
...⚠️ Warning ⚠️...
...Awas berhati-hati karena typo bertebaran dimana-mana, kata-kata kasar, vulgar atau apapun tetapi author berusaha menutupinya, kalo author lupa berarti khilaf 🤫🤭😚😘...
...Jangan lupakan di akhir cerita ada aja bikin gantung dan penasaran 🤭😌🤗...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
Alana Pov On
Saat ini aku dan Alan masih berada di parkiran khusus pemilik sekolah untuk memberikan ceramah panjang lebar kepada adik-adikku terutama Resmi dan Neira, notabene selalu saja bikin mama papa pusing 7 keliling menghadapi kenakalan kedua bocah tomboy ini.
Aku sangat yakin kalo Neira dan Resmi tidak akan mendengarkan dengan benar ceramahku maupun Alan.
"Bang Alan, kak Alana udah belum nih ceramahnya. Nanti kita semua telat?" Melasnya puppy eyes.
"Sudah selesai Res. Ingat ya adik-adikku dengerin nasehat kakak dan abang terutama untuk Resmi dan Neira." Ucapku tersenyum manis lalu menatap tajam ke arah Resmi dan Neira.
"Kami gak janji ya, kak." Kompak Resmi dan Neira.
"Pulang nanti kalian akan di jemput uncle Kin. Ingat jangan kesana kemari, tunggu di pos satpam." lembut Alan sambil memperingati.
"Iya, bang Alan. Nanti Resmi dan yang lain akan menunggu di pos satpam." manja Resmi sambil mencium pipi kanan kiri Alan, Neira pun melakukan hal yang sama.
Kedua pipiku di cium oleh Radith. Jangan tanyakan si bungsu malah bermanja ria kepadaku, mama, Resmi dan Neira.
Baru saja kami keluar dari dalam mobil, suara cempreng yang memekakkan telinga memasuki telinga ku dan yang lain.
"RESMI !!! RADITH !!! NOE !!! KAK ALANA !!! BANG ALAN !!!" Teriakan Intan, anak dari aunty Amel dan uncle King.
Kami yang di panggil menoleh ke arah Intan yang melambaikan tangannya lalu di belakang ada Akbar mengikuti dengan wajah polos + tajam.
"Tumben kalian telat?" tanyanya.
"Tanyakan aja sama Resmi." balas Ku lembut.
"Res, pasti membangunkan kamu lagi ya." tudingnya kepada Resmi. Resmi hanya cengengesan saja.
"Baru aja di tinggal sehari oleh aunty Gava dan uncle Leo, kamu udah bikin satu mansion rusuh." decaknya mengacungkan jempol ke atas.
"aku gitu loh." pede resmi.
"bibit bad girl di masa depan ini." batinku memutar mata malas.
"Resmi." panggilku selembut sutra.
"Ya."
"Jangan bikin ulah ya nanti, soalnya mama papa masih di luar kota. Kita gak tau kapan mereka akan kembali ke sini."
"Resmi gak janji ya kak Alana."
"Seterah kamu aja deh. kamu gak kasian sama mommy Grace, mami Shafa, dan bunda Miya kalo kamu bikin ulah pasti mereka di panggil."
"Kasian kak sama para bapak dan para ibu. Tetapi kak, Resmi gak akan mulai duluan kalo gak di ganggu. Iyakan Tan?" kekeuh Resmi lalu menoleh ke Intan.
"Iya, Kak Alana. Intan dan Resmi gak akan mulai duluan kalo tidak ada yang duluan memulainya." jawab Intan.
__ADS_1
"Tapi -" "Lebih baik kita ke kelas, bentar lagi bel." sahut Alan memotong ucapan ku membuatku berdecak kesal.
Resmi terkekeh karena Alan selalu saja paham kalo aku dan Resmi layaknya tom and jerry yang gak pernah akur dalam berdebat. Aku dan Alan akhirnya berpisah dengan kelima adik kami serta yang lain.
Saat di koridor menuju kelas 12 IPA, aku dan Alan bertemu Sekar dan Yudis.
"SEKAR !!! YUDIS !!!" Teriakku cempreng membuat Yudis dan Sekar menoleh ke belakang.
"Na, Lan." sapa Yudis dan Sekar kompak.
"Tumben kalian baru datang biasanya kalian nongol duluan di kelas?" heran Sekar.
"Mama sama papa pergi keluar kota, jadi aku dan Alan yang nganterin Neira, Radith dan Resmi beserta para anteknya." Jelasku.
"Tante Gava dan om Leo keluar kota. Berapa lama?" tanya Sekar agak kaget.
"Gak tau. Lo kenapa kaget gitu sih?" heranku.
"Ya kagetlah ogeb, lo taukan sikap Resmi dan Neira seperti apa kalo sudah gak ada nyokap bokap lo?" tanyanya yang paham kelakuan kedua bocah nakal itu.
"Pasti ada aja kelakuan mereka yang buat lo lo pada pusing 7 keliling." lanjutnya mendudukkan diri di kursi.
Aku pun mendudukkan diri di kursi. Di belakangku meja Alan dan Yudis.
"Ya sih. Gue aja sebagai kakak kadang kala pusing ngadepin Resmi dan Neira." lesu ku.
