Hot Young Mom And King Mafia (S1 Dan S2)

Hot Young Mom And King Mafia (S1 Dan S2)
[S2] Page 07


__ADS_3

...โš ๏ธ Warning โš ๏ธ...


...Awas berhati-hati karena typo bertebaran dimana-mana, kata-kata kasar, vulgar atau apapun tetapi author berusaha menutupinya, kalo author lupa berarti khilaf ๐Ÿคซ๐Ÿคญ๐Ÿ˜š๐Ÿ˜˜...


...Jangan lupakan di akhir cerita ada aja bikin gantung dan penasaran ๐Ÿคญ๐Ÿ˜Œ๐Ÿค—...


...โ™กโ™กโ™กโ™กโ™กโ™กโ™กโ™ก...


Di perjalanan menuju perusahaan Ramos Corp, mobil yang ditumpangi rombongan Gava di hadang oleh puluhan mobil tak dikenal. Ratusan orang dengan pakaian hitam putih keluar dari puluhan mobil tersebut.


"Nona Ayya, mobil kita dicegat." datar Hide mengamati ratusan orang di depannya.


"Agus Januarta. Mainan baru di organisasi." Gumam Gava menyeringai bak iblis saat melihat siluet tubuh Agus di kerumunan ratusan orang dengan wajah angkuh dan sombong.


Miya, Hide dan Anita menatap seringai saat gumaman Gava terdengar oleh mereka. Berbeda dengan seringai Bintang layaknya iblis pencabut nyawa dibalik wajah polos dan manis.


"Tuan Agus, sepertinya salah mencari lawan kak." Ucap Miya tersenyum manis.


"Ya, yang lo katakan benar." angguk Gava mengamati ratusan orang menghadang rombongannya.


"Brengsek, Tuan Agus sepertinya bekerja sama dengan organisasi Shadow. Miya, Hide kalian berhati-hati. Anita, kau jangan keluar tetapi jaga putraku." Ucap Gava memberi perintah saat melihat ada lambang Mafia Shadow di beberapa ratusan orang dihadapan mereka.


"Ma, tangtang juga mau ikut." rengek Bintang.


"Tidak baby boy, kau tetap berada di dalam mobil. hubungi papa dan daddy Lou saat mama dan yang lain terdesak." tolak Gava lembut sekaligus memberikan perintah.


"Anita, jaga putraku. Kalo ada apa-apa kirim sinyal ke organisasi. Ada tombol merah dekat dashboard." Lanjut Gava memberi perintah ke Anita.


Bintang dan Anita menganggukkan kepalanya. Gava, miya dan Hide bersama keluar dari dalam mobil. Gava berjalan santai tetapi wajahnya sama sekali tak bereskpresi.


"Nona Ayya. Kenapa anda keluar?! Seharusnya anda tetap di dalam mobil bersama tuan kecil Bintang?!" Panik bodyguard Leo.


"Tenanglah. Saya juga penasaran sama tikus penganggu yang menghalangi jalan kita." Balas Gava tenang.


"Kamu masuklah ke mobil itu. Lindungi putraku. Jangan sampai terluka atau lecet. Kalo keadaan tak memungkinkan ada tombol merah, bantuan akan segera datang." Bisik Gava ke salah satu pengawal suaminya.


Salah satu pengawal Leo yang di perintahkan langsung mengangguk paham kemudian berlari ke arah mobil yang didalamnya Bintang dan Anita.


"Hai sayangku, Ayya." Sapa Agus genit.


Gava menoleh dengan wajah datar dan tanpa ekspresi.


"Kenapa dengan ekspresimu sayang?! Takut hahaha menyerahlah sayang." Sombong Agus sambil tertawa dan merayu.


"Cih ... takut sama anda G.A.K S.A.M.A S.E.K.A.L.I." sinis Gava datar.


"Tuan Agus, Kenapa anda menghadang jalan kami?" Tanya Miya tenang.


"Salahkan atasanmu selalu menolak hadiah pemberian dari saya." Marah Agus tak terima.


"Saya menolak semua pemberian anda karena anda ada maksud lain." Ucap Gava datar + sinis.


"Hahaha anda sangat tau sekali. padahal saya ingin memiliki anda lebih tepatnya jadi penghangat ranjang saya." sombong Agus.


"Sakit nih orang." Gumam Gava geleng-geleng kepala.


"Tuan Agus, sebelum saya jadi milik anda. Kayanya tidak mungkin, karena suami saya julukannya iblis pencabut nyawa." Lanjut Gava santai.


"Saya sama sekali tidak takut. Semuanya serang!! Kalo wanita di depan saya ini, itu urusan saya !!! " perintah Agus menyeringai.


Perintah Agus membuat pertarungan tak bisa dielakkan. Gava mengeluarkan pedang lipatnya di balik bajunya bahkan berhadapan dengan Agus dan hampir 30 orang baju hitam putih.

__ADS_1


Sementara di dalam mobil, Anita dan Bintang mengamati situasi kondisi. Pertarungan kali ini, membuat pihak Gava terdesak.


"Bibi Anita, mama teldesak. Tangtang akan telpon papah." Panik Bintang sambil menggeledah tas Gava dan menemukan ponsel Gava.


Bintang mencari nomor Leo dan menekannya. Ponsel Leo terhubung, Bintang meloudspeaker.


"Pa, tolong pa. Kami diselang olang jahat. Mama, aunty Miya sama uncle Hide teldesak." Cadel Bintang ngerap.


"Baby boy, tenang baby. Ada apa? pelan-pelan baby." Cemas Leo diseberang ponsel.


"Kami diselang olang jahat papa." Cadel Bintang terisak.


