
Kepulangan Keenan di sambut baik oleh Tianna tapi tidak dengan para tetua, di penghujung usia yang tak lagi muda meski mereka tidak mudah mati bukan berarti tidak ada rasa lelah.
Sajian makan malam di buat sengaja mewah untuk menunjukkan sikap hormat dan kegembiraan mereka dalam menyambut sang Raja, tentu itu hanya sebuah formalitas untuk menyelamatkan nyawa.
Tak ada gairah Keenan memilih beristirahat di temani Tianna yang penasaran akan perjalanan itu, ia tahu kemana Keenan pergi.
"Aku tidak berhasil bertemu dengannya" ujar Keenan.
"Apa? kenapa?"
"Sebagai gantinya aku bertarung dengan leleuhur kita"
"Apa maksudmu?" tanya Tianna jelas yang kurang dalam ilmu sejarah.
Maka Keenan mun menceritakan bagaimana perjalanannya itu, pertarungan klasik yang ia nikmati dan hampir kehilangan nyawa karenanya. Hanya saja karena melanggar aturan mau tak mau ia harus menepati janji untuk tidak melepaskan hewan peliharaannya meski tidak berhasil bertemu Sang Dewi.
"Aku cukup menyesal telah melakukannya" ujarnya di akhir cerita.
"Kenapa kau bersedih? kau bisa datang lagi ke sana dan membuat penawaran baru dengan penjaga hutan itu"
"Kau benar....kau benar Tianna!" seru Keenan yang mendapat jalan keluar.
Ekspresi antusias Keenan membuat Tianna senang, ia merasa dirinya begitu berharga dan pintar.
* * *
Akan sangat egois memang jika meminta Agler untuk diam meski itu demi keselamatannya sendiri, Nick yang sudah tahu cerita itu dari Ima tak ada niatan untuk ikut campur. Tapi ia juga kesal sendiri melihat kecemasan Mina akhirnya terlalu mengekang, demi kebaikan Agler pula ia memberi nasehat kepada Mina agar jangan membatasi keinginannya.
Mungkin benar ada yang mengincar Agler, tapi Nick yakin ilmu yang telah ia ajarkan kepada Agler dapat membantunya mengatasi situasi sulit. Lagi pula sebagai guru ia pun menaruh janji akan terus membimbing dan menjaga Agler sebagaimana janjinya dulu, untuk itulah ia juga berjanji akan membantu Agler dalam pencarian keluarga aslinya.
Setelah dapat ijin dari Mina Agler segera mencari wanita bernama Mehves yang menjadi kunci identitas aslinya, Colt memberikan alamat terakhir yang ia ketahui sebagai petunjuk.
Maka di hari itu tanpa buang-buang waktu Agler segera pergi, kemungkinan besar Mehves sudah pindah tapi mungkin dengan pergi ke rumahnya setidaknya ada pentunjuk yang mengarah pada keberadaannya saat ini.
Saat tiba kondisi rumah itu sudah sangat tak terawat, terlihat dari halaman rumah yang berantakan di penuhi rumput liar.
"Maaf, apa yang kau lakukan di sini?" tanya seorang kakek yang rupanya memperhatikan gerak geriknya.
"Oh anu...maaf apa benar ini kediaman nyonya Mehves, dia seorang dokter" ujar Agler bertanya.
"Apa keperluan mu kepadanya?" tanya kakek itu lagi curiga.
"Itu...ada hal yang ingin saya tanyakan kepadanya"
"Mm, ini memang kediaman Mehves tapi rumah ini sudah lama kosong. Entah apa alasannya aku juga tak tahu, tapi aku masih ingat dengan jelas malam itu ia pergi dengan terburu-buru di jemput oleh seorang wanita. Ia pergi cukup lama dan pulang esok harinya hanya untuk membawa sebuah koper saja, setelah peristiwa itu aku tidak melihatnya datang lagi ke rumah ini sampai sekarang"
"Begitu ya, apa nyonya Mehves memiliki keluarga?"
"Setahuku dia perawan tua yang belum menikah, satu-satunya keluarga yang aku ketahui adalah adiknya yang tinggal di pedesaan"
"Boleh saya minta alamatnya?"
"Mm, baiklah" jawab kakek itu.
