau seorang penyihir"


"Mana bisa aku mengatakan hal itu kepada orang yang baru aku kenal"


"Aku pun sama" balasnya.


Kyra terdiam, sesaat mereka hanya merenung sampai Kyra kembali bicara.


"Dimana kau belajar bela diri?" tanyanya.


Ima tak lantas menjawab, sejenak ia berfikir dulu sebelum memutuskan untuk mengatakan kebenarannya. Ia memperlihatkan tangannya kepada Kyra, lalu dengan kukunya yang tajam dengan cepat ia menggoresnya.


Ah...


"Aku seorang vampire" ujar Ima.


"Apa?"


"Begitu juga dengan mereka yang meenyekap kita" lanjutnya.


Sebagai seorang Hermes yang terkenal akan kekuatan sihirnya tentu Kyra mengetahui keberadaan vampire, namun Kyra tidak pernah bertemu dengan kaum itu bahkan sebagai keturunan penyihir pun ia juga tidak mempelajari ilmu sihir.


Kini mengetahui orang terdekatnya adalah seorang vampire tentu itu membuatnya cukup syok, terlebih ternyata ia juga di culik oleh bangsa vampire.


"Tidak perlu takut, aku tidak akan memangsa mu dan sepertinya kita juga tidak akan di mangsa"


"Dari mana kau tahu?"


"Jika mereka berniat memangsa mu maka harusnya mereka lakukan sejak tadi, aku tidak melihat bekas sayatan di mana pun pada tubuhmu artinya mereka tidak memangsa mu. Lagi pula vampire berburu secara individu, di lihat dari banguanannya sepertinya kita berada di semacam kastil jadi aku yakin mereka punya cukup persediaan darah"


"Kau... tahu banyak rupanya"


"Tentu saja, aku seorang vampire" sahut Ima.


"Kalau bukan untuk di makan lalu kenapa kita di culik?" tanya Kyra.


"Itulah yang membuatku bingung" jawab Ima.


Kreeett....


Cekrek


Suara kunci yang di buka itu seketika membuat mereka waspada, berdiri dengan penuh kekuatan bersiap menghadapi makhluk yang akan muncul.


Kyra sudah berkhayal akan sosok vampire tinggi besar seperti dua prajurit semalam, tapi bulu kuduknya yang meremang tiba-tiba terjatuh kembali saat melihat sosok pria yang cukup tampan masuk.


"Ah kalian sudah bangun rupanya" ujar Keenan.


Di temani Tianna dan dua pengawal yang berjaga di luar ia melihat apakah tamunya masih dalam keadaan baik-baik saja setelah undangan kasar itu.


"Siapa kau?" tanya Ima tanpa gentar.

__ADS_1


"Perkenalkan aku Keenan, Raja baru di istana ini" jawabnya.


Ima segera teringat akan cerita Ballard, rupanya inilah sosok raja yang memicu kekacauan baru. Melihat situasinya untuk sementara Ima berasumsi bahwa penculikan Kyra ada hubungannya dengan perang yang terjadi.


"Apa yang kau inginkan dari Kyra?" tanya Ima lagi sambil berdiri tepat di depan Kyra seolah mencoba melindunginya.


"Dia adalah Kyra Hermes, salah satu keturunan Hermes sama dengan Anna" jawab Keenan sambil menunjuk,


"A-apa?" gumam Ima tak menyangka.


Anna, sosok wanita kuat yang menjadi idolanya itu ternyata memiliki nama belakang Hermes. Dan Kyra yang belum lama ia kenal rupanya adalah keturunan Hermes juga, sama seperti Agler yang artinya Agler, Chad, Anna dan Kyra adalah satu keluarga.


"Anna... maksudmu... Anna yang mengalahkan Ratu Viktoria?" tanya Ima gugup.


"Ya, dia adalah penyihir berdarah vampire bangsawan yang kuat. Menurut silsilah keluarga Anna adalah bibi dari gadis itu, jika dia tahu bahwa keponakannya dalam bahaya aku yakin kali ini dia pasti akan muncul" jawab Keenan.


Shishio mendapatkan ide gila untuk menghentikan perang, itu merupakan cara keji dengan mengorbankan seseorang. Ia menyuruh Tianna untuk mencoba bicara kepada Keenan tentang hal ini, dari pada memulai perang yang tak berarti lebih baik menculik keturunan Hermes yang merupakan bagian dari keluarga Anna.


Sekejam apa pun Anna kepada orang lain rasanya tidak mungkin dia mengabaikan keluarganya sendiri, mengingat perjuangan Anna dahulu yang rela berkorban demi Hans yang masih dalam kandungan ia berharap kini Anna mau menampakkan wujudnya.


Tianna yang di beri tugas mulai dengan menculik Kyra yang merupakan anggota paling lemah, setelah kabar penculikan itu tersebar ia akan mulai menculik Amelia, Jessa dan anggota yang lain satu persatu hingga menyisakan Hans untuk di beri tugas menyampaikan kabar kepada Sang Dewi.


