
...β οΈ Warning β οΈ...
...Awas berhati-hati karena typo bertebaran dimana, kata-kata kasar, vulgar atau apapun tetapi author berusaha menutupinya, kalo author lupa berarti khilaf π€«π€βΊπ₯°...
...Hati-hati juga di akhir cerita selalu bikin gantung dan penasaran π€πππ€©π...
...ββββββ...
Zafar dan Leo sweetdrop mendengar perkataan Alana. Zafar dan Leo memeriksa berkas yang belum diperiksa.
Leo mulai mendekati si kembar dengan perlahan-lahan. Dia duduk di tengah-tengah kembar. Zafar mengekori dibelakang.
"Apa kalian sering melakukan ini?" Tanya Zafar hati-hati sambil memeriksa berkas.
"Kadang-kadang om." Ucap Alana menggelengkan kepalanya.
"Masih bocah juga kelihatan banget jenius. Apalagi remaja atau dewasa." batin Zafar tak percaya kalo sudah remaja atau dewasa." Batin Zafar takjub atas kemampuan Alana dan Alan dalam memeriksa berkas.
"Siapa nama kalian?" lembut Leo
"Alana, Namaku Alana. Kalo dia kembaranku Alan." Polos Alana.
Leo dan Zafar menganggukkan kepalanya.
"Kalian kesini kapan?" tanya Leo membelai pucuk kepala si kembar.
"Setengah jam sebelum om datang. Kalo tidak salah, om di ruang meeting." polos Alana.
Wajah Leo menampilkan hangat, lembut dan senyum bahagia. Zafar melihat hal itu juga merasa bahagia dan tersenyum hangat.
Kkkrrryyyuuuukkkk
Perut Alana berbunyi, Alana menundukkan kepalanya karena malu. Leo terkekeh dan membelai rambut Alana dan Alan bergantian.
"Pesanlah." Lembut Leo.
Alana dan Alan saling pandang. Seketika ide jahil mereka bersarang di kepala masing-masing.
"Alana dulu ya. Lan." Sahut Alana ceria. Alan mengangguk.
"Nasi goreng, burger, kentang goreng, sosis jumbo, fried chicken, susu coklat dingin, fanta, sama air mineral." Pesan Alana ceria.
"Bakso, mie ayam, burger, kentang goreng, cola-cola, susu vanilla hangat, sama air mineral." Pesan Alan datar.
Zafar ternganga mendengar pesanan dua bocah didepannya. Leo juga mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Pesanannya kok banyak banget?! Muat gak ya perut para bocah itu?!" Batin Zafar bertanya-tanya.
"Pesanan kalian kok banyak sekali?! perut kalian sanggup memakannya?!" lembut Leo menatap kedua bocah itu.
__ADS_1
"Enggak Om. Makanan itu buat makan bersama. Kan uang om banyak, jadi Alana dan Alan pesan banyak. Sebenarnya mau satu kantor tapi nanti kasian karyawan Om." Polos Alana dengan nada jahil.
"Apa?! pesanan ini aja udah keluar ratusan ribu?! apalagi di tambah satu kantor yang ada keluar puluhan juta?!" batin Zafar mengelus dadanya.
"Pesankan Zaf. Tambahkan air mineral 4 botol lagi." Singkat Leo memberi perintah.
Leo tau kalo Alana dan Alan akan berbuat Jahil makanya wajahnya biasa saja berbeda dengan Zafar yang sejak tadi senam jantung.
"Ya gagal deh. Om ini sepertinya tau deh kalo Alana dan Alan akan menjahili. Mama, Alana merestui mama bersama om ini." batin Alana tersenyum.
"Baru pertama kali gagal buat jahilin orang, om ini wajahnya datar dan dingin gitu tapi kesannya hangat, lembut dan nyaman. Mama, Alan merestui om ini jadi suami mama." batin Alan tersenyum tipis terkesan tulus.
30 menit kemudian, pesanan Alana dan Alan datang. Leo menyusun makanan pesananan di atas meja.
"Ayok Om Leo, Om Zafar kita makan sama-sama." ajak Alana ceria.
"Baiklah, Nona Alana." Ucap Zafar tak menolak rezeki karena Leo menatap Zafar tajam.
"Om Agung tidak makan." tawar Alana ke Agung.
"Maaf nona Alana, Om tidak makan." Tolak Agunf lembut.
"Kenapa om? kan sejak pagi om Agung tidak makan?" tanya Alana polos dan kepo.
"Om hanya bisa makan makanan khusus." Ucap Agung lembut.
"Om Agung, memakan makanan yang tidak bisa dimakan oleh orang lain." lembut Leo memberi pengertian.
Alana dan Alan saling pandang kemudian mereka mengangguk saja karena sudah kelaparan.