Saat dalam keadaan terancam memang tempat yang jauh dari keraiaman adalah tempat yang aman untuk bersembunyi, biasanya jika di perlukan perubahan identitas juga akan terjadi.
Karena itu sebelum pergi ke desa Agler memilih untuk melihat dulu isi rumah Mehves, mencari petunjuk apa pun yang bisa membatunya.
Debu tebal yang telah menempel di setiap permukaan terkadang membuatnya terbatuk dan menyulitkan penglihatan karena perih di mata, tapi tentu hal itu tidak menciutkan tekadnya.
Setelah berjam-jam mencari satu-satunya yang ia temukan hanya album foto dimana terdapat sebuah foto yang memperlihatkan Colt dan Mehves bersama, rupanya mereka memang saling mengenal.
Selain dari itu ada satu lagi foto yang membuatnya penasaran, saat Mehves bersanding dengan seorang wanita yang rasanya wajahnya tak asing.
"Dimana aku pernah melihatnya?" gumamnya.
Sayang ia tak kunjung ingat, maka ia putuskan untuk menyimpan foto itu. Setelah pencarian yang cukup lama Agler memutuskan untuk pulang, ia menceritakan penemuannya kepada Nick dan mendapat dukungan karenanya.
Meski kini Agler sudah tahu bahwa ia orang asing di rumah itu tapi perlakuan keluarga Colt sama sekali tak berubah, Ima sendiri selalu mencoba menghalau kecanggungan agar hubungan diantara mereka selalu baik.
Meski penasaran tapi selain dari Nick tak ada yang berani menanyakan perilah perkembangan Agler dalam mencari informasi tentang keluarganya, hal itu di karenakan takut adanya kecanggungan yang membuat jarak diantara mereka.
__ADS_1
Esok harinya Agler sudah menyiapkan diri untuk perjalanan jauhnya, sebelumnya tentu ia sudah memberitahu yang lain perilah keberangkatannya mencari Mehves.
"Agler..." panggil Mina lembut saat Agler masih bersiap.
"Bawalah ini untuk bekal di perjalanan mu" ujarnya seraya menyerahkan sebuah tas kecil.
"Terimakasih" jawabnya pelan.
Ada jeda yang membuat mereka sibuk dengan benak masing-masing, tapi kemudian tiba-tiba Mina merangkulnya dan berkata lirih.
"Sampai kapan pun kau adalah putra kebanggaan ibu, jangan pernah lupakan itu.
Tak kuasa menahan haru Agler ikut menitikkan air mata, mengingat bagaimana pengorbanan Mina selama ini untuk dirinya.
"Ibu...terimakasih.." jawabnya pelan.
Memang berat melepaskan Agler, rasanya sama seperti pertama kalinya Agler pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Meski begitu mereka memaksakan diri untuk tersenyum walau pun setelah Agler hilang dari pandangan air mata tak bisa di bendung lagi.
* * *
Seperti biasa kesibukan seorang ilmuan hanya ada ada pada buku dan ruangan lab, tapi ketertarikan Shishio pada Keenan kali ini jauh lebih besar dari setiap informasi yang ada.
Dengan suka rela Keenan memberikan tubuhnya untuk di teliti, ini di karenakan ia telah meminum ramuan yang menambah kekuatannya. Tak lupa ia juga menceritakan kisah pertarungannya dengan bangsa vampanences yang membuat Shishio lebih tertarik lagi.
"Aku tidak menyangka akan menemukan leluhur ku di sana, sudah ribuan tahun berlalu dan ternyata mereka masih ada" ujar Keenan datar meski tubuhnya di pasanga berbagai selang.
"Pengulangan" ujar Shishio tanpa mengalihkan pandangannya dari berbagai cairan yang ada.
"Apa?"
"Kau berfikir telah melakukan kemajuan bagi bangsa vampire dengan beberapa obat yang telah di teliti, kenyataannya kemajuan yang kau pikir benar hanya membuat mu kembali menjadi vampire terdahulu. Seperti yang kau katakan, fisik lebih kuat, indra penciuman yang tajam dan insting yang kuat. Semua itu secara alami telah di miliki leluhur mu sejak dulu" jelas Shishio.