Mengetahui keluarga Hermes membuat Ima memikirkan Chad, rahasia yang selama ini Chad simpan bisa jadi adalah tentang keluarganya.


Yang tidak ia mengerti adalah mengapa Kyra dan Chad berhubungan padahal mereka adalah keluarga, tapi mengingat nama belakang Chad yang di pakai saat ini wajar jika Kyra tidak tahu terlebih Chad dan Agler pun baru tahu kalau mereka adalah saudara.


Tapi ia ingat bahwa Chad pernah berkata dia adalah anak dari mendiang Raja Reinner yang artinya Chad telah mengetahui bahwa Kyra saudaranya, lantas apa yang membuat Chad menyimpan rahasia itu dari Kyra?.


Aaaaarrrgggghhhhh....


Teriakan frustasi dari Ima menarik perhatian mereka, sambil mengacak-acak rambutnya berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya bagai anak panah yang tak mau berhenti.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga Hermes? kenapa semuanya berhubungan tapi membingungkan?" teriak Ima kesal.


"Apa maksud mu? dasar gadis gila, lagi pula kau ini siapa? kenapa kau bisa ikut berada di sini?" tanya Keenan dengan wajah jijik.


"Aku! adalah Ima Megan, aku adalah anak dari Colt Megan asisten Ratu Viktoria" jawab Ima dengan nada tegas.


Suatu kebetulan yang teramat langka, dahulu ia cukup kesulitan mencari Colt hanya untuk menyempurnakan kekuatannya dan kini putrinya justru masuk dalam kandangnya dengan mudah.


Hah haha hahahahaha


Tawa Keenan cukup menggelegar di ruangan itu, membuat mereka menatap heran. Setelah beberapa saat akhirnya Keenan mampu menguasai diri dan kembali bicara dengan lancar.


"Kalau begitu kau harus tahu bahwa aku adalah adik dari Viktoria, vampire yang menjadi tuan ayah mu"


"Kau... " ujar Ima yang untuk kesekian kalinya kaget.


"Heh! apa-apaan ini? terlalu mengerikan untuk di sebut kebetulan, dalam satu waktu aku baru tahu bahwa Kyra adalah kelurga dari wanita yang selama ini aku kagumi dan kau adalah adik dari tuan ayah ku" ujar Ima.


Keenan bergerak mendekati Ima, tubuhnya yang tinggi membuatnya harus membungkuk saat ingin bicara dengan cukup dekat di telinga Ima.


"Kebetulan adalah bagian dari takdir, sadar atau tidak tapi pertemuan kita ini sudah di tentukan jauh sebelum kita bisa menghirup udara."


Ima hanya bisa menatap Keenan tanpa berkata apa-apa, tapi setelah Keenan menjauh barulah ia bicara.


"Apa kau yakin Anna akan datang? dia menghilang begitu saja jadi bagaimana caranya kau menyampaikan gertakan ini?"


"Mm, aku sudah pernah menemuinya" jawab Keenan dengan berbangga hati.


"A-apa? dimana?" tanya Ima kaget sekaligus antusias.


"Kenapa kau sangat ingin tahu?"


"Karena aku sangat mengaguminya, dia adalah sosok wanita yang menginspirasi ku."


Sorot mata Ima yang tegas serat ucapannya yang begitu jelas membuat Keenan merasa berkaca, dulu saat ia mendengar kisah Anna ia pun begitu tertarik hingga melakukan segala cara agar bisa di akui seperti Anna.


Seolah bertemu bagian dari tubuhnya Keenan menyambut hangat kedatangan Ima, dengan nada yang lebih lembut dan tatapan bersahabat ia menjawab.


"Dia berada di satu tempat ajaib yang tidak bisa di temukan begitu saja"


"Benarkah? lalu bagaimana sosoknya? apakah dia memang cantik seperti yang selama ini di ceritakan? bagaimana dengan kekuatannya?" tanya Ima yang tak bisa berhenti.


"Dia berada pada sosok yang sulit di katakan, seluruh tubuhnya adalah air dengan wujud manusia. Entah dia memang berwujud seperti itu atau bukan, tapi tentang kekuatannya kau tidak perlu meragukannya" jawab Keenan mengingat bagaimana tekanan yang ia rasakan saat bertemu Sang Dewi.


"Benarkah, bisakah kau ceritakan lebih lanjut?" pinta Ima.


Untuk yang pertama kalinya setelah ratusan tahun ia hidup akhirnya ada juga seseorang yang mengerti perasaannya, seseorang yang bisa di ajak bicara dan satu pemikiran dengannya.


"Tianna, segera siapakan makanan. Kita harus menyambut tamu kita dengan baik" ujar Keenan dengan senyum hangat.

__ADS_1


"Aku mengerti" jawab Tianna.


Sejak tadi ia hanya berperan sebagai penonton saja, sekarang melihat Keenan dengan semangatnya untuk bercerita membuatnya berfikir bahwa Ima adalah sosok gila lainnya yang akan merepotkan.


__ADS_2