"Eehh ,, tadi kan kata lo, nyokap bokap lo pergi keluar kota? siapa yang jaga kalian, nih ya sesibuknya nyokap bokap lo pasti ada menjaga kalian?" tanya sekar heran dan bingung.
"Tebak siapa ayok?" Ucapku seperti bermain tebak-tebakan.
"Gak asyik lo, lo kira gue penguntit, apa-apa harus tau tentang lo dan Alan. Gue juga punya kehidupan kali." decak Sekar kesal.
"Pengawal dan para maid." tebak Sekar.
"bukan." gelengku.
Sekar berpikir agak lama seketika dia melotot tak percaya.
"Jangan bilang yang jagain lo dan adik-adik lo itu om Lou, tante Grace, om Zafar, om Adam, Tante Miya, tante shafa, tante Miko dan Om Agra." Ucapnya menebak.
"Lo benar, Kar. Tetapi nyokap bokap gue pergi bersama om Agra dan tante Miko." Anggukku membenarkan.
"Oooo ... tapi tapi si bontot gimana?! Siapa jaga bontot?!" tanyanya agak kencang membuat seisi kelas menatap kami.
Aku dan Sekar hanya cengengesan. Aku menepuk pundaknya membuatnya meringis.
"Kalo ngomong jangan keras-keras ogeb." decak ku.
"Sorry, replek gue." cengengesnya.
"Jawab per-" Tet tet tet
Suara bunyi bel masuk memotong ucapan Sekar. Aku terkekeh karena wajah kesal Sekar. Pelajaran pertama yaitu Matematika, pelajaran yang kebanyakan angka, angka dan angka.
Hampir dua jam pelajaran matematika membuat otak kami terkuras habis. Syukur, pelajaran kedua bahasa Indonesia jadi otak bertraveling kemana-mana.
Tet tet tet
__ADS_1
Bel istirahat berbunyi nyaring menandakan pelajaran matematika telah selesai. Setelah guru matematika keluar. Jangan tanyakan kelas kami seperti anak ayam berkeliaran kemana-mana.
Aku, Sekar, Alan dan Yudis menuju ke arah kantin. Baru saja sampai kantin teriakan membahana memasuki telingaku dan yang lain.
Kyaaa Alan ganteng ya
Alan maukan jadi pacar gue
Gak Alan aja yang ganteng, yudis juga ganteng
"Busyet dah, telingaku lama kelamaan budek mendengar teriakan para kuntilanak." batin ku mengusap kedua telinga.
Astaga, itu dua jalang kok selalu berada di dekat Alan dan Yudis
"Lo kali yang jalang, ya wajar lah gue dan Sekar dekat sama Alan dan Yudis. Sekar kan calon adik ipar gue, kalo Yudiskan sahabat kita bertiga." batinku kesal.
Iya, pake pelet apa sih mereka?
Paling mereka ke club
"Hedeh, capek deh. Pake pelet dan club, yang ada gue langsung di hukum oleh nyokap bokap gue." batinku memutar mata malas.
"Sudah jangan lo tanggapin mereka. Biarkan mereka berkoar seperti tong kosong nyaring bunyinya." lembut Alan pelan sambil mengusap punggungku agar tidak emosi dan meledak.
Aku dan Alan itu memiliki kemampuan istimewa bisa berkomunikasi lewat batin.
"Duduk di pojokkan aja yuk." ajak Sekar menarik tanganku dan bergelanjut manja di lengan Alan.
Saat Sekar bergelanjut manja di lengan Alan, banyak teriakan histeris. Aku, Yudis dan Sekar hanya tertawa mengejek sekaligus terbahak-bahak, Alan cuman tersenyum tipis karena sang tunangan mengatakan bahwa diri Alan hak paten untuk Sekar.
Kami duduk di pojok seperti biasa. Dimana aku berhadapan dengan Alan, disebelah Alan yaitu Sekar, di sebelahku yaitu Yudis berhadapan dengan Sekar. Pelayan kantin mendatangi meja kami.
"Pesan apa mas, mbak?" tanya pelayan itu.
Aku menatap yang lain, mereka menyuruhku memesan seperti biasa.
"Nasi goreng sosis 2, Mie ayam 1, bakso 1, batagor 1, cilok 2, siomay 1, es teh 2, susu coklat 2, air mineral 4, kentang goreng 4." pesanku untuk semuanya.
"Baik, ada lagi?" tanyanya.
"Tidak ada, mas." jawabku.
"Baik, tunggu 10 menit mas, mbak. Saya permisi." ucap dan pamitnya.
"Na, jawab pertanyaan gue di kelas tadi?"
"Pertanyaan yang mana?"
"Itu loh, gimana si bontot?"
"Ooo ... si bontot ikut nyokap bokap gue. Ya kali ditinggal yang ada mommy, mami, bunda pusing jaga si bontot." jelasku panjang lebar.
10 menit kemudian, makanan kami sudah diantar. Kami makan dengan lahap dan tanpa peduli sekitar.
Alana Pov Off
...☘☘☘☘☘☘☘☘...
__ADS_1
...Akhirnya selesai 😊...
...Jangan lupa tekan Favorit dan Follow, terus tinggalkan jejak dengan tekan vote ❤❤❤, like 👍👍👍 dan komentar 💬💬💬 agar author semangat update 🥰😍🤩😘...