Keenan terdiam, berfikir dan mulai menyadari apa bahwa itu benar. Ia mendapatkan semua kekuatan itu dengan teknologi tapi bangsa vampnanences mendapatkannya dengan alami, hal ini mulai merubah pola pikirnya lagi untuk mendapatkan kekuatan.
"Aku harus kembali ke hutan itu dan menemui Elf, hanya dia yang tahu tentang para vampanences" ujarnya.
* * *
Brak...
Tiba-tiba sebuah suara terdengar begitu nyaring di telinganya, bergegas ia berlari menuju sumber suara itu dan menemukan seorang pria yang jatuh bersama gerobaknya.
"Anda baik-baik saja?" tanyanya.
"Uh...ya...aku...aw...." erangnya saat mencoba bangkit.
Agler segera memeriksa dan menemukan kaki pria itu bengkak.
"Sepertinya anda terkilir, anda harus hati-hati dalam bergerak" ujarnya sambil membantu untuk duduk dengan benar.
"Oh astaga...umur memang tidak bisa di tolak, aku pikir muatan ku yang terlalu banyak rupanya tenaga ku yang sudah menipis" ucapnya.
"Anda terlalu memaksakan diri, biar saya bantu"
"Oh terimkasih nak" ujarnya.
Mudah bagi Agler membangkitkan gerobak itu serta memasukkan kembali karung-karung yang terjatuh, setelah semua beres ia menawarkan diri untuk mengantar pria itu pulang.
Tentu pria itu merasa sangat tertolong, sampai di rumah ia di sambut oleh istri pria itu yang menjamunya dengan cukup baik.
"Terimakasih atas pertolongan mu, kami sangat terbantu" ujar wanita itu.
"Ah perkenalkan nama ku Jeremy dan istriku Doroty"
"Salam kenal, aku Agler"
"Senang bertemu dengan mu Agler" ujar Doroty memperhatikan.
Agler pun melakukan hal yang sama, ia merasakan aura dingin yang tak asing dari Doroty. Itu membuatnya berspekulasi bahwa Doroty bukan manusia biasa, mungkin saja dia adalah manusia setengah vampire sama sepertinya.
"Dari mana asal mu? kau pasti orang asing karena aku tidak pernah bertemu dengan mu" tanya Jeremy.
__ADS_1
"Aku dari Ooty, yah itu cukup jauh dari sini memang. Sebenarnya aku sedang mencari seseorang yang kemungkinan tinggal di daerah sini"
"Benarkah?"
"Ya, namanya Mehves. Dia seorang dokter" jawab Agler.
Raut wajah Doroty seketika berubah, ia terlihat lebih seksama memperhatikan Agler bahkan terkesan menaruh curiga kepadanya.
"Kenapa kau mencarinya?" tanyanya.
"Itu...ada hal yang ingin ku tanyakan kepadanya, ini menyangkut tentang keluarga ku yang hilang" jawab Agler.
"Ah, aku punya fotonya. Mungkin kalian mengenalnya atau pernah melihatnya."
Agler pun menyerahkan foto yang ia ambil dari rumah Mehves, Doroty dan suaminya segera melihat foto itu dan memberikan respon kaget yang membuat Agler penasaran.
"Jangan-jangan kau adalah bayi itu" ujar Jeremy tiba-tiba.
"Maksud anda?"
"Tunggu sebentar!" ucap Doroty yang pergi masuk ke dalam dan keluar tak berapa lama kemudian dengan sebuah box kecil di tangan.
Di hadapan mereka ia membuka box itu untuk mengeluarkan berbagai kertas dan foto yang ada, ia membuka salah satu surat untuk membacanya sekilas.
"Benar, namanya Agler" ucapnya.
"Bisa anda jelaskan?" pinta Agler.
Doroty mengangguk dan mulai bercerita, kejadiannya sudah lama sekali tapi ia masih ingat. Kakaknya Mehves tiba-tiba berkunjung dan mengatakan akan tinggal bersama mereka, tentu ia segera menaruh curiga.
Mehves pun mengatakan bahwa ia dimintai tolong untuk mengasingkan seorang bayi yang baru lahir demi keselamatannya, bayi itu ia titipkan pada kenalannya sedang ia sendiri setelah menerima imbalan datang ke sana untuk bersembunyi.