"Tuan Leo sebaiknya anda datang ke lokasi. Saya sudah mengirimkannya ke ponsel tuan. Kami di serang ratusan orang tak dikenal. Nyonya Ayya, Hide dan nyonya Miya turun tangan langsung." Balas Anita datar merebut ponsel dari tangan Bintang sambil mengamati situasi.


"Anita, bagaimana keadaan disana?"


"Keadaan saat ini sangat serius tuan Leo." Balas Anita lagi sambil mengamati situasi.


"Papa cepetan datang, tubuh mama banyak dalah." Cadel Bintang terisak saat melihat tubuh Gava berdarah-darah.


"Iya sayang. Kamu tetap di mobil bersama Anita jangan keluar. Ponsel jangan kamu matikan sayang."


"Iya pah."


Ponsel Gava masih aktif, Bintang bisa mendengar nada dingin dan para kakaknya diseberang telpon. Anita dan Bintang mengamati keadaan sekitar.


Di medan pertempuran, pedang Gava terus saja mengayun dengan lincah dan gesit. Bahkan tubuh Gava bermandikan darah yang didapatkan oleh para musuh. Saat ini Gava layaknya malaikat berwujud iblis.


Trang tak trang tak


Aaarrrrgggghhhh tanganku


Aaaarrrgggghhh masa depanku


Aaarrggghhh mataku


Aaarrggghhh telingaku


Aaarrrgghhh jariku


Aaarrgghhh perutku


Aaarrggghhh punggungku


Suara teriakan kesakitan dari musuh Gava sangat memekakkan dan mendominasi. Tubuh Gava sama sekali tak terluka sedikitpun, tubuh Agus terdapat beberapa goresan ditubuhnya.


"Bagaimana tuan Agus? Apa anda ingin merebut saya dari suami saya? Baru saya loh yang anda lawan belum suami saya?" sinis dan ledek Gava layak psikopat.


"Kau .... kau ....." tunjuk Agus tergagap.


"Diriku kenapa?! Kau baru tau sekarang hahaha kau kira aku seperti wanita yang sering anda tiduri hahaha itu bukanlah diriku hahaha." Ledek Gava tertawa layaknya iblis.


Gava melihat sekitar dimana Miya di bantu Hide dan beberapa anak buah suaminya juga terdesak. Sebenarnya tubuh Gava benar-benar kelelahan melawan hampir 30 orang yang memiliki keterampilan diatas rata-rata. Ada sekitar 20 orang lagi yang masih belum turun tangan.


"Apa putraku sudah memberi sinyal ke Leo?! Tubuhku sungguh kelelahan?! Sayang, cepatlah datang, aku lelah?!" Batin Gava berusaha menahan tubuhnya saat ini.


Agus mengamati tubuh kelelahan Gava. Dia menyeringai kalo lawannya sebentar lagi tak sadarkan diri.


"Apa kau lelah nona Ayya?" Seringai Agus.


"Tergantung." Acuh Gava polos.

__ADS_1


"Maksud anda?" Tanya Agus bingung.


"Bisa dikatakan lelah atau bisa dikatakan gak." Ucap Gava ambigu.


Agus bingung sendiri dengan ucapan Gava. Dia berpikir maksudnya apa.


"Bego dipelihara. Ya iyalah gue lelah. Kalo gue lelah dan menyerah, lo langsung ambil kesempatan dalam kesempitan. Sorry, ya gue paham seringai lo saat lo dengan nafsu dan menatap tubuh gue yang mana tubuh gue masih milik suami mesum gue." Batin Gava menggerutu.


"Udah paham belum pak?" Tanya Gava santai dan polos.


"Saya gak mengerti maksud anda." Jawab Agus dengan bodoh.


"Lah?! Emang saya ngomong apa?!" Tanya Gava polos.


"Tadi kau ngomong gini bisa dikatakan lelah, bisa dikatakan gak. Maksudnya apa?" Tanya Agus frustasi.


"Ya pikir sendirilah. Masa harus gue." Sewot Gava acuh.


Adu bacotan antara Gava dan Agus hampir sejam. Agus yang gampang terpancing emosi memerintahkan hampir 20 bodyguard menyerang Gava tanpa terluka. Salah satu bodyguard ingin memukul tengkuk Gava seketika :


Dor Aarrggghhhhh


Tubuh Gava sedikit menunduk dan matanya tertutup rapat mendengar suara tembakan dari tubuh belakangnya.


Dor dor dor dor dor


Aaarrggghhhhh mataku


Aaarrrggghhhh bahuku


Aarrgggghhh kakiku


Aarrrggghhhh masa depanku


Aarrrgghhhh telingaku


5 tembakan melayang, telinga Gava mendengar sayup-sayur beberapa orang memanggil namanya.


"Mama"


"Sayang"


"Nona Ayya/Gava"


"Gava"


Ggrreepp


Tubuh Gava di peluk seseorang, hidung Gava mencium aroma kayu manis di dalam dekapan seseorang itu.


"Maafkan aku terlambat sayang. Bukalah matamu, kau aman sekarang." Bisik seseorang dengan nada lembut sambil mengusap darah di wajah Gava.


"Leo." Lirih Gava saat matanya melihat Leo, suaminya sambil mendekap tubuhnya.


"Mama." Suara bass remaja berusia17an dengan nada khawatir.


"Alan Putraku." Lirih Gava tersenyum lembut.


...โ™กโ™กโ™กโ™กโ™กโ™กโ™กโ™ก...


...Jangan lupa di follow terus tinggal jejak dengan tekan vote, like serta koment agar author semangat up ๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜๐Ÿคฉ๐Ÿ˜˜...

__ADS_1


__ADS_2