Beberapa menit kemudian, setelah keempatnya makan dengan tenang dan damai, Fira dan Dewa datang keruangan putranya untuk menemui calon cucu-cucunya.
"Hai cucu-cucu oma." sambut Fira heboh.
Alan dan Alana mendongak dengan melongo.
"Nenek ini Kelakuannya mirip mama sama aunty Amel." Batin mereka bersamaan.
Fira mendekati kedua bocah itu. Leo bangkit dan duduk didepan kedua bocah itu.
"Kenalin nama oma Fira cantika Ramos, panggil oma Fira saja. Lalu yang diseberang Opa Dewa Haryaka Ramos, panggil opa Dewa." Sapa Fira berbinar.
Alana dan Alan hanya mengangguk. Mereka mana bisa jahil sama nenek-nenek. Yang ada malah berdosa dan masuk neraka.
"Nama ku Alana, ini Alan." Balas Alana sambil menunjukkan Alan. Alan hanya mengangguk mengiyakan.
"Ketemu manusia Es lagi. Gak papa deh, yang penting mereka akan menjadi cucuku." Batin Fira tersenyum lebar.
Alana ceria dan senang saat bercengkrama dengan Fira, sesekali Alan juga ikuti. Dewa juga ikut menimpali. Leo, hanya menonton samahalnya Zafar.
__ADS_1
...πππππππ...
Sebuah mobil melaju membelah jalan raya. Seorang gadis sedang terkikik melihat wajah campur aduk seorang pria kejam, arogan, dingin dan datar menghadapi kedua bocah kembar jelmaan iblis kecil. Gadis itu meretas cctv ruangan ceo tersebut.
"Kenapa kamu ketawa?" Tanya seorang pria berusia 21an yang duduk dikemudi.
"Lucu aja. Gue ngelihat berbagai wajah Leo dan Zafar. Hahahaha" Ucap Gava tertawa keras.
"Apa kamu tidak cemas atau khawatir tentang keadaan si kembar?" Tanya Adam khawatir.
"Buat apa, gue malah kebalikannya. Gue kasian sama Leo dan Zafar saat menghadapi si kembar." Acuh Gava terkikik.
"Apa si kembar sudah menerima tuan Leo, nona?" Tanya Adam hati-hati.
"Sepertinya. Bahkan orangtua Leo juga berada disana. Mereka menyambut hangat kedua anak gue." Ucap Gava tersenyum sambil menatap luar jendela.
Adam melihat senyum nonanya di kaca membuatnya tersenyum amat tipis.
Sejam kemudian, mereka berada di markas Askala berupa mansion megah dan misterius berada di tengah-tengah hutan. Gava turun dari mobil. Dia mulai memasuki markas tersebut. Adam mengekori dibelakangnya.
Di ruang rapat, Gava dan Adam hanya melihat ketua tim delta dan Omega.
"Kemana yang lain?" datar Gava.
"Ketua tim Alpha, Beta dan Gamma sedang menjalankan misi yang ditugaskan oleh tuan Lou dan tuan Vori." tegas ketua tim Delta.
Gava hanya menganggukkan kepalanya.
"Tidak perlu berbasa-basi. Saya kesini akan memberi perintah ke kalian untuk mencari tau data gadis yang ada di foto ini." Ucap Gava memberikan foto Calis.
Ketua tim Delta dan Gamma mengernyitkan dahi mereka.
"Dia berhubungan dengan mafia Xlevanos dan Aaron Blenda." Lanjut Gava acuh dan santai.
"Nona besar, ketua tim Alpha dan tim beta sedang memantau pergerakan mafia Xlevanos dan Aaron Blenda." Ucap Ketua tim Gama.
"Bagus. Kirim foto gadis itu agar mereka bisa mendapat petunjuk dari sana." Ucap Gava acuh.
Ketua tim Gama memfoto gadis itu dan memberikan ke ketua tim Alpha dan tim Beta. Ketua tim Gama dan Delta keluar dari ruang rapat hanya tersisa Adam dan Gava.
"Kenapa tidak organisasi Zero Zone saja nona?" heran Adam datar.
"Anak buah organisasi Zero Zone sudah berbaur di markas Askala, Kak Adam." Jawab Gava. "Sebaiknya kita ke perusahaan sebentar." lanjut Gava bangkit dari kursi.
Adam mengekori Gava dari belakang. Gava memasuki mobil dan duduk di kursi belakang. Adam di kursi kemudi.
Saat di perjalanan menuju perusahaan, Adam melihat kaca spion sebuah rombongan mobil mengikuti mereka.
...Jangan lupa di follow terus tinggal jejak dengan tekan vote, like serta koment agar author semangat up π₯°ππ€©π...
__ADS_1