Selama ini Mehves mengubah identitasnya dan menjadi dokter di sana sampai ia akhirnya meninggal karena sebuah kecelakaan.
Jauh sebelum peristiwa itu terjadi Mehves memberikan box kecil kepada Doroty, isinya adalah berbagai informasi dari bayi yang ia titipkan pada kenalannya dan orang yang menyuruhnya untuk mengasingkan bayi itu.
Ia yakin baik bayi itu atau pun orang yang memberinya tugas pasti akan datang mencarinya untuk menanyakan kondisi keluarga satu sama lain.
"Barang ini milik mu, ambilah" ujar Doroty selesai bercerita.
Akhirnya kini Agler dapat mengetahui siapa keluarganya yang sesungguhnya, Doroty dengan senang hati memberinya sebuah kamar untuk beristirahat sekaligus menjaga privasinya.
Dari banyaknya kertas Agler memulai dengan mengambil satu dan membacanya.
"*Hari itu semua berjalan seperti biasa, aku bekerja dan pulang cukup larut. Tapi baru saja hendak tidur bel pintu rumah ku berbunyi, dengan penasaran aku melihat siapa yang bertamu selarut ini. Tak di sangka dia adalah kenalan lama ku, dengan wajah cemasnya ia meminta ku untuk ikut bersamanya.
Bella, dia membawaku ke sebuah rumah dan memberikan seorang bayi tampan kepadaku. Dengan wajah merah dan hampir menangis ia memohon untuk menyelamatkan bayi itu, setelah meminta penjelasan barulah aku tahu bahwa ia adalah seorang pangeran yang di buru untuk di bunuh.
Tak tega aku pun menyanggupinya, teringat salah satu kenalan ku adalah kaum yang sama maka untuk menghilangkan kecurigaan ku berikan pangeran kepadanya.
Waktu itu aku pun harus segera bersembunyi sebab dunia dalam keadaan kacau balau, mereka menggila dan memberontak sehingga terjadi pertumpahan darah di sana sini. Uang imbalan yang ku terima ku gunakan untuk mengubah identitas ku dan bersembunyi selamanya*."
Agler tahu kisah ini, apa yang ia baca sama persis dengan cerita kakek itu dan Colt. Ini membuat keyakinannya bertambah bahwa Mehves adalah wanita yang tahu tentang kekuarganya, maka Agler pun mengambil satu kertas yang lain dan membacanya lagi.
"*Tahun telah berganti cukup banyak setelah peritiwa itu, aku yakin salah satu diantara mereka pasti akan datang mencariku. Entah siapa yang duluan, karena itu ku buat dua informasi sekaligus.
Bella yang meminta tolong kepadaku adalah Jessabelle Hermes, istri dari Jack Hermes dan nenek dari bayi ini yang bernama Agler.
Sedang kenalan yang ku pintai tolong untuk mengurus pangeran Agler adalah Colt Megan dan istrinya bernama Mina Megan.
Karena pangeran Agler adalah keturunan vampire maka ku titipkan ia kepadanya, Colt juga merupakan seorang manusia setengah vampire sama sepertiku sehingga hal ini baik bagi pangeran*."
Selain dari dua kertas itu Agler menemukan kertas lain yang berisi alamat rumahnya yang pertama, dia juga menemukan kertas lain berisi alamat kediaman Hermes.
Ada juga sebuah foto yang di tandai dengan pena pada satu wajah di antara banyaknya orang yang ada pada foto tersebut, itu adalah wajah Colt dan di belakang foto itu terdapat tulisan tangan yang menuliskan nama Colt.
Foto lain pun sama, seorang wanita di tandai dan di belakangnya terdapat informasi nama Jesaabelle. Melihat wajah wanita itu mengingatkan Agler pada foto yang ia ambil dari rumah Mehves, setelah di bandingkan wajah keduanya sama.
"Pantas aku merasa pernah tak asing, rupanya aku memang pernah bertemu dengannya" gumam Agler mengingat malam di mana ia bersandiwara menjadi Chad.
Di acara makan malam itu Jessa juga hadir, yang membuat Agler Syok ternyata selama ini ia sudah pernah masuk ke kediaman keluarganya sendiri.
__ADS_1